Rabu, 03 Juli 2013 01:45

Anjloknya harga berbagai komoditi pertanian yang dihasilkan petani Sumatera
Barat, seperti karet, kelapa sawit, gambir, pinang dan lainnya sejak
setahun terakhir ternyata mendongkrak jumlah angka penduduk miskin.

Menurut data Badan Pusat Statisitik (BPS) jumlah penduduk miskin Sumatera
Barat mulai Bulan September 2012 hingga Maret 2013 mengalami kenaikan
sekitar 8 persen atau bertambah sekitar 9.600 orang. Jumlah penduduk miskin
Sumatera Barat berjumlah 407.470 atau 8,14 persen dari jumlah total
penduduk daerah ini yang berjumlah 5,8 juta jiwa.

Berkemungkinan besar, jumlah penduduk miskin Sumatera Barat untuk
penghitungan enam bulan berikutnya juga akan terjadi kenaikan lagi.
Asumsinya, kenaikkan jumlah warga miskin tersebut disebabkan karena naiknya
harga bahan bakar minyak (BBM) yang nyata-nyata mengatrol harga berbagai
kebutuhan pokok.

Dengan realitas harga hasil berbagai komoditi pertanian masyarakat Sumatera
Barat yang tak kunjung membaik hingga akhir-akhir ini (termasuk pasca
kenaikan harga BBM), maka bisa diprediksikan kondisi kehidupan masyarakat
untuk enam bulan ke depan, akan semakin susah. Sebagian masyarakat akan
amat kesulitan memenuhi kebutuhan pokoknya sehari-hari, karena harga-harga
meroket, sementara penghasilan mereka semakin turun dan terancam tak
bergerak.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar, Yomin Tofri MA diwakili Pj Humas
Armaya S Kom mengatakan BPS mengukur kemiskinan, dengan menggunakan konsep
kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Sehingga, dapat
dihitung Headcount Index, yaitu persentase penduduk miskin terhadap total
penduduk. Jadi, dari perhitungan itu, BPS mendapatkan data kemiskinan
Sumbar, naik cukup signifikan dari data sebelumnya, yakni dari 8 persen
menjadi 8,14 persen.

Yomin menjelaskan bila ditelaah secara mendalam, persentase penduduk miskin
di daerah pedesaan lebih tinggi dibanding daerah perkotaan. Di mana, lebih
dari dua per tiga, tepatnya 70,67 persen, penduduk miskin tinggal di daerah
perdesaan. Sedangkan selebihnya adalah penduduk miskin yang ada di
perkotaan.

Berdasarkan keterangan BPS di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
jatuhnya harga berbagai komoditi hasil pertanian masyarakat Sumatera Barat
menyebabkan hidup masyarakat pedesaan semakin berat. Di satu sisi harga BBM
bersubsidi dan harga berbagai kebutuhan pokok lainnya naik, sementara di
sisi lain penghasilan petani terus anjlok seiring dengan anjloknya dan
tidak membaiknya harga hasil pertanian.

Kepala BPS Suryamin mengatakan, sebanyak 28,07 juta atau 11,37 persen
rakyat Indonesia masih ada di bawah garis kemiskinan. Jumlah penduduk
miskin itu berkurang 520.000 orang dibanding September 2012 yang mencapai
28,59 juta orang atau 11,66 persen. Meskipun terjadi penurunan jumlah namun
penurunannya sangat lambat.

Seseorang dikatakan penduduk miskin, bila memiliki rata-rata pengeluaran
per kapita per bulan yang disetarakan dengan 2.100 kilo kalori (kkal) atau
setara dengan konsumsi Rp271.626 per kapita (per orang) per bulan, naik
dibanding posisi September yang sebesar Rp 259.520 per kapita per bulan.

Bila pengeluaran seseorang dalam satu bulan di bawah Rp 271.626, maka orang
tersebut masuk kategori penduduk miskin. Bila satu keluarga terdiri dari
bapak, ibu, dan dua orang anak, konsumsinya di bawah Rp 1.086.504, maka
keluarga itu masuk kategori keluarga miskin.

Data penduduk miskin Sumatera Barat yang disampaikan BPS seharusnya berguna
sebagai bahan refleksi dan evaluasi bagi pemerintah daerah untuk melakukan
berbagai pembenahan. Namun demikian, Sekda Sumbar Ali Asmar mengatakan,
data yang dibuat oleh BPS tersebut, adalah data yang diolah melalui rumus,
dan aplikasi tertentu. Sehingga, data kemiskinan tersebut, cenderung
mengalami perbedaan dengan data yang ada di lapangan.

Rasanya tepisan dari Sekda Sumbar Ali Asmar bukan pada tempatnya. Sebab
sejauh ini ketika bicara angka-angka dan data, mayoritas institusi tetap
mengacu kepada data-data dan angka-angka yang dimiliki BPS. Apalagi Pemprov
Sumbar tidak memiliki data akurat dan konkrit sebagai angka pembanding.

Tentunya kita berharap angka kemiskinan Sumatera Barat yang 8,14 persen
(407.470 orang) dari total  jumlah penduduk Sumatera Barat 5,8 juta jiwa
untuk beberapa bulan ke depan tidak naik lagi. Caranya memang Pemerintah
Provinsi Sumatera Barat dan Pemerintah Kota/Kabupaten lainnya bekerja
ekstra untuk membantu menggerakkan perekonomian masyarakat.

Perbaikan tersebut mungkin saja terjadi, seperti halnya Walikota Sawahlunto
Amran Nur Periode 2003-2008 dan 2008-2013 bekerja keras membangun
Sawahlunto dari kota mati menjadi kota impian. Tahun 2009 jumlah angka
kemiskinan di Sawahlunto terendah kedua di Indonesia setelah Denpasar,
Bali. Sawahlunto 2,42 persen, sedangkan Denpasar 2,20 persen. ***


http://harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=24585:penduduk-miskin-sumbar-meningkat-dan-akan-bertambah&catid=13:haluan-kita&Itemid=189

-- 
*
*
*Wassalam

*
*Nofend St. Mudo
37th/Cikarang | Asa: Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok Selatan
Tweet: @nofend <http://twitter.com/#!/@nofend> | YM: rankmarola
*

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke