Bung Akmal, sanak Darwin, sudah saya baca, dan terima kasih. Dalam konteks 
Minangkabau lantas apa yang harus kita lakukan ?
Wassalam, 
SB, 77, Sby. 

Sent from my iPad

> On 15 Feb 2014, at 07.23, Darwin Chalidi <[email protected]> wrote:
> 
> Sumber utama bunuh diri adalah depresi. Dan umumnya depresi berhubungan 
> dengan lingkungan sosial, termasuk jejaring sosial. Menurut pakar kejiwaan 
> Kendal dan Hammen, depresi banyak berkaitan dengan kondisi keluarga. Artinya, 
> anggota keluarga bisa menjadi peredam depresi anggota lainnya.
> 
> Apakah kejadian di Ranah termasuk kategori ini dinda ANB. Mudah2an keluarga 
> besar yang bersangkutan sadar ada masalah besar dalam keluarga mereka untuk 
> dirembukkan dan dicarikan solusinya
> 
> Salam, Darwin Chalidi
> 
> 
> 2014-02-15 7:16 GMT+07:00 Akmal Nasery Basral <[email protected]>:
>> Pak Saaf. ini ado tulisan populer yang cukup menarik tentang fenomena bunuh 
>> diri di Indonesia
>> 
>> Indonesia Tanpa Bunuh Diri
>>  Benny Rhamdani 
>> 
>> REP | 10 September 2013 | 08:2
>> 
>> : 582    Komentar: 0    0
>> 
>> Cegah bunuh diri. (foto: http://www.genevieveng.com/)
>> Organisasai Kesehatan Dunia (WHO) sejak  2003 telah menganggap serius issu 
>> bunuh diri, hingga merasa perlu menggandeng International Association of 
>> Suicide Prevention (IASP) untuk memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri 
>> Sedunia setiap tanggal 10 September. Tema pada 2013 adalah Stigma : 
>> Rintangan Besar untuk Pencegahan Bunuh Diri.
>> 
>> Data di WHO menyimpulkan bunuh diri telah menjadi masalah besar bagi 
>> kesehatan masyarakat di negara maju dan menjadi masalah yang terus meningkat 
>> jumlahnya di negara berpenghasilan rendah dan sedang. Hampir satu juta orang 
>> meninggal setiap tahunnya akibat bunuh diri. Ini berarti kurang lebih setiap 
>> 40 detik jatuh korban bunuh diri. Jumlah ini melebihi akumulasi kematian 
>> akibat pembunuhan dan korban perang.
>> 
>> Pada  2009 posisi empat besar negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi 
>> berasa dari Eropa Timur, yakni   Rusia , Latvia, Belarus dan Slovenia. 
>> Sedangkan kelompok negara yang rendah tingkat bunuh dirinya adalah Amerika 
>> Latin, negara-negara mayoritas berpenduduk muslim dan beberapa negara  di 
>> Asia.
>> 
>> 
>> 
>> Keluarga Sebagai Pondasi
>> 
>> Di RSUD Cianjur, Jawa Barat, dalam satu bulan pada Mei 2013 terlapor 5 orang 
>> yang meninggal karena bunuh diri. Itu baru di Cianjur dan satu rumah sakit. 
>> Jika melihat data WHO pada 2010, angka bunuh diri di Indonesia mencapai 1,6 
>> hingga 1,8 per 100.000 jiwa.  Tentu jika tidak ada upaya bersama pencegahan 
>> bunuh diri, angka tersebut bisa tumbuh dari tahun ke tahun. WHO malah 
>> meramalkan pada 2020 angka bunuh diri di Indonesia secara global menjadi 2,4 
>> per 100.000 jiwa.
>> 
>> Bisakah Indonesia bebas dari kasus bunuh diri? Mungkin saja jika semua 
>> masyarakatnya memiliki kesadaran untuk berhenti berpikir melakukan bunuh 
>> diri. Tapi mengingat pencetus bunuh diri semakin beragam, mulai dari faktor 
>> ekonomi, pendidikan, sosial, kesehatan, kejiwaan, dan spiritual., hal  yang 
>> bisa dilakukan adalah mencegah semaksimal mungkin terjadinya bunuh diri di 
>> lingkungan lingkungan terkecil dan terdekat, yakni keluarga.
>> 
>> Sumber utama bunuh diri adalah depresi. Dan umumnya depresi berhubungan 
>> dengan lingkungan sosial, termasuk jejaring sosial. Menurut pakar kejiwaan 
>> Kendal dan Hammen, depresi banyak berkaitan dengan kondisi keluarga. 
>> Artinya, anggota keluarga bisa menjadi peredam depresi anggota lainnya. 
>> Seorang Ibu seharusnya membangkitkan anaknya yang gagal ujian, bukan 
>> memarahinya. Seorang isteri harus bisa menghibur suami yang kehilangan 
>> pekerjaan. Seorang suami bisa menghibur isteri yang baru saja mengalami 
>> keguguran.
>> 
>> Jika ada seorang anggota keluarga yang bunuh diri, bisa dipastikan ada yang 
>> buruk di dalam keluarganya sehingga anggota keluarga tersebut merasa tidak 
>> akan mendapat perlindungan dan dukungan sosial pada saat menghadapi tekanan. 
>> Alih-alih mencegah bunuh diri, malah ikut memacu perilaku bunuh diri.
>> 
>> Itu sebabnya penting sekali bagi satu keluarga menerapkan sistem keterbukaan 
>> komunikasi, walau harus tetap menjaga privasi anggota keluarga sebagai 
>> individu. Keterbukaan di sini adalah setiap anggota keluarga bisa 
>> menyampaikan persoalan hidupnya tanpa harus diceramahi, digurui atau bahkan 
>> disalahkan oleh anggota keluarga lainnya. Dengan keterbukaan ini, bahkan 
>> jika masalah yang dihadapi sudah mencapai depresi berat, bukan hal sulit 
>> untuk membawa ke ranah medis.
>> 
>> Tantang terbesar di Indonesia untuk mencegah bunuh diri adalah melibatkan 
>> lembaga medis kejiwaan. Stigma masyarakat bahwa orang yang datang ke rumah 
>> sakit jiwa atau psikiater adalah orang gila menjadi tembok yang harus 
>> dipecahkan. Di sinilah keluarga dapat menjadi pendukung ketika seseorang 
>> mulai merasa depresi, dan secara emosional menyatakan ingin bunuh diri 
>> apalai jika sudah ada upaya melakukan bunuh diri. Dengan membawa ke  
>> institusi yang tepat, setidaknya sebuah langkah besar pencegahan bunuh diri 
>> sudah dilakukan.
>> 
>> Agama Sebagai Pelindung
>> 
>> Sebuah studi statistik lintas bangsa  oleh Miles E Simpson dan George H 
>> Conklin menyimpulkan, persentase Muslim dalam penduduk suatu bangsa 
>> menunjukkan relasi yang signifikan dengan tingkat bunuh diri bangsa 
>> tersebut. Tidak heran jika di dalam data  WHO negara-negara mayoritas muslim 
>> berada di peringkat bawah.
>> 
>> Kesadaran untuk mencegah bunuh diri sudah bisa ditumbuhkan dengan membaca 
>> firmah Allah surah An-Nisa’ : 29; Janganlah kamu membunuh dirimu, 
>> sesungguhnya Allah adalah Maha penyayang kepadamu. Jelas sebagai muslim yang 
>> semestinya bertaqwa akan menjauhi larangan yang bisa mengantar ke neraka 
>> itu. Jika ada muslim  yang bunuh diri, masyarakat biasanya langsung 
>> menganggap orang tersebut telah mengalami penurunan keimanan karena agama 
>> cenderung mengurangi depresi mental dan pedihnya tragedi kehidupan.
>> 
>> Bagaimana dengan pelaku bom bunuh diri yang pelakunya kebanyakan seorang 
>> muslim? WHO menyebut tindakan tersebut sebagai bunuh diri sekunder. Karena 
>> tujuan utama orang tersebut adalah membunuh orang lain.
>> 
>> Bahtsul Masail NU dalam Munas Alim Ulama di Pondok Gede tahun 2002 juga 
>> telah memutuskan tentang hukum intihar (mengorbankan diri). Dalam keputusan 
>> tersebut dinyatakan bahwa bom bunuh diri yang dilakukan oleh para teroris 
>> tidak akan mengantarkan mereka kepada level syuhada. Karena sejatinya motif 
>> mereka adalah adalah putus asa saat mencari jalan solusi kehidupan yang 
>> benar. Dengan kata lain, tidak dianjurkan dalam Islam.
>> 
>> Jika semua mau melibatkan peran keluarga dan meningkatkan keimanan, tak 
>> heran jika suatu hari nanti Indonesia menjadi negara tanpa satu pun kasus 
>> bunuh diri.
>> 
>> 
>> 
>> Pada 14 Februari 2014 20.08, Dr. Saafroedin Bahar 
>> <[email protected]> menulis:
>> 
>>> Benar Bung Akmal, bukan Max Weber tetapi Emile Durkheim. Paradigma Durkheim 
>>> ini bisa kita gunakan utk memberi eksplanasi, interpretasi , bahkan 
>>> prediksi awal ttg apa yg telah, sedang, dan akan terjadi di Sumatera Barat.
>>> Hanya saya kurang tahu, apakah studi masalah ini cukup menarik bagi urang 
>>> awak.
>>> Wassalam,
>>> SB, 77, Sby.
>>> 
>>> Sent from my iPad
>>> 
>>>> On 14 Feb 2014, at 13.45, Akmal Nasery Basral <[email protected]> wrote:
>>>> 
>>>> Pak Saaf n.a.h.
>>>> studi Max Weber tentang kaitan antara etika Protestan dan meningkatnya 
>>>> kapitalisme. Kalau yang melakukan studi bunuh diri itu Emile Durkheim di 
>>>> akhir abad ke-19.
>>>> Kesimpulan Durkheim berdasarkan data bunuh diri di Eropa yang 
>>>> dikumpulkannya waktu itu a.l:
>>>> 
>>>> 1. Gejala psikologis tidak berpengaruh langsung terhadap para pelaku bunuh 
>>>> diri, karena bunuh diri merupakan satu gejala sosial tersendiri yang bisa 
>>>> menjadi petunjuk dari derajat integrasi sosial dan kekuatan struktur 
>>>> sosial di sebuah masyarakat.
>>>> 
>>>> 2. Angka bunuh diri lebih tinggi di masyarakat Protestan dibanding Katolik 
>>>> (faktor agama), lebih tinggi pada keluarga kecil dibanding keluarga besar 
>>>> (faktor keluarga), dan lebih banyak terjadi di masa tenang dibandingkan 
>>>> masa pergolakan politik (faktor sosial politik).
>>>> 
>>>> Tipe bunuh diri dibagi Durkheim ke dalam empat jenis:
>>>> 
>>>> 1. Egoistis (pelaku bunuh diri merasa bukan bagian dari masyarakat 
>>>> sekitar).
>>>> 2. Altruistis (pelaku bunuh diri merasa mendapatkan "bisikan" untuk 
>>>> mengorbankan diri dengan alasan agama).
>>>> 3. Anomic (pelaku bunuh diri merasa norma lama tak bisa dipertahankan, 
>>>> tapi norma baru belum bisa diadaptasi).
>>>> 4. Fatalistis (pelaku bunuh diri merasa masa depannya sudah tertutup 
>>>> total, tak ada harapan hidup).
