Aww. Angku Epy Buchary (EB) di Ciputat n.a.h. jo Palanta nan berbahagia. aaa) Komentar dan analisa Angku sangeik tepat dan "clear" yang oleh karena itu ambo paralu sketek manyampaikan komentar sederhana nanko. bbb) Berdasarkan pengamatan ambo di palanta Rnet, Angku EB mengirimkan beberapo tulisan satantangan sektor pertanian dan ambo juo mempelajari dengan seksama untuk implementasi di Ranah tarutamo, dan pabilo berkenan ambo mohon kesediaan Angku untuk melengkapi sebagai Program Pembangunan Ekonomi Regional Pantai Barat Pulau Sumatera dan Kepulauannya. ccc) Dari kunjungan singkeik ambo jo tigo urang Dunsanak dari Tokyo bulan lalu dapaik diketahui dan dipastikan sektor pertanian/agro industry, peternakan, perikanan dan small scale industry sarato industri pariwisata akan sangeik menjanjikan bagi Provinsi Minangkabau tsb. ddd) Sekian dan tarimokasieh atas perkenan Angku untuk juo dapaeik memberikan alamat lengkap di Ciputat tsb. wassalam, H.Asmun A.Sju'eib, MA.
Pada Senin, 23 Desember 2013 14:57, Epy Buchari <[email protected]> menulis: Assalamu’alaikumWW, Sanak sapalanta n.a.h, Ikut nimbrung dalam topik yang tampaknya bagian dari upaya sanak Bakhtiar Muin (BM) untuk mengingatkan & menyadarkan semua pihak dengan cara yang (kata beliau sendiri) : bombastis. Karena ini juga merupakan proses ‘pembelajaran’ tentulah seyogianya walau bombastis, hal-hal yang dikemukakan tetaplah didasarkan pada realita atau ilmu yang benar dan tidak sampai menyesatkan jika dibaca oleh pihak awam. Sanak BM ini punya account ‘Bakhtiar Muin untuk 2014’ di Face Book. Tadinya saya dan kawan-kawan (yang by email diajak jadi member) mengira rekan ini mau maju sebagai capres pada 2014. Ternyata tujuan jangka pendek FB ini adalah: ‘sebelum 2014 dari BM2014, menimbulkan kesadaran, terutama kelompok menengah, akan pentingnya memilih wakil2 rakyat DPR/DPRD/DPD yg jujur, amanah, cerdas, komunikatif’. Tujuan jangka menengah/panjang : tidak jelas. Saya kurang faham apakah rentetan tulisan BM di RN juga senafas dengan tujuan di FB tersebut. Yang jelas statement yang banyak dikemukakan di RN ini memancing saya dan beberapa sanak yang lain agak mengernyitkan kening dan penasaran untuk karena sifat ‘bombastis’ diatas tadi. Pertama tama mengenai terminology ‘oligarki’, yang kalau menurut Wikipedia (atau dictionary lainnya) kurang lebih menyatakan bahwa : Oligarki adalah bentuk pemerintahan yang kekuasaan politiknya secara efektif dipegang oleh kelompok elit kecil dari masyarakat, baik dibedakan menurut kekayaan, keluarga, atau militer. Apakah Indonesia sudah bisa digolongkan termasuk kedalam oligarki ini; bukankah kondisi ini yang sejak orde reformasi diperjuangkan mati matian oleh semua yang masih berfihak kepada kebenaran dan idealisme ? Kenapa kita harus pesimis melihat masa depan yang masih kita perjuangkan bersama sampai saat ini ? Bukankah kita masih terus menyempurnakan sistim demokrasi untuk menghindarkan mimpi-mimpi buruk ala sanak BM ini ? Tidak semua pemimpin atau rakyat kita kita bodoh, sudah dibeli penguasa dan pengusaha oligarki. Saya menyokong gagasan BM di FB diatas : waspada dalam memilih pemimpin masa depan di semua lini ! Karena inilah kunci menuju kegemilangan Sumbar atau NKRI. Komen saya yang lain adalah terkait dengan istilah-istilah & isu teknis yang digunakan dalam berargumentasi mengenai oligarki ini. Salah satunya tentang Frontage road . Frontage road adalah jalan sejajar jalan tol yang berfungsi untuk melayani lalu lintas lokal, Jalan tolnya sendiri melayani lalu lintas menerus (through traffic). Tapi ini hanya dibuat untuk jalan tol di daerah urban (kota) dan suburban. Adakah UU yang mengharuskan pengembang jalan tol untuk harus membangun frontage road ? Saya belum pernah melihat UU seperti itu. Persyaratan pokok yang ada, adalah bahwa jalan tol yang dibangun tidak boleh menjadi satu-satunya alternative bagi pengguna jalan. Harus disediakan jalan alternative yang dapat mereka pilih untuk menggunakannya. Umpamanya jalan tol Jakarta Cikampek atau Jagorawi; jalan alternative adalah jalan lama yang tetap dapat dipilih pengguna jalan jika mereka tidak ingin membayar tol. Pengembang/Investor jalan tol bekerja berdasarkan Term of Reference, Rencana Teknis, Spesifikasi Teknis serta General Condition of Contract yang jelas, yang penerapannya diawasi secara ketat oleh Pemerintah, dan dilakukan dengan berkoordinasi secara ketat dengan semua pihak yang terkait. Jalan tol bukan ‘terkurung’ atau ‘dikurung’. Jalan tol adalah jalan yang ‘full acess controle’ yang secara ketat tidak boleh dimasuki oleh pengguna yang tidak membayar ataupun mereka yang ingin menggunakan kawasan di daerah milik jalan (DAMIJA) jalan tol yang bersangkutan. Jadi sama sekali tidak ada pelanggaran UU atau tragedi kemanusiaan ! BM juga menyebutkan reklamasi pantai. Pantai mana yang akan direklamasi ? Pantai yang menghadap ke samudera Indonesia umumnya kontur dasar lautnya curam dan dalam. Siapa yang nekat mau mereklamasinya ? Tentang penguasaan tanah di kiri kanan jalan (tol atau non tol), saya amat sangat sependapat dengan beberapa sanak yang lain. Ini ranah Minang bung ! Tidak bisa disamakan dengan Jakarta –Cikampek atau Jakarta-Bogor. Pembebasan tanah di daerah ini luar biasa sulitnya. Saya mengalaminya sendiri pada awal pembangunan Trans Sumatera, pada ruas Sawah Tambang-Muaro Bungo, Padang-Bukittinggi, Simpang Aru-Indarung (yang sampai hari ini masih menyempit di beberapa lokasi), Manggopoh-Simpang Ampek, dll. Jangankan atas nama Proyek, atas nama antu blau pun masyarakat amat sangat sulit memberikan tanahnya, sampai hari ini. Satu-satunya pembebasan tanah yang mulus adalah pada pembangunan Padang By Pass yang menggunakan sistim konsolidasi lahan (land consolidation). Manakah ‘oligarki’ yang telah menguasai ribuan Ha sepanjang lintas Sumatera atau Manggopoh-Simpang Ampek, atau Padang By Pass ? Selain itu prasarana jalan dibangun memang sebagai stimulus bagi pengembangan suatu kawasan. Saya rasa tidak ada yang salah dengan pembangunan kiri kanan jalan tol. Jalan tol Jakarta-Cikampek dibangun bukan dengan tujuan melayani angkutan orang & barang antara Jakarta dan Cikampek saja. Setiap ruas jalan punya ‘zone of influence’ di kiri kanan jalan tersebut. Kalau yang menguasai itu saudara-saudara kita keturunan Cina, lho kok marah kepada mereka karena kita tidak mampu berkompetisi ? Tangsi tentara ? Pada zaman Belanda tangsi ini umumnya terletak di tengah kota (Cimahi, Jakarta, Magelang, Bukittinggi, Padang Panjang, dll). Pada masa kini tentunya terkadang adanya tangsi di tengah kota ini tidak lagi sesuai. Lahan ini kemudian digantikan dengan lahan yang lebih luas dengan lokasi yang juga strategis di kawasan agak di luar kota. Apa yang salah dengan hal ini ? Kalau karena perkembangan kota kawasan tangsi ini sudah masuk ke Central Business District (CBD) tentunya keberadaan tangsi ini tidak lagi sesuai. Salah-salah penghuni tangsi akan rebutan jadi tenaga pengaman yang susah dikendalikan. Satu hal saya setuju dengan sanak BM, kita tidak usah terlalu mendambakan jalan tol. Biaya pembanguanan jalan bebas hambatan di kawasan pegunungan akan berbiaya mahal, disamping permasalahan pembebasan tanah yang tidak gampang mengatasinya, serta volume lalulintas yang belum terlalu tinggi, yang akan berakibat pada mahalnya tarif tol. Jalan arteri dengan lebar jalan serta standard teknis yang sesuai dengan tuntutan lalu lintas akan cukup memadai untuk Sumbar. Saya menghargai keprihatinan dan kegundahan sanak BM; tapi saya kurang suka dengan segala yang berbau bombastis yang tidak didukung dengan fakta dan penjelasan serta hujjah yang memadai, yang hanya akan menimbulkan pro kontra serta kebencian antar kita orang Minang sendiri. Dalam kondisi kompak saja permasalahan ranah Minang sudah amat berat, apalagi jika warga Minang sendiri terpecah belah oleh statemen-statemen para ‘pakar’ yang bombastis yang tidak jelas kerangka berfikir dan kerangka bertindaknya. Maaf & wasalam, Epy Buchari.L-70 Ciputat Timur On Friday, December 20, 2013 1:29:06 PM UTC+7, Bakhtiar Muin wrote: Assalamualaimum: > >Episode kedua dalam menguasai Sumbar oleh oligarki. > >Dalam Episode pertama menguasai Sumbar adalah penguasaan SBLG, Reklamasi >pantai sebagai pusat bisnis, bekas2 tangsi tentara di Padang Panjang, dan >Bukit Tinggi sebagai Superblok. > >Episode kedua, adalah kuasai lahan2 strategis di Sumatera Barat. Cara >menguasainya, methodenya sama dengan penguasaan tanah sepanjang toll Jakarta >Cikampek, dan sepanjang Toll Jakarta Bogor, yang sudah terjadi. Tidak percaya, >saksikan sendiri dengan mata kepala dunsanak. > >Desakan membuat jalan Toll, Padang Bukit tinggi yg bakal di bangun oleh Jasa >Marga, didukung oleh pemerintah daerah, sangat didukung oleh oligarki. > >Urang Minang sudah tidak sabar lagi, macet ingin jalan toll dibangun cepat2. > >Oligarki juga sudah siap untuk menguasai tanah2 sepanjang jalan, kiri kanan >toll dibeli dengan murah. > >Jangan kira, selesainya jalan toll, tanah kiri kanan toll akan menjadi mahal. >Tanah2 sepanjang jalan toll, akan tetap atau turun harganya, karena tanah tsb >terkurung, tidak punya akses ke jalan toll. Dengan kolusi dengan pejabat2, >oligarki mengusahakan, jangan sampai pemda membikin frontage road. Anda >mengerti frontage road? Frontage road, adalah jalan lokal yg dibangun di kiri >kanan jalan toll, yg seharusnya jadi kewajiban pengembang jalan toll untuk >membangunnya, bila disekitar jalan toll tidak ada jalan lokal. > >Kewajiban membangun frontage road ini yg disyaratkan oleh UU, tidak pernah >dilaksanakan. Tragedi kemanusiaan!!! Kenapa? > >Yg terjadi adalah oligarki berkolusi dengan pemda, agar tanah2 disekitar jalan >toll tetap terkurung, sehingga harganya tetap murah. > >Jadi oligarki, akan membeli tanah2 yg terkurung sepangan jalan toll dalam >puluhan ribu ha, di belinya pelan2 melalui pihak ketiga. Ada orang tua yg >meninggal, bagi harta dibelinya. Ada yg mau naik haji dibelinya, ada yg perlu >uang dibelinya. Tanah2 terkurung itu dibeli dengan harga murah. Setelah >semuanya dibeli, puluhan ribu ha, berikutnya oligarki cincai dengan pejabat >daerah. Disuruhnya bupati, walikota, membikin akses jalan dengan uang >APBD/APBN. > >Tanah yg sudah di kuasai ribuan ha tsb, kemudian dibangun pelan2 jadi pusat >wisata, daerah industri, setelah bonekanya membangun akses road, dari >APBD/APBN yg nota bene adalah uang rakyat. > >Pada waktu itu orang Minang sudah miskin, tanah sudah dijual, jadi sudah siap >jadi buruh pabrik dengan gaji murah. Jadi episode pertama menguasai sentral2 >business, rumah sakit, sekolah, episode kedua, kuasai lahan, bangun industri, >buruh sudah siap, karena sudah makin banyak urang Minang yg miskin seperti di >Jawa. > >Jadi pusat Finansial, di daerah reklamasi, pusat perdagangan sudah dikuasai, >tanah2 sudah dikuasai. > >Yang tersisa, bagi urang Minang di kampung sendiri adalah otot untuk jadi >buruh pertanian modern, buruh di superblog, buruh di pusat2 industri. > >Aduhai, pejabat2 yg menekan tombol dimulainya proyek Lippo, anda2 akan >tercatat disepanjang sejarah Minang, sebagai orang2 yg memotori proses >pemiskinan urang Minang, 20-30 tahun lagi, anda2 akan melihat cucu anda, jadi >jongos dikampung sendiri. Kalau anda2 sakit, cucu2 anda tidak akan sanggup >membiayai anda2 masuk rumah sakit, yang anda tekan tombol peresmiannya. > >Gemas, melihat Minang, dipimpin oleh orang2 yg cakrawalanya pemikirannya tidak >jauh kedepan. Amplop sesaat membahagiakan anda sejenak, memikiskan anak cucu >se lama2nya, ber abad2 yang akan datang. > >Salam >Bakhtiar Muin -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
