"Don't say thank you to a man who do his job" yang maknanya kira-kira "jangan 
BERLEBIHAN berterima kasih pada orang yang memang melakukan apa yang sudah 
menjadi tugasnya." 
 
Samo jo di Univ Leiden mah: jan sakali2 mengucapkan terima kasih ka 
promotor/supervisor Anda di dalam Kata Pengantar disertasi Anda. Karajo 
pembimbingan tu memang karajo Supervisor/Promotor mah.
 
Salam,
Suryadi

Dari: Akmal Nasery Basral <[email protected]>
Kepada: "[email protected]" <[email protected]> 
Dikirim: Kamis, 20 Desember 2012 6:50
Judul: Re: [R@ntau-Net] Masterplan Monas PDRI Dikritik, Penyerahan PDRI Award 
”Diungsikan”


Bodohnya uang Rp 268 miliar dibikin monumen di tengah warga yang sedang susah! 


Kalau memang pada sayang Pak Sjaf coba bersatu usulkan kepada pemerintah agar 
Pak Sjaf diakui sebagai Presiden dulu, meski harus dengan embel-embel "Presiden 
PDRI". Tak cukup hanya dengan gelar Pahlawan Nasional saja, karena ratusan 
orang bisa jadi Pahlawan Nasional (dan terus bertambah), sementara hanya 1 
orang, sepanjang masa, yang pantas menyandang gelar Presiden PDRI.  Tidak 
bisakah panitia monumen, cerdik cendikia, ninik mamak, dan para pemangku 
kepentingan Minang lainnya melihat fakta sesederhana ini?

Gunakan dana Rp 268 miliar untuk monumen itu agar menjadi "dana perjuangan" 
supaya target pengakuan itu tercapai, ketimbang hanya untuk mengabadikan tanda 
tangan pejabat di sebuah prasasti monumen.

Kebodohan pangkat dua adalah soal PDRI Award, yang justru mencederai semangat 
perjuangan Pak Sjaf. Salah satu sikap hidup Pak Sjaf yang sering dikutip Farid 
anaknya adalah, "Don't say thank you to a man who do his job" yang maknanya 
kira-kira "jangan BERLEBIHAN berterima kasih pada orang yang memang melakukan 
apa yang sudah menjadi tugasnya." 

Apakah Panitia Monumen sampai tidak tahu kredo Pak Sjaf yang menurut Farid 
merupakan salah satu hal prinsip dalam hidup ayahnya. Eh, kok sekarang malah 
dibikin seperti infotainment segala? 
Orang yang menderita di masa perjuangan itu biasa. Apalagi yang terseret 
pusaran nasib. Tapi orang yang MEMILIH menderita padahal dia bisa mendapatkan 
kehidupan materi yang lebih itulah yang justru harus mendapat penghargaan 
lebih: ya Pak Sjaf sendiri.

Dan tak ada penghargaan yang lebih pantas bagi Pak Sjaf selain negeri ini, yang 
selama 207 hari pernah dinakhodainya sehingga tak karam, mengangkuinya secara 
resmi sebagai "Presiden". Kalau Pemerintah masih belum terbuka hatinya soal 
yang satu ini, maka kewajiban stakeholders Minang (sebagai locus PDRI) yang 
berjuang melakukan itu.

Kalau komentar saya ini dianggap kritik, inilah kritik resmi saya sebagai 
penulis novel sejarah "Presiden Prawiranegara", yang pada saat acara puncak 28 
Februari 2011 di Bank Indonesia (persis satu abad tanggal lahir Pak Sjaf), 
penyerahan novel saya kepada Pemerintah (dilakukan oleh A.M. Fatwa sebagai 
Ketua Panitia Satu Abad dan diterima oleh Wapres Budiono mewakili Pemerintah) 
menjadi salah satu mata acara utama. 

Saya tidak punya alamat surel Wagub Muslim Kasim. Sekiranya di antara sanak 
palanta ada yang tahu dan berkenan meneruskan surel saya ini kepada Pak Wagub, 
saya ucapkan terima kasih.
Wassalam,

Akmal N. Basral
44+ Cibubur




Pada Kamis, 20 Desember 2012, Nofend St. Mudo menulis:

Padang Ekspres • Kamis, 20/12/2012 11:15 WIB 
>
>
>
>
>
>Limapuluh Kota, Padek—Masterplan atau rencana in­duk pembangunan Mo­numen 
>Na­sional Pemerintahan Da­rurat Republik Indonesia (Monas PDRI) di Jorong 
>Sungai­siriah, Nagari Koto­tinggi, Ke­ca­­­matan Gunuangomeh, Ka­bu­­paten 
>Limapuluh Kota, Pro­vinsi Sumatera Barat, di­kritik man­tan Wakil Ketua 
>MPR-RI, Andi Mapetahang Fatwa.
> 
>Politisi yang dikenal de­ngan nama AM Fatwa itu me­ni­lai, masterplan Monas 
>PDRI, be­lum mencerminkan  ’roh’  per­juangan PDRI. Ini ter­jadi ka­rena 
>dalammas­ter­plan terse­but, diorama (se­jenis gam­bar tiga dimensi un­tuk 
>meng­gam­barkan se­buah pe­man­d­angan atau adegan) Ke­tua PDRI Mr Syaf­ruddin 
>Pra­wiranegara, di­buat lebih kecil da­ri diorama Pre­siden Soe­kar­no.
> 
>”Monas PDRI itu memang can­tik, kalau diberi diorama atau gambar. Hanya saja, 
>gam­bar Pak Syafruddin kok dibuat le­­bih kecil dari gambar Bung Kar­­no. 
>Sudahlah lebih kecil, gam­­bar Pak Syafruddin di­letak­kan di samping, bukan 
>di te­ngah,” kata AM Fatwa saat be­r­­orasi dalam acara peng­anu­gerahan PDRI 
>Award dari YPP PDRI 1948-1949, di Kota Pa­ya­kumbuh, Rabu (19/12) sore.
> 
>Pria yang pernah dipenjara re­zim Soeharto selama 18 ta­hun karena dituduh 
>terlibat da­lam peristiwa Tanjung Priok itu mengaku, pada awalnya dia ti­dak 
>terlalu ambil pusing dengan persoalan masterplanPDRI. Tapi, ketika Rasyid 
>Prawiranegara, putra Ketua PDRI Mr Syafruddin Prawiranegara bercerita 
>kepadanya, AM Fatwa menjadi penasaran.
> 
>“Semalam, Rasyid memperlihatkan masterplan Monas PDRI dari handphone-nya. Saya 
>lihat, gambar Mr Syafruddin dalam masterplan itu memang kecil dari gambar Bung 
>Karno dan diletakkan di samping. Karena penasaran, tadi, saat menghadiri 
>peletakan batu pertama Monas PDRI di Kototinggi, saya sengaja 
>melihat masterplan yang dicetak dengan baliho besar,” kata AM Fatwa.
> 
>Setelah melihat masterplan tersebut, Fatwa mengaku kaget. “Ternyata benar, 
>gambar Pak Syaf dibuat lebih kecil dari gambar Bung Karno. Sebenarnya, tidak 
>ada masalah, kalau gambar Bung Karno dirancang lebih besar. Namun, karena yang 
>dibangun Monas PDRI dalam rangka Hari Bela Negara, seharusnya yang ditonjolkan 
>Pak Syaf, bukan Bung Karno-nya,” tukuk Fatwa.
> 
>Dia menyebut, permintaan agar diorama Bung Karno pada Museum Bela Negara 
>dibuat lebih kecil atau sama besar dengan diorama Mr Syafruddin Prawiranegara, 
>bukan karena dirinya tidak respek dengan Soekarno. Bukan pula karena dia 
>merupakan bekas ketua panitia pengusulan Syafruddin sebagai pahlawan nasional. 
>Tetapi semata-mata didasari keinginan menempatkan sejarah sesuai faktanya.
> 
>Masterplan Monas PDRI merupakan hasil karya pemenang sayembara Arsitektur 
>Masterplan dan Monas PDRI yang digelar Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI). 
>Dalam pengumuman Rabu (17/10) lalu, 7 dewan juri yang ditunjuk IAI, menetapkan 
>3 pemenang. Yakni Toha Assegaf, Rahadian P Herwindo dan Nazaruddin Arief. 
>Salah satu karya pemenang inilah yang dijadikan sebagai masterplan.
> 
>Senada dengan AM Fatwa, tokoh masyarakat Sumbar asal Padangjopang, Kabupaten 
>Limapuluh Kota, Brigjen (Purn) Aditiawarman Thaha juga meminta, gambar Mr 
>Syafruddin Prawiranegara dalam Monas PDRI yang akan dibangun, ditempatkan 
>secara profesional dan proporsional. “Jangan dikesampingkan atau dikecilkan,” 
>ucapnya.
> 
>Cucu Abbas Abdullah, ulama yang pernah ditemui secara khusus oleh Presiden 
>Soekarno itu, juga meminta pemerintah menegaskan nama Monumen PDRI yang akan 
>dibangun di Kototinggi. Menurut Aditiawarman Thaha, kalau namanya sudah 
>Monumen PDRI, jangan disebut lagi Monumen Bela Negara.
> 
>“Karena kita khawatir, kalau namanya Monumen Bela Negara, 3 atau 4 tahun 
>setelah didirikan, orang akan lebih tahu bela negara ketimbang sejarah PDRI. 
>Padahal, monumen itu dibangun untuk mengenang PDRI. Kalaupun nanti terjadi 
>kompromi, saya usulkan, namanya Monumen PDRI Bela Negara,” ujar Brigjen 
>Aditiawarman Thaha.
> 
>Terkait penamaan monumen, Wagub Sumbar Muslim Kasim memastikan bahwa monumen 
>yang dibangun di Kototinggi bernama Monas PDRI. Dia juga menyebut 
>bahwa masterplan Monas PDRI telah disayembarakan.
> 
>“Hasil sayembara juga sudah diseminarkan. Kita tinggal memilih, satu di antara 
>3 karya pemenang sayembara masterplan tersebut,” kata Muslim Kasim yang juga 
>merangkap sebagai Ketua Pembangunan Monas PDRI di Nagari Kototinggi.
> 
>Pembangunan Monas PDRI itu sendiri, ditaksir Wagub menelan dana Rp 268 miliar. 
>Muslim Kasim meyakini, pembangunan Monas PDRI di Nagari Kototinggi akan 
>memberikan banyak dampak positif terhadap masyarakat. Selain bisa meningkatkan 
>rasa nasionalisme, juga berdampak pada perekonomian daerah, karena adanya 
>pusat pertumbuhan baru.
> 
>Pembangunan Monas PDRI sebagai bukti bahwa di Sumbar pernah berdiri PDRI untuk 
>menyelamatkan Republik dari cengkaraman Agresi II Belanda, akan dilakukan di 
>atas lahan seluas 50 hektare. Namun untuk tahap awal, pembangun akan 
>dilangsungkan di atas lahan seluas 21 hektare yang sertifikatnya sudah 
>diserahkan 3 warga Nagari Kototinggi.
> 
>Ketiga warga Nagari Kototinggi  yang menyerahkan sertifikat tanah itu adalah 
>Zainir, 70, dari suku Melayu, Jalius Dt Minsiang, 56, dari suku Piliang, dan 
>Adrial Efendi Dt Bandaro Mudo, 38, dari suku Kutianyia. Sebelum batu pertama 
>pembangunan Monas PDRI diletakkan di lahan yang diserahkan ketiga warga itu, 
>mereka mendapat penghargaan dari Wagub.
> 
>Sayangnya, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro sebelumnya dijadwalkan hadir 
>dalam acara tersebut, urung datang karena disebut-sebut ikut menemani lawatan 
>Presiden SBY ke Malaysia dan India. Inspektur Upacara digantikan Kabadiklat 
>Kemenhan Mayjen TNI Suwarno. Dia hadir bersama Dirjen Kesbangpol Mayjen TNI 
>Tanri Bali Lamo, Direktur Bela Negara Laksamana Pertama Ken Chaidiman, Staf 
>Ahli Kemendagri Dr Suhatmansyah, Wagub Sumbar Muslim Kasim, Bupati Alis 
>Marajo, Wabup Asyirwan Yunus, Ketua DPRD Darman Sahladi dan sejumlah pejabat 
>di Sumbar.
> 
>Mayjen TNI Suwarno saat membacakan amanat Menhan Purnomo Yusgiantoro menyebut, 
>dalam upaya lebih mendorong semangat dan kesadaran membela negara yang 
>menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan bangsa, pada tangal 18 Desember 2006, 
>pemerintah telah mengeluarkan Keppres Nomor 28 Tahun 2006 yang menetapkan 
>tanggal 19 Desember sebagai Hari Bela Negara.
> 
>“Tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari besar nasional, guna mengenang 
>peristiwa penting dalam sejarah perjalanan bangsa kita, untuk mempertahankan 
>kelangsungan hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan 
>Pancasila dan UUD 1945,” kata Mayjen TNI Suwarno sambil mengajak masyarakat, 
>menjadikan kesadaran membela negara sebagai gerakan nasional.
> 
>PDRI Award “Diungsikan”
> 
>Masih terkait dengan peringatan Hari Bela Negara 2012, YPP PDRI 1948-1949 yang 
>mengagendakan pemberian anugerah PDRI Award buat 75 tokoh selepas upacara 
>militer di Kototinggi, terpaksa “mengungsikan” acara mereka ke Hotel Bundo 
>Kanduang, Payakumbuh. Ini terjadi karena penyerahan PDRI Award dan penyerahan 
>hadiah buat pemenang lomba penulisan esai PDRI oleh Komunitas Intro bersama 
>LP3SM, mendadak dibatalkan panitia.
> 
>“Sebelum upacara peringatan Hari Bela Negara di Kototinggi, kami masih 
>mendapat kepastian bahwa penyerahan PDRI Award dapat dilakukan setelah 
>upacara. Namun, sehari menjelang upacara digelar, kami yang juga bergabung 
>dalam kepanitian peringatan Hari Bela Negara bentukan pemerintah, mendapat 
>kabar bahwa penyerahan PDRI Award tidak dapat dilakukan selepas upacara,” kata 
>pengurus YPP PDRI Ferizal Ridwan.
> 
>Lantaran itu, pengurus YPP PDRI 1948-1949 menyampaikan permohonaan maaf kepada 
>para penerima PDRI Award dan keluarga Mr Syafruddin Prawiranegara yang sudah 
>datang dari Jakarta. “Kami menyadari, tempat yang kami sediakan saat ini, 
>barangkali tidak memadai untuk sebuah acara penganugerahan. Namun, baru inilah 
>fasilitas yang sanggup kami sediakan, tanpa menggunakan anggaran pemerintah,” 
>kata Ferizal.
> 
>Sekretaris Umum YPP PDRI Nurberita Ben Yuza membenarkan peristiwa yang 
>disampaikan Ferizal Ridwan. “Walau sekarang sudah dibangun Monas PDRI dengan 
>dana Rp 268 miliar. Walau PDRI sudah ditetapkan sebagai Hari Bela Negara dan 
>Syafruddin sudah ditetapkan sebagai pahlawan nasional, tapi kami akan terus 
>berjuang, agar daerah basis PDRI diperhatikan,” ucapnya.
> 
>Kendati dipindahkan, acara penganugerahan PDRI Award tetap berlangsung 
>semarak. Sejumlah tokoh yang meraih penghargaan itu nampak hadir. Seperti, 
>Mayjen (Purn) Nasrun Syahrun Datuak Soik, Brigjen (Purn) Aditiawarman Thaha, 
>AM Fatwa, H Sutan Zaili Asril, Prof Andi Mustari Pide, Amri Darwis, dan 
>keluarga mendiang Thamrin Manan yang diwakili Len Thamrin.
> 
>Selain mereka, hadir pula keluarga H Anwar Z-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke