Kalau mengikuti logika pendirian Tugu Proklamasi (Jakarta) di bekas tempat pembacaan proklamasi oleh Sukarno-Hatta, bukankah mestinya yang dipriotaskan pertama kali adalah (bekas) dangau Yaya di Halaban tempat "Proklamasi PDRI" dilakukan menjelang Rabu Subuh, 22 Desember 1948 itu.
Tapi pertanyaan saya belum dijawab Pak Saaf, apakah memang bijak menghamburkan uang Rp. 268 miliar untuk mendirikan monumen padahal kiprah krusial Pak Sjaf selama 207 Hari menakhodai kapal Indonesia yang nyaris karam ini belum mendapatkan penghargaan optimal bahwa beliau diakui sebagai Presiden/Kepala Pemerintahan. Apa yang akan dilakukan Gebu Minang untuk mengendor soal riil ini? (Dari Prof Nina Lubis sewaktu kami sama-sama menjadi narasumber di "Mata Najwa" tahun lalu tema "Presiden-Presiden Terlupakan", Prof Nina menyebutkan resistensi terbesar dalam dua kali pengusulan Pak Sjaf sebagai Pahlawan Nasional pada 2007 dan 2009, dari pihak militer. Sehingga karena wakil militer selalu tak memberikan "approval" maka usulan tak pernah sampai ke meja SBY, sebelum tahun lalu, akhirnya, wakil militer dan Setneg mau memberikan persetujuan pengangkatan Pak Sjaf sebagai Pahlawan Nasional). Kira-kira, dengan wacana "Akui Pak Sjaf sebagai Presiden Kedua RI", apa yang membuat para (sejarawan) militer tak niscaya bisa memahami aspirasi massa seperti ini? Bukankah dengan mengakui Pak Sjaf seperti itu, tak berarti penghargaan terhadap mantan presiden yang lain menjadi berkurang? Dalam konteks ini, menurut saya lho Pak Saaf, Gebu Minang punya peluang strategis lebih vital dalam mengoreksi penjelasan sejarah selama ini, ketimbang hanya berkonsentrasi mengurusi seorang Ir. Mudy Situmorang yang "kitab sucinya" Tuanku Rao (Mangaradja Onggang Parlindungan) juga sudah disanggah Buya Hamka sejak tahun 1970-an lewat buku "Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao" serta buku "Sejarah Minangkabau" karya lima sejarawan Minang (MD Mansur, Asmaniar Idris, dkk) tahun yang sama? Kenapa tidak mengambil jalan praktis menerbitkan ulang kedua buku Buya Hamka dan Sejarah Minangkabau itu saja ketimbang menggelar Seminar Nasional yang menghabiskan banyak biaya, waktu, tenaga? Sehingga Gebu Minang justru abai pada isu-isu yang lebih fundamental dan kontemporer seperti mengatasi kezaliman yang dialami Mr. Sjafruddin Prawiranegara atau kiprah dan perjuangan Rahmah El-Yunusiah yang belum diapresiasi secara patut seperti diskusi kita kemarin. Silakan Pak Saaf ... Salam, Akmal N. Basral * * * Pada Kamis, 20 Desember 2012, Dr Saafroedin Bahar menulis: > ** > Bung Akmal, saya diberitahu oleh bung Syafruddin Al ttg acara ini serta > dimintai sambutan singkat, dan sudah saya berikan. > Dalam sambutan saya, saya menyarankan agar tidak lupa Halaban, Bangkinang, > Alahan Panjang, Bidar Alam, dan Abai Siat. Seiring dengan itu, saya > menyarankan dibuatnya tugu keci/tetenger serta museum kecil di > nagari-nagari yang bersejarah itu. > Saya kurang tahu apa sambutan saya itu jadi dimuat Panitia. > Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita. > ------------------------------ > * > * > > > > -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
