Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuhu,

Quote:

"Pak MM
Lalu apa hukumnya memperingati Maulid Nabi ?" (Renny)

Walaupun Renny batanyonyo ka Pak mm*** dan alah dijawab dek baliau hukumnyo 
"mubah" tapi sayang tanpa dukungan dalil, namun ambo tadorong manyampaikan 
tulisan nan di bawah ko di siko untuak kito basamo, siapo tau ado nan alun 
paham.
Ndak ciek juo tulisan ko nan barasa dari ambo kecuali nan pakai baso awak.  
Tantu sajo tulisan ko indak akan ado di siko jikok pertanyaan Renny di ateh 
indak ado. Selain itu tulisan ko kok bisa dimukasuikan agar awak ndak tamasuak 
urang-urang nan marugi, "Sesungguhnya, manusia berada dalam kerugian, kecuali 
orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati 
untuk kebenaran, dan saling menasehati untuk kesabaran (QS. Al-'Asr: 2-3)".  
Banyak maaf kapado pihak-pihak nan ndak sapandapek.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"..., jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada 
Allah (Al-Qur'an) dan Rasul(Sunnahnya), ..." [QS. An-Nisaa': 59]

Salam,
ZulTan, L, Bogor

-----------------------------------

Di antara bid'ah yang banyak dilakukan oleh kaum Muslimin di bulan Rabi'ul 
Awwal adalah perayaan Maulid Nabi, dan sedikit sekali para da'i yang 
memperingatkan ummat dari penyimpangan ini.  Apabila mereka yang merayakan ini 
mengatakan bahwa perayaan Maulid Nabi merupakan syi'ar Islam, maka apakah ini 
pernah dilaksanakan oleh Nabi Shallallaahu 'alahi wa sallam? Apakah peringatan 
ini pernah dilakukan oleh para Shahabat?

Peringatan Maulid Nabi adalah bid'ah yang mungkar.  Orang yang pertama kali 
merayakan Maulid Nabi adalah Bani 'Ubaid al-Qaddah yang menyebut diri mereka 
dengan kelompok Fathimiyah, yaitu di abad ke-4 Hijriyyah. [Lihat al-Bida' 
al-Hauliyah (hlm. 137]

Alasan dilarangnya memperingati Maulid Nabi:

1. Peringatan Maulid Nabi adalah bid'ah yang dibuat-buat dalam agama ini, 
dimana Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak menurunkan sedikit pun keterangan dan 
ilmu tentang itu.  Karena Nabi Shallallaahu 'alahi wa sallam tidak pernah 
mensyaria'atkannya baik melalui sabda beliau, perbuatan, maupun ketetapan 
beliau. 

"... Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang 
dilarangnya bagimu tinggalkanlah..." [QS. Al-Hasyr: 7]

"Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak ada dalam urusan agama kami, maka 
itu tertolak." [Shahih: Al-Bukhari (2697) dan Muslim (1718)]

2.  Khulafaa-ur Rasyidin dan para Shahabat tidak pernah mengadakan peringatan 
Maulid Nabi dan tidak pernah mengajak untuk melakukannya, padahal mereka adalah 
sebaik-baik ummat ini setelah Nabi Shallallaahu 'alahi wa sallam.

Nabi Shallallaahu 'alahi wa sallam bersabda:
"... Maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah 
Khulafaa-ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah 
dia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perara yang 
diada-adakan (dalam agama), karena setiap perkara yang diada-adakan adalah 
bid'ah, dan setiap bid'ah adalah kesesatan." [Shahih: HR. Ahmad (IV/126-127), 
Abu Dawud (4607) dan at-Tirmidzi (2676)]

3.  Peringatan hari kelahiran (ulang tahun/maulid) adalah kebiasaan orang-orang 
sesat dan orang-orang yang menyimpang dari kebenaran.  [Lihat al-Ibdaa' fill 
Madharriil Ibtida' oleh Syaikh 'Ali Mahfuzh (hlm. 251). Juga at-Tabarruk 
Anwaa'uhu wa Ahkaamuhu oleh DR. Nashir bin Abdurrahman al-Juda'i (hlm. 
359-373). Juga dalam Tanbiih Ulil Abshar ilaa Kamaliddin wa Maa fil Bida'i 
minal Akhthar oleh Syaikh as-Suhaimi (hlm. 238-232]

4. Sungguh Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:
"... Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku 
cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamu..." [QS. 
Al-Maa-idah: 3]
Oleh karenanya, tidak ada yang halal kecuali yang beliau halalkan, tidak ada 
yang haram kecuali yang diharamkannya, dan tidak ada agama kecuali yang 
disyari'atkannya.

5. Dengan diadakannya bid'ah-bid'ah semacam itu, timbul kesan bahwa Allah belum 
menyempurnakan agama ini bagi ummat-Nya, sehingga harus dibuat ibadah lain 
untuk menyempurnakan agama-Nya!  Demikian juga akan timbul kesan bahwasanya 
Rasulullah Shallallaahu 'alahi wa sallam belum menyampaikan kepada umatnya yang 
layak buat mereka sehingga kalangan ahli bid'ah yang datang belakangan itu 
perlu menciptakan hal baru dalam syari'at Allah Subhanahu wa Ta'ala tanpa izin 
dari-Nya.

6.  Dalam Islam tidak ada bid'ah hasanah, semua bid'ah adalah sesat sebagaimana 
sabda Nabi Shallallaahu 'alahi wa sallam:
"Setiap bid'ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka." 
[Shahih: HR. An-Nasa-i (III/189)]

7.  Sesungguhnya memperingati kelahiran Nabi Shallallaahu 'alahi wa sallam 
tidaklah merealisasikan kecintaan terhadap Nabi Shallallaahu 'alahi wa sallam 
karena kecintaan itu hanya dapat dibuktikan dengan mengikuti beliau, 
mengamalkan Sunnah beliau dan mentaati beliau.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Katakanlah (Muhammad): 'Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya 
Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.'  Dan Allah Maha Pengampun dan Maha 
penyayang." [QS. Ali 'Imran: 31]

Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullaah berkata: 
"Ayat-ayat yang mulia ini sebagai pemutus hukum atas setiap orang yang mengaku 
mencintai Allah tetapi tidak berada di atas jalan Nabi Muhammad Shallallaahu 
'alahi wa sallam, maka ia adalah pendusta dalam pengakuan mencintai Allah."

8.  Memperingati Maulid Nabi dan menjadikannya sebagai perayaan, berarti 
menyerupai orang-orang Yahudi dan Nashrani dalam hari raya mereka.
Rasulullah Shallallaahu 'alahi wa sallam bersabda:
"Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka." [Shahih: 
HR. Abu Dawud (4031), Ahmad (II/50, 92), dari Ibnu 'Umar. Lihat Shahiihul 
Jaami' (6149)]

9. Orang-orang yang berakal tidak akan terperdaya dengan banyaknya orang di 
berbagai negeri memperingati Maulid tadi. Karena tolok ukur kebenaran itu bukan 
dengan banyaknya orang yang mengamalkannya. Namun tolok ukur kebenaran dasarnya 
adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di bumi ini, niscaya mereka akan 
menyesatkanmu dari jalan Allah.  Yang mereka ikuti hanyalah persangkaan belaka 
dan mereka hanyalah membuat kebohongan." [QS. Al-An'aam: 116]

"Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat 
menginginkannya." [QS. Yusuf: 103]

10. Berdasarkan kaidah syari'at yaitu mengembalikan perkara yang 
diperselisihkan manusia kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallaahu 
'alaihi wa sallam.
Firman Allah 'Azza wa Jalla:
"..., jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada 
Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan 
hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik 
akibatnya." [QS. An-Nisaa': 59]
Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam tidak pernah sekali pun memerintahkan 
memperingati kelahiran beliau dan beliau sendiri juga tidak pernah 
melakukannya. Dengan demikian dapat dimaklumi bahwa peringatan Maulid Nabi 
bukan berasal dari Islam, tetapi merupakan perbuatan bid'ah yang diada-adakan.
 
11. Yang disyari'atkan bagi seorang Muslim pada hari Senin adalah berpuasa, 
bila ia suka. Karena Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang 
puasa pada hari Senin, beliau bersabda, "Itu adalah hari aku dilahirkan dan 
hari itu aku diutus sebagai Nabi, serta hari aku diberi wahyu." [Shahih: HR. 
Muslim (1162)]
Yang disyari'atkan adalah meneladani beliau pada hari Senin untuk berpuasa, 
bukan merayakannya.

