Assalamualaikum Pak Zaid Dunil nan ambo hormati,

Luar biasa SWOT analisis Bapak. Alangkah mulianya seandainya saja Bapak mau melakukan analisis yang sama kepada rumah sakit rumah sakit pemerintah type A type B di Sumatera Barat dengan maksud memajukan pelayanan rumah sakit anak negeri tersebut. Agar rumah sakit tersebut menjadi menang dalam persaingan menghadapi katakanlah RS para penjajah ekonomi yang hanya cari untung untuk dibawa ke negerinya.  Banyak rumah sakit yang awalnya dibuat gang jtr lalu kemudian kepemilikannya jatuh ke singapura. Disini nasionalisme jtr perlu dipertanyakan.

Kalau ilmu bapak diberikan secara cuma2 untuk JTR...pertama tentu sama saja memberikan peluru untuk 'membunuh' rumah sakit negeri. Atau karena mereka mempunyai konsultan yang bekelas maka masukan bapak hanya menjadi sampah.

Saya berdoa agar para direktur rumah sakit pemerintah daerah sumatera barat memahami persoalan ini. Bahwa mereka bekerja dengan dana terbatas, bahwa mereka bekerja bemuatan kepentingan orang banyak, bahwa mereka bekerja dinilai who untik mengurangi indikator kesehatan, dan bahwa mereka bekerja one man show dimana keberpihakan pemerintah kepada mereka 'sangat rendah' terbukti rezim pemerintah memberikan izin seenaknya mengatasnamakan liberalisasi ekonomi,dan bahwa pemodal kapitalis siap menggunakan berbagai cara untuk mengeksplorasi ranah minang atas nama keuntungan.

Entahlah... Ranah minang semakin nyata seperti sepiriang gulai gajebo nan siap jadi rebutan... Akankah ranah minang menjadi boneka boneka singapur seperti yang sdh menggejala di daerah daerah lainnya?

rahyussalim




Sent from my BlackBerry 10 smartphone.

From: Zaid Dunil
Sent: Jumat, 14 Juni 2013 0:57 PM
Subject: Re: [R@ntau-Net] RS Siloam Milik LIppo Group Ditolak

Sdr Mulyadi dan sanak sapalanta nan saya hormati

Re  : Investasi LGG

Sdr Mulyadi , saya senang baca tulisan anda. Dua tulisan anda termasuk postingan sebelumnya yang berjudul “Kosmopolit Minang vs Tuhan Modernitas”  padat  dengan makna, filsafat , juga ayat ayat yang relevan dengan konteks yg dibahas, bertutur mengalir dan enak dibaca. Kajian kajian filsafat yang anda kemukakan cukup mendalam terutama bagi saya yang kurang dalam mempelajari falsafah. Namun kesimpulan yang disampaikan dalam kedua tulisan itu sepertinya ada perubahan. Walaupun pada tulisan pertama tidak disimpulkan tegas namun saya menyimpulkan bahwa anda sependapat dengan penolakan sanak di palanta. Pada tulisan kedua, anda ‘meminjam’ kacamata al Kilani dalam  mengambil kesimpulan agar pembangunan RS Siloan di kota Padang itu “diundur”, dengan memberikan alasan sebagaimana hadist yg disampaikan oleh HR Muslim.   

Memang suatu masalah yang begitu kompleks , tidak mudah mengambil sikap hitam putih. Karena penentu atas keputusan bukan hanya dari satu pihak saja. Minimal ada tiga pihak yang menentukan jadi atau tidaknya investasi RS LGG itu. Pertama pihak Lippo sendiri. Kedua Pemerintah Kota dan ketiga masyarakat sebagai pemilik sejati wilayah/kota Padang. Pemerintah kota dan masyarakat sudah diketahui arah dan kecendrungan pendapatnya yang nampaknya berseberangan. Walaupun sebenarnya bisa saja ‘silent mayority’ masyarakat lebih banyak yang setuju karena investasi ini sesuai denga program Pemerintah kota dan secara ekonomi menguntungkan bagi masyarakat.Yang belum jelas adalah bagaimana sebenarnya pandangan dari sisi investor atau LGG melihat masalah ini. Saya mencoba mereka reka kira kira kalau dituangkan dalam SWOT analysis akan bagaimana nantinya kekisruhan ini berakhir. Berikut SWOT analysis rekaan itu.

 SWOT Analysis RSS di Khatib Sulaiman Padang,

Strength

-       1.Pasar tersedia. Kecendrungan masyarakat berobat ke LN cukup tinggi karena RS setempat tdk memadai. Sasaran pasar adalah kelas menengah ke atas yg jumlahnya semakin meningkat di Padang/Sumbar.

-        2Tenaga kerja (tenaga medik) tersedia, tingkat pengangguran di wilayah investasi tinggi, tdk ada kesulitan mendapatkan tenaga medik

-       3.Pemda setempat sangat kooperatif

-       Lokasi sangat strategis. Harga lahan akan cepat meningkat. Diperkirakan dalam 8 tahun nilai investasi akan naik mejadi 200 %. Hal ini didorong oleh, lokasi yg prima, inflasi  karena kenaikan BBM.

-        5.Pariwisata yg meningkat pesat seirama dengan ‘keterbukaan’ daerah terhadap pendatang.  Wisatawan juga membutuhkan RS internasional.

-       6.Kajian payback period menunjukkan , RS akan mulai untung pada awal tahun ke 3 beroperasi. Lebih cepat dibandingkan daerah lain karena di Padang tidak ada competitor potensial.Sehingga tarip bisa ditetapkan sedikit lebih tinggi. Dalam 8  tahun, kalau akan keluar dari bisnis ini maka nilai asset  sdh menjadi 2 x lipat. Atau rata rata keuntungan per tahun dari peningkatan nilai asset mencapai 12,5 %.

     7,Keuntungan operasional setiap tahun  akan meningkat rata rata  15 sampai 20 % pertahun dari tahun tahun sebelumnya (sejak tahun ke 4).

-      8. Investasi dibutuhka daerah, karena investor lain enggan  masuk Sumbar.

-       9.   Pembangunan fisik  95  % memakai material lokal (murah), tenaga kerja lokal/buruh lokal tersedia melimpah. Secara tdk langsung sejalan dengan program Pemerintah Kota dalam mengurangi   tingkat penganggurfan  

-      10.  Ikut mendorong kegiatan ekonomi daerah (supplier, distributor, angkutan)

Weakness

-      1.   Tenaga medik (perawat )yang ada belum siap pakai. Perlu pendidikan dan training lebih lanjut, terutanma ttg attitude dalam pelayanan agar setara dengan cara pelayanan RS internasional.

-        2. Dr ahli dan super spesialis masih kurang. Perlu pendidikan lanjutan kalau menggunakan tenaga Dr setempat atau perlu didatangkan dari daerah lain. (Biaya dan gaji lebih tinggi)

-       3. Peralatan /mesin deteksi penyakit  modern spt sitiscan, rontgen dll 100 % import

 Opportunities:

-      1.  Relatif  tidak ada competitor. Kompetitor lain tdk akan masuk karena pangsa pasar tdk terlalu besar.

-       2. Kebutuhan akan RS  bertaraf internasional sangat dirasakan oleh sebagian masyarakat (Menengah keatas)

Treats

-      1.  Kelompok masyarakat tertentu cendrung menolak, karena khawatir terhadap isu kristenisasi dibalik investasi. Nama JT Riady /LGG dikaitkan dengan isu rencana terselubung utk menkristenkan orang Minang

      2.  Izin yg diberikan Pemeerintah Kota, belum di konsultasikan Wako dgn DPRD. Sehingga bisa dimentahkan lagi oleh DPRD.

-       3.  Ada rencana tata ruang yang dilanggar bahwa Jln Khatib Sulaiman merupakan lokasi yang hanya  diperuntukkan bagi gedung gedung Pemerintah. Hal ini bisa menjadi alasan 

d      dibatalkannya izin yg sdh diberikan karena beretentangan dengan peraturan yg telah ada.

Apa yang akan dilakukan oleh Investor setelah SWOT analisis itu, sangat tergantung pada beberapa hal :

1.   I.   Apakah Treats bisa diatasi atau tidak. Kalau bisa diatasi (dengan berbagai cara) maka proyek akan ‘go on’.

2.   II.  Kalau tidak bisa diatasi, dan Pemerintah Kota membatalkan/ mencabut izin yg sdh diberikan, maka tindakan investor tentu berusaha mengembalikan kerugian yang dialaminya. 

         Yang paling masuk akal adalah maju ke Pengadilan dan menuntut kerugian sekian…. (kira  senilai 50 % dari rencana investasi itu- biasanya menggunakan pengacara kondang).

3.    III.  Apabila LGG tdk jadi investasi karena soal SARA ( Maaf ; masalah ini dilihat oleh banyak fihak sebagai masalah SARA) maka tanpa LGG berbuat apapun investor lain akan sangat berhati hati dan investor lain akan  terpengaruh dan cendurng berpihak kepada LGG.  LGG merupakan grup bisnis besar, punya jaringan dan hubungan baik juga dengan banyak investor lain. Pengalaman buruknya dalam investasi di Sumbar akan menjadi citra negatif bagi daerah ini dan itu akan tersebar dengan sendirinya dan akan mempengaruhi pula investor lainnya untuk masuk ke Sumbar.

Mudah mudahan tidak terjadi hal hal buruk dalam menyelesaikan kisruh kasus investasi ini.

Mohon maaf kalau ada yg kurang berkenan.

Wassalam . 

Dunil  Zaid, 70. Kampuang Ujuang Pandan Parak Karambia, Taplau , Padang. 



2013/6/13 mulyadi putra <[email protected]>
Assalam.Wr.Wb...
Salam Hormat dan Sejahtera ananda haturkan kepada segenap Mamanda, Angku, Bundo Kanduang, Uda dan Uni di Panlata. Jikok Talantuang ka Kanaik, Tagisie ka Turun Rila jo Maaf nanda pintokan, atas tulisan yang nanda lewakan.

Sepenggal Nasehat Majid Irsan al Kilani
Selain dari MUI dan setumpuk Ormas Islam yang menolak pembangunan RS Siloam (RSS) di Jalan Kahtib Sulaiman, juga datang dari mahasiswa Sumbar. Semua itu bukti bahwa masyarakat Minang (ranah dan rantau) tidak menginginkan keharmonisan masyarakatnya porak-poranda hanya karena pembangunan RSS. Sebab mereka membaca sejarah untuk mengambil pelajaran berharga di dalamnya. Bukan sebatas mengisi waktu luang saja! Maka posisi saya dalam konteks ini, adalah sama. Alasannya sebagai berikut:
Tiga Pilar
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum kecuali jika mereka merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (Q.S. Ara’ad: 11). “Itu karena sesungguhnya Allah tidak akan merubah nikmat yang diberikan kepada suatu kaum hingga mereka itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (Q.S. Al Anfal: 53). Penjelasannya, setiap masyarakat terdiri dari tiga unsur utama—pemikiran (afkar), sumber daya manusia (asykhash) dan materi (asy-ya).
Ketiganya saling terkait sesuai dengan hubungan tertentu yang bisa berubah-berubah sesuai dengan perubahan waktu dan tempat. Dari pola hubungan itulah terbentuknya jaringan interaksi sosial antara individu dengan kelompok; terbentuk pula titik pusat loyalitas masyarakat, pola pemahaman dan pola pikir yang berkembang di dalam masyarakat tersebut, serta tersusun hirarki nilai yang mengarahkan pada corak perilakunya.
Masyarakat berada pada tingkat kesehatan ketika loyalitas kepada pemikiran sebagai titik pusat perilaku: hubungan dan kebijakan-kebijakannya, sementara aspek manusia dan materi bergerak di bawah kendali pemikiran. Dalam kondisi ini posisi kepemimpinan dipegang oleh golongan jenius yang mampu memahami segala bentuk ancaman dengan baik, dan pandai mengambil keputusan. Pola pikir dan pemahamannya bersifat mendalam dan holistik. Sementara segenap perhatian individu dan kelompok pada masyarakatnya terfokus kepada masalah-masalah besar: ancaman internal-eksternal, dan hal-hal yang menganut pengorbanan, kesigapan serta persiapan.
Saat loyalitas kepada ‘manusia’ sebagai titik pusat, sementara pemikiran dan materi bergerak di bawah kendali ‘manusia’. Maka corak umum yang berkembang di dalam masyarakat tersebut adalah berkuasanya orang-orang yang menyukai kedudukan dan kehormatan, dan orang-orang kuat. Mereka memperlakukan pemikiran dan materi sesuai dengan kepentingan pribadi, keluarga, golongan atau kelompok. Pola pikir dan pemahaman tidak lepas dari konteks persoalan keluarga, golongan, sahabat, kelompok atau daerah—ini bersifat dangkal, partisipan dan tertutup dari pemikiran pihak lain—segenap perhatian masyarakat terpusat pada masalah-masalah yang dipicu oleh persaingan dan fanatisme pembangunan.
Ketika loyalitas kepada materi menjadi titik pusat, sementara pemikiran dan sumber daya manusia berada di bawah kendali materi, maka golongan yang berpengaruh di dalam masyarakat yakni para pemilik modal (kapital), konglomerat dan produsen fasilitas hiburan dan semua barang yang mengandung sahwat, maka jaringan interaksi sosial hancur—pemikiran dan nilai menjadi barang dagangang dan komoditi bisnis. Pemikiran dan pemahaman menjadi stagnan dan rancu: masyarakat hanya sibuk dengan materi dan kebutuhan harian masing-masing, mereka kembali seperti yang diungkapan Ibn Syama—bagaikan hidup di era Jahiliyah, tidak mengenal kebaikan dan tidak mencegah kemungkaran.
Masyarakat Besar: Masyarakat Berperadaban
Di zaman Rasulullah Saw., beliau gigih menanamkan loyalitas kepada pemikiran-pemikiran yang terkandung dalam risalah Islam dan menjadikannya sebagai titik pusat semua bentuk hubungan—khusus dan umum. Sementara sumber daya manusia yang beriman kepada pemikiran Islam dan seluruh materi yang mereka miliki di bawah kendali loyalitas pemikiran—adalah aktualisasi dari: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman, diri dan harta-hartanya.” (Q.S. At Taubah: 111).
Keadaan ini terus berlanjut pada masa Khulafa’ Rasyidin, di mana mereka mengimplementasikan loyalitas kepada pemikiran Islam. Mereka memanfaatkan seluruh potensi manusia dan materinya untuk menyebarkan dakwah ke luar wilayah Islam dan melakukan hal yang sama di dalam lingkungan internalnya. Dengan penuh rasa bahagia dan suka cita mereka patuh kepada ketetapan musyawarah.
Pergeserannya mencuat setelah periode Khulafa’ Rasyidin berakhir. Tepatnya sejak kalangan elit yang mengusung fanatisme dari golongan (Thulaqa’) Makkah berusaha menundukkan para ulama dan fuqaha’ untuk membenarkan loyalitas mereka kepada individu-individu tertentu. Orang pertama yang bertanggungjawab atas berkembangnya fenome ini adalah Mu’awiyah bin Abu Sufyan—ketika berusaha menggiring suara para sahabat senior semasa pemerintahannya agar merestui pengangkatan puteranya yang bernama Yazid sebagai putera mahkota sekaligus khalifah yang akan menggantikannya.
Polemik ini semakin meruncing ketika jajaran elit politik mulai mengintimidasi dan menangkap elit intelektual (ulama) apabila mereka menolak untuk tunduk kepada dogma loyalitas kepada individu-individu penguasa, seperti yang dilakukan Hajjaj ats Tsaqafi kepada Sa’ad bin Jabir dan lainnya.
Pase perkembangan kedua ini disusul oleh fase berikutnya: ketika titik pusat loyalitas bergeser kepada materi dan seluruh masyarakat Muslim dibuat sibuk dengannya. Mereka berlomba-lomba mengoleksi harta dan menumpuk kekayaan. Sementara status sosial dan pola hubungan yang terjalin antara sesama mereka ditentukan sesuai dengan kadar materi tersebut.
Perkembangan tiga fase di atas menunjukkan kesimpulan, pertama, periode yang mengusung loyalitas kepada pemikiran sebagai titik pusatnya, individu-individu masyarakat berhasil membangun persatuan yang kuat dan kokoh serta mencapai kemajuan yang gemilang. Namun pada periode yang mengusung loyalitas pada individu ‘manusia’ sebagai titik pusatnya, muncul berbagai fenomena persengketaan antar keluarga untuk meraih posisi khalifah dan muncul pula kelompok-kelompok yang memberontak seperti Khawarij. Di sisi lain, segenap perhatian masyarakat tercurahkan sekitar permasalahan hegemoni individu, keluarga atau mazhab, mereka terlibat dalam berbagai bentuk persaingan dan persengketaan disertai dengan berkembangan fanatisme mazhab dan sikap tertutup (pemikiran) terhadap orang lain (ekslusifisme).
Ketika titik pusat loyalitas bergeser kepada materi, kondisi masyarakat Muslim semakin terpuruk kerena semakin sakit dan lemah: jaringan interaksi sosial hancur sampai di lingkungan internal keluarga, mazhab dan daerahnya masing-masing. Simbol-simbol pemikiran berubah menjadi bagian dari komoditi bisnis dan sarana mencapai kepuasan sahwat. Semua ini mengantarkan masyarakat Muslim menuju gerbang kematian dan mengundang kehadiran pasukan Salib dan Mongol untuk mengumumkan berita kematian dan menyelesaikan proses penguburannya!
Dengan demikian, suatu umat yang dipimpin para fuqaha’ yang mengerti tentang pola-pola kemajuan dan keruntuhan masyarakat, dan mampu menerapkan pola-pola ini dengan baik, maka mereka akan berhasil membawa umatnya menuju kemajuan dan kejayaan. Sedangkan umat yang dipimpin oleh orator (khuthaba) yang hanya pandai memainkan perasaan dan emosi—mereka akan terus terlena dengan angan-angan yang ditawarkan para orator tersebut. Sehingga ketika dihadapkan kepada suatu tantangan, mereka tidak mengerti apa yang semestinya dilakukan dan akhirnya mereka harus puas menuai kegagalan dan kebinasaan.
Oleh karena itu al Kilani berpesan: “Kami tidak mengharapkan kajian tulisan ini dicermati oleh para ‘orator dan penceramah’, baik yang melalukannya di masjid, radio, televsi, media masa, buku maupun seminar, kemudian masyarakat menjadikannya sebagai bahan obrolan lepas di tengah malam, lalu sebagai kesimpulannya mereka mengatakan: ‘sejarah pasti akan terulang dan sejarah menyimpan pelajaran’. Melainkan lahirnya sejumlah fuqaha’ dalam bidang sosial-kemanusiaan yang pandai menggali berbagai sunnah, dan pola yang mengatur seluruh masyarakat Muslim serta meneliti sejauh mana pengaruh yang ditimbulkan oleh pola-pola tersebut—positif mupun negatif.”
Dalam konteks inilah—memakai kacamata al Kilani, ada baiknya pembangunan RS Siloam di Kota Padang itu, ‘diundur’! Alasannya: “Demi Allah, aku tidak khawatir jika kamu sekalian jatuh miskin, tetapi yang aku khawatirkan adalah jika kamu diberi kemudahan untuk memperoleh gemilang kenikmatan dunia sebagaimana umat sebelum kamu diberi kemudahan untuk memperolehnya, lalu kamu berlomba-lomba untuk mendapatkannya sebagaimana mereka pernah berlomba-lomba untuk mendapatkannya, hingga kamu celaka karenanya sebagaimana dahulu mereka celaka karenanya.” (H.R. Imam Muslim).
Dikarenakan hal itu baik dalam pandangan Allah: “Barangsiapa menginginkan keuntungan akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya. Dan barangsiapa menginginkan keuntungan dunia, maka Kami berikan kepadanya keuntungan dunia. Dan tidak ada bagiannya di akhirat.” (Q.S. Asy-Syuraa: 20) dan; “dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah Saw., bersabda: “Apabila umatku sudah mengagungkan dunia, maka akan tercabut dari mereka kehebatan Islam. Dan apabila mereka meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar, maka mereka akan terhalang dari keberkahan wahyu. Dan apabila umatku saling menghina, maka jatuhlah mereka dari pandangan Allah.” (Hakim, Tirmidzi—Darrul Mantsur).
Jika ini tak diindahkan, yakinlah pintu ‘Misykat’ semakin terbuka lebar: “Akan datang suatu zaman bahwa tidak akan tersisa Islam kecuali namanya saja, dan tidak pula al-Qur’an kecuali tulisannya saja.” Lantaran: “Orang-orang Yahudi dan Nasrai tidak akan senang kepadamu sebelum kamu mengikuti mereka…” (Q.S. Al-Baqarah, [2]: 120).
Akhir kata, tersebab para tokoh dan Pemerintahan Kota Sumbar adalah orang besar yang terdidik serta memiliki paham keagamaan yang mendalam, tentunya setiap kritik-kronstruktif yang diarahkan kepadanya akan dibalas: “Tidak ada lagi kebaikan padamu jika enggan mengungkapkannya (kritik), dan tidak ada lagi kebaikan pada kami jika tidak mau mendengarkannya!” Karena mereka bagian dari akhir penggal ke-2 isi sabda Rasulullah Saw: “Sesungguhnya saat ini kamu berada di suatu zaman di mana banyak ulamanya dan sedikit orator/penceramahnya. Siapa di antara kamu yang meninggalkan sepersepuluh ilmunya niscaya terjerumus atau celaka. Suatu saat nanti manusia akan mengalami suatu zaman di mana ulamanya sedikit dan orator/penceramahnya banyak. Saat itu jika ada orang yang berpegang teguh dengan sepersepuluh ilmunya, niscaya akan selamat.” (H.R. Imam Ahmad). Amin…
 
 
 
 
 

--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
 
 

--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
 
 

--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
 
 

Kirim email ke