Hehe. Uda Andrinof lbh paham soal ini, Da. Di sjmlh aspek, Alex Nono itu 
berhasil baik, terutama dalam kualitas debat dan kepercayaan diri. Kalau utk 
sosok Capres yg dicari yang presidensial, Alex berhasil menunjukkan diri 
sebagai sosok gubernursial juga :D Tembok pertahanan Foke rubuh itu lbh krn 
tenaga Alex di putaran pertama, runtuhannya dimanfaatkan Jokowi. 

Sent from my iPad

On 13 Okt 2012, at 06:22, "Akmal N. Basral" <[email protected]> wrote:

> Jadi maksudnya, pasangan Alex-Nono kemarin gagal di Pilkada DKI karena Golkar 
> nggak punya konsultan spesialis seperti Jokowi-Ahok punya Hasan Nasbi ya IJP?
> 
> Salam,
> 
> Akmal N. Basral
> 
> On Oct 12, 2012, at 11:40 PM, Indra Jaya Piliang <[email protected]> wrote:
> 
>> http://indrapiliang.com/2012/10/12/dicari-konsultan-spesialis/
>> Jumat, 12 October 2012
>> Dicari: Konsultan Spesialis!
>> 
>> Oleh
>> Indra J Piliang
>> Ketua Balitbang DPP Partai Golkar
>> 
>> Dunia politik kini semakin berkembang menjadi industri baru. Industri yang 
>> penuh uang. Politik, sebagai ambisi, bisa jadi tidak lagi memikirkan jumlah 
>> uang yang dipakai. Dari sini juga, politik bukan lagi sekadar mengejar 
>> kekayaan. Politik memasuki fase aktualisasi diri, pengejaran prestise atau 
>> bahkan hanya sekadar patung yang dibuat setelah meninggalkan dunia yang 
>> fana. Akibatnya, hampir semua dipertaruhkan, tidak peduli dengan persepsi 
>> yang berkembang di sebagian kalangan. 
>> 
>> Saking banyaknya uang yang beredar di dunia politik, industri pers ikut 
>> kecipratan. Kita bisa membacanya dari data-data AC Nielsen. Konvensi 
>> Nasional Partai Golkar 2003-2004 adalah fase awal penerimaan besar industri 
>> pers dari iklan-iklan politik. Puncaknya adalah pemilu 2004 dan pilpres 
>> 2004. Hal itu terus terulang lagi ketika pemilihan langsung kepala daerah 
>> dimulai pada tahun 2005. Dari sini, sejumlah konsultan politik muncul, baik 
>> di lapangan survei, iklan, pembuatan visi dan misi, sampai penulisan buku, 
>> pencetakan kaos, baliho, spanduk, kalender dan lain-lain. 
>> 
>> Mobilisasi massa juga hadir dengan para penggeraknya. Sebetulnya, “industri 
>> kecil” pengerahan massa ini sudah dimulai ketika aksi-aksi demonstrasi mulai 
>> diberi kebebasan. Para tokoh di masing-masing daerah mencuat dengan biaya 
>> mahal. Belum lagi para artis yang dilibatkan dalam kampanye terbuka. Dunia 
>> artis semakin mudah masuk ke lapangan politik. Era pemilu 2009 – yang 
>> dimulai sejak Pilkada 2005 – menyambut kalangan artis ini beralih rupa 
>> menjadi politisi dan pejabat negara. Beberapa berhasil, namun banyak juga 
>> yang gagal. 
>> 
>> Pernah ada upaya untuk menekan biaya politik dengan cara mengembalikan 
>> sistem politik ke arah yang semakin tertutup. Misalnya, dengan menghilangkan 
>> suara terbanyak, mengembalikan pemilihan kepala daerah kepada DPRD atau 
>> bahkan hanya melibatkan Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai pihak yang 
>> memilih Presiden dan Wakil Presiden. Hanya saja, usaha ini sepertinya tidak 
>> banyak yang mendukung. Alasannya, secara sederhana, tentulah “kenikmatan” 
>> biaya politik yang mengalir ke banyak kantong, termasuk para pembuat kartu 
>> nama, pedagang asongan sampai sopir bus pengangkut massa. Alasan yang lebih 
>> substantif, jangan lagi demokrasi dibajak kaum elite.
>> 
>> *** 
>> 
>> Industri konsultasi politik yang kini berkembang membutuhkan para spesialis. 
>> Tugas konsultan secara umum adalah mengurangi kesulitan para kandidat, 
>> menutupi kelemahan yang dimiliki, meminimalisir biaya yang keluar, sampai 
>> menggali potensi yang dimiliki kandidat. Karena itu juga, konsultan moderen 
>> adalah konsultan spesialis dan sub spesialis yang sekaligus idealis. Kalau 
>> tidak, konsultan hanya jadi benalu dalam politik, menambah beban masyarakat 
>> dan bahkan bisa saja menambah buruk wajah politik. 
>> 
>> Hasan Nasbi, konsultan pemenangan Jokowi-Ahok dari Cyrus Network, mengatakan 
>> bahwa lebih dari 50 spesialis di bidang konsultan politik di Amerika 
>> Serikat. Saya mengamini itu. Konsultan generik berbeda dengan konsultan 
>> spesialis dengan solusi khusus. Spesialisasi berbeda dengan generalisasi. 
>> Satu wilayah pemilihan berbeda dengan wilayah pemilihan lain. Sekalipun 
>> semua strategi pemenangan Jokowi-Ahok dituliskan, tetap saja strategi itu 
>> tidak bisa dipakai di tempat lain secara sama persis atau digunakan lagi di 
>> Jakarta dalam pilkada 2017. Waktu dan ruang membatasi. 
>> 
>> Ketika ahli-ahli pemasaran produk konsumsi dengan tiba-tiba beralih menjadi 
>> konsultan politik, saya menemukan fenomena berikut: kandidat politik 
>> dipasarkan sebagaimana memasarkan produk. Ketika jadi Tim Pencitraan 
>> JK-Wiranto, saya menemukan banyak sekali proposal yang fokus kepada 
>> penyebaran image tentang JK-Wiranto sama persis dengan image produk 
>> konsumsi, barang dan jasa. Padahal, politik membutuhkan doktrinasi, program 
>> unggulan sampai kepada mitologi. Hampir semua pemenang dalam pilkada 
>> memiliki mitologi khusus, sesuai dengan karakter masing-masing kandidat dan 
>> kondisi demografis daerah masing-masing. 
>> 
>> Para spesialis inilah yang kurang di ranah politik. Jangan heran, apabila 
>> pemain-pemain utama konsultan politik biasanya itu-itu saja. Kalah dan 
>> menang tidak menjadi pikiran. Upaya menjadi konsultan nomor satu juga tak 
>> dijadikan sebagai parameter sukses. Bahkan, sejumlah konsultan bekerja 
>> dengan cara-cara yang sama, tanpa inovasi, tetapi telanjur memiliki nama 
>> akibat sukses pencitraan sebagai konsultan. Yang juga terjadi, pollster 
>> merangkap sebagai consultant, sesuatu yang sebenarnya tabu. Belakangan, 
>> konsultan juga bagian dari  analis independen, sehingga suara-suara murni 
>> hasil analisis tenggelam oleh sikap like or dislike. 
>> 
>> Salah satu konsultan yang saya anggap benar-benar memegang garis pinggir 
>> yang keras adalah Yon Hotman, pendiri Mc Leader’s dan Blora Center. 
>> Keberhasilannya, meyakinkan Susilo Bambang Yudhoyono untuk maju Pilpres 2004 
>> dan mendapatkan kepercayaan. Yon Hotman pernah bekerja sebagai volunteer 
>> kampanye Bill Clinton di Amerika Serikat. Sayang, hanya itu yang berhasil 
>> diraih Yon Hotman. Usai pilpres 2004, Yon sakit keras, dirawat di luar 
>> negeri. Dan bulan lalu Yon meninggal dunia. Ia banyak bercerita kepada saya 
>> dalam masa yang "kelam" itu, sebagian besar dengan nada sedih bercampur 
>> berang usai Pilpres 2004. 