12. Perayaan hari kelahiran Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam merupakan 
perbuatan ghuluw (berlebihan) terhadap beliau Shallallaahu 'alaihi wa sallam 
sedangkan Allah Ta'ala dan Rasul-nya melarang berbuat ghuluw.
Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Wahai Ahlul Kitab! Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu..." [QS. 
An-Nisaa': 171]

Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"Jauhkan diri kalian dari ghuluw dalam agama, karena sesungguhnya sikap ghuluw 
dalam agama itu telah membinasakan orang-orang sebelum kalian." [Shahih: HR. 
Ahmad (I/215, 347), an-Nasa-i (V/268), Ibnu Majjah (3029), Ibnu Khuzaimah 
(2867)]

Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam juga bersabda:
"Janganlah kalian mengkultuskan diriku sebagaimana orang-orang Nashrani 
mengkultuskan 'Isa bin Maryam.  Sesungguhnya aku tidak lain hanyalah seorang 
hamba, maka katakanlah, Hamba Allah dan Rasul-Nya.'" [Shahih: HR. Al-Bukhari 
(3445)]

13.  Dalam perayaan Maulid Nabi banyak terjadi kemungkaran dan berbagai hal 
yang diharamkan, terjadinya kesyirikan, bid'ah, ada di antara mereka yang tidak 
shalat, bercampur-baurnya laki-laki dan wanita, menggunakan nyanyian dan alat 
musik, merokok, dan lainnya. Bahkan sering terjadi perbuatan syirik besar 
terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala seperti istighatsah kepada Rasulullah 
Shallallaahu 'alaihi wa Sallam atau para wali. Sering juga diadakan 
dzikir-dzikir yang menyimpang dengan suara keras diiringi tepuk tangan yang tak 
kalah kerasnya.  Semuanya itu adalah perbuatan yang tidak disyari'atkan 
berdasarkan kesepakatan para ulama yang berpegang teguh kepada kebenaran." 
[Lihat al-Ibda' fii Madhaaril Ibtida' oleh Syaikh 'Ali Mahfuzh (hlm. 251-252)]

14. Dalam peringatan Maulid Nabi terdapat keyakinan bathil bahwa ruh Nabi 
Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Sallam turut hadir.  Ini jelas perbuatan 
bathil dan paling buruk. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam tidak akan 
keluar dari kubur sebelum hari Kiamat.
Allah Subhanhu wa Ta'ala berfirman:
"Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. 
Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kubur) di hari 
Kiamat." [QS. Al-Mu'minuun: 15-16]
 
Fatwa Para Ulama tentang Bid'ahnya Perayaan Maulid Nabi

1. Al-'Allamah asy-Syaikh Tajuddin al-Fakihani Rahimahullah (wafat 734 H) 
berkata:
"Saya tidak mengetahui adanya dasar bagi peringatan Maulid ini, baik dari Kitab 
(Al-Qur'an), Sunnah, dan tidak pernah dinukil pengalamannya dari salah seorang 
ulama ummat yang diikuti dalam agama dan berpegang teguh pada atsar-atsar 
generasi yang telah lalu. Bahkan, perayaan tersebut adalah bid'ah yang 
diada-adakan oleh pengekor hawa nafsu..." [Al-Maurid fii 'Amalil Maulid. 
Dinukil dari Rasaa-il fii Hukmil ihtifaal bi Maulidin Nabiy (I/8-9)]

2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullaah berkata:
"Adapun menjadikan suatu hari raya selain dari hari raya yang disyari'atkan, 
seperti sebagian malam di bulan Rabi'ul Awwal yang disebut dengan malam Maulid, 
atau sebagian malam di bulan Rajab, atau hari kedelapan belas di bulan Dzul 
Hijjah, atau hari Jumat pertama di bulan Rajab, atau hari kedelapan di bulan 
Syawwal yang dinamai oleh orang-orang bodoh dengan 'idul abraar, maka semua itu 
termasuk bid'ah yang tidak pernah dianjurkan oleh para ulama tedahulu dan tidak 
pernah dilakukan oleh mereka. Wallahu a'lam. [Majmuu' Fataawa Syaikhul Ibnu 
Taimiyyah (XXV/298)]

3. Syaikh 'abdullah bin 'Abdul 'Aziz bin Baaz Rahimahullaah berkata:
"Tidak diperbolehkan melaksanakan peringatan Maulid Nabi dan peringatan maulid 
selain beliau karena hal itu merupakan bid'ah dalam agama.  Sebab, Rasulullah 
Shallallaahu 'alaihi wa Sallam tidak pernah melakukannya, tidak juga dilakukan 
oleh Khulafaa-ur Rasyidin, dan tidak pula oleh para Shahabat. [Hukmul Ihtifaal 
bii Maulid an-Nabawi. Dinukil dari Rasaa-il fiu Hukmil Ihtifaal bi Maulidin 
Nabiy (I/57)]

