"Hamka dan Pluralisme Agama"

Hamka, pernah mundur dari Ketua MUI daripada harus menarik fatwa haramnya
merayakan "Natal Bersama" . Apalagi mendukung 'Pluralisme Agama'

Oleh: Adian Husaini MA

Pada Selasa, 21 Nopember 2006, Syafii Maarif menulis kolom resonansi di
Republika yang berjudul "Hamka Tentang Ayat 62 Al-Baqarah dan Ayat 69
Al-Maidah". Hari itu, saya sedang di Gresik mengisi acara kajian tentang
Islam Liberal di Pesantren Maskumambang Gresik, Jawa Timur. Mulai pagi
hingga malam hari, bertubi-tubi SMS masuk ke HP saya yang mempersoalkan
isi tulisan Syafii Maarif tersebut. Rabu paginya,

setibanya di Jakarta, saya baru sempat membaca tulisan Syafii Maarif.
Setelah saya cek ke Tafsir al-Azhar, karya Buya Hamka, seperti yang
dirujuk Syafii Maarif, memang ada sejumlah hal yang perlu diperjelas dari
tulisan Syafii, agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru terhadap
sosok Prof. Hamka, ulama terkenal yang legendaris.

Pluralisme Agama tampaknya memang sudah menjadi alat penghancur aqidah
Islam yang sangat intensif disebarkan ke berbagai pelosok. Kamis (30
November 2006), malam, seseorang yang tinggal di satu kota kecil di
propinsi Banten, menelepon saya dan meminta untuk datang ke kota itu
karena baru saja diselenggarakan satu seminar yang menyebarkan paham
"Pluralisme Agama".

Ayat Al-Quran yang dibahas Syafii Maarif memang saat ini sedang 
gencar-gencarnya disosialisasikan oleh kalangan pendukung paham
Pluralisme Agama untuk menjustifikasi paham Pluralisme Agama, bahwa semua
agama adalah merupakan jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang satu.
Tidak peduli siapa pun nama dan sifat Tuhan itu ; dan tidak peduli
bagaimana pun cara menyembah Tuhan itu.

Dalam bahasa Nurcholish Madjid: ''bahwa setiap agama sebenarnya merupakan
ekspresi keimanan terhadap Tuhan yang sama. Ibarat roda, pusat roda itu
adalah Tuhan, dan jari-jari itu adalah jalan dari berbagai Agama.'' Dalam
bukunya, The World's Religions, Huston Smith juga menulis satu sub-bab
berjudul "Many Paths to the Same Summit". Ia menulis: "Truth is one;
sages call it by different names." (Kebenaran memang satu; orang-orang
bijak menyebutnya dengan nama yang berbeda-beda).

Jadi, dalam pandangan Pluralisme Agama - versi transendentalisme - ini,
tidak ada agama yang salah, dan tidak boleh satu pemeluk agama yang
mengklaim hanya agamanya sendiri sebagai jalan satu-satunya menuju Tuhan.
Kalangan Pluralis kemudian mencari-cari dalil dalam kitab sucinya
masing-masing untuk mendukung paham ini. Yang dari kalangan Islam
biasanya menjadikan QS 2:62 dan 5:69 untuk menjustifikasi pandangannya.
Kalangan Hindu pluralis, misalnya, biasanya suka mengutip Bagawad Gita
IV:11: "Jalan mana pun yang ditempuh manusia ke arah-Ku, semuanya Aku
terima."

Tentu saja, legitimasi paham Pluralisme Agama dengan ayat-ayat tertentu
dalam kitab suci masing-masing agama mendapatkan perlawanan keras dari
masing-masing agama. Tahun 2000, Vatikan telah menolak Paham Pluralisme
dengan mengeluarkan dekrit 'Dominus Jesus'.

Tahun 2004, seorang pendeta Kristen di Malang menulis buku serius tentang
paham Pluralisme Agama berjudul: "Theologia Abu-Abu: Tantangan dan
Ancaman Racun Pluralisme dalam Teologi Kristen Masa Kini". Tahun 2005,
MUI juga mengeluarkan fatwa yang menolak paham Pluralisme Agama. Dan
tahun 2006, Media Hindu juga menerbitkan satu buku berjudul "Semua Agama
Tidak Sama." Buku ini juga membantah penggunaan ayat dalam Bhagawat Gita
IV:11 untuk mendukung paham penyamaan agama yang disebut juga dalam buku
ini sebagai paham Universalisme Radikal'.

Penyalahgunaan

Di kalangan kaum Pluralis agama yang beragama Islam, QS 2:62 dan 5:69
biasanya dijadikan legitimasi untuk menyatakan, bahwa umat beragama apa
pun, asalkan beriman kepada Tuhan dan Hari Akhir, serta berbuat baik
terhadap sesama manusia, maka dia akan mendapat pahala dari Allah dan
masuk sorga. Tidak pandang agamanya apa, Tuhannya siapa, dan bagaimana
cara menyembah Tuhannya. Karena itu, untuk mendapatkan keselamatan di
akhirat, kaum Yahudi dan Kristen, misalnya, tidak perlu beriman kepada
Nabi Muhammad saw. Untuk mencari legitimasi, yang sering dijadikan
rujukan adalah 'Tafsir al-Manar'-nya yang ditulis oleh Rasyid Ridha.

