Dek karano hanyo sabanta iduik dikampuang. Ambo memaklumi kalau sanak hanyo menggunakan logika dan berbagai pendekatan ilmiah dalam memahami adat iko. Apo lai menyatakan adat itu misalnyo hanyo untuak ditonton wisatawan Tapi kalau soal adat istiadat ko, indak cuma milik urang Minang. Suku dan bangsa lain juo sangat memperhatikan adat -istiadat sebagai identitas mereka. Caliak lah rang Batak, Jawa atau Cino sekalipun. Mereka tetap menjalani berbagai rutinitas dan pernik-pernik yang telah turun temurun dilaksanakan para tetua mereka. Sasuai jo statemen sanak dan nan tercantum dalam ilmu sosiolologi. Memang adat itu cuma merupakan kesepakatan para pendahulu yang masih diakui dan diikuti para warganya sampai saat ini. Bahkan kalau ado yang ingin kalua atau tidak ingin memakai adat tersebut rasonyo tidak ada masalah baik bagi masyarakat Minang maupun para petinggi adat yang lain. Cuma mungkin mereka akan mempertanyakan : Bagi mereka yang tidak mengakui kesepakatan itu apakah masih termasuk kelompok mereka ??? Walau disini katanya sanak masih menghargai adat itu . Seperti adanya berbagai wacana dalam Sako & Pusako , anda juga punya hak pribadi untuk mengemukakan berbagai wacana mengenai adat-istiadat ini . Hanya nanti apakah hal ini dapat diterima oleh komunitas Minangkabau itu secara keseluruhan atau belum tentu akan kita tunggu pula hasilnya. Kalau dianggap perlu mungkin diadakan semacam jajak pendapat mengenai hal ini. Kalau untuk kasus uang jemputan itu juga merupakan kesepakatan dinagari tertentu saja (adat salingka nagari ??). Sedangkan uang mahar adalah suatu keharusan dalam perkawinan menurut Agama Islam yang juga diakui dan dilaksanakan oleh semua warga Minangkabau. Atau ada bukti baik para Sutan/Sidi/ Bagindo di Pariaman atau Sutan jo Marah di Padang yang jadi urang jemputan tidak memberikan mahar pada perempuan yang jadi istrinya sewaktu menikah ??? Wass ________________________________
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of iwan soekri Sent: Saturday, June 30, 2007 11:02 PM To: [email protected] Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Adat Hanyalah Estetika wah, ini pula! adat itu bagus, untuk komoditi pariwisata, misalnya, seperti di bali atau tempat-tempat lainnya. namun ketika membenturkan, dan memaksakan bahwa adat bersendi syara, sedangkan syara itu bersendi agama dalam aretian Islam, di sinilah masalahnya! adat hanya kesepakatan dan mufakat manusia semata yang memakai adat itu. buktinya, jika adat tak bersendi ke hukum islam (syariat), adalah marga atau fam atau suku, bukan dari bapak. kemudian, dalam islam lelaki memberi mahar pada perempuan, bukan perempuan 'menjemput' lelaki. ah, kok putar-putar di situ pula. saya ingat seorang kawan di kota Padang pernah mengatakan: setinggi-tinggi terbang bangau, lebih tinggi terbang apolo. mungkin kawan haris effendi tahar bukan sekadar 'bagarah' dalam melantunkan pantunnya yang medekontruksi pemikiran saat itu, yang saya rasa masih relevan untuk saat ini. dalam artian tadi, saya tak menentang adat. saya menghargai adat. namun janganlah kita memaksakan adat kita itu Islami dengan statement: adat bersandi syara, syara bersandi KITABULLAH. biarlah statement menjadi: adat bersandi mufakat, syara bersandi KITABULLAH. sebagaimana hal saya tak setuju vox populi vox dei. seyogianya statementnya menjadi: Suara Rakyat adalah suara manusia. Suara Tuhan itu pasti terjadinya. maaf, saya hanya menyatakan ketaksetujuan. tabik. sutan iwan soekri munaf (lahir di rantau, cuma 2 tahun di kampung, kini cari makan pun di rantau!) "Rasyid, Taufiq (taufiqr)" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Sekedar respon dari ambo , manunggu statemen yang lebih detail dan lengkap jo dasar-hukumnyo dari para mamak Datuak jo Penghulu kito: Mungkin kita harus kembali kepada hal yang menyatakan : Syarak mangato- Adat mamakai. Disini tampak berbagai kaidah yang ada dalam hukum agama diaplikasikan oleh adat -istiadat itu dalam kehidupan sehari-hari Antaro adat jo syarak merupakan : Camin nan indak kabua, palito nan indak padam Si Muncak mati tarambau, ka ladang mambao ladiang. lukolah pao kaduonyo Adat jo Syarak di Minangkabau, umpamo aua jo tabiang, sanda manyanda kaduonyo. Pariangan jadi tampuak-tangkai, Pagaruyuang pusek Tanahdata, Tigo luhak rang mangatokan. Adaik jo Syarak kok bacarai, bakeh bagantuang nan lah sakah, tampek bapijak nan alah taban. Itulah salah satu hubungan antara agama Islam dan Adat Minangkabau. Ba karih si katik -muno, patah lai basimpai alun, ratak sabuah jadi tuah. Jiko dibukak pusako lamo, dibangkik tareh nan tarandam lah banyak ragi nan barubah. Basasok bajarami, bapandam pakuburan. Sako pusako kok didalami, mambayang cahayo diinggiran Kok tasangkuik pado nan tinggi, kok basanda pado nan gadang Bagi yang lahir, besar dan hidup dirantau, ditengah jaman yang serba instan dan individuallistis ini. Memang terasa adat itu kadang serba ribet dan kita tidak tahu manfaatnya serta mau diaplikasikan kemana diperantauan ini. Tapi cobalah pulang kampung..........., bagi yang kampungnya belum terkena erosi metropolitan. Akan terasa kalau paham anda ini, mungkin tidak sepenuhnya benar. Adat bukan hanya sekedar pemanis dan rentetan protokoler yang harus anda lalui. Tapi ada nilai-nilai yang terkandung didalamnya dan telah dipertahankan komunitas tersebut dari berbagai perubahan yang prinsipil. Memang ditengah perkembangan jaman dan berbaurnya berbagai suku-bangsa dan agama saat ini. Serta karena tuntutan kehidupan telah terjadi berbagai penyesuaian disana-sini. Sehingga ada yang dinamakan : "Sakali ayie gadang- sakali tapian barubah". Tapi seharusnya masih dalam kerangka : "Elok diambiak jo etongan. Buruak dibuang jo mufakat" Tapi jan sampai : " Jalan di-aliah urang lalu- Cupak diganti rang panggaleh". ...........Indak kasadonyo nan bisa diparingan..... Jan ... sampai data se.. sawah tu sahinggo indak nampak pamatangnyo. sahinggo dikatokan nan ladang ....ado bintalaknyo. Sawahlah ado lantaknyo Habih sandiang dek dek bagesoh, habih miang dek dek bagisia...... Bisa tabedo kito.................... Jadi semua hendaknya masih dalam pola : "Baju dipakai usang - Adat dipakai baru". Dalam hal tertentu adat itu cukup luwes untuk mengantisipasi berbagai perubahan yang terjadi. Sanksi paling ringan yang anda peroleh kalau tidak peduli dengan adat ini adalah : "Orang juga akan tidak peduli dengan keberadaan anda". Kok kayo- kayo se lah surang.... Urang indak ka mamintak... Kok pandai pandai se lah surang------ Urang idak ka batanyo... Keadaan bisa menjadi tidak kondusif kalau : Jikok panghulu ba kamanakan,maanjuang maninggikan. Pandai nan usah dilagakkan manjadi takabua kasudahannyo Kalau kondisinya mulai meresahkan dan jadi buah bibir orang kampung. Bisa juga para paga nagari beraksi melihat tindakan anda yang keluar dari nilai-nilai yang mereka anut dan pertahankan selama ini. Kalau mereka merasa terusik dengan kehadiran anda. Bisa terjadi berbagai tindakan dari mereka mulai dari berbagai cimeeeh atau ucapan yang kurang enak baik ditujukan langsung kepada anda atau melalui tetua anda supaya tetua tersebut menasihati anda untuk menyesuaikan diri dengan kondisi dikampung. Bahkan kadang mereka bisa bertindak lebih jauh lagi dengan mengadakan berbagai tindakan phisik baik langsung atau perusakan terhadap milik anda yang dilakukan oleh tangan-tangan yang tidak kelihatan . Nagari bapaga undang, kampuang bapaga buek. Tiok lasuang ba ayam gadang, salah tampuah buliah diambek Atau yang lebih parah lagi anda di-persona non grata dari daerah itu. Dimano kain kabaju, diguntiang indaklah sadang, lah takanak mangko diungkai. Dimano nagari namuah maju, Adat sajati nan lah ilang, dahan jo rantiang nan ba pakai Kato adat pahamnyo aman, malengkapi rukun dengan syarat kalau elok pegang padoman, santosa didunia jo diakhirat Tajam alah calak pun nyato, tingga dibao manyampaikan. Adat alah- syarakpun ado, tingga di kito nan ka mamakaikan. Wassalam St R. Ameh ________________________________ From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of iwan soekri Sent: Friday, June 29, 2007 8:26 PM To: [email protected] Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Adat Hanyalah Estetika ini saya setuju buanget! hanya estetika adat itu! tak ada kaitan adat dan agama. saya setju! salam src="http://ymail.flamingtext.com/ymail/2002/05/21/flamingtext_com_10219 73269_27649.gif" border=0 alt="Image by FlamingText.com"> Image by FlamingText.com <http://www.flamingtext.com/ymail.html> ________________________________ Park yourself in front of a world of choices in alternative vehicles. Visit the Yahoo! Auto Green Center. <http://us.rd.yahoo.com/evt=48246/*http://autos.yahoo.com/green_center/; _ylc=X3oDMTE5cDF2bXZzBF9TAzk3MTA3MDc2BHNlYwNtYWlsdGFncwRzbGsDZ3JlZW4tY2V udGVy> --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, bulan Juni 2008. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Website: http://www.rantaunet.org =============================================================== UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Harap memperhatikan urgensi posting email, yang besar dari >300KB. - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Email attachment, tidak dianjurkan! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui jalur pribadi. =============================================================== Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2. ========================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