4. Syaikh Hamud bin 'Abdillah at-Tuwaijiri Rahimahullaah berkata:
"... Dan hendaklah juga diketahui bahwa memperingati malam Maulid Nabi dan 
menjadikannya sebagai peringatan tidak termasuk petunjuk Rasulullah 
Shallallaahu 'alaihi wa Sallam tetapi ia adalah perbuatan yang diada-adakan 
yang dibuat setelah zaman beliau Shallallaahu 'alaihi wa sallam setelah berlalu 
enam ratus tahun.  Oleh karena itu, memperingati perayaan yang diada-adakan ini 
masuk dalam larangan keras yang Allah sebutkan dalam firmannya:
"... Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasulul-Nya takut akan 
mendapat cobaan atau ditimpa adzab yang pedih." [QS. An-Nuur: 63]
Jika dalam acara Maulid yang diada-adakan ini ada sedikit saja kebaikan maka 
para Shahabat telah bersegera melakukannya karena mereka adalah orang-orang 
yang bersegera menuju kebaikan dibandingkan orang-orang yang hidup setelah 
mereka... " [Ar-Raddul Qawiy 'ala ar-Rifa'i wal Majhuul wa Ibni 'Alawi wa 
Bayaan Akhthaa-ihim fil Maulidin Nabawi]

5. Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin Rahimahullah berkata:
"Pertama, bahwa malam dilahirkannya Rasul Shallallaahu 'alaihi wa sallam tidak 
diketahui secara pasti, bahkan sebagian ahli sejarah menetapkan bahwa malam 
kelahiran Rasul adalah malam kesembilan bulan Rabi'ul Awwal, bukan malam kedua 
belas bulan itu. Dengan demikian menjadikan malam dua belas tidak memiliki 
dasar dari sudut pandang sejarah. Kedua, dari sudut pandang syari'at, maka 
peringatan Maulid Nabi tidak memiliki dasar karena jika ia termasuk dari 
syari'at Allah Ta'ala niscaya Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah 
melakukannya atau menyampaikannya kepada ummatnya.

6. Lajnah ad-Daa-imah yang diketuai oleh Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baaz 
Rahimahullah mengatakan:
"Memperingati Maulid Rasul Shallallaahu 'alaihi wa Sallam adalah bid'ah, karena 
tidak pernah dilakukan oleh beliau sendiri dan salah seorang dari para Shahabat 
r.a. tidak pernah melakukannya untuk beliau, padahal mereka adalah orang yang 
paling bersemangat untuk mengagungkan Rasul Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan 
mengikuti Sunnahnya. [Fatawaa al-Lajnah ad-Daa-imah (III/30, fatwa no. 5005)]

7. Syaikh Shalih bin Fauzan bin 'Abdullah al-Fauzan berkata:
"Melaksanakan Maulid Nabi adalah bid'ah. Tidak pernah dinukil dari Nabi 
Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, tidak dari Khulafaa-ur Rasyidin, dan juga dari 
generasi yang diutamakan bahwa mereka melaksanakan peringatan Maulid ini, 
padahal mereka adalah orang yang paling mencintai Rasulullah Shallallaahu 
'alaihi wa Sallam dan manusia yang paling semangat melakukan kebaikan." 
[Al-Muntaqaa min Fataawaa Syaikh Shalih Fauzan (II/185-186)]

"Tapi kalau awak ndak sato Maulid kan ndak lamak jo pengurus musajik, jo 
tetangga gai, apo kecek urang beko," hati ketek ambo bakato.

Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengingatkan:
"Siapa yg membuat Allah murka krn ingin memperoleh ridha manusia, maka Allah 
akan murka padanya dan Allah menjadikan orang yg ingin ia peroleh ridhanya dgn 
membuat Allah murka itu akan murka kpdnya. Dan siapa yg membuat Allah ridha 
sekalipun manusia murka padanya, maka Allah akan ridha padanya dan Allah 
menjadikan org yg memurkainya dalam meraih ridha Allah itu akan ridha pula 
padanya, sampai-sampai Allah akan menghiasi ucapan dan amalannya di mata orang 
yg semula murka tersebut." (HR. Ath Thabrani)

"Lamo-lamo diasiangkan urang awak beko..."

Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"Sesungguhnya Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing 
sebagaimana permulaan, maka berbahagialah orang-orang asing." [Shahih: HR. 
Muslim dalam Kitabul Iman (no. 145/232) dari Shahabat Abu Hurairah ra]

Action cures fear.

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke