Assalamu'alaikum Wr. Wb adidunsanak Palanta RN n.a.h.

Mengingat beberapa hari lalu ada thread tentang karamba ikan, dengan
sharing pengalaman dari Bundo Nismah dan Pak Zaid Dunil, hari ko ambo
mambaco status FB surang kawan ambo nan alumnus IPB dan pengamat perikanan
seperti di bawah ko.

Pengalaman yang menyedihkan karena hanya dalam waktu 14 tahun (1998-2012)
posisi Indonesia sebagai "pengajar" Vietnam untuk urusan teknologi karamba,
kini berputar 180 derajat.

Dari paparan pendek Sdr. Aries Prima ko, ternyata kalau karamba ditangani
serius dan profesional bisa membuat Vietnam menjadi eksportir terbesar di
dunia, bukan hanya di wilayah regional Asia Tenggara, tapi dunia.

Jika manajemen karamba di Minang dibenahi, mungkinkah Sumbar juga bisa
muncul sebagai eksportir utama dari 33 provinsi di Indonesia? Kalau iya,
satu lagi pemberdayaan ekonomi rakyat bisa dilakukan tanpa harus tergantung
pada pusat/Jakarta.

Wass,

ANB
45, Cibubur

* * *

Aries Prima <https://www.facebook.com/aries.prima?hc_location=timeline>
4 hours 
ago<https://www.facebook.com/aries.prima/posts/10152249823594533?stream_ref=10><https://www.facebook.com/aries.prima?fref=ts#>
Sekitar tahun 1998, orang Vietnam datang ke Indonesia untuk belajar
pembudidayaan ikan Patin. Setelah cukup belajar, mereka membudidayakan ikan
Patin di keramba-keramba sungai Mekong. Merasa bahwa sistem keramba ini
sangat bergantung kepada kualitas air sungai, maka kemudian mereka
mengembangkan dan membangun kolam-kolam yang dapat diatur kualitas airnya
di sepanjang salah satu sungai terpanjang di dunia ini.

Sejak tahun 2012, Vietnam adalah negara pengekspor terbesar ikan patin di
dunia. Memasok sekitar 90 persen kebutuhan ikan Patin dunia. Indonesia pun
kini mengimpor ikan yang termasuk dalam genus Pangasius untuk kebutuhannya
dari Vietnam. Produksi ikan Patin di Vietnam mencapai 400 ton per hektar.
Sedangkan Indonesia hanya mampu memproduksi 70 ton per hektar.

Indonesia telah menjadi "guru" bagi beberapa negara di ASEAN di bidang
teknologi dan pertanian. Namun kini kemampuan serta penguasaan teknologi
dan pertanian negara kepulauan terbesar di dunia ini telah dilampaui oleh
para "murid"-nya.

Kini saatnya perhatian dan dukungan politis harus diberikan kepada
pengembangan sains, teknologi, keinsinyuran (termasuk pertanian), melalui
berbagai inovasi untuk kebangkitan Indonesia.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke