Kalau mambaco panjelehan Mak Muchlis Hamid di bawah ko, nan takasan lebih mancaliak kajadian 2005 dan 2012 sebagai "direct approach" ketimbang "indirect approach", ambo satuju bahwa nan tajadi adalah "direct approach".
Kuncinyo pada "partisipasi" bukan "mobilisasi" jiko kito maminjam model dikotomis Ulf Sundhaussen, Salam, Akmal N. Basral Sent from my iPad On Dec 8, 2012, at 4:12 PM, Muchlis Hamid <[email protected]> wrote: > Pak Saaf, > > Diskusi ini makin menarik setelah beradu pemikiran Pak Saaf dan Nakan Akmal. > "3 on 3" masing-masing pada direct and indirect approach, > > Saya ingin menunjukkan kejadian di Solok 2005 dan 2012 di bidang adat. Kita > bisa duduk bersama dan bicara tentang adat dan agama (ABS-SBK juga > dibicarakan). Pada kedua kejadian ini Pak Saaf ikut aktif bahkan pada 2005 > Pak Saaf ikut hadir di Koto Baru Solok. Pada kejadian kedua Pak Saaf > memberikan masukan yang sangat berarti. > > Ide untuk menindaklanjuti hasil Musyawarah Adat 2005 kita bawa ke Padang. > Kita ajak pakar-pakar Unand untuk sharing. Mereka antusias dan ikut bahkan > didorong oleh Dekan FH dengan memberikan surat tugas resmi dari Fakultas. > Demikian pula kepada Ninik Mamak kita bawakan cara yang sama. > > Kita hanya membawa ide, semua makalah muncul dari ranah dan pelaksanaan oleh > sanak-sanak kita di daerah. > > Apakah ini dapat digolongkan kepada indirect approach, bukan direct approach > pada adat, agama dan politik? > > Salam, > > Muchlis Hamid > > > > > > From: Akmal N. Basral <[email protected]> > To: "[email protected]" <[email protected]> > Cc: Rantau Net <[email protected]> > Sent: Saturday, December 8, 2012 3:03 PM > Subject: Re: [R@ntau-Net] Tiga hal yang mempersatukan orang Minang. > > > Mak Darwin NAH, > terima kasih ateh sharing pikirannya, tapi manuruik ambo ini agak berbeda > entry point-nya dari posting awal Pak Saaf. > > CSR = Corporate Social Responsibility/Tanggung Jawab Sosial Korporasi. Titik > beratnya pada korporasi. Yang sedang ditawarkan Pak Saaf adalah model > imajiner "3 on 3" dari Masyarakat Minang, khususnya yang terlihat dari > Palanta ini. 3 hal yang "menyatukan" (kuliner, wisata, sastra) vis-a-vis 3 > hal yang "sulit menyatakan" (adat, agama, politik). > > Sinyalemen Pak Saaf itu sesungguhnya bukan partikularitas yang hanya berlaku > di Minang. Kerisauan yang sama pernah menggayuti pemikiran Prof. Abdussalam, > Nobelis Fisika asal Pakistan, ketika melihat bangsanya dan India yang berasal > dari rahim subetnis yang sama terjebak dalam pertikaian tiada akhir. "Jika > orang India dan Pakistan bertemu," Abdussalam memulai pernyataannya dengan > getir, "Mereka akan saling bacok kepala. Tapi jika keduanya ahli fisika, > mereka bisa langsung akrab seketika." > > Dalam konteks ini maka "kuliner, wisata, sastra" bagi suku-suku Minang, > adalah seperti halnya "fisika" bagi Pakistan-India, yang "mempertemukan". > Kuliner, lebih dari sekadar aktivitas memindahkan makanan dari luar tubuh ke > dalam perut, dalam semua peradaban adalah aktivitas pertemuan, aktivitas > yang "menyatukan". Keluarga modern yang "tercerai-berai" kesibukan mereka, > akan bertemu di meja makan pada malam hari. Pada masyarakat berburu, > perdamaian pascaperang ditandai dengan makan bersama. Dalam keadaan > non-perang, konsep kuliner, terutama saat makan bersama, adalah momen > penyatuan pengalaman bersama (bukankah itu juga yang menjadi dasar filosofi > "makan bajamba"?) > > Demikian juga halnya dengan sastra, dalam konteks Palanta ini adalah proyek > Antologi Ranah, Aktivitas yang dulu bersifat sangat individual (mana ada pada > jaman Balai Pustaka para pujangga mau sharing menulis bersama, semua > melahirkan karya individual), kini mempunyai kesempatan untuk "menulis > bajamba". Duduk basilo basamo, ndak ado senioritas yunioritas, membincangkan > apa yang bisa dibuat sebagai produk kolektif, namun pada saat yang sama > masing-masing karya juga harus memancarkan keunikannya sendiri. > > Karena itu ketika Pak Saaf melihat ini sebagai aplikasi dari The Theory of > Indirect Approach-nya BL Hart (yang awalnya murni teori militer dengan dua > asumsi Hart seperti saya kutip sebelumnya), saya masih agak ragu bahwa yang > terjadi adalah sebuah "Indirect Approach", karena what read between those > lines, yang tak terucap Pak Saaf adalah: dengan begitu 3 hal yang "kurang > menyatukan" warga Minang (adat, agama, politik) pastilah sebuah "Direct > Approach" > > Nah, dari fakta "3 on 3" yang kasat mata, kini diskusi memasuki model > teoritis "Indirect Approach" (kuliner, wisata, sastra) versus "Direct > Approach" (adat, agama, politik). > > Pertanyaan no. 1: Apakah dikotomi di atas valid? Menurut saya tidak > sesederhana itu. > > Tapi mengingat ini diskusi terbuka, silakan yang lain menanggapi dulu, dengan > sementara mengenyampingkan pendekatan mengenai model dan fungsi CSR karena > community development (ComDev) yang saya sebutkan sebelumnya memiliki skala > lebih luas dari CSR, di mana peran korporasi hanya salah satu bagian saja > dari ComDev. > > Salam, > > Akmal N. Basral > 44+, Cibubur > > On Dec 8, 2012, at 9:50 AM, Darwin Chalidi <[email protected]> wrote: > >> Sanak ANB dan Pak Saaf nan ambo hormati sarato Palanta RN NAH. mohon maaf >> ambo sato sneak dalam diskusi CSR iko. Alhamdulillah ambo ado pulo >> mambimbiang program CSR berdasarkaan pendidikan dan pengalaman nan saujuang >> rambut iko. Tapi sasuai jo ABS-SBK walau sebiji zarah ilmu itu paralu dibagi. >> >> Berdasarkan metode Michael Porter dan Mark R. Kramer dalam HBR tahun 2010 >> menulis cukup panjang lebar mengenai CSR akibat adonyo UU di Indonesia >> mewajibkan perusahaan membuat CSR. >> >> Akibatnya cukup menggegerkan dunia usaha sehingga mereka mencari cara yang >> baik untuk melakukan ini. maka timbullah istilah: >> >> 1. Responsive CSR berdasarkan pandangan bahwa dunia sekitar usaha perlu >> diberikan phylantrophic fund yang dianut oleh sebagian MNC didunia luar dan >> BUMN yang dikelola oleh Public Relations and/or Government Relations dari >> bisnis bersangkutan. >> >> 2. Strategic CSR adalahh menjadikan CSR sebagai bagian dari proses bisnis >> perusahaan alias yang sering kita sebutkan memberikan pancing jangan >> ikannya. Konsekuensinya pengelolaan CSR ini menjadi bagian dari Operasi >> Perusahaan. Yang terkenal dalam proses ini adalah Nestle yang membangun >> masyarakat India menjadi produsen Susu terbesar di Dunia. Caranya melakukan >> pendekatan seperti proyek LPM Marapalam dimana diawal-awal sekitar 50 tahun >> yang lalu mereka masih tertinggal sekali dan Nestle masuk memberikan >> pelatihan dan bantuan2 teknis membesarkan Sapi dan mengatur produksi yang >> mereka serap semua produksinya, Tulisan mengenai ini ada dalam HBR tersebut. >> Seharusnya di Indonesia mereka melakukan hal yang sama terutama didaerah >> Pengalengan Jawa Barat dimana terkenal produksi susunya yang cukup melimpah. >> >> Ilmu untuk membuka dan membahas Responsive maupun Strategyc CSR untuk >> perusahaan2 memberi peluang bagi konsultan2 dalam berkarya. >> >> Mudah2an pengetahuan yang sedikit ini dapat membukakan wawasan yang lebih >> luas. >> >> Salam, Darwin Chalidi, 63, Tangsel >> >> >> 2012/12/8 Dr Saafroedin Bahar <[email protected]> >> Bung Akmal, kalau saya tidak salah, Liddle Hart juga menimba inspirasi dari >> Sun Tzu. Setahu saya, belum ada program ComDev berskala besar yg secara >> langsung didasarkan pada "the strategy of indirect approach" ini. Hal ini >> berarti peluang bagi kita cq MAPPAS utk mengujicoba. Gagasan yg bung Akmal >> tawarkan ttg EK rasanya sudah merupakan titik tolak yang bagus. >> Wassalam, >> SB. >> Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita. >> >> -----Original Message----- >> From: [email protected] >> Sender: [email protected] >> Date: Sat, 8 Dec 2012 00:02:42 >> To: <[email protected]> >> Reply-To: [email protected] >> Subject: Re: [R@ntau-Net] Tiga hal yang mempersatukan orang Minang. >> >> >> Maaf talonsong terpencet tombol "send" tadi. Ini komentar yang lebih utuh: >> >> ---- >> Terima kasih atas pencerahannya, Pak Saaf. Sangat inspiratif. Memang kalau >> teori Sun Tzu sudah banyak diaplikasikan dalam bisnis dan berlimpah pula >> buku yang membahas itu. >> >> Tapi bagaimana dengan teori Hart ini bisa diterapkan dalam community >> development, Pak Saaf? Apakah setahu Pak Saaf pernah ada sebuahComDev dalam >> skala yang agak besar, baik di Indonesia maupun di negeri lain, pernah >> mengimplementasikan Indirect Approach ini dalam tahapan yang lebih taktis? >> >> >> Salam, >> >> Akmal N. Basral >> >> >> Powered by Telkomsel BlackBerry® >> >> -----Original Message----- >> From: [email protected] >> Sender: [email protected] >> Date: Fri, 7 Dec 2012 23:53:32 >> To: <[email protected]> >> Reply-To: [email protected] >> Subject: Re: [R@ntau-Net] Tiga hal yang mempersatukan orang Minang. >> >> >> Terima kasih atas pencerahannya, Pak Saaf >> >> Powered by Telkomsel BlackBerry® >> >> -----Original Message----- >> From: "Dr Saafroedin Bahar" <[email protected]> >> Sender: [email protected] >> Date: Fri, 7 Dec 2012 17:17:07 >> To: Rantau Net Rantau Net<[email protected]> >> Reply-To: [email protected] >> Subject: Re: [R@ntau-Net] Tiga hal yang mempersatukan orang Minang. >> >> Ganti kata "musuh" dengan "sasaran" atau "subjek", bung Akmal, and >> everything will fall into place. "Strategy" pada dasarnya kan sama dengan >> rencana induk utk mencapai sasaran, dan bisa dipakai dalam berbagai bidang. >> Businessmen sudah lama memanfaatkan prinsipnya, merujuk pada pokok-pokok >> pikiran yang ditulis Sun Tzu. >> "The strategy of indirect approach" rasanya tidak perlu menggoyahkan >> ekulibrium "musuh". Juga bisa membiarkannya intact. Jadi gagasan utk tak >> menyentuh ABS SBK dalam mengembangkan EK kelihatannya kok sudah tepat. >> Wassalam, >> SB. >> Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita. >> >> -----Original Message----- >> From: "Akmal N. Basral" <[email protected]> >> Sender: [email protected] >> Date: Fri, 7 Dec 2012 23:58:29 >> To: [email protected]<[email protected]> >> Reply-To: [email protected] >> Cc: Rantau Net Rantau Net<[email protected]> >> Subject: Re: [R@ntau-Net] Tiga hal yang mempersatukan orang Minang. >> >> Waduh, Pak Saaf menyebut-nyebut BL Hart, jadi seperti membahas Teori >> "blitzkrieg" saja :) >> >> Asumsi Hart dengan Indirect Approach kan memiliki dua asumsi: >> 1. Serangan langsung pada musuh tak akan pernah berhasil, dan sebaiknya >> jangan dilakukan. >> 2. Yang harus dilakukan untuk mengalahkan musuh, pertama-pertama >> menggoyahkan ekuilibriumnya sebelum melancarkan serangan utama. >> >> Betul begitu ya, Pak Saaf? >> >> Tapi masak masyarakat dan kebudayaan Minang, yang asal keberadaan kita, mau >> kita posisi kan sebagai musuh Pak? >> >> I feel in the dark now. Please enlighten me, Pak Saaf. >> >> Salam, >> >> ANB >> >> >> >> On Dec 7, 2012, at 11:46 PM, "Dr Saafroedin Bahar" >> <[email protected]> wrote: >> >> > Aha, gaya bung Akmal menangani potensi Minang ini mengingatkan saya pada >> > " the strategy of indirect approach"-nya Basil Liddle Hart. Memang >> > berpotensi utk lebih berhasil, seperti terlihat sekarang. Bravo. >> > Wassalam, >> > SB. >> > Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita. >> > >> > -----Original Message----- >> > From: "Akmal N. Basral" <[email protected]> >> > Sender: -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
