Padang Ekspres • Kamis, 20/12/2012 11:15 WIB

*Limapuluh Kota, Padek*—*Masterplan* atau rencana in­duk pembangunan
Mo­numen Na­sional Pemerintahan Da­rurat Republik Indonesia (Monas PDRI) di
Jorong Sungai­siriah, Nagari Koto­tinggi, Ke­ca­­­matan Gunuangomeh,
Ka­bu­­paten Limapuluh Kota, Pro­vinsi Sumatera Barat, di­kritik man­tan
Wakil Ketua MPR-RI, Andi Mapetahang Fatwa.



Politisi yang dikenal de­ngan nama AM Fatwa itu me­ni­lai, *masterplan* Monas
PDRI, be­lum mencerminkan  ’roh’  per­juangan PDRI. Ini ter­jadi ka­rena
dalam*mas­ter­plan* terse­but, diorama (se­jenis gam­bar tiga dimensi
un­tuk meng­gam­barkan se­buah pe­man­d­angan atau adegan) Ke­tua PDRI Mr
Syaf­ruddin Pra­wiranegara, di­buat lebih kecil da­ri diorama Pre­siden
Soe­kar­no.



”Monas PDRI itu memang can­tik, kalau diberi diorama atau gambar. Hanya
saja, gam­bar Pak Syafruddin kok dibuat le­­bih kecil dari gambar Bung
Kar­­no. Sudahlah lebih kecil, gam­­bar Pak Syafruddin di­letak­kan di
samping, bukan di te­ngah,” kata AM Fatwa saat be­r­­orasi dalam acara
peng­anu­gerahan PDRI Award dari YPP PDRI 1948-1949, di Kota Pa­ya­kumbuh,
Rabu (19/12) sore.



Pria yang pernah dipenjara re­zim Soeharto selama 18 ta­hun karena dituduh
terlibat da­lam peristiwa Tanjung Priok itu mengaku, pada awalnya dia
ti­dak terlalu ambil pusing dengan persoalan *masterplan*PDRI. Tapi, ketika
Rasyid Prawiranegara, putra Ketua PDRI Mr Syafruddin Prawiranegara
bercerita kepadanya, AM Fatwa menjadi penasaran.



“Semalam, Rasyid memperlihatkan *masterplan* Monas PDRI dari *handphone*-nya.
Saya lihat, gambar Mr Syafruddin dalam *masterplan* itu memang kecil dari
gambar Bung Karno dan diletakkan di samping. Karena penasaran, tadi, saat
menghadiri peletakan batu pertama Monas PDRI di Kototinggi, saya sengaja
melihat *masterplan* yang dicetak dengan baliho besar,” kata AM Fatwa.



Setelah melihat *masterplan* tersebut, Fatwa mengaku kaget. “Ternyata
benar, gambar Pak Syaf dibuat lebih kecil dari gambar Bung Karno.
Sebenarnya, tidak ada masalah, kalau gambar Bung Karno dirancang lebih
besar. Namun, karena yang dibangun Monas PDRI dalam rangka Hari Bela
Negara, seharusnya yang ditonjolkan Pak Syaf, bukan Bung Karno-nya,” tukuk
Fatwa.



Dia menyebut, permintaan agar diorama Bung Karno pada Museum Bela Negara
dibuat lebih kecil atau sama besar dengan diorama Mr Syafruddin
Prawiranegara, bukan karena dirinya tidak respek dengan Soekarno. Bukan
pula karena dia merupakan bekas ketua panitia pengusulan Syafruddin sebagai
pahlawan nasional. Tetapi semata-mata didasari keinginan menempatkan
sejarah sesuai faktanya.



*Masterplan* Monas PDRI merupakan hasil karya pemenang sayembara Arsitektur
Masterplan dan Monas PDRI yang digelar Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI).
Dalam pengumuman Rabu (17/10) lalu, 7 dewan juri yang ditunjuk IAI,
menetapkan 3 pemenang. Yakni Toha Assegaf, Rahadian P Herwindo dan
Nazaruddin Arief. Salah satu karya pemenang inilah yang dijadikan sebagai
masterplan.



Senada dengan AM Fatwa, tokoh masyarakat Sumbar asal Padangjopang,
Kabupaten Limapuluh Kota, Brigjen (Purn) Aditiawarman Thaha juga meminta,
gambar Mr Syafruddin Prawiranegara dalam Monas PDRI yang akan dibangun,
ditempatkan secara profesional dan proporsional. “Jangan dikesampingkan
atau dikecilkan,” ucapnya.



Cucu Abbas Abdullah, ulama yang pernah ditemui secara khusus oleh Presiden
Soekarno itu, juga meminta pemerintah menegaskan nama Monumen PDRI yang
akan dibangun di Kototinggi. Menurut Aditiawarman Thaha, kalau namanya
sudah Monumen PDRI, jangan disebut lagi Monumen Bela Negara.



“Karena kita khawatir, kalau namanya Monumen Bela Negara, 3 atau 4 tahun
setelah didirikan, orang akan lebih tahu bela negara ketimbang sejarah
PDRI. Padahal, monumen itu dibangun untuk mengenang PDRI. Kalaupun nanti
terjadi kompromi, saya usulkan, namanya Monumen PDRI Bela Negara,” ujar
Brigjen Aditiawarman Thaha.



Terkait penamaan monumen, Wagub Sumbar Muslim Kasim memastikan bahwa
monumen yang dibangun di Kototinggi bernama Monas PDRI. Dia juga menyebut
bahwa *masterplan* Monas PDRI telah disayembarakan.



“Hasil sayembara juga sudah diseminarkan. Kita tinggal memilih, satu di
antara 3 karya pemenang sayembara *masterplan* tersebut,” kata Muslim Kasim
yang juga merangkap sebagai Ketua Pembangunan Monas PDRI di Nagari
Kototinggi.



Pembangunan Monas PDRI itu sendiri, ditaksir Wagub menelan dana Rp 268
miliar. Muslim Kasim meyakini, pembangunan Monas PDRI di Nagari Kototinggi
akan memberikan banyak dampak positif terhadap masyarakat. Selain bisa
meningkatkan rasa nasionalisme, juga berdampak pada perekonomian daerah,
karena adanya pusat pertumbuhan baru.



Pembangunan Monas PDRI sebagai bukti bahwa di Sumbar pernah berdiri PDRI
untuk menyelamatkan Republik dari cengkaraman Agresi II Belanda, akan
dilakukan di atas lahan seluas 50 hektare. Namun untuk tahap awal,
pembangun akan dilangsungkan di atas lahan seluas 21 hektare yang
sertifikatnya sudah diserahkan 3 warga Nagari Kototinggi.



Ketiga warga Nagari Kototinggi  yang menyerahkan sertifikat tanah itu
adalah Zainir, 70, dari suku Melayu, Jalius Dt Minsiang, 56, dari suku
Piliang, dan Adrial Efendi Dt Bandaro Mudo, 38, dari suku Kutianyia.
Sebelum batu pertama pembangunan Monas PDRI diletakkan di lahan yang
diserahkan ketiga warga itu, mereka mendapat penghargaan dari Wagub.



Sayangnya, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro sebelumnya dijadwalkan
hadir dalam acara tersebut, urung datang karena disebut-sebut ikut menemani
lawatan Presiden SBY ke Malaysia dan India. Inspektur Upacara digantikan
Kabadiklat Kemenhan Mayjen TNI Suwarno. Dia hadir bersama Dirjen Kesbangpol
Mayjen TNI Tanri Bali Lamo, Direktur Bela Negara Laksamana Pertama Ken
Chaidiman, Staf Ahli Kemendagri Dr Suhatmansyah, Wagub Sumbar Muslim Kasim,
Bupati Alis Marajo, Wabup Asyirwan Yunus, Ketua DPRD Darman Sahladi dan
sejumlah pejabat di Sumbar.



Mayjen TNI Suwarno saat membacakan amanat Menhan Purnomo Yusgiantoro
menyebut, dalam upaya lebih mendorong semangat dan kesadaran membela negara
yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan bangsa, pada tangal 18
Desember 2006, pemerintah telah mengeluarkan Keppres Nomor 28 Tahun 2006
yang menetapkan tanggal 19 Desember sebagai Hari Bela Negara.



“Tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari besar nasional, guna mengenang
peristiwa penting dalam sejarah perjalanan bangsa kita, untuk
mempertahankan kelangsungan hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945,” kata Mayjen TNI Suwarno sambil
mengajak masyarakat, menjadikan kesadaran membela negara sebagai gerakan
nasional.



*PDRI Award “Diungsikan”*



Masih terkait dengan peringatan Hari Bela Negara 2012, YPP PDRI 1948-1949
yang mengagendakan pemberian anugerah PDRI Award buat 75 tokoh selepas
upacara militer di Kototinggi, terpaksa “mengungsikan” acara mereka ke
Hotel Bundo Kanduang, Payakumbuh. Ini terjadi karena penyerahan PDRI Award
dan penyerahan hadiah buat pemenang lomba penulisan esai PDRI oleh
Komunitas Intro bersama LP3SM, mendadak dibatalkan panitia.



“Sebelum upacara peringatan Hari Bela Negara di Kototinggi, kami masih
mendapat kepastian bahwa penyerahan PDRI Award dapat dilakukan setelah
upacara. Namun, sehari menjelang upacara digelar, kami yang juga bergabung
dalam kepanitian peringatan Hari Bela Negara bentukan pemerintah, mendapat
kabar bahwa penyerahan PDRI Award tidak dapat dilakukan selepas upacara,”
kata pengurus YPP PDRI Ferizal Ridwan.



Lantaran itu, pengurus YPP PDRI 1948-1949 menyampaikan permohonaan maaf
kepada para penerima PDRI Award dan keluarga Mr Syafruddin Prawiranegara
yang sudah datang dari Jakarta. “Kami menyadari, tempat yang kami sediakan
saat ini, barangkali tidak memadai untuk sebuah acara penganugerahan.
Namun, baru inilah fasilitas yang sanggup kami sediakan, tanpa menggunakan
anggaran pemerintah,” kata Ferizal.



Sekretaris Umum YPP PDRI Nurberita Ben Yuza membenarkan peristiwa yang
disampaikan Ferizal Ridwan. “Walau sekarang sudah dibangun Monas PDRI
dengan dana Rp 268 miliar. Walau PDRI sudah ditetapkan sebagai Hari Bela
Negara dan Syafruddin sudah ditetapkan sebagai pahlawan nasional, tapi kami
akan terus berjuang, agar daerah basis PDRI diperhatikan,” ucapnya.



Kendati dipindahkan, acara penganugerahan PDRI Award tetap berlangsung
semarak. Sejumlah tokoh yang meraih penghargaan itu nampak hadir. Seperti,
Mayjen (Purn) Nasrun Syahrun Datuak Soik, Brigjen (Purn) Aditiawarman
Thaha, AM Fatwa, H Sutan Zaili Asril, Prof Andi Mustari Pide, Amri Darwis,
dan keluarga mendiang Thamrin Manan yang diwakili Len Thamrin.



Selain mereka, hadir pula keluarga H Anwar ZA yang diwakili putranya
Joserizal Anwar, Wendra Yunaldi, Yulfian Azrial, keluarga Mayor Junahar,
Febby Datuak Bangso Nan Putiah, keluarga Ilson Cong, Nusyirwan Abbas Kamil,
keluarga Kamardi Rais Dt Panjang Simulie yang diwakili putranya Rendra
Trisnadi.



Penghargaan PDRI Award diserahkan oleh Aisyah Prawiranegara, putri sulung
Mr Syafruddin Prawiranegara, bersama adiknya Rasyid Prawiranegara.
Penghargaan itu, menurut pengurus YPP PDRI, merupakan amanah dari pendiri
YPP PDRI 1948-1948 mendiang H Thamrin Manan.



“Sebagai sebuah amanah, tentu menjadi semacam dosa bagi kami yang
ditinggal, bila PDRI Award yang sudah dirancang sejak tahun 2010, tidak
kunjung diserahkan ataupun diumumkan sampai tahun 2012. Para penerimanya
merupakan adalah mereka-mereka yang sudah bersinergi dengan YPP PDRI, dalam
memperjuangkan PDRI sebagai Hari Bela Negara, dan memberi perhatian
terhadap daerah basis PDRI,” kata Ferizal.



Putra-putri Mr Syafruddin Prawiranegara dan AM Fatwa, mengapresiasi PDRI
Award dari YPP PDRI 1948-1949. “Jujur, awalnya saya tidak terlalu menangkap
dengan jelas maksud penganugerahan PDRI Award. Setelah sampai di sini, saya
paham apa maksud YPP PDRI memberikan PDRI Award. Ini memang hak yayasan itu
untuk memberi penghargaan, sesuai kategori dan penilaian yang mereka
tetapkan. Hanya saja, ini perlu dijelaskan ke luar. Biar yang menolak, juga
paham,” kata Fatwa.



Profesor Andi Mustari Pide yang didaulat menyampaikan pesan dan kesan,
berterima kasih atas penghargaan yang diberikan YPP PDRI 1948-1949.
Akademis yang kerap menjadi pembicara PDRI, sebelum PDRI ditetapkan sebagai
Hari Bela Negara itu tidak menyangka, akan diberi penghargaan.  “Ke depan,
barangkali persiapan acara ini lebih dimatangkan,” harapnya.



Sedangkan, Sutan Zaili Asril yang ikut menerima PDRI Award, merasa upayanya
memperjuangkan PDRI sebagai Hari Bela Negara tidak terlalu banyak. Kecuali,
pernah ditunjuk sebagai tim konseptor Hari Bela Negara oleh Presiden SBY
bersama Yusril Ihza Mahendra, Gamawan Fauzi, Musliar Kasim dan beberapa
tokoh lainnya.



“Sekarang Hari Bela Negara seakan menjadi beban Sumbar saja sebagai daerah
basis PDRI. Seharusnya, ini menjadi beban nasional. Karena PDRI itu adalah
penyelamat negara,” ujar Zaili. *(frv)*

[ Red/Administrator ]
http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=38431
-- 
*
*
*Wassalam

*
*Nofend St. Mudo
36Th/Cikarang | Asa Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok Selatan
Tweet: @nofend <http://twitter.com/#!/@nofend> | YM: rankmarola
*

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke