Dunsanak komunitas r@ntaunet n.a.h dan a.c.
Karano ---ambo tahu-- indak kasado alahe penggemar "palanta RN" ko mambaco
Koran Tempo (salah satu koran nan sapaham jo ajaran JIL), mako ado
rancaknyo tulisan Si Asvi ko awak mamah.

Kalau soal opini tantang Si Hanuang, ambo pribadi alah khatam
mampagunjiangannyo di RN ko. Partamo, ambo mangubak kutiko mananggapi surel
Bundo Evy soal Si Hanuang, kaduo ambo mangupak kutiko Sanak ZulTan (masih
juo) mamanciang-manciang Si m.m manyangkuik kurenah Si Hanuang.


Meski tulisan ambo nan kalua karano "dipanciang" Bundo Evy tu ambo liek
"alah taapuih" (?) dari "gudang r@ntaunet" ko, dan klarifikasi ambo
mananggapi tulisan Sanak ZulTan alah final adonyo, ambo raso indak ado
salahnyo kalau pandapaik (opini) "sejarawan urang awak" di bawah ko awak
simak.

Salam.........,
*mm****

Opini Koran Tempo, Rabu, 16 Januari 2013
 Adat Bersendi Syarak, Nikah Bersendi Cinta

*Asvi Warman Adam,*
SEJARAWAN MINANG

Saya mengenal baik tiga figur yang menikah beda agama. Pertama, senior
saya, pengamat masalah internasional, C.P.F. Luhulima, Ambon Kristen yang
mengawini rekannya sesama pegawai/peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia, Achie, perempuan Jawa beragama Islam. Mereka sama-sama
mempertahankan agama masing-masing. Ibu Achie adalah seorang penganut agama
yang taat. Beliau juga menunaikan rukun Islam yang kelima ke tanah suci.
Tentu Ibu Achie-lah yang naik haji, bukan Pak Luhulima. Ketika istrinya
terserang kanker payudara, dan syukur bisa disembuhkan, terlihat betapa
sayangnya Pak Luhulima terhadap Ibu Achie. Mereka berdua sudah berusia
lebih dari 80 tahun dan hidup rukun.

Kasus kedua terjadi pada rekan saya, Zatni Arbi, Minang dan Islam, peneliti
LIPI yang juga dikenal sebagai penulis masalah IT pada harian The Jakarta
Post. Ia menikah dengan gadis Tionghoa-Solo yang beragama Katolik, Hanny.
Cinta mereka bersemi di ruang kelas karena, setamat kuliah dari Fakultas
Sastra Universitas Indonesia, Zatni mengajar dalam kursus bahasa Inggris,
dan ternyata ada seorang siswi yang menarik perhatiannya. Hubungan mereka
sempat ditentang orang tua masing-masing. Ibu Zatni ingin putra bungsunya
menikah dengan gadis yang seagama. Cinta mengalahkan segalanya, mereka
dinikahkan penghulu secara Islam dan selanjutnya pasangan ini melanjutkan
studi ke Hawaii, Amerika Serikat. Mereka dikaruniai seorang putri yang
mengikuti agama ibunya, yakni Katolik. Apa yang sudah dipersatukan Tuhan
tidak bisa dipisahkan oleh manusia. Kecuali kalau Tuhan yang berkehendak
lain: Zatni meninggal beberapa bulan lalu karena kanker hati. Pada sebuah
majalah alumni sekolah, Hanny menceritakan kisah asmara mereka. Ternyata
mereka menikah tiga kali dengan pasangan yang sama. Pertama, di depan
penghulu secara Islam. Kedua, secara negara di kantor catatan sipil.
Terakhir, sepulang dari Hawaii, secara Katolik, mereka memperoleh Surat
Nikah Gerejani.

Contoh ketiga saya saksikan sendiri ketika tinggal di asrama UI
Daksinapati, Rawamangun, Jakarta, pada 1980. Di depan kamar saya terdapat
kamar Yusril Ihza Mahendra dan adiknya, Yusron Ihza. Yusron sering bertanya
kepada saya ihwal berbagai istilah Minang, karena pacarnya adalah seorang
Tionghoa asal Padang yang beragama Katolik. Perkawinan berbeda agama ini
tentu mendapat rintangan dari kedua keluarga. Yang jelas, mereka tetap
menikah dan selanjutnya belajar di Jepang sampai Yusron memperoleh gelar
doktor. Mereka memiliki dua anak dan kembali ke Indonesia. Yusron Ihza
pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Bulan Bintang
dan belakangan menjadi calon Gubernur Bangka-Belitung. Saya tidak
mengetahui lagi perkembangan bahtera rumah tangga mereka karena sudah lama
sekali tidak bertemu.

Dari ketiga kasus tersebut, saya menyimpulkan bahwa pernikahan berbeda
agama itu betul-betul terjadi di sekitar kita. Ada yang prosesnya relatif
mudah, tapi lebih banyak lagi yang mendapat penentangan dari pihak
keluarga. Tapi yang jelas, mereka menikah berdasarkan cinta.

*Cinta tapi Beda*

Film Cinta tapi Beda, yang disutradarai Hanung Bramantyo, berkisah tentang
seorang gadis penari asal Padang beragama Katolik jatuh cinta kepada
seorang chef restoran asal Yogyakarta dan berasal dari lingkungan keluarga
Islam saleh. Hubungan asmara mereka ditentang oleh keluarga masing-masing,
yang sudah siap menjodohkan dengan pilihan orang tua.

Apakah film ini menghina adat dan agama Islam? Beberapa organisasi
kemasyarakatan Minang memprotes film ini, yang dianggap bertentangan
terhadap prinsip "Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah". Namun
duduk persoalannya adalah Diana, tokoh utama dalam film ini yang bukan
gadis Minang, walau berasal dari Padang. Mungkin saja dia berasal dari
keluarga (campuran) Tionghoa, etnis minoritas yang bermukim di Sumatera
Barat. Logat ibunya dan gambaran lingkungannya cocok dengan itu. Bahwa si
gadis suka memakai kalung salib dan memesan babi rica-rica di restoran,
tidak ada yang salah dengan hal itu, karena ia tidak beragama Islam.
Bahwasanya hal tersebut didramatisasi agar terjadi ketegangan cerita, tentu
merupakan cara sutradara membuat alur film ini tidak datar saja.

Sang sutradara menegaskan pula bahwa filmnya berkisah tentang "cinta beda
agama", bukan "nikah beda agama", karena ending-nya memang tidak
memperlihatkan mereka melangsungkan perkawinan. Bahkan, pada adegan
terakhir, diperlihatkan bahwa KUA menolak menikahkan pasangan yang berbeda
agama. Ucapan Gus Dur tentang perbedaan agama menutup film ini. Walaupun
kemudian, setelah film tersebut beredar beberapa lama, atas usul Front
Pembela Islam, ditambahkan pula kalimat yang menyatakan, menurut syariah,
boleh saja seorang pria muslim menikahi perempuan beragama lain tapi tidak
berlaku sebaliknya.

Film ini, menurut hemat saya, berhasil menyampaikan pesan bahwa cinta bisa
mengatasi perbedaan agama. Namun pernikahan antar-penganut agama yang
berbeda masih/akan mendapat rintangan dari keluarga dan negara. *

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke