Ni Yoen, kalau pariwisata ini mau dilihat dari perspektif Ekonomi Kreatif bukan 
hanya dalam tataran umum, sedikitnya MAPPAS mempunyai potensi 4 x lebih besar 
dari Antologi Ranah.  Kenapa "sedikitnya 4 x"? Lihat posting pertama saya 
mengomentari thread ini yang menelisik beberapa subsektor EK. Lebih baik 4 
subsektor itu yang dioptimalkan.

Kalau mau ditambah dengan subsektor EK lain yakni film, maka keindahan alam 
Minang sebagai lokasi film (dalam hal ini mencakup sinetron/FTV dll produk 
audio visual) menjadi kekuatan kelima, karena potensi ekonomi "wisatawan 
perfilman" yang besar dibandingkan wisatawan individual yang menghabiskan waktu 
yang sama. 

Saat saya mengikuti Busan International Film Festival, Korea Selatan (2006) 
saya bertemu beberapa anggota penggodok RUU Perfilman dari Komisi X yang 
dipimpin Hakam Naja (PAN). Waktu itu Dubes RI adalah Jacob Tobing (Golkar). 
Asumsi HJ dan Tim RUU Perfilman saat itu masih sama dengan asumsi birokrat 
puluham tahun sebelumnya, terutama pada masa Harmoko, bahwa Indonesia sangat 
potensial sebagai lokasi film-film besar karena "alamnya indah, ada Borobudur, 
ada Danau Toba, dll".

Ini paradigma lama. Saya sampaikan pada saat itu bahwa yang membuat Selandia 
Baru terpilih sebagai "surga" syuting bagi film-film genre high fantasy seperti 
Hercules, Xena, Trilogi Lord of The Ring, Chronicles of Narnia dll, bukan hanya 
akibat "keindahan alam" per se. Tapi juga kemudahan investasi (perfilman) 
berupa, dan yang paling utama, penerapan tax deduction yang signifikan.

Tahun 2006 itu, Irlandia kampanye besar-besaran untuk menarik sineas dunia agar 
membuat film di sana dengan mereduksi pajak sampai 25 %. Dalam bujet major film 
yang bisa jutaan USD, that means a lot! Irlandia apa kurang cantiknya alam dan 
budaya mereka? Toh mereka bukan favorit tempat pembuatan film sebelumnya sampai 
menerapkan kebijakan itu. 

Sekitar tahun yang sama Australia juga kampanye jor-joran untuk menyaingi 
Selandia Baru. Maskapai mereka Qantas bahkan sampai bersedia membuat kompetisi 
bagi sineas muda di Indonesia untuk mengeksplorasi sudut-sudut negeri itu dalam 
format film indie (karena mereka melihat banyaknya pelajar dan mahasiswa 
Indonesia di sana). Saya tahu persis hal ini karena terlibat sebagai salah 
seorang yang menginisiasi program awal via Ad Agency Qantas di Indonesia. 

Dalam 2-3 tahun terakhir, Turki yang gila-gilaan menggaet devisa dengan cara 
ini. Dalam sebulan terakhir di Indonesia, juga di seluruh dunia, sedikitnya ada 
dua film blockbuster yang menjadikan Istanbul sebagai setting cerita, "Taken 2" 
(Liam Neeson) dan "Skyfall", seri terbaru James Bond. Yang sudah nonton salah 
satu dari 2 film ini, pasti tahu bagaimana Istanbul bisa muncul dengan kekhasan 
atap rumah yang saling menyambung dengan semacam "pematang kecil" yang membuat 
adegan balap motor bisa terlihat khas dan mencekam karena berlangsung di atap 
rumah! 
Yang sudah nonton 2 film itu akan tahu, bahwa lokasi syuting adalah ... sama! 

Rumah-rumah itu sejak dulu sudah ada, dengan segala kekhasannya. Tetapi 
kejelian EK yang membuat sesuatu yang "given" itu memiliki nilai tambah baru. 
Rumah-rumah Turki itu bukan hanya dekorasi pasif yang menjadi latar belakang 
pemandangan, tapi bagian integral dari cerita.

Rumah gadang Minang bagaimana? Apakah cukup hanya sebagai dekorasi pasif atau 
mau dioptimalisasi? MAPPAS bisa dapat PR banyak dari sini. :)

Balik ke potensi MAPPAS dan potensi wisata Minang dalam konteks EK, coba lihat 
sejak awal 2000, berapa film besar (level Indonesia) yang dibuat di Sumbar? 
Hanya "Di Bawah Lindungan Ka'bah" (2011) yang dibuat Hanny Saputra dari roman 
Buya Hamka. Itupun karena setting lokasi di dalam novel yang memang di Sumbar. 
Tapi feature film baru yang memasukkan Sumbar by design? Nehi.

Bandingkan dengan Papua yang untuk periode sama melahirkan "Ijinkan Aku 
Menciummu Sekali Saja" (Garin Nugroho), "Denias" (John de Rantau, yang anak 
Minang) dan terbaru "Di Timur Matahari" (Ari Sihasale). Tahun depan, rencananya 
akan dibuat "Senja di Kaimana". 

Kalau ditambah dengan film-film yang mengambil lokasi Timur lainnya, 
ketertinggalan Sumbar makin jauh. Ada "Tanah Air Beta" (Ari Sihasale, lokasi 
NTT/Atambua), "Sepeda Kumbang" (Ari Sihasale lagi, Sumbawa), dan yang terbaru 
"Atambua 39 derajat Celsius" (Riri Riza).

Kenapa film jadi primadona? Karena dalam film seluruh elemen subsektor EK bisa 
tercakup, optimalisasi pariwisata dalam "kecepatan penuh". 

Jadi, kalau sekarang konsentrasi MAPPAS mau bikin buku pariwisata, itu hanya 
"semangkuk es batu" dari gunung es yang siap dieksplorasi lebih jauh. 

Itu belum membincangkan subsektor lain seperti musik, yang kini digalakkan Edy 
Utama (?) lewat Sawahlunto International Music Festival pekan lalu. 

Salam,

Akmal N. Basral 

Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Yoen Aulina Casym <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Fri, 7 Dec 2012 22:30:21 
To: [email protected]<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [R@ntau-Net] Tiga hal yang mempersatukan orang Minang.

Pak Saaf nan ambo hormati

Sebagai orang MAPPAS senang juga rasanya mendengar pak Saaf bilang sekarang 
MAPPAS mulai menggeliat lagi, meskipun mungkin belum banyak artinya.

Proyek Antologi Ranah dari Akmal ini bikin ambo "terusik" lagi untuk meneruskan 
tulisan tentang pariwisata ranah yang sekian lama terhenti. (bahkan janji 
ketemu pak Saaf pun untuk membicarakan calon buku itupun belum sempat dilakoni).

Nah, sekarang dengan adanya Akmal, tambah lagi satu tempat ambo bisa minta 
pendapat ya Pak.

Salam,

Yoen Aulina Casym, 49
Jatiwaringin.






On 7 Des 2012, at 21:54, "Akmal N. Basral" <[email protected]> wrote:

> Betul Pak Saaf, alhamdulillah MAPPAS sudah menggeliat lagi.
> 
> Mungkin yang harus dirapikan justru kesiapan dari lokasi kunjungan wisata di 
> Minang dengan 4 subsektor Ekonomi Kreatif yang harus dioptimalkan, 
> sebagaimana terlihat dari laporan "pandangan mata" Pak Suryadi Sunuri kemarin 
> di milis ini, bahwa (hanya) Sawahlunto yang cukup siap. Lebih siap dari 
> Bukittinggi yang hotel sekelas The Hills pun tak memiliki brosur agenda 
> wisata yang representatif (ambo juga mengalami hal yang sama saat di The 
> Hills, Juni lalu).
> 
> Proyek antologi "Ranah" sebenarnya juga mengancik pada wilayah EK juga meski 
> belum saya paparkan dengan gamblang, tapi rupanya secara tak langsung sudah 
> "terlihat" oleh pandangan Pak Saaf yang jeli. 
> 
> Proyek antologi "Ranah" ini seperti kita mengupas bawang putih. Lapisan 
> pertama, seakan-akan hanya menyalurkan bakat menulis fiksi anggota (yang 
> selama ini terpendam) saja. Pada lapisan kedua, seperti yang bapak lihat, 
> berfungsi "menyatukan" karena cukup banyak yang hanya anggota pasif di 
> Palanta, tidak pernah posting sehari-hari, ternyata antusias untuk mengikuti 
> proyek antologi. Dan ini hal yang baik sekali karena merupakan bentuk 
> partisipasi murni, bukan mobilisasi. Pada lapisan ketiga, yang saya harapkan 
> setelah bentuk fisik antologi muncul pada Juni 2013, akan terjadi gerak 
> Ekonomi Kreatif yang bisa membawa manfaat ekonomis. Apalagi jika kita bisa 
> menemukan momentum untuk melanjutkan proyek ini tidak hanya dalam bentuk 
> fiksi, melainkan juga artikel-artikel non-fiksi yang berkaitan dengan Minang 
> lainnya (dari berbagai topik, tidak harus menyangkut ASB BSK).
> 
> Misalkan bisa kita inisiasi (mulai pikirkan) untuk membuat buku non-fiksi 
> bercorak "Chicken Soup for The Soul" atau "Laa Tahzan" di mana ASB BSK 
> menjadi tulang punggung yang melandasi. Dia tidak muncul sebagai subyek 
> utama, tapi mewarnai setiap kisah (non-fiksi) yang ada di buku "Minang 
> Chicken Soup for The Soul" itu. Jika dirancang dengan serius, saya kira buku 
> jenis ini akan memiliki lebih banyak (calon) penulis dari berbagai bidang.
> 
> Salam,
> 
> Akmal N. Basral
> 
> Sent from my iPad
> 
> On Dec 7, 2012, at 9:35 PM, "Dr Saafroedin Bahar" 
> <[email protected]> wrote:
> 
>> Terima kasih, Bung Akmal. Saya tak mengira bahwa seluruhnya ada tempat dalam 
>> Ekonomi Kreatif. Syukur kita sudah beberapa tahun ini punya MAPPAS,yang 
>> sudah menggeliat lagi.
>> Wassalam,
>> SB. 
>> Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.
>> 
>> -----Original Message-----
>> From: "Akmal N. Basral" <[email protected]>
>> Sender: [email protected]
>> Date: Fri, 7 Dec 2012 19:52:50 
>> To: [email protected]<[email protected]>
>> Reply-To: [email protected]
>> Subject: Re: [R@ntau-Net] Tiga hal yang mempersatukan orang Minang.
>> 
>> Penglihatan yang jeli, Pak Saaf.
>> Kalau kita elaborasi lagi tiga hal yang Pak Saaf sebut "menyatukan orang 
>> Minang" itu, yakni:
>> 1. Makanan/kuliner
>> 2. Keindahan alam/wisata
>> 3. Kesenian/sastra
>> maka ketiga berada dalam gugus Ekonomi Kreatif (EK) yang terdiri dari 15 
>> Subsektor, dan kini sedang digalakkan pemerintah sebagai alternatif 
>> pemberdayaan ekonomi.
>> 
>> Sastra (dalam bentuk buku) adalah EK ke-11, sedangkan kuliner merupakan EK 
>> ke-15 yang sudah diakui mulai tahun ini (tahun lalu hanya 14 subsektor di 
>> luar kuliner). Yang paling banyak mengandung muatan EK sebenarnya adalah 
>> keindahan alam/wisata, terutama jika dikaitkan dengan Pasar Barang Seni (EK 
>> ke-3), Kerajinan/kriya (ke-4), Musik Tradisional (ke-9) dan Seni pertunjukan 
>> (ke-10). Sehingga, dari 3 hal yang Pak Saaf sebut itu sebetulnya sudah 
>> terkandung 6 dari 15 subsektor EK (40 %).
>> 
>> Dengan kata lain, ini sebuah potensi lain yang membutuhkan kejelian untuk 
>> diolah, dalam kaitannya untuk "economic empowerment" bagi Minang.
>> 
>> Balik sejenak ke masa kebangkitan EK pada awal 90-an di Inggris ketika Tony 
>> Blair dan Partai Buruh membentuk National Endowment for Science and The Art 
>> (NESTA) dan dilanjutkan dengan pembentukan Creative Industries Task Force 
>> (1997) setelah Blair menjadi penghuni baru Downing Street 10, model NESTA 
>> dan CITF segera dimultiplikasi oleh banyak negara, termasuk Indonesia, untuk 
>> mengurangi ketergantungan pada industri manufaktur dan jasa.
>> 
>> Dalam konteks Minang, saya kira model mini CITF, mungkin dengan nama 
>> "Minangkabau Creative Industries Task Force" yang digerakkan oleh unsur 
>> masyarakat madani (civil society) non-Pemerintah Provinsi, seperti Palanta 
>> RN yang memiliki ragam anggota dari berbagai keahlian, bisa ikut menjadi 
>> motor perubahan.
>> 
>> Jika Prof. Muhammad Yunus di Bangladesh saja bisa, seorang diri pada 
>> awalnya, lewat ide Grameen Bank yang meminjamkan kredit mikro bagi warga 
>> supermiskin untuk membeli barang produktif sederhana seperti payung dan 
>> telepon genggam, Palanta RN ini saja memiliki berapa orang Doktor dan 
>> Profesor? 
>> 
>> Fokus pada pengembangan EK bisa menjadi jalan alternatif yang powerful jika 
>> potensi yang sudah ada, namun masih terserak, bisa dikoordinasi dalam sebuah 
>> master plan jangka pendek (katakanlah 5 tahun) yang kohesif, sambil tetap 
>> menjaga kemandirian masing-masing subsektor EK yang ada.
>> 
>> Silakan tema menarik yang digulirkan Pak Saaf ini dilanjutkan sanak palanta 
>> lain yang mendalami EK. 
>> 
>> Salam,
>> 
>> Akmal N. Basral
>> 
>> 
>> On Dec 7, 2012, at 6:18 PM, Dr Saafroedin Bahar <[email protected]> wrote:
>> 
>>> Sekedar pengisi waktu luang, boleh setuju boleh tidak. Menurut penglihatan 
>>> saya setelah memperhatikan wacana di Rantau Net ini, ada tiga hal yang bisa 
>>> menyatukan orang Minang, yaitu : makanan / kuliner; keindahan alam; dan 
>>> kesenian, khususnya seni sastra. Jika diurus dengan baik, berpotensi 
>>> sebagai titik kuat dalam Bidang pariwisata.
>>> 
>>> Tapi nampaknya juga ada tiga hal yang susah untuk mencari kesepakatan di 
>>> kalangan orang Minang, yaitu tentang adat, tentang agama, dan tentang 
>>> politik, dimana terjadi " sengketa tiada putus "   ( Jeff Hadler ) dan.   " 
>>> goyahnya tangga menuju  mufakat ( von Benda-Bekmann ). Hati-hati, karena 
>>> bisa langsung menuai kecurigaan. ABS SBK nampaknya menyentuh tiga bidang 
>>> ini, sehingga susah untuk ditindaklanjuti. 
>>> 
>>> Wallahualambissawab.
>>> 
>>> Teriring salam. Dikirim dari iPad saya
>>> 
>>> -- 
>>> -- 
>>> .
>>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
>>> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
>>> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
>>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>>> ===========================================================
>>> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
>>> - DILARANG:
>>> 1. E-mail besar dari 200KB;
>>> 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
>>> 3. One Liner.
>>> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
>>> http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
>>> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>>> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>>> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & 
>>> mengganti subjeknya.
>>> ===========================================================
>>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
>>> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>>> 
>>> 
>>> 
>> 
>> -- 
>> -- 
>> .
>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
>> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
>> - DILARANG:
>> 1. E-mail besar dari 200KB;
>> 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
>> 3. One Liner.
>> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
>> http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
>> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & 
>> mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>> 
>> 
>> 
>> -- 
>> -- 
>> .
>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
>> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
>> - DILARANG:
>> 1. E-mail besar dari 200KB;
>> 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
>> 3. One Liner.
>> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
>> http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
>> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & 
>> mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>> 
>> 
>> 
> 
> -- 
> -- 
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
>  1. E-mail besar dari 200KB;
>  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
>  3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
> http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
> subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> 
> 
> 

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke