Sdr Mulyadi dan sanak sapalanta nan saya hormati
Re : Investasi LGG
Sdr Mulyadi , saya senang baca tulisan anda. Dua tulisan anda termasuk
postingan sebelumnya yang berjudul “Kosmopolit Minang vs Tuhan Modernitas”
padat dengan makna, filsafat , juga ayat ayat yang relevan dengan konteks
yg dibahas, bertutur mengalir dan enak dibaca. Kajian kajian filsafat yang
anda kemukakan cukup mendalam terutama bagi saya yang kurang dalam
mempelajari falsafah. Namun kesimpulan yang disampaikan dalam kedua tulisan
itu sepertinya ada perubahan. Walaupun pada tulisan pertama tidak
disimpulkan tegas namun saya menyimpulkan bahwa anda sependapat dengan
penolakan sanak di palanta. Pada tulisan kedua, anda ‘meminjam’ kacamata al
Kilani dalam mengambil kesimpulan agar pembangunan RS Siloan di kota
Padang itu “diundur”, dengan memberikan alasan sebagaimana hadist yg
disampaikan oleh HR Muslim.
Memang suatu masalah yang begitu kompleks , tidak mudah mengambil sikap
hitam putih. Karena penentu atas keputusan bukan hanya dari satu pihak
saja. Minimal ada tiga pihak yang menentukan jadi atau tidaknya investasi
RS LGG itu. Pertama pihak Lippo sendiri. Kedua Pemerintah Kota dan ketiga
masyarakat sebagai pemilik sejati wilayah/kota Padang. Pemerintah kota dan
masyarakat sudah diketahui arah dan kecendrungan pendapatnya yang nampaknya
berseberangan. Walaupun sebenarnya bisa saja ‘silent mayority’ masyarakat
lebih banyak yang setuju karena investasi ini sesuai denga program
Pemerintah kota dan secara ekonomi menguntungkan bagi masyarakat.Yang belum
jelas adalah bagaimana sebenarnya pandangan dari sisi investor atau LGG
melihat masalah ini. Saya mencoba mereka reka kira kira kalau dituangkan
dalam SWOT analysis akan bagaimana nantinya kekisruhan ini berakhir.
Berikut SWOT analysis rekaan itu.
SWOT Analysis RSS di Khatib Sulaiman Padang,
*Strength*
- 1.Pasar tersedia. Kecendrungan masyarakat berobat ke LN cukup
tinggi karena RS setempat tdk memadai. Sasaran pasar adalah kelas menengah
ke atas yg jumlahnya semakin meningkat di Padang/Sumbar.
- 2Tenaga kerja (tenaga medik) tersedia, tingkat pengangguran di
wilayah investasi tinggi, tdk ada kesulitan mendapatkan tenaga medik
- 3.Pemda setempat sangat kooperatif
- 4 Lokasi sangat strategis. Harga lahan akan cepat meningkat.
Diperkirakan dalam 8 tahun nilai investasi akan naik mejadi 200 %. Hal ini
didorong oleh, lokasi yg prima, inflasi karena kenaikan BBM.
- 5.Pariwisata yg meningkat pesat seirama dengan ‘keterbukaan’
daerah terhadap pendatang. Wisatawan juga membutuhkan RS internasional.
- 6.Kajian payback period menunjukkan , RS akan mulai untung pada
awal tahun ke 3 beroperasi. Lebih cepat dibandingkan daerah lain karena di
Padang tidak ada competitor potensial.Sehingga tarip bisa ditetapkan
sedikit lebih tinggi. Dalam 8 tahun, kalau akan keluar dari bisnis ini
maka nilai asset sdh menjadi 2 x lipat. Atau rata rata keuntungan per
tahun dari peningkatan nilai asset mencapai 12,5 %.
7,Keuntungan operasional setiap tahun akan meningkat rata rata 15
sampai 20 % pertahun dari tahun tahun sebelumnya (sejak tahun ke 4).
- 8. Investasi dibutuhka daerah, karena investor lain enggan masuk
Sumbar.
- 9. Pembangunan fisik 95 % memakai material lokal (murah),
tenaga kerja lokal/buruh lokal tersedia melimpah. Secara tdk langsung
sejalan dengan program Pemerintah Kota dalam mengurangi tingkat
penganggurfan
- 10. Ikut mendorong kegiatan ekonomi daerah (supplier, distributor,
angkutan)
*Weakness*
- 1. Tenaga medik (perawat )yang ada belum siap pakai. Perlu
pendidikan dan training lebih lanjut, terutanma ttg attitude dalam
pelayanan agar setara dengan cara pelayanan RS internasional.
- 2. Dr ahli dan super spesialis masih kurang. Perlu pendidikan
lanjutan kalau menggunakan tenaga Dr setempat atau perlu didatangkan dari
daerah lain. (Biaya dan gaji lebih tinggi)
- 3. Peralatan /mesin deteksi penyakit modern spt sitiscan, rontgen
dll 100 % import
*Opportunities:*
- 1. Relatif tidak ada competitor. Kompetitor lain tdk akan masuk
karena pangsa pasar tdk terlalu besar.
- 2. Kebutuhan akan RS bertaraf internasional sangat dirasakan oleh
sebagian masyarakat (Menengah keatas)
*Treats*
- 1. Kelompok masyarakat tertentu cendrung menolak, karena khawatir
terhadap isu kristenisasi dibalik investasi. Nama JT Riady /LGG dikaitkan
dengan isu rencana terselubung utk menkristenkan orang Minang
2. Izin yg diberikan Pemeerintah Kota, belum di konsultasikan Wako
dgn DPRD. Sehingga bisa dimentahkan lagi oleh DPRD.
- 3. Ada rencana tata ruang yang dilanggar bahwa Jln Khatib Sulaiman
merupakan lokasi yang hanya diperuntukkan bagi gedung gedung Pemerintah.
Hal ini bisa menjadi alasan
d dibatalkannya izin yg sdh diberikan karena beretentangan dengan
peraturan yg telah ada.
Apa yang akan dilakukan oleh Investor setelah SWOT analisis itu, sangat
tergantung pada beberapa hal :
1. I. Apakah Treats bisa diatasi atau tidak. Kalau bisa diatasi (dengan
berbagai cara) maka proyek akan ‘go on’.
2. II. Kalau tidak bisa diatasi, dan Pemerintah Kota membatalkan/
mencabut izin yg sdh diberikan, maka tindakan investor tentu berusaha
mengembalikan kerugian yang dialaminya.
Yang paling masuk akal adalah maju ke Pengadilan dan menuntut
kerugian sekian…. (kira senilai 50 % dari rencana investasi itu- biasanya
menggunakan pengacara kondang).
3. III. Apabila LGG tdk jadi investasi karena soal SARA ( Maaf ;
masalah ini dilihat oleh banyak fihak sebagai masalah SARA) maka tanpa LGG
berbuat apapun investor lain akan sangat berhati hati dan investor lain
akan terpengaruh dan cendurng berpihak kepada LGG. LGG merupakan grup
bisnis besar, punya jaringan dan hubungan baik juga dengan banyak investor
lain. Pengalaman buruknya dalam investasi di Sumbar akan menjadi citra
negatif bagi daerah ini dan itu akan tersebar dengan sendirinya dan akan
mempengaruhi pula investor lainnya untuk masuk ke Sumbar.
Mudah mudahan tidak terjadi hal hal buruk dalam menyelesaikan kisruh kasus
investasi ini.
Mohon maaf kalau ada yg kurang berkenan.
Wassalam .
Dunil Zaid, 70. Kampuang Ujuang Pandan Parak Karambia, Taplau , Padang.
2013/6/13 mulyadi putra <[email protected]>
> Assalam.Wr.Wb...
> Salam Hormat dan Sejahtera ananda haturkan kepada segenap Mamanda, Angku,
> Bundo Kanduang, Uda dan Uni di Panlata. Jikok Talantuang ka Kanaik, Tagisie
> ka Turun Rila jo Maaf nanda pintokan, atas tulisan yang nanda lewakan.
>
> *Sepenggal Nasehat Majid Irsan al Kilani*
> Selain dari MUI dan setumpuk Ormas Islam yang menolak pembangunan RS
> Siloam (RSS) di Jalan Kahtib Sulaiman, juga datang dari mahasiswa Sumbar.
> Semua itu bukti bahwa masyarakat Minang (ranah dan rantau) tidak
> menginginkan keharmonisan masyarakatnya porak-poranda hanya karena
> pembangunan RSS. Sebab mereka membaca sejarah untuk mengambil pelajaran
> berharga di dalamnya. Bukan sebatas mengisi waktu luang saja! Maka posisi
> saya dalam konteks ini, adalah sama. Alasannya sebagai berikut:****
> *Tiga Pilar*
> *“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum kecuali jika mereka
> merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”* (Q.S. Ara’ad: 11). *“Itu
> karena sesungguhnya Allah tidak akan merubah nikmat yang diberikan kepada
> suatu kaum hingga mereka itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
> * (Q.S. Al Anfal: 53). Penjelasannya, setiap masyarakat terdiri dari tiga
> unsur utama—pemikiran (*afkar*), sumber daya manusia (*asykhash*) dan
> materi (*asy-ya*). ****
> Ketiganya saling terkait sesuai dengan hubungan tertentu yang bisa
> berubah-berubah sesuai dengan perubahan waktu dan tempat. Dari pola
> hubungan itulah terbentuknya jaringan interaksi sosial antara individu
> dengan kelompok; terbentuk pula titik pusat loyalitas masyarakat, pola
> pemahaman dan pola pikir yang berkembang di dalam masyarakat tersebut,
> serta tersusun hirarki nilai yang mengarahkan pada corak perilakunya.****
> Masyarakat berada pada tingkat kesehatan ketika loyalitas kepada pemikiran
> sebagai titik pusat perilaku: hubungan dan kebijakan-kebijakannya,
> sementara aspek manusia dan materi bergerak di bawah kendali pemikiran.
> Dalam kondisi ini posisi kepemimpinan dipegang oleh golongan jenius yang
> mampu memahami segala bentuk ancaman dengan baik, dan pandai mengambil
> keputusan. Pola pikir dan pemahamannya bersifat mendalam dan holistik.
> Sementara segenap perhatian individu dan kelompok pada masyarakatnya
> terfokus kepada masalah-masalah besar: ancaman internal-eksternal, dan
> hal-hal yang menganut pengorbanan, kesigapan serta persiapan.****
> Saat loyalitas kepada ‘manusia’ sebagai titik pusat, sementara pemikiran
> dan materi bergerak di bawah kendali ‘manusia’. Maka corak umum yang
> berkembang di dalam masyarakat tersebut adalah berkuasanya orang-orang yang
> menyukai kedudukan dan kehormatan, dan orang-orang kuat. Mereka
> memperlakukan pemikiran dan materi sesuai dengan kepentingan pribadi,
> keluarga, golongan atau kelompok. Pola pikir dan pemahaman tidak lepas dari
> konteks persoalan keluarga, golongan, sahabat, kelompok atau daerah—ini
> bersifat dangkal, partisipan dan tertutup dari pemikiran pihak lain—segenap
> perhatian masyarakat terpusat pada masalah-masalah yang dipicu oleh
> persaingan dan fanatisme pembangunan.****
> Ketika loyalitas kepada materi menjadi titik pusat, sementara pemikiran
> dan sumber daya manusia berada di bawah kendali materi, maka golongan yang
> berpengaruh di dalam masyarakat yakni para pemilik modal (kapital),
> konglomerat dan produsen fasilitas hiburan dan semua barang yang mengandung
> sahwat, maka jaringan interaksi sosial hancur—pemikiran dan nilai menjadi
> barang dagangang dan komoditi bisnis. Pemikiran dan pemahaman menjadi
> stagnan dan rancu: masyarakat hanya sibuk dengan materi dan kebutuhan
> harian masing-masing, mereka kembali seperti yang diungkapan Ibn
> Syama—bagaikan hidup di era Jahiliyah, tidak mengenal kebaikan dan tidak
> mencegah kemungkaran. ****
> *Masyarakat Besar: Masyarakat Berperadaban*
> Di zaman Rasulullah Saw., beliau gigih menanamkan loyalitas kepada
> pemikiran-pemikiran yang terkandung dalam risalah Islam dan menjadikannya
> sebagai titik pusat semua bentuk hubungan—khusus dan umum. Sementara sumber
> daya manusia yang beriman kepada pemikiran Islam dan seluruh materi yang
> mereka miliki di bawah kendali loyalitas pemikiran—adalah aktualisasi dari:
> *“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman, diri
> dan harta-hartanya.”* (Q.S. At Taubah: 111). ****
> Keadaan ini terus berlanjut pada masa Khulafa’ Rasyidin, di mana mereka
> mengimplementasikan loyalitas kepada pemikiran Islam. Mereka memanfaatkan
> seluruh potensi manusia dan materinya untuk menyebarkan dakwah ke luar
> wilayah Islam dan melakukan hal yang sama di dalam lingkungan internalnya.
> Dengan penuh rasa bahagia dan suka cita mereka patuh kepada ketetapan
> musyawarah. ****
> Pergeserannya mencuat setelah periode Khulafa’ Rasyidin berakhir. Tepatnya
> sejak kalangan elit yang mengusung fanatisme dari golongan (*Thulaqa’*)*
> *Makkah
> berusaha menundukkan para ulama dan *fuqaha’* untuk membenarkan loyalitas
> mereka kepada individu-individu tertentu. Orang pertama yang
> bertanggungjawab atas berkembangnya fenome ini adalah Mu’awiyah bin Abu
> Sufyan—ketika berusaha menggiring suara para sahabat senior semasa
> pemerintahannya agar merestui pengangkatan puteranya yang bernama Yazid
> sebagai putera mahkota sekaligus khalifah yang akan menggantikannya. ****
> Polemik ini semakin meruncing ketika jajaran elit politik mulai
> mengintimidasi dan menangkap elit intelektual (ulama) apabila mereka
> menolak untuk tunduk kepada dogma loyalitas kepada individu-individu
> penguasa, seperti yang dilakukan Hajjaj ats Tsaqafi kepada Sa’ad bin Jabir
> dan lainnya.****
> Pase perkembangan kedua ini disusul oleh fase berikutnya: ketika titik
> pusat loyalitas bergeser kepada materi dan seluruh masyarakat Muslim dibuat
> sibuk dengannya. Mereka berlomba-lomba mengoleksi harta dan menumpuk
> kekayaan. Sementara status sosial dan pola hubungan yang terjalin antara
> sesama mereka ditentukan sesuai dengan kadar materi tersebut.****
> Perkembangan tiga fase di atas menunjukkan kesimpulan, *pertama, *periode
> yang mengusung loyalitas kepada pemikiran sebagai titik pusatnya,
> individu-individu masyarakat berhasil membangun persatuan yang kuat dan
> kokoh serta mencapai kemajuan yang gemilang. Namun pada periode yang
> mengusung loyalitas pada individu ‘manusia’ sebagai titik pusatnya, muncul
> berbagai fenomena persengketaan antar keluarga untuk meraih posisi khalifah
> dan muncul pula kelompok-kelompok yang memberontak seperti Khawarij. Di
> sisi lain, segenap perhatian masyarakat tercurahkan sekitar permasalahan
> hegemoni individu, keluarga atau mazhab, mereka terlibat dalam berbagai
> bentuk persaingan dan persengketaan disertai dengan berkembangan fanatisme
> mazhab dan sikap tertutup (pemikiran) terhadap orang lain (ekslusifisme).*
> ***
> Ketika titik pusat loyalitas bergeser kepada materi, kondisi masyarakat
> Muslim semakin terpuruk kerena semakin sakit dan lemah: jaringan interaksi
> sosial hancur sampai di lingkungan internal keluarga, mazhab dan daerahnya
> masing-masing. Simbol-simbol pemikiran berubah menjadi bagian dari komoditi
> bisnis dan sarana mencapai kepuasan sahwat. Semua ini mengantarkan
> masyarakat Muslim menuju gerbang kematian dan mengundang kehadiran pasukan
> Salib dan Mongol untuk mengumumkan berita kematian dan menyelesaikan proses
> penguburannya!****
> Dengan demikian, suatu umat yang dipimpin para *fuqaha’* yang mengerti
> tentang pola-pola kemajuan dan keruntuhan masyarakat, dan mampu menerapkan
> pola-pola ini dengan baik, maka mereka akan berhasil membawa umatnya menuju
> kemajuan dan kejayaan. Sedangkan umat yang dipimpin oleh *orator *(*
> khuthaba*) yang hanya pandai memainkan perasaan dan emosi—mereka akan
> terus terlena dengan angan-angan yang ditawarkan para orator tersebut.
> Sehingga ketika dihadapkan kepada suatu tantangan, mereka tidak mengerti
> apa yang semestinya dilakukan dan akhirnya mereka harus puas menuai
> kegagalan dan kebinasaan. ****
> Oleh karena itu al Kilani berpesan: “Kami tidak mengharapkan kajian
> tulisan ini dicermati oleh para ‘orator dan penceramah’, baik yang
> melalukannya di masjid, radio, televsi, media masa, buku maupun seminar,
> kemudian masyarakat menjadikannya sebagai bahan obrolan lepas di tengah
> malam, lalu sebagai kesimpulannya mereka mengatakan: ‘sejarah pasti akan
> terulang dan sejarah menyimpan pelajaran’. Melainkan lahirnya sejumlah *
> fuqaha’* dalam bidang sosial-kemanusiaan yang pandai menggali berbagai
> sunnah, dan pola yang mengatur seluruh masyarakat Muslim serta meneliti
> sejauh mana pengaruh yang ditimbulkan oleh pola-pola tersebut—positif mupun
> negatif.” ****
> Dalam konteks inilah—memakai kacamata al Kilani, ada baiknya pembangunan
> RS Siloam di Kota Padang itu, ‘diundur’! Alasannya: “Demi Allah, aku tidak
> khawatir jika kamu sekalian jatuh miskin, tetapi yang aku khawatirkan
> adalah jika kamu diberi kemudahan untuk memperoleh gemilang kenikmatan
> dunia sebagaimana umat sebelum kamu diberi kemudahan untuk memperolehnya,
> lalu kamu berlomba-lomba untuk mendapatkannya sebagaimana mereka pernah
> berlomba-lomba untuk mendapatkannya, hingga kamu celaka karenanya
> sebagaimana dahulu mereka celaka karenanya.” (H.R. Imam Muslim). ****
> Dikarenakan hal itu baik dalam pandangan Allah: “*Barangsiapa
> menginginkan keuntungan akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya.
> Dan barangsiapa menginginkan keuntungan dunia, maka Kami berikan kepadanya
> keuntungan dunia. Dan tidak ada bagiannya di akhirat.*” (Q.S. Asy-Syuraa:
> 20) dan; “dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah Saw., bersabda:
> “Apabila umatku sudah mengagungkan dunia, maka akan tercabut dari mereka
> kehebatan Islam. Dan apabila mereka meninggalkan *amar ma’ruf nahi munkar*,
> maka mereka akan terhalang dari keberkahan wahyu. Dan apabila umatku saling
> menghina, maka jatuhlah mereka dari pandangan Allah.” (Hakim,
> Tirmidzi—Darrul Mantsur).****
> Jika ini tak diindahkan, yakinlah pintu ‘*Misykat’ *semakin terbuka
> lebar: “Akan datang suatu zaman bahwa tidak akan tersisa Islam kecuali
> namanya saja, dan tidak pula al-Qur’an kecuali tulisannya saja.” Lantaran:
> *“Orang-orang Yahudi dan Nasrai tidak akan senang kepadamu sebelum kamu
> mengikuti mereka…”* (Q.S. Al-Baqarah, [2]: 120). ****
> Akhir kata, tersebab para tokoh dan Pemerintahan Kota Sumbar adalah orang
> besar yang terdidik serta memiliki paham keagamaan yang mendalam, tentunya
> setiap kritik-kronstruktif yang diarahkan kepadanya akan dibalas: “Tidak
> ada lagi kebaikan padamu jika enggan mengungkapkannya (kritik), dan tidak
> ada lagi kebaikan pada kami jika tidak mau mendengarkannya!” Karena mereka
> bagian dari akhir penggal ke-2 isi sabda Rasulullah Saw: “Sesungguhnya saat
> ini kamu berada di suatu zaman di mana banyak ulamanya dan sedikit
> orator/penceramahnya. Siapa di antara kamu yang meninggalkan sepersepuluh
> ilmunya niscaya terjerumus atau celaka. Suatu saat nanti manusia akan
> mengalami suatu zaman di mana ulamanya sedikit dan orator/penceramahnya
> banyak. Saat itu jika ada orang yang berpegang teguh dengan sepersepuluh
> ilmunya, niscaya akan selamat.” (H.R. Imam Ahmad). Amin…****
>
>
>
> ** **
> ** **
> ------------------------------
>
> RS Siloam Milik Lippo Group Ditolak
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari
> Grup Google.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
>
>
>
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.