Pembunuh Nomor Tiga itu Bernama Stroke

JAKARTA - LIFE begin at forty, hidup dimulai di usia 40. Sebab di usia
kepala  empat  inilah seseorang tengah berada di puncak karir. Di usia
ini  pula  seseorang  tengah  menikmati apa yang menjadi perjuangannya
sejak  usia  20  hingga  30-an.  Sayangnya, di usia ini pula, penyakit
stroke mencari mangsa.

“Banyak  dijumpai  kasus  stroke  menyerang  orang usia 40-an, di mana
seseorang  sedang  dalam  masa produktif. Alangkah tragis bila di usia
muda ini harus hidup di atas kursi roda atau berbaring di tempat tidur
hanya  karena  penanganan  stroke  yang  terlambat,”  ujar Patricia M.
Widjaya, Sp, kepala Bagian Radiologi di Rumah Sakit Husada, Jakarta.

Stroke  adalah  serangan  mendadak  pada  otak  akibat  pembuluh  otak
tersumbat  atau pecah. Biasanya kondisi ini akan diikuti dengan gejala
seperti  nyeri  kepala hebat, penurunan kesadaran dan kejang mendadak.
Juga  terjadi gangguan daya ingat, keseimbangan dan gangguan orientasi
tempat, waktu dan orang.

Jenis  stroke  sendiri  ada dua macam, yaitu stroke iskemik dan stroke
hemoragik.  Pada  stroke  iskemik terjadi proses arteriosklerosis atau
darah  terlalu  kental  yang  membuat  pembuluh  darah otak tersumbat.
Sumbatan  ini  terjadi akibat lepasnya bekuan yang berasal dari lokasi
lain. Sedangkan stroke hemoragik adalah pecahnya pembuluh darah akibat
dinding pembuluh rapuh atau anomali-anomali bawaan pada usia muda.

Menurut  Patricia,  pasien  stroke  iskemik  kerap terlambat ditangani
akibat  masyarakat  kurang  memahami  bahaya  stroke.  “Umumnya,  jika
seorang  anggota  keluarga  terserang  stroke  iskemik, tidak langsung
dibawa ke rumah sakit. Mereka hanya membaringkan penderita saja. Kalau
dilihat  kondisi  membaik  maka  dianggap  kesehatannya  sudah pulih,”
ungkap Patricia.

Padahal  stroke  iskemik bisa dipulihkan kalau ditangani dengan cepat,
tidak  lebih  dari  tiga jam setelah serangan terjadi. Penanganan awal
yang paling menentukan adalah dengan cara deteksi.

Teknik Deteksi
Ada  dua  jenis  teknik  pemeriksaan  imaging untuk mengevaluasi kasus
stroke  atau Cerebrovascular Disease (CVD), yaitu CT scan dan Magnetic
Resonance  Imaging (MRI). CT scan diketahui sebagai pendeteksi imaging
yang  paling  mudah, cepat dan relatif murah untuk kasus stroke. Namun
dalam  beberapa  hal,  CT  scan  kurang sensitif dibanding dengan MRI,
misalnya pada kasus stroke hiperakut.

Patricia berpendapat jika pasien stroke iskemik ditangani dengan cepat
dan  tepat  menggunakan  paket pemeriksaan CT scan dan MRI maka stroke
yang berkelanjutan bisa pulih kembali.

Lebih  jauh  Patricia menjelaskan langkah pemeriksaan CT scan terhadap
otak  polos,  potongan aksial dari basis crani sampai vertex. Bila ada
tanda-tanda  stroke hemoragik maka pemeriksaan selesai sampai di tahap
ini. Namun kalau CT scan normal atau tidak ada tanda-tanda akut infark
maka pemeriksaan dilanjutkan dengan MRI.

RS.  Husada  menyediakan  sarana  MRI  dengan  tesla tinggi, yaitu 1,5
tesla.  MRI  adalah  suatu alat diagnostik gambar berteknologi canggih
yang   menggunakan   medan   magnet,   frekuensi  radio  tertentu  dan
seperangkat  komputer untuk menghasilkan gambar irisan penampang tubuh
manusia.

Dengan  ukuran  tesla  yang  lebih  tinggi maka akan dihasilkan gambar
lebih  tajam.  Kemampuan  membuat irisan penampang sangat tipis, yaitu
1-2  milimeter, sehingga detil struktur jaringan tulang rawan terlihat
lebih jelas.

Selain  mendeteksi  stroke, MRI juga bisa mendeteksi kelainan jaringan
di  leher,  tumor,  infeksis  atau  abses,  proses degenerasi, trauma,
kelainan bawaan dan sumbatan pembuluh darah. Pemeriksaan stroke dengan
MRI  ini,  menurut  Patricia, hanya tepat bagi stroke akut yang kurang
dari  tiga  jam,  adanya  defisit  neurologi  yang  nyata  dan terjadi
trombosit.

Terapi
Setelah  menjalani  deteksi  teknis,  pasien  stroke  harus  menjalani
perawatan  umum.  Menurut Prof. DR. Dr. SM.Lumbantobing, SpS (K), ahli
penyakit  dalam  Fakultas  Kedokteran  Universitas  Indonesia  (FKUI),
perawatan  umum  sangat  diperlukan  apabila kesadaran pasien menurun.
Biasanya   perawatan   ini   dilakukan  setelah  diadakan  pemeriksaan
penunjang  rutin,  mencakup hemoglabin, hematokrit, eritrosit, lekosi,
masa pendarahan serta pembekuan, dan seterusnya.

Pada  tahap perawatan umum harus diperhatikan jalan nafas pasien. Jika
jalan  nafas  tersumbat  maka  lendir  harus  disedot  untuk  mencegah
kekurangan  oksigen. Masuknya cairan, kalori dan elektrolit juga harus
dipantau   dengan  baik.  Di  samping  itu  harus  dicegah  terjadinya
peningkatan suhu dengan cara pemberian obat anti piretik atau kompres.

“Peranan   terapi   anti-hipertensi   pada   fase  akut  stroke  masih
kontraversial  di  antara  ahli  medis.  Ada  dugaan  bahwa menurunkan
tekanan   sistemik   dapat  memperburuk  aliran  darah  selebral  yang
mengakibatkan   kerusakan   iskemik,”  jelas  Lumbantobing.  Mengobati
tekanan  darah umumnya dilakukan bila tekanan diastole melebihi 140 mm
Hg  atau  tekanan  sistole  melebihi  220  mm  Hg. Ada pula pakar yang
mengambil  standar  batas  lain, yaitu tekanan astole lebih besar dari
220 mm Hg.

Umumnya  tekanan  darah  meningkat  pada fase akut stroke. Peningkatan
tekanan  darah  ini  dapat  disebabkan oleh stres, rasa nyeri, kandung
kencing  yang  penuh  dan  tekanan  intrakranial  yang  meninggi. Bila
iskemia  didapati  cukup  berat maka sebagian sel saraf otak mati atau
sekarat. Saraf yang mati ini tidak dapat ditolong. Yang bisa dilakukan
tim  medis adalah berusaha agar saraf yang sekarat jangan sampai mati.
Saat inilah dibutuhkan suatu terapi khusus bagi pasien.

Pembunuh Nomor Tiga
Lumbantobing  berpendapat  bahwa  banyak  masyarakat  awam  yang tidak
menyadari  bahwa  stroke  sangat berbahaya. Informasi ini sering tidak
didapat  oleh  masyarakat  kalangan  menengah  ke  bawah.  Yang  perlu
diketahui  adalah sesungguhnya stroke merupakan keadaan gawat darurat.
Stroke membutuhkan penanganan segera, sama halnya dengan jantung. Jika
pada  jantung  disebut  serangan  jantung,  maka  stroke  bisa disebut
sebagai serangan otak.

Jumlah  penderita  stroke  di  Indonesia  kian meningkat dari tahun ke
tahun.  Jangan  disepelekan, sebab penyakit ini sudah menjadi pembunuh
nomor  tiga di Indonesia setelah penyakit infeksi dan jantung koroner.
Sekitar  28,5  persen penderita penyakit stroke di Indonesia meninggal
dunia.

Di  Eropa,  stroke merupakan penyakit berbahaya kedua setelah penyakit
jantung  koroner.  Di  antara  100  pasien rumah sakit, sedikitnya dua
orang  merupakan  penderita stroke. Jika tidak ditangani dengan segera
maka  penderita  stroke  bisa berakhir dengan kematian atau kecacatan,
yakni  lumpuh  dimensial  atau  pikun  dan gangguan lain seperti sulit
bicara dan melakukan kegiatan lainnya.

Untuk mencegah “the silent killer” ini maka seseorang dianjurkan untuk
mengurangi  rokok,  melakukan  olah  raga  teratur,  membatasi minuman
beralkohol,  dan  menghindari stres berlebihan. Mereka yang berpotensi
tinggi  terkena  stroke  adalah  penderita  hipertensi, kencing manis,
pecandu rokok dan alkohol, serta penderita stres berat.(mer)




--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
https://www.google.com/accounts/NewAccount
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke