Sanak Akmal dan sanak sapalanta RN n a h Kembali ke soal budi daya ikan dalam karambah.
Yang kurang diperhitungkan oleh petani ikan itu adalah faktor risiko. Budi daya ikan di danau dan di sungai dengan sama sama menggunakan karamba tidak sama risikonya. Budi daya di sungai tentu lebih tinggi risiko kalau kena banjir . Kalau terkena banjir yang berarus keras karamba itu bisa hanyut . Risiko ikan mati karena pembalikan air dipermukaan dengan air di dasar sungai tidak akan terjadi, karena air sungai itu mengalir .Risiko karamba hanyut tidak akan terjadi pada pemeliharaan ikan karamba di danau. Positifnya pemeliharaan ikan karamba di sungai adalah Oksigen (O2) nya lebih tinggi karenanya waktu pemeliharaan sampai ikan dipanen akan lebih singkat, dengan catatan pembeian pakan cukup dan bibit berkualitas. Kalau ada sungai yang cocok untuk pemeliharaan ikan karamba sebagaimana yang dilakukan di Vietnam, tentu akan menguntungkan . Namun saya tidak punya bayangan di sungai mana di Sumbar hal tersebut bisa dilakukan . Wassalam Dunil Zaid. 71 , Kpg Ujuang Pandan Parak Karambia,Pdg. Tingga di Jkt. 2014-02-15 18:38 GMT+07:00 asmun sjueib <[email protected]>: > Aww. Maju terus SB, tingga awak2 sajo laie sia nan kalaie namueh sajo nti > pado wakatunyo akan tibo sorang2 se mah pak Guru. > Wassalam, > Haasma Depok > > > Pada Sabtu, 15 Februari 2014 16:43, Dr. Saafroedin Bahar < > [email protected]> menulis: > Bana, Pak Asmun. Itu makonyo FTTSM kito ujicoba dulu di Jakarta. Bak > kato urang kini, kondisi alun kondusif lai di Ranah. > Wassalam, > SB, 77, Sby. > > Sent from my iPad > > On 15 Feb 2014, at 07.53, asmun sjueib <[email protected]> wrote: > > Aww. SB n.a.b. dan Palanta n.a.h. > aaa) Menarik komentar SB tarutamo berkaitan dengan pertanyaan liau > tsb.bahwa namapak jaleih keterkaitan ABS SBK dalam praktek. Dikala masalah2 > sosial kemasyarakatan mencuat dan menjadi hal nan paralu diperbincangkan > dalam upaya "solusi" ataupun implementasi kelanjutannyo, maka tantunyo kito > balikkan sajo dulu secaro professional baik kepada Tungku Tigo Sajarangan > plus+plus tamasuek Pemprov/kab/kota/Nagari ybs. > bbb)Manuruk pandapeik ambo pribadi bahwasanyo satiok warganegara > Minangkabau di Ranah jo Rantau paralu mananyokan kepada lembaga/institusi > takaiek dan tantunyo ado pulo batas limit wakatunyo. Contoh aktual katiko > masalah Lippo dengan Kristenisasi mencuat di Sumbar babarapo wakatu lalu, > kan dapeik kito liek dengan matao kapalo sendiri tidak satupun nan bereaksi > apo nan disabuik dengan TTS dan bahkan sebaliknyo hampir 100% terlibat > dalam melakukan penerimaan suap dari pihak yang berkepentingan yaitu Lippo > dll.nya. > ccc) Manuruik ambo pulo seyogyanya pertanyaan SB tsb. kito tampung sajo > lah dulu misalnya di BK3AM Jaya atau R@antaunet (Yys./Pokja) dan memang > jaleih kapadulian terhadap maju jo mundurnyo Ranah Minang bukan? > Samantoro demikian sekedar tanggapan singkeik ambo. > Wassalam, > Haasma (Lk/69/Depok) > > > Pada Sabtu, 15 Februari 2014 7:03, Dr. Saafroedin Bahar < > [email protected]> menulis: > Pak Epy, kesenjangan antara para ahli dengan masyarakat ini memang > merupakan tantangan yang harus kita jawab bersama. Seyogyanya tokoh-tokoh > pemimpin masyarakat bisa menjadi penghubung antara keduanya. Namun, > siapakah yang bisa mengemban peran sebagai pemimpin masyarakat tersebut, di > kala ikatan adat dan agama semakin lama semakin longgar ? > Saya juga tidak tahu. Pemerintah daerah ? Tokoh partai politik ? > Wassalam, > SB, 77. Sby. > > Sent from my iPad > > On 14 Feb 2014, at 16.04, Epy Buchari <[email protected]> wrote: > > > Pak Saaf dan bungAkmal n. a.h, > > Kasus Maninjau menunjukkan kesenjangan pemahaman sains dan teknologi > antara masyarakat dengan para ahli. Penyebabnya scara ilmiah sudah > diketahui sejak lama, singkat kata jumlah ikan sudah melampaui daya dukung > lingkungannya. Peternak tidak mau tau dan ngotot menambah terus jumlah > karamba. Kenapa : saya kira mereka tidak memahami apa yang dijelaskan. > > Kalau dambaan bung Akmal supaya Sumbar bisa jadi sentra perikanan > Indonesia, mungkin pengalaman Vietnam (!) ini bisa jadi pelajaran. Semula > sewaktu daya dukung lingkungan masih belum terlampaui, semua oke. Sekarang > sungai Mekong yg di Vietnam termasuk 'the most poisoned river in the > world'. Kualitas ikan ekspor mereka dari Mekong mulai diteliti oleh > Amerika, Australiadll. Masa jayanya mulai menurun drastis. seju mlah > pengusaha ikan mulai alih profesi kembali menjadi petani padi. Silahkan > dicermati antara lain di video berikut : https://vimeo.com/m/11817894 > Karena modal utama Sumbar adalah lingkungannya, seyogianyalah semua > stakeholder berorientasi pada pengamanan lingkungan ini, menjauhkannya dari > segala sesuatu ygberpotensi merusaknya. > > Maaf & wasalam, > > Epy Buchari > > > > > > On Wednesday, February 12, 2014 6:57:32 AM UTC, Saafroedin Bahar wrote: > > Sanak Epy, Bung Akmal. Ambo manyimak, setuju pentingnyo peranan penguasaan > ilmu dan teknologi, nan bisa dilayani dek instansi Pemerintah nan > bersangkutan. Masalahnyo baa caronyo manjangkau rakyat banyak ko ? Ambo > indak tahu. Sampai kini nan jaleh urang awak labiah suko jalan surang. > Samantaro tu urang lain - misalnyo Vietnam atau daerah lain - maju taruih, > indak manunggu awak doh. > > Wassalam, > SB, 77, Sby. > > Sent from my iPad > > On 12 Feb 2014, at 13.30, Epy Buchari <[email protected]> wrote: > > Bung Akmal dan sanak sapalanta n.a.h, > AssalamualaikumWW, > > Kunci permasalahan saya kira sudah disebutkan pada bagian akhir tulisan > tersebut : penguasaan ilmu dan teknologi. Para petani kita masih jauh..jauh > sekali dari ilmu dan teknologi. Masih terbentang jurang antara ilmu yg ada > di Dinas Pertanian, lembaga penelitian, buku dll dengan petani. Penyuluh > pertanian tidak berfungsi di negeri kita. Jarang atau hampir tidaak ada > tamatan sekolah atau fakultas pertanian yg terjun jadi petani praktis. > Petani masih bergulat dengan caranya sendiri yang mereka anggap benar spt > jaring apung Maninjau. > Coba bung Akmal amati sikon bahwa pasar hortikultura Singapur dan Malaysia > trgantung pada 2 sentra utama pertanian : Brastagi dan Bukittinggi. Dengan > letusan Sinabung logikanya produksi Brastagi akan trganggu berat dan mereka > akan trgantung ke Bukittinggi. Apakah ada angin buritan ini untuk petani > Agam ? Saya belum mendengar kabar baik ini. > Ilmu dan teknologimasuk nagari, inilah saya kira kata kuncinya. > > Maaf & wasalam, > > Epy Buchari > > l-70, Ciputat Timur > > > > On Tuesday, February 11, 2014 6:04:26 AM UTC, Akmal Nasery Basral wrote: > > Assalamu'alaikum Wr. Wb adidunsanak Palanta RN n.a.h. > > Mengingat beberapa hari lalu ada thread tentang karamba ikan, dengan > sharing pengalaman dari Bundo Nismah dan Pak Zaid Dunil, hari ko ambo > mambaco status FB surang kawan ambo nan alumnus IPB dan pengamat perikanan > seperti di bawah ko. > > Pengalaman yang menyedihkan karena hanya dalam waktu 14 tahun (1998-2012) > posisi Indonesia sebagai "pengajar" Vietnam untuk urusan teknologi karamba, > kini berputar 180 derajat. > > Dari paparan pendek Sdr. Aries Prima ko, ternyata kalau karamba ditangani > serius dan profesional bisa membuat Vietnam menjadi eksportir terbesar di > dunia, bukan hanya di wilayah regional Asia Tenggara, tapi dunia. > > Jika manajemen karamba di Minang dibenahi, mungkinkah Sumbar juga bisa > muncul sebagai eksportir utama dari 33 provinsi di Indonesia? Kalau iya, > satu lagi pemberdayaan ekonomi rakyat bisa dilakukan tanpa harus tergantung > pada pusat/Jakarta. > > Wass, > > ANB > 45, Cibubur > > * * * > > Aries Prima <https://www.facebook.com/aries.prima?hc_location=timeline> > 4 hours > ago<https://www.facebook.com/aries.prima/posts/10152249823594533?stream_ref=10> > Sekitar tahun 1998, orang Vietnam datang ke Indonesia untuk belajar > pembudidayaan ikan Patin. Setelah cukup belajar, mereka membudidayakan ikan > Patin di keramba-keramba sungai Mekong. Merasa bahwa sistem keramba ini > sangat bergantung kepada kualitas air sungai, maka kemudian mereka > mengembangkan dan membangun kolam-kolam yang dapat diatur kualitas airnya > di sepanjang salah satu sungai terpanjang di dunia ini. > > Sejak tahun 2012, Vietnam adalah negara pengekspor terbesar ikan patin di > dunia. Memasok sekitar 90 persen kebutuhan ikan Patin dunia. Indonesia pun > kini mengimpor ikan yang termasuk dalam genus Pangasius untuk kebutuhannya > dari Vietnam. Produksi ikan Patin di Vietnam mencapai 400 ton per hektar. > Sedangkan Indonesia hanya mampu memproduksi 70 ton per hektar. > > Indonesia telah menjadi "guru" bagi beberapa negara di ASEAN di bidang > teknologi dan pertanian. Namun kini kemampuan serta penguasaan teknologi > dan pertanian negara kepulauan terbesar di dunia ini telah dilampaui oleh > para "murid"-nya. > > Kini saatnya perhatian dan dukungan politis harus diberikan kepada > pengembangan sains, teknologi, keinsinyuran (termasuk pertanian), melalui > berbagai inovasi untuk kebangkitan Indonesia. > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > ============================== ============================= > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > ============================== ============================= > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/ > group/RantauNet/ <http://groups.google.com/group/RantauNet/> > --- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari > Grup Google. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . > Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/ > groups/opt_out<https://groups.google.com/groups/opt_out> > . > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari > Grup Google. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . > Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari > Grup Google. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . > Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. > > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari > Grup Google. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . > Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari > Grup Google. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . > Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. > > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari > Grup Google. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . > Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