>>>> 
>>>> Kalau kita pinjam model analisis Durkheim ko (tentu tidak semua asumsi 
>>>> dasarnya cocok) untuk melihat pola bunuh diri di Sumbar 2014, kelihatannya 
>>>> tipe yang terjadi adalah tipe 3 dan 4. 
>>>> 
>>>> Tipe 3 terlihat pada korban para remaja yang biasanya gamang antara 
>>>> keharusan bersikap "tradisional" dengan pilihan bersikap "modern", yang 
>>>> bisa menimbulkan efek buruk perundungan (bully) yang kini makin marak di 
>>>> kalangan remaja dan menyusup dalam lingkungan sekolah/kampus. Mereka yang 
>>>> menjadi korban "bully" biasanya dianggap yang kurang "modern" oleh para 
>>>> pem-bully dalam segala bentuk (mulai dari kecaman kata-kata sampai hukuman 
>>>> fisik) sehingga membuat korban merasa frustasi.
>>>> 
>>>> Tipe 4 terlihat pada korban bunuh diri terakhir (yang berusia 47 tahun 
>>>> itu). Sangat disayangkan bagaimana korban yang juga seorang ibu sampai tak 
>>>> bisa mengeluarkan beban hatinya kepada anaknya sendiri (yang kuliah di 
>>>> Padang). 
>>>> 
>>>> Sekitar awal 80-an pernah ada kasus bunuh diri yang menggegerkan Indonesia 
>>>> karena pelaku/korbannya adalah Marlia Hardi, tokoh sandiwara televisi 
>>>> "Keluarga Marlia Hardi"  (belum ada sebutan "sinetron" waktu itu) yang 
>>>> dikenal sebagai Bu Mar, seorang ibu sangat bijak, santun, ramah, dan 
>>>> menjadi tumpuan masalah anak-anak dan tetangganya yang bermasalah. 
>>>> Tayangan rutin ini dulu begitu populer  akhir 70-an/awal 80-an, meski 
>>>> kalau diingat sekarang, tayangan populer itu sebetulnya agak tak lazim 
>>>> dalam struktur keluarga batih Indonesia, karena tak ada tokoh ayah dalam 
>>>> serial itu.
>>>> 
>>>> Jadi ketika Marlia Hardi ditemukan gantung diri di dalam rumahnya akibat 
>>>> terjerat utang arisan call (yang saat itu sangat populer), masyarakat syok 
>>>> dan tidak percaya bahwa orang "sereligius" dan "sebijaksana" Bu Mar bisa 
>>>> melakukan itu. 
>>>> 
>>>> Kembali ke kasus di Sumbar, jika satu kasus bunuh diri saja sudah 
>>>> merupakan tragedi, maka 5 kejadian ini di awal 2014 (di mana para korban 
>>>> tak saling kenal satu sama lain) sudah menunjukkan adanya satu gejala 
>>>> sosial yang lebih dari mengkhawatirkan. Sebuah patologi sosial yang 
>>>> membusuk dari dalam struktur masyarakat sendiri.
>>>> 
>>>> Ambo punya firasat buruk, angka bunuh diri di Sumbar ini masih akan terus 
>>>> naik di sepanjang tahun ini. Semoga ambo keliru, jika seluruh pemangku 
>>>> kepentingan Minangkabau bergerak lebih cepat untuk mengetahui akar masalah 
>>>> ini dan membuat pola antisipasi yang lebih masif. 
>>>> 
>>>> Wass,
>>>> 
>>>> ANB
>>>> 
>>>> * * *
>> 
>> -- 
>> .
>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
>> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
>> * DILARANG:
>> 1. Email besar dari 200KB;
>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
>> 3. Email One Liner.
>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
>> mengirimkan biodata!
>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & 
>> mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>> --- 
>> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
>> Google.
>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
>> email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
>> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
> 
> -- 
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
> subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> --- 
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
> Google.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
> email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke