Pak Saaf. ini ado tulisan populer yang cukup menarik tentang fenomena bunuh
diri di Indonesia

Indonesia Tanpa Bunuh Diri
 Benny Rhamdani

REP <http://www.kompasiana.com/posts/type/raport/> | 10 September 2013 |
08:2

: *582 *   Komentar: *0*    0

[image: 13787763461682931009]

Cegah bunuh diri. (foto: http://www.genevieveng.com/)

Organisasai Kesehatan Dunia (WHO) sejak  2003 telah menganggap serius issu
bunuh diri, hingga merasa perlu menggandeng International Association of
Suicide Prevention (IASP) untuk memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri
Sedunia setiap tanggal 10 September. Tema pada 2013 adalah *Stigma :
Rintangan Besar untuk Pencegahan Bunuh Diri**.*

Data di WHO menyimpulkan bunuh diri telah menjadi masalah besar bagi
kesehatan masyarakat di negara maju dan menjadi masalah yang terus
meningkat jumlahnya di negara berpenghasilan rendah dan sedang. Hampir satu
juta orang meninggal setiap tahunnya akibat bunuh diri. Ini berarti kurang
lebih setiap 40 detik jatuh korban bunuh diri. Jumlah ini melebihi
akumulasi kematian akibat pembunuhan dan korban perang.

Pada  2009 posisi empat besar negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi
berasa dari Eropa Timur, yakni   Rusia , Latvia, Belarus dan Slovenia.
Sedangkan kelompok negara yang rendah tingkat bunuh dirinya adalah Amerika
Latin, negara-negara mayoritas berpenduduk muslim dan beberapa negara  di
Asia.


*Keluarga Sebagai Pondasi*

Di RSUD Cianjur, Jawa Barat, dalam satu bulan pada Mei 2013 terlapor 5
orang yang meninggal karena bunuh diri. Itu baru di Cianjur dan satu rumah
sakit. Jika melihat data WHO pada 2010, angka bunuh diri di Indonesia
mencapai 1,6 hingga 1,8 per 100.000 jiwa.  Tentu jika tidak ada upaya
bersama pencegahan bunuh diri, angka tersebut bisa tumbuh dari tahun ke
tahun. WHO malah meramalkan pada 2020 angka bunuh diri di Indonesia secara
global menjadi 2,4 per 100.000 jiwa.

Bisakah Indonesia bebas dari kasus bunuh diri? Mungkin saja jika semua
masyarakatnya memiliki kesadaran untuk berhenti berpikir melakukan bunuh
diri. Tapi mengingat pencetus bunuh diri semakin beragam, mulai dari faktor
ekonomi, pendidikan, sosial, kesehatan, kejiwaan, dan spiritual., hal  yang
bisa dilakukan adalah mencegah semaksimal mungkin terjadinya bunuh diri di
lingkungan lingkungan terkecil dan terdekat, yakni keluarga.

Sumber utama bunuh diri adalah depresi. Dan umumnya depresi berhubungan
dengan lingkungan sosial, termasuk jejaring sosial. Menurut pakar kejiwaan
Kendal dan Hammen, depresi banyak berkaitan dengan kondisi keluarga.
Artinya, anggota keluarga bisa menjadi peredam depresi anggota lainnya.
Seorang Ibu seharusnya membangkitkan anaknya yang gagal ujian, bukan
memarahinya. Seorang isteri harus bisa menghibur suami yang kehilangan
pekerjaan. Seorang suami bisa menghibur isteri yang baru saja mengalami
keguguran.

Jika ada seorang anggota keluarga yang bunuh diri, bisa dipastikan ada yang
buruk di dalam keluarganya sehingga anggota keluarga tersebut merasa tidak
akan mendapat perlindungan dan dukungan sosial pada saat menghadapi
tekanan. Alih-alih mencegah bunuh diri, malah ikut memacu perilaku bunuh
diri.

Itu sebabnya penting sekali bagi satu keluarga menerapkan sistem
keterbukaan komunikasi, walau harus tetap menjaga privasi anggota keluarga
sebagai individu. Keterbukaan di sini adalah setiap anggota keluarga bisa
menyampaikan persoalan hidupnya tanpa harus diceramahi, digurui atau bahkan
disalahkan oleh anggota keluarga lainnya. Dengan keterbukaan ini, bahkan
jika masalah yang dihadapi sudah mencapai depresi berat, bukan hal sulit
untuk membawa ke ranah medis.

Tantang terbesar di Indonesia untuk mencegah bunuh diri adalah melibatkan
lembaga medis kejiwaan. Stigma masyarakat bahwa orang yang datang ke rumah
sakit jiwa atau psikiater adalah orang gila menjadi tembok yang harus
dipecahkan. Di sinilah keluarga dapat menjadi pendukung ketika seseorang
mulai merasa depresi, dan secara emosional menyatakan ingin bunuh diri
apalai jika sudah ada upaya melakukan bunuh diri. Dengan membawa ke
 institusi yang tepat, setidaknya sebuah langkah besar pencegahan bunuh
diri sudah dilakukan.

*Agama Sebagai Pelindung*

Sebuah studi statistik lintas bangsa  oleh Miles E Simpson dan George H
Conklin menyimpulkan, persentase Muslim dalam penduduk suatu bangsa
menunjukkan relasi yang signifikan dengan tingkat bunuh diri bangsa
tersebut. Tidak heran jika di dalam data  WHO negara-negara mayoritas
muslim berada di peringkat bawah.

Kesadaran untuk mencegah bunuh diri sudah bisa ditumbuhkan dengan membaca
firmah Allah surah An-Nisa' : 29; *Janganlah kamu membunuh dirimu,
sesungguhnya Allah adalah Maha penyayang kepadamu*. Jelas sebagai muslim
yang semestinya bertaqwa akan menjauhi larangan yang bisa mengantar ke
neraka itu. Jika ada muslim  yang bunuh diri, masyarakat biasanya langsung
menganggap orang tersebut telah mengalami penurunan keimanan karena agama
cenderung mengurangi depresi mental dan pedihnya tragedi kehidupan.

Bagaimana dengan pelaku bom bunuh diri yang pelakunya kebanyakan seorang
muslim? WHO menyebut tindakan tersebut sebagai bunuh diri sekunder. Karena
tujuan utama orang tersebut adalah membunuh orang lain.

Bahtsul Masail NU dalam Munas Alim Ulama di Pondok Gede tahun 2002 juga
telah memutuskan tentang hukum intihar (mengorbankan diri). Dalam keputusan
tersebut dinyatakan bahwa bom bunuh diri yang dilakukan oleh para teroris
tidak akan mengantarkan mereka kepada level syuhada. Karena sejatinya motif
mereka adalah adalah putus asa saat mencari jalan solusi kehidupan yang
benar. Dengan kata lain, tidak dianjurkan dalam Islam.

Jika semua mau melibatkan peran keluarga dan meningkatkan keimanan, tak
heran jika suatu hari nanti Indonesia menjadi negara tanpa satu pun kasus
bunuh diri.


Pada 14 Februari 2014 20.08, Dr. Saafroedin Bahar <
[email protected]> menulis:

> Benar Bung Akmal, bukan Max Weber tetapi Emile Durkheim. Paradigma
> Durkheim ini bisa kita gunakan utk memberi eksplanasi, interpretasi ,
> bahkan prediksi awal ttg apa yg telah, sedang, dan akan terjadi di Sumatera
> Barat.
> Hanya saya kurang tahu, apakah studi masalah ini cukup menarik bagi urang
> awak.
> Wassalam,
> SB, 77, Sby.
>
> Sent from my iPad
>
> On 14 Feb 2014, at 13.45, Akmal Nasery Basral <[email protected]> wrote:
>
> Pak Saaf n.a.h.
> studi Max Weber tentang kaitan antara etika Protestan dan meningkatnya
> kapitalisme. Kalau yang melakukan studi bunuh diri itu Emile Durkheim di
> akhir abad ke-19.
> Kesimpulan Durkheim berdasarkan data bunuh diri di Eropa yang
> dikumpulkannya waktu itu a.l:
>
> 1. Gejala psikologis tidak berpengaruh langsung terhadap para pelaku bunuh
> diri, karena bunuh diri merupakan satu gejala sosial tersendiri yang bisa
> menjadi petunjuk dari derajat integrasi sosial dan kekuatan struktur sosial
> di sebuah masyarakat.
>
> 2. Angka bunuh diri lebih tinggi di masyarakat Protestan dibanding Katolik
> (faktor agama), lebih tinggi pada keluarga kecil dibanding keluarga besar
> (faktor keluarga), dan lebih banyak terjadi di masa tenang dibandingkan
> masa pergolakan politik (faktor sosial politik).
>
> Tipe bunuh diri dibagi Durkheim ke dalam empat jenis:
>
> 1. Egoistis (pelaku bunuh diri merasa bukan bagian dari masyarakat
> sekitar).
> 2. Altruistis (pelaku bunuh diri merasa mendapatkan "bisikan" untuk
> mengorbankan diri dengan alasan agama).
> 3. Anomic (pelaku bunuh diri merasa norma lama tak bisa dipertahankan,
> tapi norma baru belum bisa diadaptasi).
> 4. Fatalistis (pelaku bunuh diri merasa masa depannya sudah tertutup
> total, tak ada harapan hidup).
>
> Kalau kita pinjam model analisis Durkheim ko (tentu tidak semua asumsi
> dasarnya cocok) untuk melihat pola bunuh diri di Sumbar 2014, kelihatannya
> tipe yang terjadi adalah tipe 3 dan 4.
>
> Tipe 3 terlihat pada korban para remaja yang biasanya gamang antara
> keharusan bersikap "tradisional" dengan pilihan bersikap "modern", yang
> bisa menimbulkan efek buruk perundungan (bully) yang kini makin marak di
> kalangan remaja dan menyusup dalam lingkungan sekolah/kampus. Mereka yang
> menjadi korban "bully" biasanya dianggap yang kurang "modern" oleh para
> pem-bully dalam segala bentuk (mulai dari kecaman kata-kata sampai hukuman
> fisik) sehingga membuat korban merasa frustasi.
>
> Tipe 4 terlihat pada korban bunuh diri terakhir (yang berusia 47 tahun
> itu). Sangat disayangkan bagaimana korban yang juga seorang ibu sampai tak
> bisa mengeluarkan beban hatinya kepada anaknya sendiri (yang kuliah di
> Padang).
>
> Sekitar awal 80-an pernah ada kasus bunuh diri yang menggegerkan Indonesia
> karena pelaku/korbannya adalah Marlia Hardi, tokoh sandiwara televisi
> "Keluarga Marlia Hardi"  (belum ada sebutan "sinetron" waktu itu) yang
> dikenal sebagai Bu Mar, seorang ibu sangat bijak, santun, ramah, dan
> menjadi tumpuan masalah anak-anak dan tetangganya yang bermasalah. Tayangan
> rutin ini dulu begitu populer  akhir 70-an/awal 80-an, meski kalau diingat
> sekarang, tayangan populer itu sebetulnya agak tak lazim dalam struktur
> keluarga batih Indonesia, karena tak ada tokoh ayah dalam serial itu.
>
> Jadi ketika Marlia Hardi ditemukan gantung diri di dalam rumahnya akibat
> terjerat utang arisan call (yang saat itu sangat populer), masyarakat syok
> dan tidak percaya bahwa orang "sereligius" dan "sebijaksana" Bu Mar bisa
> melakukan itu.
>
> Kembali ke kasus di Sumbar, jika satu kasus bunuh diri saja sudah
> merupakan tragedi, maka 5 kejadian ini di awal 2014 (di mana para korban
> tak saling kenal satu sama lain) sudah menunjukkan adanya satu gejala
> sosial yang lebih dari mengkhawatirkan. Sebuah patologi sosial yang
> membusuk dari dalam struktur masyarakat sendiri.
>
> Ambo punya firasat buruk, angka bunuh diri di Sumbar ini masih akan terus
> naik di sepanjang tahun ini. Semoga ambo keliru, jika seluruh pemangku
> kepentingan Minangkabau bergerak lebih cepat untuk mengetahui akar masalah
> ini dan membuat pola antisipasi yang lebih masif.
>
> Wass,
>
> ANB
>
> * * *
>
>
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke