Assalamu’alaikumWW,

Sanak sapalanta n.a.h,

Ikut nimbrung dalam topik yang tampaknya bagian dari upaya sanak  Bakhtiar 
Muin (BM) untuk mengingatkan & menyadarkan  semua pihak dengan cara yang 
(kata beliau sendiri) : bombastis. Karena ini juga merupakan proses 
‘pembelajaran’ tentulah seyogianya walau bombastis, hal-hal yang 
dikemukakan tetaplah didasarkan pada realita atau ilmu yang benar dan tidak 
sampai menyesatkan jika dibaca oleh pihak awam.
Sanak BM  ini punya account ‘Bakhtiar Muin untuk 2014’ di Face Book. 
Tadinya saya dan kawan-kawan (yang by email diajak jadi member) mengira 
rekan ini mau maju sebagai capres pada 2014. Ternyata tujuan jangka pendek 
FB ini adalah: ‘sebelum 2014 dari BM2014, menimbulkan kesadaran, terutama 
kelompok menengah, akan pentingnya memilih wakil2 rakyat DPR/DPRD/DPD yg 
jujur, amanah, cerdas, komunikatif’. Tujuan jangka menengah/panjang : tidak 
jelas. Saya kurang faham apakah rentetan tulisan BM di RN juga senafas 
dengan tujuan di FB tersebut. Yang jelas statement yang banyak dikemukakan 
di RN ini memancing saya dan beberapa sanak yang lain agak mengernyitkan 
kening  dan penasaran untuk karena sifat ‘bombastis’ diatas tadi. 

Pertama tama mengenai terminology ‘oligarki’, yang kalau menurut Wikipedia 
(atau dictionary lainnya) kurang lebih menyatakan bahwa  : *Oligarki*adalah 
bentuk 
pemerintahan <http://id.wikipedia.org/wiki/Bentuk_pemerintahan> yang kekuasaan 
politiknya <http://id.wikipedia.org/wiki/Kekuasaan_politik> secara efektif 
dipegang oleh kelompok 
elit<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Elitisme&action=edit&redlink=1>kecil
 dari 
masyarakat <http://id.wikipedia.org/wiki/Masyarakat>, baik dibedakan 
menurut kekayaan, keluarga, atau militer. Apakah Indonesia sudah bisa 
digolongkan termasuk  kedalam oligarki ini; bukankah kondisi ini yang sejak 
orde reformasi diperjuangkan mati matian oleh semua yang masih berfihak 
kepada kebenaran dan idealisme ? Kenapa kita harus pesimis melihat masa 
depan yang masih kita perjuangkan bersama  sampai saat ini ? Bukankah kita 
masih terus menyempurnakan sistim demokrasi untuk menghindarkan mimpi-mimpi 
buruk ala sanak BM ini ? Tidak semua pemimpin atau rakyat kita kita bodoh, 
sudah dibeli penguasa dan pengusaha oligarki. Saya menyokong gagasan BM di 
FB diatas : waspada dalam memilih pemimpin masa depan di semua lini ! 
Karena inilah kunci menuju kegemilangan Sumbar atau NKRI.

Komen saya yang lain adalah terkait dengan istilah-istilah & isu teknis 
yang digunakan dalam berargumentasi mengenai oligarki ini. 

Salah satunya tentang Frontage road . Frontage road adalah jalan sejajar  jalan 
tol yang berfungsi untuk melayani lalu lintas lokal, Jalan tolnya sendiri 
melayani lalu lintas menerus (through traffic). Tapi ini hanya dibuat untuk 
jalan tol di daerah urban (kota) dan suburban. Adakah UU yang mengharuskan 
pengembang jalan tol  untuk harus membangun frontage road ? Saya belum 
pernah melihat UU seperti itu. Persyaratan pokok yang ada, adalah bahwa 
jalan tol yang dibangun tidak boleh menjadi satu-satunya alternative bagi 
pengguna jalan. Harus disediakan jalan alternative yang dapat mereka pilih 
untuk menggunakannya. Umpamanya jalan tol Jakarta Cikampek atau Jagorawi; 
jalan alternative adalah jalan lama yang tetap dapat dipilih pengguna jalan 
jika mereka tidak ingin membayar tol.

Pengembang/Investor jalan tol bekerja berdasarkan Term of Reference, 
Rencana Teknis, Spesifikasi Teknis  serta General Condition of Contract 
yang jelas, yang penerapannya diawasi secara ketat oleh Pemerintah, dan 
dilakukan dengan berkoordinasi secara ketat dengan semua pihak yang 
terkait. 

Jalan tol bukan ‘terkurung’ atau ‘dikurung’. Jalan tol adalah jalan yang 
‘full acess controle’ yang secara ketat tidak boleh dimasuki oleh pengguna 
yang tidak membayar ataupun mereka yang ingin menggunakan kawasan di daerah 
milik jalan (DAMIJA) jalan tol yang bersangkutan.  Jadi sama sekali tidak 
ada pelanggaran UU atau tragedi kemanusiaan !

BM juga menyebutkan reklamasi  pantai. Pantai mana yang akan direklamasi ? 
Pantai yang menghadap ke samudera Indonesia umumnya kontur dasar lautnya 
curam dan dalam. Siapa yang nekat mau mereklamasinya ?

Tentang penguasaan tanah di kiri kanan jalan (tol atau non tol), saya amat 
sangat sependapat dengan beberapa sanak yang lain. Ini ranah Minang bung ! 
Tidak bisa disamakan dengan Jakarta –Cikampek atau Jakarta-Bogor. 
Pembebasan tanah di daerah ini luar biasa sulitnya. Saya mengalaminya 
sendiri pada awal pembangunan Trans Sumatera, pada ruas Sawah Tambang-Muaro 
Bungo, Padang-Bukittinggi, Simpang Aru-Indarung (yang sampai hari ini masih 
menyempit di beberapa lokasi), Manggopoh-Simpang Ampek, dll.  Jangankan 
atas nama Proyek, atas nama antu blau pun masyarakat amat sangat sulit 
memberikan tanahnya, sampai hari ini. Satu-satunya pembebasan tanah yang 
mulus adalah pada pembangunan Padang By Pass yang menggunakan sistim 
konsolidasi lahan (land consolidation). Manakah ‘oligarki’ yang telah 
menguasai ribuan Ha sepanjang lintas Sumatera atau Manggopoh-Simpang Ampek, 
atau Padang By Pass ?

Selain itu prasarana jalan dibangun memang sebagai stimulus bagi 
pengembangan suatu kawasan. Saya rasa tidak ada yang salah dengan 
pembangunan kiri kanan jalan tol. Jalan tol Jakarta-Cikampek dibangun bukan 
dengan tujuan melayani angkutan orang & barang antara Jakarta dan Cikampek 
saja. Setiap ruas jalan punya ‘zone of influence’ di kiri kanan jalan 
tersebut. Kalau yang menguasai itu saudara-saudara kita keturunan Cina, lho 
kok marah kepada mereka karena kita tidak mampu berkompetisi ?

Tangsi tentara ? Pada zaman Belanda tangsi ini umumnya terletak di tengah 
kota (Cimahi, Jakarta, Magelang, Bukittinggi, Padang Panjang, dll). Pada 
masa kini tentunya terkadang  adanya tangsi di tengah kota ini tidak lagi 
sesuai. Lahan ini kemudian digantikan dengan lahan yang lebih luas dengan 
lokasi yang juga strategis di kawasan agak  di luar kota. Apa yang salah 
dengan hal ini ? Kalau karena perkembangan kota kawasan tangsi ini sudah 
masuk ke Central Business District (CBD) tentunya keberadaan tangsi ini 
tidak lagi sesuai. Salah-salah penghuni tangsi akan rebutan jadi  tenaga 
pengaman yang susah dikendalikan. 

Satu hal saya setuju dengan sanak BM, kita tidak usah terlalu mendambakan 
jalan tol. Biaya pembanguanan jalan bebas hambatan di kawasan pegunungan 
akan berbiaya mahal, disamping permasalahan pembebasan tanah yang tidak 
gampang mengatasinya, serta volume lalulintas yang belum terlalu tinggi, 
yang akan berakibat pada mahalnya tarif tol. Jalan arteri dengan lebar 
jalan serta standard teknis yang sesuai dengan tuntutan lalu lintas akan 
cukup memadai untuk Sumbar.

Saya menghargai keprihatinan dan kegundahan sanak BM; tapi saya kurang suka 
dengan segala yang berbau bombastis yang tidak didukung dengan fakta dan 
penjelasan serta hujjah  yang memadai, yang hanya akan menimbulkan pro 
kontra serta kebencian antar kita orang Minang sendiri. Dalam kondisi 
kompak saja permasalahan ranah Minang sudah amat berat, apalagi jika warga 
Minang sendiri terpecah belah oleh statemen-statemen para ‘pakar’ yang 
bombastis yang tidak jelas kerangka berfikir dan kerangka bertindaknya.

Maaf & wasalam,

Epy Buchari.L-70

Ciputat Timur


On Friday, December 20, 2013 1:29:06 PM UTC+7, Bakhtiar Muin wrote:
>
> Assalamualaimum:
>
>  
>
> Episode kedua dalam menguasai Sumbar oleh oligarki.
>
> Dalam Episode pertama menguasai Sumbar adalah penguasaan SBLG, Reklamasi 
> pantai sebagai pusat bisnis, bekas2 tangsi tentara di Padang Panjang, dan 
> Bukit Tinggi sebagai Superblok.
>
> Episode kedua, adalah kuasai lahan2 strategis di Sumatera Barat. Cara 
> menguasainya, methodenya sama dengan penguasaan tanah sepanjang toll 
> Jakarta Cikampek, dan sepanjang Toll Jakarta Bogor, yang sudah terjadi. 
> Tidak percaya, saksikan sendiri dengan mata kepala dunsanak.
>
> Desakan membuat jalan Toll, Padang Bukit tinggi yg bakal di bangun oleh 
> Jasa Marga, didukung oleh pemerintah daerah, sangat didukung oleh oligarki.
>
> Urang Minang sudah tidak sabar lagi, macet ingin jalan toll dibangun 
> cepat2.
>
> Oligarki juga sudah siap untuk menguasai tanah2 sepanjang jalan, kiri 
> kanan toll dibeli dengan murah.
>
> Jangan kira, selesainya jalan toll, tanah kiri kanan toll akan menjadi 
> mahal. Tanah2 sepanjang jalan toll, akan tetap atau turun harganya, karena 
> tanah tsb terkurung, tidak punya akses ke jalan toll. Dengan kolusi dengan 
> pejabat2, oligarki mengusahakan, jangan sampai pemda membikin frontage 
> road. Anda mengerti frontage road? Frontage road, adalah jalan lokal yg 
> dibangun di kiri kanan jalan toll, yg seharusnya jadi kewajiban pengembang 
> jalan toll untuk membangunnya, bila disekitar jalan toll tidak ada jalan 
> lokal.
>
> Kewajiban membangun frontage road ini yg disyaratkan oleh UU, tidak pernah 
> dilaksanakan. Tragedi kemanusiaan!!! Kenapa?
>
> Yg terjadi adalah oligarki berkolusi dengan pemda, agar tanah2 disekitar 
> jalan toll tetap terkurung, sehingga harganya tetap murah.
>
> Jadi oligarki, akan membeli tanah2 yg terkurung sepangan jalan toll dalam 
> puluhan ribu ha, di belinya pelan2 melalui pihak ketiga. Ada orang tua yg 
> meninggal, bagi harta dibelinya. Ada yg mau naik haji dibelinya, ada yg 
> perlu uang dibelinya. Tanah2 terkurung itu dibeli dengan harga murah. 
> Setelah semuanya dibeli, puluhan ribu ha, berikutnya oligarki cincai dengan 
> pejabat daerah. Disuruhnya bupati, walikota, membikin akses jalan dengan 
> uang APBD/APBN.
>
> Tanah yg sudah di kuasai ribuan ha tsb, kemudian dibangun pelan2 jadi 
> pusat wisata, daerah industri, setelah bonekanya membangun akses road, dari 
> APBD/APBN yg nota bene adalah uang rakyat.
>
> Pada waktu itu orang Minang sudah miskin, tanah sudah dijual, jadi sudah 
> siap jadi buruh pabrik dengan gaji murah. Jadi episode pertama menguasai 
> sentral2 business, rumah sakit, sekolah, episode kedua, kuasai lahan, 
> bangun industri, buruh sudah siap, karena sudah makin banyak urang Minang 
> yg miskin seperti di Jawa.
>
> Jadi pusat Finansial, di daerah reklamasi, pusat perdagangan sudah 
> dikuasai, tanah2 sudah dikuasai.
>
> Yang tersisa, bagi urang Minang di kampung sendiri adalah otot untuk jadi 
> buruh pertanian modern, buruh di superblog, buruh di pusat2 industri.
>
> Aduhai, pejabat2 yg menekan tombol dimulainya proyek Lippo, anda2 akan 
> tercatat disepanjang sejarah Minang, sebagai orang2 yg memotori proses 
> pemiskinan urang Minang, 20-30 tahun lagi, anda2 akan melihat cucu anda, 
> jadi jongos dikampung sendiri. Kalau anda2 sakit, cucu2 anda tidak akan 
> sanggup membiayai anda2 masuk rumah sakit, yang anda tekan tombol 
> peresmiannya.
>
> Gemas, melihat Minang, dipimpin oleh orang2 yg cakrawalanya pemikirannya 
> tidak jauh kedepan. Amplop sesaat membahagiakan anda sejenak, memikiskan 
> anak cucu se lama2nya, ber abad2 yang akan datang.
>
>  
>
> Salam
>
> Bakhtiar Muin
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke