http://indrapiliang.com/2012/10/12/dicari-konsultan-spesialis/

Jumat, 12 October 2012Dicari: Konsultan Spesialis!

Oleh
Indra J Piliang
Ketua Balitbang DPP Partai Golkar

Dunia
 politik kini semakin berkembang menjadi industri baru. Industri yang 
penuh uang. Politik, sebagai ambisi, bisa jadi tidak lagi memikirkan 
jumlah uang yang dipakai. Dari sini juga, politik bukan lagi sekadar 
mengejar kekayaan. Politik memasuki fase aktualisasi diri, pengejaran 
prestise atau bahkan hanya sekadar patung yang dibuat setelah 
meninggalkan dunia yang fana. Akibatnya, hampir semua dipertaruhkan, 
tidak peduli dengan persepsi yang berkembang di sebagian kalangan. 

Saking
 banyaknya uang yang beredar di dunia politik, industri pers ikut 
kecipratan. Kita bisa membacanya dari data-data AC Nielsen. Konvensi 
Nasional Partai Golkar 2003-2004 adalah fase awal penerimaan besar 
industri pers dari iklan-iklan politik. Puncaknya adalah pemilu 2004 dan
 pilpres 2004. Hal itu terus terulang lagi ketika pemilihan langsung 
kepala daerah dimulai pada tahun 2005. Dari sini, sejumlah konsultan 
politik muncul, baik di lapangan survei, iklan, pembuatan visi dan misi,
 sampai penulisan buku, pencetakan kaos, baliho, spanduk, kalender dan 
lain-lain. 

Mobilisasi massa juga hadir dengan para penggeraknya.
 Sebetulnya, “industri kecil” pengerahan massa ini sudah dimulai ketika 
aksi-aksi demonstrasi mulai diberi kebebasan. Para tokoh di 
masing-masing daerah mencuat dengan biaya mahal. Belum lagi para artis 
yang dilibatkan dalam kampanye terbuka. Dunia artis semakin mudah masuk 
ke lapangan politik. Era pemilu 2009 – yang dimulai sejak Pilkada 2005 –
 menyambut kalangan artis ini beralih rupa menjadi politisi dan pejabat 
negara. Beberapa berhasil, namun banyak juga yang gagal. 

Pernah 
ada upaya untuk menekan biaya politik dengan cara mengembalikan sistem 
politik ke arah yang semakin tertutup. Misalnya, dengan menghilangkan 
suara terbanyak, mengembalikan pemilihan kepala daerah kepada DPRD atau 
bahkan hanya melibatkan Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai pihak 
yang memilih Presiden dan Wakil Presiden. Hanya saja, usaha ini 
sepertinya tidak banyak yang mendukung. Alasannya, secara sederhana, 
tentulah “kenikmatan” biaya politik yang mengalir ke banyak kantong, 
termasuk para pembuat kartu nama, pedagang asongan sampai sopir bus 
pengangkut massa. Alasan yang lebih substantif, jangan lagi demokrasi 
dibajak kaum elite.

*** 

Industri konsultasi 
politik yang kini berkembang membutuhkan para spesialis. Tugas konsultan
 secara umum adalah mengurangi kesulitan para kandidat, menutupi 
kelemahan yang dimiliki, meminimalisir biaya yang keluar, sampai 
menggali potensi yang dimiliki kandidat. Karena itu juga, konsultan 
moderen adalah konsultan spesialis dan sub spesialis yang sekaligus 
idealis. Kalau tidak, konsultan hanya jadi benalu dalam politik, 
menambah beban masyarakat dan bahkan bisa saja menambah buruk wajah 
politik. 

Hasan Nasbi, konsultan pemenangan Jokowi-Ahok dari 
Cyrus Network, mengatakan bahwa lebih dari 50 spesialis di bidang 
konsultan politik di Amerika Serikat. Saya mengamini itu. Konsultan 
generik berbeda dengan konsultan spesialis dengan solusi khusus. 
Spesialisasi berbeda dengan generalisasi. Satu wilayah pemilihan berbeda
 dengan wilayah pemilihan lain. Sekalipun semua strategi pemenangan 
Jokowi-Ahok dituliskan, tetap saja strategi itu tidak bisa dipakai di 
tempat lain secara sama persis atau digunakan lagi di Jakarta dalam 
pilkada 2017. Waktu dan ruang membatasi. 

Ketika ahli-ahli 
pemasaran produk konsumsi dengan tiba-tiba beralih menjadi konsultan 
politik, saya menemukan fenomena berikut: kandidat politik dipasarkan 
sebagaimana memasarkan produk. Ketika jadi Tim Pencitraan JK-Wiranto, 
saya menemukan banyak sekali proposal yang fokus kepada penyebaran image 
tentang JK-Wiranto sama persis dengan image produk konsumsi, barang dan jasa. 
Padahal, politik membutuhkan 
doktrinasi, program unggulan sampai kepada mitologi. Hampir semua 
pemenang dalam pilkada memiliki mitologi khusus, sesuai dengan karakter 
masing-masing kandidat dan kondisi demografis daerah masing-masing. 

