Sanak sapalanta n a h Assalamualaikum ww
Re : Penduduk miskin Sumbar meningkat dan akan bertambah Metode dalam menetapkan batas penduduk miskin dengan penduduk tidak miskin yang dijadikan patokan oleh BPS itu tidak realistis. Bayangkan orang miskin hanya berpenghasilan Rp. 271.625 per bulan atau kurang , atau kalau dihitung per hari ( 1 bulan a 30 hari) menjadi Rp. Rp. 9.300 per hari. Apakah dalam kenyataan seorang bisa hidup dari Rp. 9.054,- per hari. Inilah yang dipakai oleh Pemerintahan SBY untuk menyembunyikan penduduk miskin sebenarnya. Patokan Rp 271.625,- itu percapita per bulan sudah tidak sesuai dengan realita. Katakan kita naikkan menjadi Rp. 300 .000, percapita per bulan, lalu kita tanya pada diri kita apakah orang dengan penghasilan sebsar Rp. 300.000, - per bulan itu layak untuk diklasifikasikan sebagai ‘bukan penduduk miskin’. Bisakah seseorang hidup sebulan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan uang segitu?. Masalah ini sudah menjadi kontroversi sejak lama, tapi Pemerintah tetap menggunakan patokan itu untuk menunjukkan bahwa penduduk miskin Indonesia jumlahnya kecil saja (28,07 juta atau hanya 11,37 %) dan tiap tahun jumlahnya berkurang, kita gak tahu berkurangnya karena pendapatannya naik atau karena mati ? (Sinyalemen Ajo Duta pada salah satu postingan yang lalu berkurangnya Jumlah penduduk miskin : ‘ karena mati’ he he he). Lihat saja reaksi Sekda Sumbar ketika dihadapkan pada angka itu, beliau seperti ingin mengatakan bahwa ‘penduduk miskin Sumbar’ lebih kecil dari itu. Beliau tentu tidak mau dianggap gagal mensejahterakan masyarakat . Pada hal angka itu sngat bias dan dalam kenyataannya penduduk miskin itu lebih tinggi dari angka BPS itu. Angka penduduk miskin menurut standard ‘penduduk miskin’ Bank Dunia adalah US$ 2,- percapita perhari” berdasarkan PPP ( Purchasing Power Parity atau .Kemampuan daya beli terhadap kebutuhan pokok). Pada Maret 2011 BPS mnghitung Penduduk miskin In donesia sebesar 30,2 juta (12,49 %) dari total penduduk , turun dari periode tahun sebelumnya sebesar 31,02 juta atau 13,33 % dari jumlah penduduk) Jika mengacu pada kriteria Bank Dunia, per Maret 2011, dari 231 juta total populasi Indonesia, sekitar 117 juta jiwa atau 50,6 persen di antaranya dikategorikan sebagai penduduk miskin Jadi jelas bahwa penduduk miskin di Sumbar pun realitanya akan jauh lebih besar dari data BPS itu. Jadi cukup berat tugas Pemerintah Daerah untuk mengurangi penduduk miskin daerah ini. Kedepan Pemerintah Daerah akan menghadapi masalah semakin tingginya jumlah penduduk miskin , semakin tingginya pengangguran terbuka dengan segala aspek negatif yang melekat pada penduduk ‘penganggur ‘ itu termasuk tingkat kriminal di masyarakat. Mengatasinya hanya dengan membuka lapangan kerja baru , investasi baru yang akan beraselerasi menjadi peningkatan kegiatan ekonomi dan peningkatan pendapatan masyarakat. Pembukaan lapangan kerja baru itu adalah keharusan apabila kita tidak ingin masyarakat menjadi semakin miskin, Wass Dunil Zaid, 70 , Kampuang Ujuang Pandan Parak Karambia, Padang. 2013/7/3 Akmal Nasery Basral <[email protected]> > Pertanyaannya: bagaimana kinerja Walikota Sawahlunto Amran Nur (yang > berhasil menurunkan angka kemiskinan di wilayahnya secara signifikan hingga > menjadi kedua terendah se-Indonesia setelah Denpasar) bisa diduplikasi dan > dijadikan standar acuan kerja bagi walikota lain di seantero Minang? Apa > yang menyebabkan Amran Nur berhasil mengelola wilayah yang dipimpinnya? > > Mungkin ado dunsanak yang bisa menjelaskan? > > Salam, > > ANB > 45, Cibubur > > Pada Rabu, 03 Juli 2013, Nofend St. Mudo menulis: > > Rabu, 03 Juli 2013 01:45 >> >> Anjloknya harga berbagai komoditi pertanian yang dihasilkan petani >> Sumatera Barat, seperti karet, kelapa sawit, gambir, pinang dan lainnya >> sejak setahun terakhir ternyata mendongkrak jumlah angka penduduk miskin. >> >> Menurut data Badan Pusat Statisitik (BPS) jumlah penduduk miskin Sumatera >> Barat mulai Bulan September 2012 hingga Maret 2013 mengalami kenaikan >> sekitar 8 persen atau bertambah sekitar 9.600 orang. Jumlah penduduk miskin >> Sumatera Barat berjumlah 407.470 atau 8,14 persen dari jumlah total >> penduduk daerah ini yang berjumlah 5,8 juta jiwa. >> >> Berkemungkinan besar, jumlah penduduk miskin Sumatera Barat untuk >> penghitungan enam bulan berikutnya juga akan terjadi kenaikan lagi. >> Asumsinya, kenaikkan jumlah warga miskin tersebut disebabkan karena naiknya >> harga bahan bakar minyak (BBM) yang nyata-nyata mengatrol harga berbagai >> kebutuhan pokok. >> >> Dengan realitas harga hasil berbagai komoditi pertanian masyarakat >> Sumatera Barat yang tak kunjung membaik hingga akhir-akhir ini (termasuk >> pasca kenaikan harga BBM), maka bisa diprediksikan kondisi kehidupan >> masyarakat untuk enam bulan ke depan, akan semakin susah. Sebagian >> masyarakat akan amat kesulitan memenuhi kebutuhan pokoknya sehari-hari, >> karena harga-harga meroket, sementara penghasilan mereka semakin turun dan >> terancam tak bergerak. >> >> Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar, Yomin Tofri MA diwakili Pj >> Humas Armaya S Kom mengatakan BPS mengukur kemiskinan, dengan menggunakan >> konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Sehingga, >> dapat dihitung Headcount Index, yaitu persentase penduduk miskin terhadap >> total penduduk. Jadi, dari perhitungan itu, BPS mendapatkan data kemiskinan >> Sumbar, naik cukup signifikan dari data sebelumnya, yakni dari 8 persen >> menjadi 8,14 persen. >> >> Yomin menjelaskan bila ditelaah secara mendalam, persentase penduduk >> miskin di daerah pedesaan lebih tinggi dibanding daerah perkotaan. Di mana, >> lebih dari dua per tiga, tepatnya 70,67 persen, penduduk miskin tinggal di >> daerah perdesaan. Sedangkan selebihnya adalah penduduk miskin yang ada di >> perkotaan. >> >> Berdasarkan keterangan BPS di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa >> jatuhnya harga berbagai komoditi hasil pertanian masyarakat Sumatera Barat >> menyebabkan hidup masyarakat pedesaan semakin berat. Di satu sisi harga BBM >> bersubsidi dan harga berbagai kebutuhan pokok lainnya naik, sementara di >> sisi lain penghasilan petani terus anjlok seiring dengan anjloknya dan >> tidak membaiknya harga hasil pertanian. >> >> Kepala BPS Suryamin mengatakan, sebanyak 28,07 juta atau 11,37 persen >> rakyat Indonesia masih ada di bawah garis kemiskinan. Jumlah penduduk >> miskin itu berkurang 520.000 orang dibanding September 2012 yang mencapai >> 28,59 juta orang atau 11,66 persen. Meskipun terjadi penurunan jumlah namun >> penurunannya sangat lambat. >> >> Seseorang dikatakan penduduk miskin, bila memiliki rata-rata pengeluaran >> per kapita per bulan yang disetarakan dengan 2.100 kilo kalori (kkal) atau >> setara dengan konsumsi Rp271.626 per kapita (per orang) per bulan, naik >> dibanding posisi September yang sebesar Rp 259.520 per kapita per bulan. >> >> Bila pengeluaran seseorang dalam satu bulan di bawah Rp 271.626, maka >> orang tersebut masuk kategori penduduk miskin. Bila satu keluarga terdiri >> dari bapak, ibu, dan dua orang anak, konsumsinya di bawah Rp 1.086.504, >> maka keluarga itu masuk kategori keluarga miskin. >> >> Data penduduk miskin Sumatera Barat yang disampaikan BPS seharusnya >> berguna sebagai bahan refleksi dan evaluasi bagi pemerintah daerah untuk >> melakukan berbagai pembenahan. Namun demikian, Sekda Sumbar Ali Asmar >> mengatakan, data yang dibuat oleh BPS tersebut, adalah data yang diolah >> melalui rumus, dan aplikasi tertentu. Sehingga, data kemiskinan tersebut, >> cenderung mengalami perbedaan dengan data yang ada di lapangan. >> >> Rasanya tepisan dari Sekda Sumbar Ali Asmar bukan pada tempatnya. Sebab >> sejauh ini ketika bicara angka-angka dan data, mayoritas institusi tetap >> mengacu kepada data-data dan angka-angka yang dimiliki BPS. Apalagi Pemprov >> Sumbar tidak memiliki data akurat dan konkrit sebagai angka pembanding. >> >> Tentunya kita berharap angka kemiskinan Sumatera Barat yang 8,14 persen >> (407.470 orang) dari total jumlah penduduk Sumatera Barat 5,8 juta jiwa >> untuk beberapa bulan ke depan tidak naik lagi. Caranya memang Pemerintah >> Provinsi Sumatera Barat dan Pemerintah Kota/Kabupaten lainnya bekerja >> ekstra untuk membantu menggerakkan perekonomian masyarakat. >> >> Perbaikan tersebut mungkin saja terjadi, seperti halnya Walikota >> Sawahlunto Amran Nur Periode 2003-2008 dan 2008-2013 bekerja keras >> membangun Sawahlunto dari kota mati menjadi kota impian. Tahun 2009 jumlah >> angka kemiskinan di Sawahlunto terendah kedua di Indonesia setelah >> Denpasar, Bali. Sawahlunto 2,42 persen, sedangkan Denpasar 2,20 persen. *** >> >> >> >> http://harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=24585:penduduk-miskin-sumbar-meningkat-dan-akan-bertambah&catid=13:haluan-kita&Itemid=189 >> >> -- >> * >> * >> *Wassalam >> >> * >> *Nofend St. Mudo >> 37th/Cikarang | Asa: Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok Selatan >> Tweet: @nofend <http://twitter.com/#!/@nofend> | YM: rankmarola >> * >> >> -- >> . >> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat >> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ >> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. >> =========================================================== >> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: >> * DILARANG: >> 1. Email besar dari 200KB; >> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; >> 3. Email One Liner. >> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta >> mengirimkan biodata! >> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting >> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply >> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & >> mengganti subjeknya. >> =========================================================== >> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: >> http://groups.google.com/group/RantauNet/ >> --- >> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari >> Grup Google. >> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, >> kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . >> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. >> >> >> > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari > Grup Google. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . > Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. > > > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