>> 
>> *** 
>> 
>> Saya sendiri pernah selama dua bulan menjadi konsultan di FOX Indonesia 
>> ketika pertama kali berdiri. Kliennya adalah Alex Noerdin di Sumatera 
>> Selatan. Saya mengundurkan diri, kembali menjadi analis politik, lalu 
>> memutuskan terjun ke dunia politik sejak 06 Agustus 2008. Sejak saat itu 
>> juga kehidupan politik praktis saya alami, termasuk bertemu dengan beragam 
>> konsultan politik di banyak lapangan. Di tengah kesibukan sebagai politisi, 
>> saya berdialog dengan sejumlah konsultan politik, mulai dari yang generik, 
>> sampai (sedikit) yang spesialis. 
>> 
>> Tentu saya membayangkan kehidupan politik semakin membaik. Partai politik 
>> sedang memperbaharui dirinya  dari dalam, dunia yang saya lihat sehari-hari. 
>> Diluar itu, saya tentu berharap kawan-kawan yang menaruh periuk nasinya di 
>> bidang konsultasi politik juga melakukan perbaikan diri. Sudah bukan 
>> zamannya lagi mengubah prosentase kemenangan kandidat dalam survei, hanya 
>> karena kliennya adalah yang ingin dapat posisi tinggi itu. Apalagi, sudah 
>> saatnya menghukum surveyor yang sama sekali hanya mengutak-atik hasil survei 
>> orang lain, memungutnya di tong sampah, lalu seolah sudah melakukan survei 
>> secara benar. 
>> 
>> Sekalipun dalam skala yang masih kecil, saya juga mulai membina sejumlah 
>> anak muda untuk menjadi spesialis di bidang konsultasi politik. Butuh kerja 
>> keras, memang. Bidangnya juga khusus, yakni di social media, dalam artian 
>> memanfaatkan dunia tanpa batas. Mediumnya: website, twitter, facebook, 
>> email, youtube, games dan sarana paperless yang lain. Saya jengah melihat 
>> baliho-baliho yang menyemak, koran-koran menumpuk yang tidak ada isinya 
>> dengan teknik kampanye yang anti nalar, pidato-pidato yang jarang diingat 
>> orang, debat yang sama sekali tidak memicu adrenalin, sampai black campaign 
>> seputar foto telanjang atau kehidupan pribadi yang penuh dengan bahasa 
>> kebencian. 
>> 
>> Untuk melihat politik hari ini lebih mudah. Buka saja situs-situs berita, 
>> lalu baca komentar yang muncul. Rata-rata negatif. Sebagai pembanding, baca 
>> juga situs-situs berita media massa Amerika Serikat yang berisi komentar. 
>> Ada dialektika, walau dengan subjektifitas masing-masing. Yang juga gampang 
>> adalah melihat mentions pada akun-akun twitter tokoh-tokoh politik. Kalau 
>> tidak kuat dengan segala jenis komentar negatif dan fitnah, bisa-bisa 
>> seluruh tokoh politik membekali diri dengan lebih dari dua jantung dan dua 
>> hati. 
>> 
>> Mudah-mudahan, jelang pemilu dan pilpres 2014 kita semakin banyak menemukan 
>> konsultan spesialis. Dengan itu demokrasi tumbuh, berkembang, bercabang dan 
>> berbuah...
>>  
>> Indra J Piliang, The Indonesian Institute, Jln Wahid Hasyim No. 194, Jakarta 
>> Pusat. Twitter: @IndraJPiliang
>> -- 
>> -- 
>> .
>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
>> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
>> - DILARANG:
>> 1. E-mail besar dari 200KB;
>> 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
>> 3. One Liner.
>> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
>> http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
>> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & 
>> mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> -- 
> -- 
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
> 1. E-mail besar dari 200KB;
> 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
> 3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
> http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
> subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>  
>  
>  

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke