Udah saya angsur2, susah juga pak ...Mereka sudah sangat terdoktin utk hrs 
pakai qunut terus2an

abp


________________________________
 Dari: Akmal Nasery Basral <[email protected]>
Kepada: "[email protected]" <[email protected]> 
Dikirim: Sabtu, 20 Juli 2013 19:29
Judul: [R@ntau-Net] Re: (OOT) Membincang Buya Hamka di Jogjakarta
 


Maka itulah tugas Pak Arman Bahar dan dunsanak lain yang tahu bahwa berqunut 
bukan harus terus dilakukan, untuk menjelaskan kepada mereka yang merasa qunut 
harus terus dilakukan.
Wassalam,
ANB
45, Cibubur


Pada Minggu, 21 Juli 2013, Arman Bahar menulis:

Yg gak berqunut tau kenapa gak berqunut dan kalau berqunut tau kapan gak qunut 
lagi .....
>
>Yg berqunut tau kenapa berqunut, sayang gak tau kapan berhenti berqunut 
>sehingga amalan sunat qunut bagi mereka se-olah2 dudah menjadi amalan wajib 
>... gak PD klu gak qunut, rasa2 ada yg kurang klu gak pakai qunut, imam yg gak 
>qunut ntar besok gak bakalan diberi kesempatan lagi jadi imam di mesjid itu
>wasalam 
>abp
>
>
>________________________________
> Dari: Akmal Nasery Basral <[email protected]>
>Kepada: "[email protected]" <[email protected]> 
>Dikirim: Sabtu, 20 Juli 2013 18:25
>Judul: [R@ntau-Net] Re: (OOT) Membincang Buya Hamka di Jogjakarta
> 
>
>
>Pak FMNS,
>Justru karena itulah Buya Hamka bersifat fleksibel menghadapi orang (kelompok) 
>yang menerapkan qunut pada SETIAP shalat Subuh. Silaturahim sebagai sesama 
>muslim lebih penting bagi Buya. 
>Wassalam,
>ANB
>45, Cibubur
>
>Pada Minggu, 21 Juli 2013,  menulis:
>
>Sanak ANB dan para sanak sapalanta yth.
>>
>>"Qunut Subuh" Buya Hamka ini yang terjadi bukan hanya sekali (misalnya hanya 
>>dengan KH Abdullah Syafi'i), melainkan (ternyata) beberapa kali baik dengan 
>>KH Idham Chalid maupun KH Wahid Hasyim 
>>bisa diintrepetasikan sbg "toleransi".
>>
>>Tapi patut diingat bahwa qunut itu hukumnya sunat (atau ada yg berpendapat 
>>lain)?
>>Salam
>>FMNS
>>L65bdg 
>>
>>>>________________________________
>>
>>From:  Akmal Nasery Basral <[email protected]> 
>>Sender:  [email protected] 
>>Date: Sun, 21 Jul 2013 07:57:48 +0700
>>To: [email protected]<[email protected]>
>>ReplyTo:  [email protected] 
>>Subject: [R@ntau-Net] Re: (OOT) Membincang Buya Hamka di Jogjakarta
>>
>>Betul Ari, 
>>saya juga percaya bahwa kisah "toleransi qunut Subuh" Buya Hamka ini terjadi 
>>bukan hanya sekali (misalnya hanya dengan KH Abdullah Syafi'i), melainkan 
>>bisa beberapa kali baik dengan KH Idham Chalid maupun KH Wahid Hasyim.
>>
>>
>>Boleh jadi berkat inspirasi toleransi qunut inilah maka Din Syamsuddin yang 
>>mantan ketua IPNU terinspirasi "pindah kapling" ke Muhammadiyah :) dan bahkan 
>>terpilih menjadi ketua umum PP pula selama dua periode. 
>>Wassalam,
>>ANB
>>45, Cibubur
>>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke