Bodohnya uang Rp 268 miliar dibikin monumen di tengah warga yang sedang susah!
Kalau memang pada sayang Pak Sjaf coba bersatu usulkan kepada pemerintah agar Pak Sjaf diakui sebagai Presiden dulu, meski harus dengan embel-embel "Presiden PDRI". Tak cukup hanya dengan gelar Pahlawan Nasional saja, karena ratusan orang bisa jadi Pahlawan Nasional (dan terus bertambah), sementara hanya 1 orang, sepanjang masa, yang pantas menyandang gelar Presiden PDRI. Tidak bisakah panitia monumen, cerdik cendikia, ninik mamak, dan para pemangku kepentingan Minang lainnya melihat fakta sesederhana ini? Gunakan dana Rp 268 miliar untuk monumen itu agar menjadi "dana perjuangan" supaya target pengakuan itu tercapai, ketimbang hanya untuk mengabadikan tanda tangan pejabat di sebuah prasasti monumen. Kebodohan pangkat dua adalah soal PDRI Award, yang justru mencederai semangat perjuangan Pak Sjaf. Salah satu sikap hidup Pak Sjaf yang sering dikutip Farid anaknya adalah, "Don't say thank you to a man who do his job" yang maknanya kira-kira "jangan BERLEBIHAN berterima kasih pada orang yang memang melakukan apa yang sudah menjadi tugasnya." Apakah Panitia Monumen sampai tidak tahu kredo Pak Sjaf yang menurut Farid merupakan salah satu hal prinsip dalam hidup ayahnya. Eh, kok sekarang malah dibikin seperti infotainment segala? Orang yang menderita di masa perjuangan itu biasa. Apalagi yang terseret pusaran nasib. Tapi orang yang MEMILIH menderita padahal dia bisa mendapatkan kehidupan materi yang lebih itulah yang justru harus mendapat penghargaan lebih: ya Pak Sjaf sendiri. Dan tak ada penghargaan yang lebih pantas bagi Pak Sjaf selain negeri ini, yang selama 207 hari pernah dinakhodainya sehingga tak karam, mengangkuinya secara resmi sebagai "Presiden". Kalau Pemerintah masih belum terbuka hatinya soal yang satu ini, maka kewajiban stakeholders Minang (sebagai locus PDRI) yang berjuang melakukan itu. Kalau komentar saya ini dianggap kritik, inilah kritik resmi saya sebagai penulis novel sejarah "Presiden Prawiranegara", yang pada saat acara puncak 28 Februari 2011 di Bank Indonesia (persis satu abad tanggal lahir Pak Sjaf), penyerahan novel saya kepada Pemerintah (dilakukan oleh A.M. Fatwa sebagai Ketua Panitia Satu Abad dan diterima oleh Wapres Budiono mewakili Pemerintah) menjadi salah satu mata acara utama. Saya tidak punya alamat surel Wagub Muslim Kasim. Sekiranya di antara sanak palanta ada yang tahu dan berkenan meneruskan surel saya ini kepada Pak Wagub, saya ucapkan terima kasih. Wassalam, Akmal N. Basral 44+ Cibubur Pada Kamis, 20 Desember 2012, Nofend St. Mudo menulis: > Padang Ekspres • Kamis, 20/12/2012 11:15 WIB > > > *Limapuluh Kota, Padek*—*Masterplan* atau rencana induk pembangunan > Monumen Nasional Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (Monas PDRI) di > Jorong Sungaisiriah, Nagari Kototinggi, Kecamatan Gunuangomeh, > Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat, dikritik mantan > Wakil Ketua MPR-RI, Andi Mapetahang Fatwa. > > > > Politisi yang dikenal dengan nama AM Fatwa itu menilai, *masterplan* Monas > PDRI, belum mencerminkan ’roh’ perjuangan PDRI. Ini terjadi karena > dalam*masterplan* tersebut, diorama (sejenis gambar tiga dimensi > untuk menggambarkan sebuah pemandangan atau adegan) Ketua PDRI Mr > Syafruddin Prawiranegara, dibuat lebih kecil dari diorama Presiden > Soekarno. > > > > ”Monas PDRI itu memang cantik, kalau diberi diorama atau gambar. Hanya > saja, gambar Pak Syafruddin kok dibuat lebih kecil dari gambar Bung > Karno. Sudahlah lebih kecil, gambar Pak Syafruddin diletakkan di > samping, bukan di tengah,” kata AM Fatwa saat berorasi dalam acara > penganugerahan PDRI Award dari YPP PDRI 1948-1949, di Kota Payakumbuh, > Rabu (19/12) sore. > > > > Pria yang pernah dipenjara rezim Soeharto selama 18 tahun karena dituduh > terlibat dalam peristiwa Tanjung Priok itu mengaku, pada awalnya dia > tidak terlalu ambil pusing dengan persoalan *masterplan*PDRI. Tapi, > ketika Rasyid Prawiranegara, putra Ketua PDRI Mr Syafruddin Prawiranegara > bercerita kepadanya, AM Fatwa menjadi penasaran. > > > > “Semalam, Rasyid memperlihatkan *masterplan* Monas PDRI dari *handphone*-nya. > Saya lihat, gambar Mr Syafruddin dalam *masterplan* itu memang kecil dari > gambar Bung Karno dan diletakkan di samping. Karena penasaran, tadi, saat > menghadiri peletakan batu pertama Monas PDRI di Kototinggi, saya sengaja > melihat *masterplan* yang dicetak dengan baliho besar,” kata AM Fatwa. > > > > Setelah melihat *masterplan* tersebut, Fatwa mengaku kaget. “Ternyata > benar, gambar Pak Syaf dibuat lebih kecil dari gambar Bung Karno. > Sebenarnya, tidak ada masalah, kalau gambar Bung Karno dirancang lebih > besar. Namun, karena yang dibangun Monas PDRI dalam rangka Hari Bela > Negara, seharusnya yang ditonjolkan Pak Syaf, bukan Bung Karno-nya,” tukuk > Fatwa. > > > > Dia menyebut, permintaan agar diorama Bung Karno pada Museum Bela Negara > dibuat lebih kecil atau sama besar dengan diorama Mr Syafruddin > Prawiranegara, bukan karena dirinya tidak respek dengan Soekarno. Bukan > pula karena dia merupakan bekas ketua panitia pengusulan Syafruddin sebagai > pahlawan nasional. Tetapi semata-mata didasari keinginan menempatkan > sejarah sesuai faktanya. > > > > *Masterplan* Monas PDRI merupakan hasil karya pemenang sayembara > Arsitektur Masterplan dan Monas PDRI yang digelar Ikatan Arsitektur > Indonesia (IAI). Dalam pengumuman Rabu (17/10) lalu, 7 dewan juri yang > ditunjuk IAI, menetapkan 3 pemenang. Yakni Toha Assegaf, Rahadian P > Herwindo dan Nazaruddin Arief. Salah satu karya pemenang inilah yang > dijadikan sebagai masterplan. > > > > Senada dengan AM Fatwa, tokoh masyarakat Sumbar asal Padangjopang, > Kabupaten Limapuluh Kota, Brigjen (Purn) Aditiawarman Thaha juga meminta, > gambar Mr Syafruddin Prawiranegara dalam Monas PDRI yang akan dibangun, > ditempatkan secara profesional dan proporsional. “Jangan dikesampingkan > atau dikecilkan,” ucapnya. > > > > Cucu Abbas Abdullah, ulama yang pernah ditemui secara khusus oleh Presiden > Soekarno itu, juga meminta pemerintah menegaskan nama Monumen PDRI yang > akan dibangun di Kototinggi. Menurut Aditiawarman Thaha, kalau namanya > sudah Monumen PDRI, jangan disebut lagi Monumen Bela Negara. > > > > “Karena kita khawatir, kalau namanya Monumen Bela Negara, 3 atau 4 tahun > setelah didirikan, orang akan lebih tahu bela negara ketimbang sejarah > PDRI. Padahal, monumen itu dibangun untuk mengenang PDRI. Kalaupun nanti > terjadi kompromi, saya usulkan, namanya Monumen PDRI Bela Negara,” ujar > Brigjen Aditiawarman Thaha. > > > > Terkait penamaan monumen, Wagub Sumbar Muslim Kasim memastikan bahwa > monumen yang dibangun di Kototinggi bernama Monas PDRI. Dia juga menyebut > bahwa *masterplan* Monas PDRI telah disayembarakan. > > > > “Hasil sayembara juga sudah diseminarkan. Kita tinggal memilih, satu di > antara 3 karya pemenang sayembara *masterplan* tersebut,” kata Muslim > Kasim yang juga merangkap sebagai Ketua Pembangunan Monas PDRI di Nagari > Kototinggi. > > > > Pembangunan Monas PDRI itu sendiri, ditaksir Wagub menelan dana Rp 268 > miliar. Muslim Kasim meyakini, pembangunan Monas PDRI di Nagari Kototinggi > akan memberikan banyak dampak positif terhadap masyarakat. Selain bisa > meningkatkan rasa nasionalisme, juga berdampak pada perekonomian daerah, > karena adanya pusat pertumbuhan baru. > > > > Pembangunan Monas PDRI sebagai bukti bahwa di Sumbar pernah berdiri PDRI > untuk menyelamatkan Republik dari cengkaraman Agresi II Belanda, akan > dilakukan di atas lahan seluas 50 hektare. Namun untuk tahap awal, > pembangun akan dilangsungkan di atas lahan seluas 21 hektare yang > sertifikatnya sudah diserahkan 3 warga Nagari Kototinggi. > > > > Ketiga warga Nagari Kototinggi yang menyerahkan sertifikat tanah itu > adalah Zainir, 70, dari suku Melayu, Jalius Dt Minsiang, 56, dari suku > Piliang, dan Adrial Efendi Dt Bandaro Mudo, 38, dari suku Kutianyia. > Sebelum batu pertama pembangunan Monas PDRI diletakkan di lahan yang > diserahkan ketiga warga itu, mereka mendapat penghargaan dari Wagub. > > > > Sayangnya, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro sebelumnya dijadwalkan > hadir dalam acara tersebut, urung datang karena disebut-sebut ikut menemani > lawatan Presiden SBY ke Malaysia dan India. Inspektur Upacara digantikan > Kabadiklat Kemenhan Mayjen TNI Suwarno. Dia hadir bersama Dirjen Kesbangpol > Mayjen TNI Tanri Bali Lamo, Direktur Bela Negara Laksamana Pertama Ken > Chaidiman, Staf Ahli Kemendagri Dr Suhatmansyah, Wagub Sumbar Muslim Kasim, > Bupati Alis Marajo, Wabup Asyirwan Yunus, Ketua DPRD Darman Sahladi dan > sejumlah pejabat di Sumbar. > > > > Mayjen TNI Suwarno saat membacakan amanat Menhan Purnomo Yusgiantoro > menyebut, dalam upaya lebih mendorong semangat dan kesadaran membela negara > yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan bangsa, pada tangal 18 > Desember 2006, pemerintah telah mengeluarkan Keppres Nomor 28 Tahun 2006 > yang menetapkan tanggal 19 Desember sebagai Hari Bela Negara. > > > > “Tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari besar nasional, guna mengenang > peristiwa penting dalam sejarah perjalanan bangsa kita, untuk > mempertahankan kelangsungan hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia yang > berdasarkan Pancasila dan UUD 1945,” kata Mayjen TNI Suwarno sambil > mengajak masyarakat, menjadikan kesadaran membela negara sebagai gerakan > nasional. > > > > *PDRI Award “Diungsikan”* > > > > Masih terkait dengan peringatan Hari Bela Negara 2012, YPP PDRI 1948-1949 > yang mengagendakan pemberian anugerah PDRI Award buat 75 tokoh selepas > upacara militer di Kototinggi, terpaksa “mengungsikan” acara mereka ke > Hotel Bundo Kanduang, Payakumbuh. Ini terjadi karena penyerahan PDRI Award > dan penyerahan hadiah buat pemenang lomba penulisan esai PDRI oleh > Komunitas Intro bersama LP3SM, mendadak dibatalkan panitia. > > > > “Sebelum upacara peringatan Hari Bela Negara di Kototinggi, kami masih > mendapat kepastian bahwa penyerahan PDRI Award dapat dilakukan setelah > upacara. Namun, sehari menjelang upacara digelar, kami yang juga bergabung > dalam kepanitian peringatan Hari Bela Negara bentukan pemerintah, mendapat > kabar bahwa penyerahan PDRI Award tidak dapat dilakukan selepas upacara,” > kata pengurus YPP PDRI Ferizal Ridwan. > > > > Lantaran itu, pengurus YPP PDRI 1948-1949 menyampaikan permohonaan maaf > kepada para penerima PDRI Award dan keluarga Mr Syafruddin Prawiranegara > yang sudah datang dari Jakarta. “Kami menyadari, tempat yang kami sediakan > saat ini, barangkali tidak memadai untuk sebuah acara penganugerahan. > Namun, baru inilah fasilitas yang sanggup kami sediakan, tanpa menggunakan > anggaran pemerintah,” kata Ferizal. > > > > Sekretaris Umum YPP PDRI Nurberita Ben Yuza membenarkan peristiwa yang > disampaikan Ferizal Ridwan. “Walau sekarang sudah dibangun Monas PDRI > dengan dana Rp 268 miliar. Walau PDRI sudah ditetapkan sebagai Hari Bela > Negara dan Syafruddin sudah ditetapkan sebagai pahlawan nasional, tapi kami > akan terus berjuang, agar daerah basis PDRI diperhatikan,” ucapnya. > > > > Kendati dipindahkan, acara penganugerahan PDRI Award tetap berlangsung > semarak. Sejumlah tokoh yang meraih penghargaan itu nampak hadir. Seperti, > Mayjen (Purn) Nasrun Syahrun Datuak Soik, Brigjen (Purn) Aditiawarman > Thaha, AM Fatwa, H Sutan Zaili Asril, Prof Andi Mustari Pide, Amri Darwis, > dan keluarga mendiang Thamrin Manan yang diwakili Len Thamrin. > > > > Selain mereka, hadir pula keluarga H Anwar Z > -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
