Wa'alaikum salam, Uda. Insya Allah. Iko nomor ambo: 0812.101.35.25." 

Sent from my iPad

On 13 Okt 2012, at 04:21, asmun sjueib <[email protected]> wrote:

> Aww. Ddn. IJP tarimokasieh tulisan nan menarik dan akan lebih menarik sarato 
> bemanfaat kami bisa membantu saketek-saketek dan dapeik basuo ngopi2 di JAlan 
> Sriwijaya Raya 47 Jakarta Selatan. Time table dapeik diatur. Wassalam, 
> H.A.A.S.M.A. Hp. 0812-923-2211
> 
> Dari: Indra Jaya Piliang <[email protected]>
> Kepada: Lisi <[email protected]> 
> Dikirim: Jumat, 12 Oktober 2012 23:40
> Judul: [R@ntau-Net] Dicari: Konsultan Spesialis!
> 
> http://indrapiliang.com/2012/10/12/dicari-konsultan-spesialis/
> Jumat, 12 October 2012
> Dicari: Konsultan Spesialis!
> 
> Oleh
> Indra J Piliang
> Ketua Balitbang DPP Partai Golkar
> 
> Dunia politik kini semakin berkembang menjadi industri baru. Industri yang 
> penuh uang. Politik, sebagai ambisi, bisa jadi tidak lagi memikirkan jumlah 
> uang yang dipakai. Dari sini juga, politik bukan lagi sekadar mengejar 
> kekayaan. Politik memasuki fase aktualisasi diri, pengejaran prestise atau 
> bahkan hanya sekadar patung yang dibuat setelah meninggalkan dunia yang fana. 
> Akibatnya, hampir semua dipertaruhkan, tidak peduli dengan persepsi yang 
> berkembang di sebagian kalangan. 
> 
> Saking banyaknya uang yang beredar di dunia politik, industri pers ikut 
> kecipratan. Kita bisa membacanya dari data-data AC Nielsen. Konvensi Nasional 
> Partai Golkar 2003-2004 adalah fase awal penerimaan besar industri pers dari 
> iklan-iklan politik. Puncaknya adalah pemilu 2004 dan pilpres 2004. Hal itu 
> terus terulang lagi ketika pemilihan langsung kepala daerah dimulai pada 
> tahun 2005. Dari sini, sejumlah konsultan politik muncul, baik di lapangan 
> survei, iklan, pembuatan visi dan misi, sampai penulisan buku, pencetakan 
> kaos, baliho, spanduk, kalender dan lain-lain. 
> 
> Mobilisasi massa juga hadir dengan para penggeraknya. Sebetulnya, “industri 
> kecil” pengerahan massa ini sudah dimulai ketika aksi-aksi demonstrasi mulai 
> diberi kebebasan. Para tokoh di masing-masing daerah mencuat dengan biaya 
> mahal. Belum lagi para artis yang dilibatkan dalam kampanye terbuka. Dunia 
> artis semakin mudah masuk ke lapangan politik. Era pemilu 2009 – yang dimulai 
> sejak Pilkada 2005 – menyambut kalangan artis ini beralih rupa menjadi 
> politisi dan pejabat negara. Beberapa berhasil, namun banyak juga yang gagal. 
> 
> Pernah ada upaya untuk menekan biaya politik dengan cara mengembalikan sistem 
> politik ke arah yang semakin tertutup. Misalnya, dengan menghilangkan suara 
> terbanyak, mengembalikan pemilihan kepala daerah kepada DPRD atau bahkan 
> hanya melibatkan Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai pihak yang memilih 
> Presiden dan Wakil Presiden. Hanya saja, usaha ini sepertinya tidak banyak 
> yang mendukung. Alasannya, secara sederhana, tentulah “kenikmatan” biaya 
> politik yang mengalir ke banyak kantong, termasuk para pembuat kartu nama, 
> pedagang asongan sampai sopir bus pengangkut massa. Alasan yang lebih 
> substantif, jangan lagi demokrasi dibajak kaum elite.
> 
> *** 
> 
> Industri konsultasi politik yang kini berkembang membutuhkan para spesialis. 
> Tugas konsultan secara umum adalah mengurangi kesulitan para kandidat, 
> menutupi kelemahan yang dimiliki, meminimalisir biaya yang keluar, sampai 
> menggali potensi yang dimiliki kandidat. Karena itu juga, konsultan moderen 
> adalah konsultan spesialis dan sub spesialis yang sekaligus idealis. Kalau 
> tidak, konsultan hanya jadi benalu dalam politik, menambah beban masyarakat 
> dan bahkan bisa saja menambah buruk wajah politik. 
> 
> Hasan Nasbi, konsultan pemenangan Jokowi-Ahok dari Cyrus Network, mengatakan 
> bahwa lebih dari 50 spesialis di bidang konsultan politik di Amerika Serikat. 
> Saya mengamini itu. Konsultan generik berbeda dengan konsultan spesialis 
> dengan solusi khusus. Spesialisasi berbeda dengan generalisasi. Satu wilayah 
> pemilihan berbeda dengan wilayah pemilihan lain. Sekalipun semua strategi 
> pemenangan Jokowi-Ahok dituliskan, tetap saja strategi itu tidak bisa dipakai 
> di tempat lain secara sama persis atau digunakan lagi di Jakarta dalam 
> pilkada 2017. Waktu dan ruang membatasi. 
> 
> Ketika ahli-ahli pemasaran produk konsumsi dengan tiba-tiba beralih menjadi 
> konsultan politik, saya menemukan fenomena berikut: kandidat politik 
> dipasarkan sebagaimana memasarkan produk. Ketika jadi Tim Pencitraan 
> JK-Wiranto, saya menemukan banyak sekali proposal yang fokus kepada 
> penyebaran image tentang JK-Wiranto sama persis dengan image produk konsumsi, 
> barang dan jasa. Padahal, politik membutuhkan doktrinasi, program unggulan 
> sampai kepada mitologi. Hampir semua pemenang dalam pilkada memiliki mitologi 
> khusus, sesuai dengan karakter masing-masing kandidat dan kondisi demografis 
> daerah masing-masing. 
> 
> Para spesialis inilah yang kurang di ranah politik. Jangan heran, apabila 
> pemain-pemain utama konsultan politik biasanya itu-itu saja. Kalah dan menang 
> tidak menjadi pikiran. Upaya menjadi konsultan nomor satu juga tak dijadikan 
> sebagai parameter sukses. Bahkan, sejumlah konsultan bekerja dengan cara-cara 
> yang sama, tanpa inovasi, tetapi telanjur memiliki nama akibat sukses 
> pencitraan sebagai konsultan. Yang juga terjadi, pollster merangkap sebagai 
> consultant, sesuatu yang sebenarnya tabu. Belakangan, konsultan juga bagian 
> dari analis independen, sehingga suara-suara murni hasil analisis tenggelam 
> oleh sikap like or dislike. 
> 
> Salah satu konsultan yang saya anggap benar-benar memegang garis pinggir yang 
> keras adalah Yon Hotman, pendiri Mc Leader’s dan Blora Center. 
> Keberhasilannya, meyakinkan Susilo Bambang Yudhoyono untuk maju Pilpres 2004 
> dan mendapatkan kepercayaan. Yon Hotman pernah bekerja sebagai volunteer 
> kampanye Bill Clinton di Amerika Serikat. Sayang, hanya itu yang berhasil 
> diraih Yon Hotman. Usai pilpres 2004, Yon sakit keras, dirawat di luar 
> negeri. Dan bulan lalu Yon meninggal dunia. Ia banyak bercerita kepada saya 
> dalam masa yang "kelam" itu, sebagian besar dengan nada sedih bercampur 
> berang usai Pilpres 2004. 
> 
> *** 
> 
> Saya sendiri pernah selama dua bulan menjadi konsultan di FOX Indonesia 
> ketika pertama kali berdiri. Kliennya adalah Alex Noerdin di Sumatera 
> Selatan. Saya mengundurkan diri, kembali menjadi analis politik, lalu 
> memutuskan terjun ke dunia politik sejak 06 Agustus 2008. Sejak saat itu juga 
> kehidupan politik praktis saya alami, termasuk bertemu dengan beragam 
> konsultan politik di banyak lapangan. Di tengah kesibukan sebagai politisi, 
> saya berdialog dengan sejumlah konsultan politik, mulai dari yang generik, 
> sampai (sedikit) yang spesialis. 
> 
> Tentu saya membayangkan kehidupan politik semakin membaik. Partai politik 
> sedang memperbaharui dirinya dari dalam, dunia yang saya lihat sehari-hari. 
> Diluar itu, saya tentu berharap kawan-kawan yang menaruh periuk nasinya di 
> bidang konsultasi politik juga melakukan perbaikan diri. Sudah bukan zamannya 
> lagi mengubah prosentase kemenangan kandidat dalam survei, hanya karena 
> kliennya adalah yang ingin dapat posisi tinggi itu. Apalagi, sudah saatnya 
> menghukum surveyor yang sama sekali hanya mengutak-atik hasil survei orang 
> lain, memungutnya di tong sampah, lalu seolah sudah melakukan survei secara 
> benar. 
> 
> Sekalipun dalam skala yang masih kecil, saya juga mulai membina sejumlah anak 
> muda untuk menjadi spesialis di bidang konsultasi politik. Butuh kerja keras, 
> memang. Bidangnya juga khusus, yakni di social media, dalam artian 
> memanfaatkan dunia tanpa batas. Mediumnya: website, twitter, facebook, email, 
> youtube, games dan sarana paperless yang lain. Saya jengah melihat 
> baliho-baliho yang menyemak, koran-koran menumpuk yang tidak ada isinya 
> dengan teknik kampanye yang anti nalar, pidato-pidato yang jarang diingat 
> orang, debat yang sama sekali tidak memicu adrenalin, sampai black campaign 
> seputar foto telanjang atau kehidupan pribadi yang penuh dengan bahasa 
> kebencian. 
> 
> Untuk melihat politik hari ini lebih mudah. Buka saja situs-situs berita, 
> lalu baca komentar yang muncul. Rata-rata negatif. Sebagai pembanding, baca 
> juga situs-situs berita media massa Amerika Serikat yang berisi komentar. Ada 
> dialektika, walau dengan subjektifitas masing-masing. Yang juga gampang 
> adalah melihat mentions pada akun-akun twitter tokoh-tokoh politik. Kalau 
> tidak kuat dengan segala jenis komentar negatif dan  fitnah, bisa-bisa 
> seluruh tokoh politik membekali diri dengan lebih dari dua jantung dan dua 
> hati. 
> 
> Mudah-mudahan, jelang pemilu dan pilpres 2014 kita semakin banyak menemukan 
> konsultan spesialis. Dengan  itu demokrasi tumbuh, berkembang, bercabang dan 
> berbuah...
>  
> Indra J Piliang, The Indonesian Institute, Jln Wahid Hasyim No. 194, Jakarta 
> Pusat. Twitter: @IndraJPiliang
> -- 
> -- 
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
> 1. E-mail besar dari 200KB;
> 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
> 3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
> http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
> subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>  
>  
>  
> 
> 

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke