Ass ww, Mamak, bp. sdr/i Ambo ingin sato lo saketek. Manuruik ambo nan marisaukan urang minangkaau bukan masalah tema beda agama, tetapi kenapa dalam film itu gadis Minang yang kristen sementara lalki 2 Yogya nan Islam. Kalau urg paham konvensi adat Minang bahwa siapa yg keluar dari islam putus ia dengan sistem Minangkabau, dibuang kalua adat dan nagari. Itulah sebabnya film itu dianggap mengotori walaupun ada org Islam asal Sumatera Barat masuk kristen). Bagi org Minang yang jarang hidup di kampung dan bergulat dengan adat dilua Mianang seperti Bang Asvi, Ade Armando dll, mungkin kurang memahami ini, walaupun ounya pengethaun Minang
Kemudian mengenai paham dan perspektif penulis anbo pikia banyak dipengaruhi oleh latar sosial budaya kita hidup termasuk pendidikan. Kalau bang Asvi ,belia sudah biasa bergaul dengan umat kritsen sejak lama sebab beliau dulu alumni Don Bosco, dan akan berbeda pemahamannya dengan urang Minang yg hidup di Padang Japang dan sekolah di IAIN jurusan Syariah. Akan berbeda pemahaman islam orang jawa yang sinkretik dengan orang Islam yang hidup dalam dunia yang non Jawa. Kalau masalah perkawinan antar agama macam2 nan tajadi: dulu ado padusi dari kampuang ambo dan kuliah di Unand, lalu kawin jo laki2 kristen. Kini iyo alah masuak kristen padusi tu sarato jo anak2nyo walaupun dulu manikah sacaro Islam,. Tetapi padusi itu sudah dibuang oleh keluarga dan diputus dengan sistem adat di kamuang secara materil dan non materil. Alah babarapo kasus mode ko. Kalau dek ambo kesejarawanan Bang Asvi ndak diragukan, sebab baliau tamat dari program sejarah di perancis dan UI, tetapi nan acok diragukan dari seorang intelektual adalah komitmen dan objektivitasnya terhadap masalah. Kalau masalah beliau ambo pernah mandapek komentar yg lain tentang Bang Asvi ko dari Prof. Taufik Abdullah, katiko ambo sadang manangani kasus plagiat seorang Doktor bababarapo tahun nan lampau. Karano ersonal ndak usah ambo tuang di siko. Demikian sajo wassalam WNS ________________________________ From: "[email protected]" <[email protected]> To: [email protected] Sent: Wednesday, January 16, 2013 4:06 PM Subject: Re: [R@ntau-Net] Adat Bersendi Syarak, Nikah Bersendi Cinta Suai tu Mak MM*** NAH, "indak ambo jawok" adolah satu kategori jawokan pulo. :) Wassalam, ANB Powered by Telkomsel BlackBerry® ________________________________ From: Muchwardi Muchtar <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Wed, 16 Jan 2013 15:40:01 +0700 To: <[email protected]> ReplyTo: [email protected] Subject: Re: [R@ntau-Net] Adat Bersendi Syarak, Nikah Bersendi Cinta He he he... "Urang jurnalis (cipeh) satu guru satu ilmu, indak buliah saliang mambukak kartu". Maaf Kamanakanda ANB, tanyo nan bisa baikua panjang ko ---jo barek hati--- indak ambo jawaok. Salam...................., mm*** Pada 16 Januari 2013 15.13, <[email protected]> menulis: >"sejarawan urang awak" (karena pakai apostrof) mukasuiknyo apo yo Mak MM***? >Apakah status "sejarawan" Asvi Warman yang meragukan buat Mak MM atau "urang >awak"-nyo nan maragukan? :) > >Salam, > >ANB >Cibubur > > >Powered by Telkomsel BlackBerry® >________________________________ > >From: Muchwardi Muchtar <[email protected]> >Sender: [email protected] >Date: Wed, 16 Jan 2013 14:27:47 +0700 >To: <[email protected]> >ReplyTo: [email protected] >Subject: [R@ntau-Net] Adat Bersendi Syarak, Nikah Bersendi Cinta > > >Dunsanak komunitas r@ntaunet n.a.h dan a.c. > >Karano ---ambo tahu-- indak kasado alahe penggemar "palanta RN" ko mambaco >Koran Tempo (salah satu koran nan sapaham jo ajaran JIL), mako ado rancaknyo >tulisan Si Asvi ko awak mamah. > > >Kalau soal opini tantang Si Hanuang, ambo pribadi alah khatam >mampagunjiangannyo di RN ko. Partamo, ambo mangubak kutiko mananggapi surel >Bundo Evy soal Si Hanuang, kaduo ambo mangupak kutiko Sanak ZulTan (masih juo) >mamanciang-manciang Si m.m manyangkuik kurenah Si Hanuang. > > > >Meski tulisan ambo nan kalua karano "dipanciang" Bundo Evy tu ambo liek "alah >taapuih" (?) dari "gudang r@ntaunet" ko, dan klarifikasi ambo mananggapi >tulisan Sanak ZulTan alah final adonyo, ambo raso indak ado salahnyo kalau >pandapaik (opini) "sejarawan urang awak" di bawah ko awak simak. > >Salam........., >mm*** > > >Opini Koran Tempo, Rabu, 16 Januari 2013 >Adat Bersendi Syarak, Nikah Bersendi Cinta >Asvi Warman Adam, >SEJARAWAN MINANG > > >Saya mengenal baik tiga figur yang menikah beda agama. Pertama, senior saya, pengamat masalah internasional, C.P.F. Luhulima, Ambon Kristen yang mengawini rekannya sesama pegawai/peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Achie, perempuan Jawa beragama Islam. Mereka sama-sama mempertahankan agama masing-masing. Ibu Achie adalah seorang penganut agama yang taat. Beliau juga menunaikan rukun Islam yang kelima ke tanah suci. Tentu Ibu Achie-lah yang naik haji, bukan Pak Luhulima. Ketika istrinya terserang kanker payudara, dan syukur bisa disembuhkan, terlihat betapa sayangnya Pak Luhulima terhadap Ibu Achie. Mereka berdua sudah berusia lebih dari 80 tahun dan hidup rukun. > > >Kasus kedua terjadi pada rekan saya, Zatni Arbi, Minang dan Islam, peneliti LIPI yang juga dikenal sebagai penulis masalah IT pada harian The Jakarta Post. Ia menikah dengan gadis Tionghoa-Solo yang beragama Katolik, Hanny. Cinta mereka bersemi di ruang kelas karena, setamat kuliah dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Zatni mengajar dalam kursus bahasa Inggris, dan ternyata ada seorang siswi yang menarik perhatiannya. Hubungan mereka sempat ditentang orang tua masing-masing. Ibu Zatni ingin putra bungsunya menikah dengan gadis yang seagama. Cinta mengalahkan segalanya, mereka dinikahkan penghulu secara Islam dan selanjutnya pasangan ini melanjutkan studi ke Hawaii, Amerika Serikat. Mereka dikaruniai seorang putri yang mengikuti agama ibunya, yakni Katolik. Apa yang sudah dipersatukan Tuhan tidak bisa dipisahkan oleh manusia. Kecuali kalau Tuhan yang berkehendak lain: Zatni meninggal beberapa bulan lalu karena kanker hati. Pada sebuah majalah alumni sekolah, Hanny menceritakan kisah asmara mereka. Ternyata mereka menikah tiga kali dengan pasangan yang sama. Pertama, di depan penghulu secara Islam. Kedua, secara negara di kantor catatan sipil. Terakhir, sepulang dari Hawaii, secara Katolik, mereka memperoleh Surat Nikah Gerejani. > > >Contoh ketiga saya saksikan sendiri ketika tinggal di asrama UI Daksinapati, Rawamangun, Jakarta, pada 1980. Di depan kamar saya terdapat kamar Yusril Ihza Mahendra dan adiknya, Yusron Ihza. Yusron sering bertanya kepada saya ihwal berbagai istilah Minang, karena pacarnya adalah seorang Tionghoa asal Padang yang beragama Katolik. Perkawinan berbeda agama ini tentu mendapat rintangan dari kedua keluarga. Yang jelas, mereka tetap menikah dan selanjutnya belajar di Jepang sampai Yusron memperoleh gelar doktor. Mereka memiliki dua anak dan kembali ke Indonesia. Yusron Ihza pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Bulan Bintang dan belakangan menjadi calon Gubernur Bangka-Belitung. Saya tidak mengetahui lagi perkembangan bahtera rumah tangga mereka karena sudah lama sekali tidak bertemu. > > >Dari ketiga kasus tersebut, saya menyimpulkan bahwa pernikahan berbeda agama itu betul-betul terjadi di sekitar kita. Ada yang prosesnya relatif mudah, tapi lebih banyak lagi yang mendapat penentangan dari pihak keluarga. Tapi yang jelas, mereka menikah berdasarkan cinta. > > >Cinta tapi Beda > > >Film Cinta tapi Beda, yang disutradarai Hanung Bramantyo, berkisah tentang seorang gadis penari asal Padang beragama Katolik jatuh cinta kepada seorang chef restoran asal Yogyakarta dan berasal dari lingkungan keluarga Islam saleh. Hubungan asmara mereka ditentang oleh keluarga masing-masing, yang sudah siap menjodohkan dengan pilihan orang tua. > > >Apakah film ini menghina adat dan agama Islam? Beberapa organisasi kemasyarakatan Minang memprotes film ini, yang dianggap bertentangan terhadap prinsip "Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah". Namun duduk persoalannya adalah Diana, tokoh utama dalam film ini yang bukan gadis Minang, walau berasal dari Padang. Mungkin saja dia berasal dari keluarga (campuran) Tionghoa, etnis minoritas yang bermukim di Sumatera Barat. Logat ibunya dan gambaran lingkungannya cocok dengan itu. Bahwa si gadis suka memakai kalung salib dan memesan babi rica-rica di restoran, tidak ada yang salah dengan hal itu, karena ia tidak beragama Islam. Bahwasanya hal tersebut didramatisasi agar terjadi ketegangan cerita, tentu merupakan cara sutradara membuat alur film ini tidak datar saja. > > >Sang sutradara menegaskan pula bahwa filmnya berkisah tentang "cinta beda agama", bukan "nikah beda agama", karena ending-nya memang tidak memperlihatkan mereka melangsungkan perkawinan. Bahkan, pada adegan terakhir, diperlihatkan bahwa KUA menolak menikahkan pasangan yang berbeda agama. Ucapan Gus Dur tentang perbedaan agama menutup film ini. Walaupun kemudian, setelah film tersebut beredar beberapa lama, atas usul Front Pembela Islam, ditambahkan pula kalimat yang menyatakan, menurut syariah, boleh saja seorang pria muslim menikahi perempuan beragama lain tapi tidak berlaku sebaliknya. > > >Film ini, menurut hemat saya, berhasil menyampaikan pesan bahwa cinta bisa mengatasi perbedaan agama. Namun pernikahan antar-penganut agama yang berbeda masih/akan mendapat rintangan dari keluarga dan negara. * -- > >-- >. >* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain >wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet >http://groups.google.com/group/RantauNet/%7E >* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. >=========================================================== >UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: >- DILARANG: >1. E-mail besar dari 200KB; >2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; >3. One Liner. >- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: >http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 >- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting >- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply >- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti >subjeknya. >=========================================================== >Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: >http://groups.google.com/group/RantauNet/ > > > > > -- >-- >. >* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain >wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet >http://groups.google.com/group/RantauNet/~ >* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. >=========================================================== >UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: >- DILARANG: >1. E-mail besar dari 200KB; >2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; >3. One Liner. >- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: >http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 >- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting >- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply >- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti >subjeknya. >=========================================================== >Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: >http://groups.google.com/group/RantauNet/ > > > > -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ -- -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