Prof. Abdul Aziz Sachedina, misalnya, dalam satu artikelnya berjudul "Is
Islamic Revelation an Abrogation of Judaeo-Christian Revelation? Islamic 
self-identification", menyatakan: "Rasyid Ridha tidak mensyaratkan iman
kepada kenabian Muhammad bagi kaum Yahudi dan Kristen yang berkeinginan
untuk diselamatkan, dan karena itu, ini secara implisit menetapkan
validitas kitab Yahudi dan Kristen.

Sachedina dan sejumlah Pluralis lainnya tidak cermat dan tidak lengkap
dalam mengutip Tafsir al-Manar, sehingga berkesimpulan seperti itu.
Padahal, dalam Tafsir al-Manar Jilid IV yang membahas tentang keselamatan
Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani), disebutkan, bahwa QS 2:62 dan 5:69
adalah membicarakan keselamatan Ahlul Kitab yang kepada mereka yang
dakwah Nabi Muhammad saw tidak sampai. Sedangkan bagi Ahli Kitab yang
dakwah Islam sampai kepada mereka (sesuai rincian QS 3:199), Rasyid Ridha
menetapkan lima syarat keselamatan, diantaranya: (1) beriman kepada Allah
dengan iman yang benar, yakni iman yang tidak bercampur dengan 
kemusyrikan dan disertai dengan ketundukan yang mendorong untuk melakukan
kebaikan, (2) beriman kepada Al-Quran yang diwahyukan kepada Nabi
Muhammad.

Al-Manar juga menyebutkan, bahwa kaum Yahudi dan Nasrani, tidak bisa
disebut ahl al-fathrah, yang berhak memperoleh keselamatan dan tidak ada
alasan pemaaf yang bisa membebaskan mereka dari hukuman (lâ 'udzr lahum
dûn al-'uqûbah), karena mereka masih dapat mengenali ajaran kenabian yang
benar.

Dengan logika sederhana sebenarnya kita bisa memahami, bahwa untuk dapat
"beriman kepada Allah" dan Hari Akhirat dengan benar dan beramal saleh
dengan benar, sebagaimana disyaratkan dalam QS 2:62-dan 5:69, seseorang
pasti harus beriman kepada Rasul Allah saw, yaitu Nabi Muhammad saw.
Sebab, dalam konsep keimanan Islam, hanya melalui Rasul-Nya, kita dapat
mengenal Allah dengan benar; mengenal nama dan sifat-sifat-Nya. Juga,
hanya melalui Nabi Muhammad saw, kita dapat mengetahui, bagaimana cara
beribadah kepada Allah dengan benar. Jika tidak beriman kepada Nabi
Muhammad saw, mustahil manusia dapat mengenal Allah dan beribadah degan
benar, karena Allah SWT hanya memberi penjelasan tentang semua itu
melalui rasul-Nya.

Pendapat Hamka

Pendapat Hamka tentang keselamatan kaum non-Muslim dalam pandangan Islam
sebenarnya juga tidak berbeda dengan para mufassir terkemuka yang lain.
Termasuk ketika menafsirkan QS 2:62 dan 5:69. Karena itu, Hamka
memandang, ayat itu tidak bertentangan dengan QS 3:85 yang menyatakan:
"Dan barangsiapa yang mencari selain dari Islam menjadi agama,
sekali-kali tidaklah tidaklah akan diterima daripadanya. Dan di Hari
Akhirat akan termasuk orang-orang yang rugi." Jadi, QS 3:85 tidak
menasakh QS 2:62 dan 5:69 karena memang maknanya sejalan.

Alasan Hamka bahwa ayat ini tidak menghapuskan ayat 62 - sebagaimana juga
dikutip Syafii Maarif - bahwa "Ayat ini bukanlah menghapuskan (nasikh)
ayat yang sedang kita tafsirkan ini melainkan memperkuatnya. Sebab
hakikat Islam ialah percaya kepada Allah dan Hari Akhirat. Percaya kepada
Allah, artinya percaya kepada segala firmanNya, segala Rasulnya dengan
tidak terkecuali. Termasuk percaya kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan
hendaklah iman itu diikuti oleh amal yang shalih."

Jadi, Hamka tetap menekankan siapa pun, pemeluk agama apa pun, akan bisa
mendapatkan pahala dan keselamatan, dengan syarat dia beriman kepada
segala firman Allah, termasuk Al-Quran, dan beriman kepada semua nabi dan
rasul-Nya, termasuk Nabi Muhammad saw. Jika seseorang beriman kepada
Al-Quran dan Nabi Muhammad saw, maka itu sama artinya dia telah memeluk
agama Islam. Dengan kata lain, dalam pandangan Hamka, siapa pun yang
tidak beriman kepada Allah, Al-Quran, dan Nabi Muhammad saw, meskipun dia
mengaku secara formal beragama Islam, tetap tidak akan mendapatkan
keselamatan. Itulah makna QS 3:85 yang sejalan dengan makna QS 2:62 dan
5:69.

Soal keimanan kepada Nabi Muhammad saw dan Al-Quran itulah yang sejak
awal ditolak keras oleh kaum Yahudi dan Nasrani. Orang Yahudi menolak
mengimani Nabi Isa dan Nabi Muhammad saw. Dan kaum Nasrani menolak untuk
beriman kepada Nabi Muhammad saw. Sedangkan kaum Muslim mengimani Nabi
Musa, Nabi Isa, dan juga Nabi Muhammad saw, sebagai penutup para Nabi.

Hamka adalah sosok ulama yang gigih dalam membela aqidah Islam. Tahun
1981, dia memilih mundur dari Ketua Majlis Ulama Indonesia, daripada
harus menarik kembali fatwa haramnya merayakan Natal Bersama bagi umat
Islam. Beberapa hari kemudian, beliau meninggal dunia. Sosok Hamka sangat
jauh bedanya dengan para pengusung paham Pluralisme Agama. Hamka sangat
tegas dalam masalah keimanan.

Dalam catatan ini, kita pernah mengutip satu tulisan Buya Hamka yang
berjudul: "Toleransi, Sekulerisme, atau Sinkretisme." Di situ, Prof.
Hamka menyebut tradisi perayaan Hari Besar Agama Bersama bukan
menyuburkan kerukunan umat beragama atau toleransi, tetapi akan
menyuburkan kemunafikan. Di akhir tahun 1960-an, Hamka memberikan
komentar tentang usulan akan perlunya diadakan perayaan Natal dan Idul
Fithri bersama, karena waktunya berdekatan.

Hamka menulis: "Si orang Islam diharuskan dengan penuh khusyu' bahwa
Tuhan Allah beranak, dan Yesus Kristus ialah Allah. Sebagaimana tadi
orang-orang Kristen disuruh mendengar tentang Nabi Muhammad saw dengan
tenang, padahal mereka diajarkan oleh pendetanya bahwa Nabi Muhammad
bukanlah nabi, melainkan penjahat. Dan Al-Quran bukanlah kitab suci
melainkan buku karangan Muhammad saja. Kedua belah pihak, baik orang
Kristen yang disuruh tafakur mendengarkan al-Quran, atau orang Islam yang
disuruh mendengarkan bahwa Tuhan Allah itu ialah satu ditambah dua sama
dengan satu, semuanya disuruh mendengarkan hal-hal yang tidak mereka
percayai dan tidak dapat mereka terima... Pada hakekatnya mereka itu tidak
ada yang toleransi. Mereka, kedua belah pihak hanya menekan perasaan,
mendengarkan ucapan-ucapan yang dimuntahkan oleh telinga mereka. Jiwa,
raga, hati, sanubari, dan otak, tidak bisa menerima. Kalau keterangan
orang Islam bahwa Nabi Muhammad saw adalah Nabi akhir zaman, penutup
sekalian Rasul. Jiwa raga orang Kristen akan mengatakan bahwa keterangan
orang Islam ini harus ditolak, sebab kalau diterima, kita tidak Kristen
lagi. Dalam hal kepercayaan tidak ada toleransi. Sementara sang pastor
dan pendeta menerangkan bahwa dosa waris Nabi Adam, ditebus oleh Yesus
Kristus di atas kayu palang, dan manusia ini dilahirkan dalam dosa, dan
jalan selamat hanya percaya dan cinta dalam Yesus."

Kita perlu menggarisbawahi ungkapan Buya Hamka, bahwa "dalam hal
kepercayaan tidak ada toleransi."

Ya, tentu kita maklum, bahwa dalam soal keyakinan memang tidak ada
kompromi. Jika kita yakin bahwa Iblis adalah musuh yang nyata, maka tidak
mungkin kita juga mengakuinya sebagai teman akrab. Jika seorang Muslim 
yakin bahwa Nabi Isa tidak mati di tiang salib, maka tidak mungkin pada
saat yang sama dia juga meyakini konsep trinitas dalam Kristen. Lakum
dinukum waliya din. Bagi kami agama kami, bagi anda agama anda.
Demikianlah sikap yang diajarkan dalam Al-Quran. Kita menghormati
keyakinan orang lain, tanpa mengurangi keyakinan kita sebagai seorang
Muslim. (Depok, 1 Desember 2006/www.hidayatullah.com).

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 

Daftarkan email anda pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

<<image/gif>>

Kirim email ke