Bana, Pak Asmun. Itu makonyo FTTSM kito ujicoba dulu di Jakarta. Bak kato urang kini, kondisi alun kondusif lai di Ranah. Wassalam, SB, 77, Sby.
Sent from my iPad > On 15 Feb 2014, at 07.53, asmun sjueib <[email protected]> wrote: > > Aww. SB n.a.b. dan Palanta n.a.h. > aaa) Menarik komentar SB tarutamo berkaitan dengan pertanyaan liau tsb.bahwa > namapak jaleih keterkaitan ABS SBK dalam praktek. Dikala masalah2 sosial > kemasyarakatan mencuat dan menjadi hal nan paralu diperbincangkan dalam upaya > "solusi" ataupun implementasi kelanjutannyo, maka tantunyo kito balikkan sajo > dulu secaro professional baik kepada Tungku Tigo Sajarangan plus+plus > tamasuek Pemprov/kab/kota/Nagari ybs. > bbb)Manuruk pandapeik ambo pribadi bahwasanyo satiok warganegara Minangkabau > di Ranah jo Rantau paralu mananyokan kepada lembaga/institusi takaiek dan > tantunyo ado pulo batas limit wakatunyo. Contoh aktual katiko masalah Lippo > dengan Kristenisasi mencuat di Sumbar babarapo wakatu lalu, kan dapeik kito > liek dengan matao kapalo sendiri tidak satupun nan bereaksi apo nan disabuik > dengan TTS dan bahkan sebaliknyo hampir 100% terlibat dalam melakukan > penerimaan suap dari pihak yang berkepentingan yaitu Lippo dll.nya. > ccc) Manuruik ambo pulo seyogyanya pertanyaan SB tsb. kito tampung sajo lah > dulu misalnya di BK3AM Jaya atau R@antaunet (Yys./Pokja) dan memang jaleih > kapadulian terhadap maju jo mundurnyo Ranah Minang bukan? > Samantoro demikian sekedar tanggapan singkeik ambo. > Wassalam, > Haasma (Lk/69/Depok) > > > Pada Sabtu, 15 Februari 2014 7:03, Dr. Saafroedin Bahar > <[email protected]> menulis: > Pak Epy, kesenjangan antara para ahli dengan masyarakat ini memang merupakan > tantangan yang harus kita jawab bersama. Seyogyanya tokoh-tokoh pemimpin > masyarakat bisa menjadi penghubung antara keduanya. Namun, siapakah yang bisa > mengemban peran sebagai pemimpin masyarakat tersebut, di kala ikatan adat dan > agama semakin lama semakin longgar ? > Saya juga tidak tahu. Pemerintah daerah ? Tokoh partai politik ? > Wassalam, > SB, 77. Sby. > > Sent from my iPad > >> On 14 Feb 2014, at 16.04, Epy Buchari <[email protected]> wrote: >> >> >> Pak Saaf dan bungAkmal n. a.h, >> >> Kasus Maninjau menunjukkan kesenjangan pemahaman sains dan teknologi antara >> masyarakat dengan para ahli. Penyebabnya scara ilmiah sudah diketahui sejak >> lama, singkat kata jumlah ikan sudah melampaui daya dukung lingkungannya. >> Peternak tidak mau tau dan ngotot menambah terus jumlah karamba. Kenapa : >> saya kira mereka tidak memahami apa yang dijelaskan. >> >> Kalau dambaan bung Akmal supaya Sumbar bisa jadi sentra perikanan Indonesia, >> mungkin pengalaman Vietnam (!) ini bisa jadi pelajaran. Semula sewaktu daya >> dukung lingkungan masih belum terlampaui, semua oke. Sekarang sungai Mekong >> yg di Vietnam termasuk 'the most poisoned river in the world'. Kualitas ikan >> ekspor mereka dari Mekong mulai diteliti oleh Amerika, Australiadll. Masa >> jayanya mulai menurun drastis. seju mlah pengusaha ikan mulai alih profesi >> kembali menjadi petani padi. Silahkan dicermati antara lain di video berikut >> : https://vimeo.com/m/11817894 >> Karena modal utama Sumbar adalah lingkungannya, seyogianyalah semua >> stakeholder berorientasi pada pengamanan lingkungan ini, menjauhkannya dari >> segala sesuatu ygberpotensi merusaknya. >> >> Maaf & wasalam, >> >> Epy Buchari >> >> >> >> >> >> On Wednesday, February 12, 2014 6:57:32 AM UTC, Saafroedin Bahar wrote: >> Sanak Epy, Bung Akmal. Ambo manyimak, setuju pentingnyo peranan penguasaan >> ilmu dan teknologi, nan bisa dilayani dek instansi Pemerintah nan >> bersangkutan. Masalahnyo baa caronyo manjangkau rakyat banyak ko ? Ambo >> indak tahu. Sampai kini nan jaleh urang awak labiah suko jalan surang. >> Samantaro tu urang lain - misalnyo Vietnam atau daerah lain - maju taruih, >> indak manunggu awak doh. >> >> Wassalam, >> SB, 77, Sby. >> >> Sent from my iPad >> >>> On 12 Feb 2014, at 13.30, Epy Buchari <[email protected]> wrote: >>> >>> Bung Akmal dan sanak sapalanta n.a.h, >>> AssalamualaikumWW, >>> >>> Kunci permasalahan saya kira sudah disebutkan pada bagian akhir tulisan >>> tersebut : penguasaan ilmu dan teknologi. Para petani kita masih jauh..jauh >>> sekali dari ilmu dan teknologi. Masih terbentang jurang antara ilmu yg ada >>> di Dinas Pertanian, lembaga penelitian, buku dll dengan petani. Penyuluh >>> pertanian tidak berfungsi di negeri kita. Jarang atau hampir tidaak ada >>> tamatan sekolah atau fakultas pertanian yg terjun jadi petani praktis. >>> Petani masih bergulat dengan caranya sendiri yang mereka anggap benar spt >>> jaring apung Maninjau. >>> Coba bung Akmal amati sikon bahwa pasar hortikultura Singapur dan Malaysia >>> trgantung pada 2 sentra utama pertanian : Brastagi dan Bukittinggi. Dengan >>> letusan Sinabung logikanya produksi Brastagi akan trganggu berat dan mereka >>> akan trgantung ke Bukittinggi. Apakah ada angin buritan ini untuk petani >>> Agam ? Saya belum mendengar kabar baik ini. >>> Ilmu dan teknologimasuk nagari, inilah saya kira kata kuncinya. >>> >>> Maaf & wasalam, >>> >>> Epy Buchari >>> >>> l-70, Ciputat Timur >>> >>> >>> >>> On Tuesday, February 11, 2014 6:04:26 AM UTC, Akmal Nasery Basral wrote: >>> Assalamu'alaikum Wr. Wb adidunsanak Palanta RN n.a.h. >>> >>> Mengingat beberapa hari lalu ada thread tentang karamba ikan, dengan >>> sharing pengalaman dari Bundo Nismah dan Pak Zaid Dunil, hari ko ambo >>> mambaco status FB surang kawan ambo nan alumnus IPB dan pengamat perikanan >>> seperti di bawah ko. >>> >>> Pengalaman yang menyedihkan karena hanya dalam waktu 14 tahun (1998-2012) >>> posisi Indonesia sebagai "pengajar" Vietnam untuk urusan teknologi karamba, >>> kini berputar 180 derajat. >>> >>> Dari paparan pendek Sdr. Aries Prima ko, ternyata kalau karamba ditangani >>> serius dan profesional bisa membuat Vietnam menjadi eksportir terbesar di >>> dunia, bukan hanya di wilayah regional Asia Tenggara, tapi dunia. >>> >>> Jika manajemen karamba di Minang dibenahi, mungkinkah Sumbar juga bisa >>> muncul sebagai eksportir utama dari 33 provinsi di Indonesia? Kalau iya, >>> satu lagi pemberdayaan ekonomi rakyat bisa dilakukan tanpa harus tergantung >>> pada pusat/Jakarta. >>> >>> Wass, >>> >>> ANB >>> 45, Cibubur >>> >>> * * * >>> >>> Aries Prima >>> 4 hours ago >>> Sekitar tahun 1998, orang Vietnam datang ke Indonesia untuk belajar >>> pembudidayaan ikan Patin. Setelah cukup belajar, mereka membudidayakan ikan >>> Patin di keramba-keramba sungai Mekong. Merasa bahwa sistem keramba ini >>> sangat bergantung kepada kualitas air sungai, maka kemudian mereka >>> mengembangkan dan membangun kolam-kolam yang dapat diatur kualitas airnya >>> di sepanjang salah satu sungai terpanjang di dunia ini. >>> >>> Sejak tahun 2012, Vietnam adalah negara pengekspor terbesar ikan patin di >>> dunia. Memasok sekitar 90 persen kebutuhan ikan Patin dunia. Indonesia pun >>> kini mengimpor ikan yang termasuk dalam genus Pangasius untuk kebutuhannya >>> dari Vietnam. Produksi ikan Patin di Vietnam mencapai 400 ton per hektar. >>> Sedangkan Indonesia hanya mampu memproduksi 70 ton per hektar. >>> >>> Indonesia telah menjadi "guru" bagi beberapa negara di ASEAN di bidang >>> teknologi dan pertanian. Namun kini kemampuan serta penguasaan teknologi >>> dan pertanian negara kepulauan terbesar di dunia ini telah dilampaui oleh >>> para "murid"-nya. >>> >>> Kini saatnya perhatian dan dukungan politis harus diberikan kepada >>> pengembangan sains, teknologi, keinsinyuran (termasuk pertanian), melalui >>> berbagai inovasi untuk kebangkitan Indonesia. >>> -- >>> . >>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain >>> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ >>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. >>> ============================== ============================= >>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: >>> * DILARANG: >>> 1. Email besar dari 200KB; >>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; >>> 3. Email One Liner. >>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta >>> mengirimkan biodata! >>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting >>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply >>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & >>> mengganti subjeknya. >>> ============================== ============================= >>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: >>> http://groups.google.com/ group/RantauNet/ >>> --- >>> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup >>> Google. >>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, >>> kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . >>> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/ groups/opt_out. >> -- >> . >> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain >> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ >> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. >> =========================================================== >> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: >> * DILARANG: >> 1. Email besar dari 200KB; >> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; >> 3. Email One Liner. >> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta >> mengirimkan biodata! >> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting >> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply >> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & >> mengganti subjeknya. >> =========================================================== >> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: >> http://groups.google.com/group/RantauNet/ >> --- >> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup >> Google. >> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim >> email ke rantaunet+berhenti [email protected] . >> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti > subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup > Google. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim > email ke rantaunet+berhenti [email protected] . > Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. > > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti > subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup > Google. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim > email ke rantaunet+berhenti [email protected] . > Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
