Sanak Rahyussalim,
Saya sangat setuju pendapat anda, Depkes harus jelas dan tegas dulu, seperti
apa desain upaya peningkatan kesehatan masyarakat (artinya, keputusan/
peraturan menkes tentang Standar Pelayanan Minimal juga harus "membumi")
Nah, "Program Obat Rakyat Murah dan Berkualitas" ini merupakan cerita
tersendiri. Kalaupun ada kaitannya dengan program peningkatan kesehatan
masyarakat, share nya mungkin minim.
Tujuannya - kata Menkes - untuk menjamin ketersediaan, pemerataan, dan
keterjangkauan obat murah dan berkualitas bagi masyarakat," dan "untuk mencegah
peredaran obat palsu dan obat substandar yang dapat membahayakan ksehatan
masyarakat di pasaran; (Kalau obatnya dibuat murah, keuntungan pelaku pemalsuan
obat kian sedikit sehingga lama-lama mereka akan menghilang).
Kalau yang saya tangkap, prinsipnya adalah menyediakan produk (obat bebas)
dengan harga yang lebih murah.
Siapakah yang diuntungkan? Yang jelas pengguna yang yakin bahwa obat murah
itu sama khasiatnya dengan obat bermerk "besar". Harganya murah bukan karena
isinya beda, tapi karena banyak biaya2 yang terpangkas dengan program ini.
Yang juga beruntung adalah pabrikan (sekarang baru 1 BUMN) yang memanfaatkan
kelebihan kapasitas produksinya.
Keuntungan pemerintah, daya beli masyarakat untuk obat tersebut meningkat.
Dan seperti kata Menkes, membuat pemalsu "malas".
Pemerintah tidak perlu takut rugi karena tidak punya database (lagi2, ini
dalam konteks program obat murah, bukan konteks peningkatan kesehatan
masyarakat), karena itu urusan pengusaha untuk mencari tahu sendiri, berapa
tingkat produksi yang diperlukan dan bagaimana jalur distribusinya.
Jadi menurut saya, antara program obat murah dan program peningkatan
masyarakat merupakan cerita yang berbeda, sehingga - menurut saya - tidak
termasuk kategori "program yang koncek takajuik dan langsung malompek."
Program obat murah adalah cerita tersendiri, yang walaupun mungkin -secara
teoritis- seharusnya merupakan bagian dari desain yang lebih besar - program
peningkatan kesehatan masyarakat.
Riri
rahyussalim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
===> Saya pikir Depkes perlu dengan tegas menetapkan dulu
pelayanan ideal macam apa yang akan diberikan kepada masyarakat Indonesia
termasuk masyarakat miskin. Baru mereka meluncurkan berbagai program seperti
obat serba rp 1000 dsb yang mengarah kepada pola pelayanan yang ideal itu. Saya
menangkap kesan program ini memiliki landasan yang rapuh sehingga saya khawatir
capain yang diharapkan untuk meningkatkan taraf kesehatan masyarakat menengah
ke bawah menjadi tidak tercapai bahkan dapat saja menimbulkan persoalan baru.
Pandangan diatas berdasarkan pada ganjalan-ganjalan antara lain:
Apa betul program obat serba rp1000 ini mampu meningkatkan taraf kesehatan
masyarakat menengah kebawah?? Rasionalenya gimana sih (harga obat diturunin
ujuk2 taraf kesehatan masyarakat akan meningkat)??
Siapa sih yang diuntungkan dengan program ini (pilihannya banyak)? Apa betul
masyarakat menengah kebawah? Saya kira butuh effort yang kuat untuk membuat
untuk masyarakat menengah kebawah yang berimpact pada peningkatan taraf
kesehatan.
Apakah depkes memiliki baseline data mengenai masyarakat menengah ke bawah
yang membutuhkan obat2 murah (jumlahnya, penyakit apa, obat apa, dll) yang
polanya berubah dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, dari bulan ke bulan ?
Data ini sangat penting, bila tidak memiliki data ini maka tentunya depkes
akan mereka-reka memproduksi obat yang berujung kepada kemubaziran obat, obat
jadi expired dan berakibat kerugian secara ekonomi. Ujung2nya obat itu akan di
lempar ke Pasar pramuka (apotik rakyat).. ehm.
Jadi, secara ekonomi (sekali lagi, saya tidak punya kompetensi dibidang
kedokteran), program obat serba seribu ini bukan merupakan program yang "tidak
masuk akal".
===> dari segi memproduksi obat saya sependapat masuk akal dan berpotensi
menguntungkan pabrik obat (masyarakat menengah kebawah belum tentu). Namun yang
menjadi pertanyaan besar adalah apakah tujuan depkes untuk meningkatkan taraf
kesehatan masyarakat menengah kebawah akan berhasil dengan menggunakan
instrumen ini??? Ada faktor distribusi (yang rencananya ngegaet distributor
swasta), faktor demografi dari ujung sumatera sampai irian, faktor waktu,
kemampuan produksi dan faktor lain yang bikin lebih pusing. Sungguh suatu
program yang koncek takajuik dan langsung malompek....
Rahyussalim
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.467 / Virus Database: 269.6.6/794 - Release Date: 5/8/2007 2:23 PM
---------------------------------
Park yourself in front of a world of choices in alternative vehicles.
Visit the Yahoo! Auto Green Center.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Tapi harus mendaftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount dengan
email yang terdaftar di mailing list ini.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---