Para
 spesialis inilah yang kurang di ranah politik. Jangan heran, apabila 
pemain-pemain utama konsultan politik biasanya itu-itu saja. Kalah dan 
menang tidak menjadi pikiran. Upaya menjadi konsultan nomor satu juga 
tak dijadikan sebagai parameter sukses. Bahkan, sejumlah konsultan 
bekerja dengan cara-cara yang sama, tanpa inovasi, tetapi telanjur 
memiliki nama akibat sukses pencitraan sebagai konsultan. Yang juga 
terjadi, pollster merangkap sebagai consultant, 
sesuatu yang sebenarnya tabu. Belakangan, konsultan juga bagian dari 
analis independen, sehingga suara-suara murni hasil analisis tenggelam 
oleh sikap like or dislike. 

Salah satu konsultan yang saya 
anggap benar-benar memegang garis pinggir yang keras adalah Yon Hotman, 
pendiri Mc Leader’s dan Blora Center. Keberhasilannya, meyakinkan Susilo
 Bambang Yudhoyono untuk maju Pilpres 2004 dan mendapatkan kepercayaan. 
Yon Hotman pernah bekerja sebagai volunteer kampanye Bill 
Clinton di Amerika Serikat. Sayang, hanya itu yang berhasil diraih Yon 
Hotman. Usai pilpres 2004, Yon sakit keras, dirawat di luar negeri. Dan 
bulan lalu Yon meninggal dunia. Ia banyak bercerita kepada saya dalam 
masa yang "kelam" itu, sebagian besar dengan nada sedih bercampur berang usai 
Pilpres 2004. 

*** 

Saya sendiri pernah selama dua 
bulan menjadi konsultan di FOX Indonesia ketika pertama kali berdiri. 
Kliennya adalah Alex Noerdin di Sumatera Selatan. Saya mengundurkan 
diri, kembali menjadi analis politik, lalu memutuskan terjun ke dunia 
politik sejak 06 Agustus 2008. Sejak saat itu juga kehidupan politik 
praktis saya alami, termasuk bertemu dengan beragam konsultan politik di
 banyak lapangan. Di tengah kesibukan sebagai politisi, saya berdialog 
dengan sejumlah konsultan politik, mulai dari yang generik, sampai 
(sedikit) yang spesialis. 

Tentu saya membayangkan kehidupan 
politik semakin membaik. Partai politik sedang memperbaharui dirinya 
dari dalam, dunia yang saya lihat sehari-hari. Diluar itu, saya tentu 
berharap kawan-kawan yang menaruh periuk nasinya di bidang konsultasi 
politik juga melakukan perbaikan diri. Sudah bukan zamannya lagi 
mengubah prosentase kemenangan kandidat dalam survei, hanya karena 
kliennya adalah yang ingin dapat posisi tinggi itu. Apalagi, sudah 
saatnya menghukum surveyor yang sama sekali hanya mengutak-atik hasil 
survei orang lain, memungutnya di tong sampah, lalu seolah sudah 
melakukan survei secara benar. 

Sekalipun dalam skala yang masih 
kecil, saya juga mulai membina sejumlah anak muda untuk menjadi 
spesialis di bidang konsultasi politik. Butuh kerja keras, memang. 
Bidangnya juga khusus, yakni di social media, dalam artian memanfaatkan dunia 
tanpa batas. Mediumnya: website, twitter, facebook, email, youtube, games dan 
sarana paperless yang lain. Saya jengah melihat baliho-baliho yang menyemak, 
koran-koran menumpuk yang tidak ada isinya dengan teknik kampanye yang anti 
nalar, 
pidato-pidato yang jarang diingat orang, debat yang sama sekali tidak 
memicu adrenalin, sampai black campaign seputar foto telanjang atau kehidupan 
pribadi yang penuh dengan bahasa kebencian. 

Untuk
 melihat politik hari ini lebih mudah. Buka saja situs-situs berita, 
lalu baca komentar yang muncul. Rata-rata negatif. Sebagai pembanding, 
baca juga situs-situs berita media massa Amerika Serikat yang berisi 
komentar. Ada dialektika, walau dengan subjektifitas masing-masing. Yang
 juga gampang adalah melihatmentions pada akun-akun twitter tokoh-tokoh 
politik. Kalau tidak kuat dengan segala jenis komentar negatif dan 
fitnah, bisa-bisa seluruh tokoh politik membekali diri dengan lebih dari dua 
jantung dan dua hati. 

Mudah-mudahan, jelang pemilu dan 
pilpres 2014 kita semakin banyak menemukan konsultan spesialis. Dengan 
itu demokrasi tumbuh, berkembang, bercabang dan berbuah... 

 
Indra J Piliang, The Indonesian Institute, Jln Wahid Hasyim No. 194, Jakarta 
Pusat. Twitter: @IndraJPiliang

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke