Uda Andrinof, kalau melihat tujuan utama Keppres 12/2014 seperti ambo copas
linknyo di ateh, atau ambo ulang baliak,

http://sipuu.setkab.go.id/PUUdoc/174034/KEPPRES122014.pdf

disebutkan bahwa keppres ini adalah Pencabutan Surat Edaran Presidium
Kabinet Ampera 28 Juni 1967.  Isi surat edaran itu adalah penggantian
istilah "Tiongkok/Tionghoa" dengan "Tjina" (tentu ini ejaan lama karena
baru tahun 1971 EYD diberlakukan sehingga "Tjina" menjadi "Cina", sebelum
menjadi "China" beberapa tahun terakhir).

Yang menarik bagi ambo di luar masalah penggantian sebutan ini, sikap
politik SBY dibanding Gus Dur, misalnya, tidak terlalu dikenal sebagai
"pro-Cina". Di era Gus Dur, Imlek diakui sebagai hari libur nasional dan
kebudayaan Cina (atraksi barongsai) diperbolehkan lagi dipertunjukkan di
ruang publik, termasuk spanduk ucapan "Gong Xi Fa Cai" yang sejak itu
menjamur dan menjadi "spanduk tahunan" pula sampai sekarang layaknya
spanduk "Minal Aidin Wal Faizin" atau "Selamat Natal" yang bertebaran dari
pusat belanja sampai gerbang perumahan.

Toh, dengan sikap Gus Dur yang  seperti itu, pemerintahannya tak pernah
membatalkan Surat Edaran 1967.

Jadi yang menarik didiskusikan justru:

1. Motif (atau mungkin: tekanan?) seperti apa yang dialami SBY untuk
mengambil kebijakan mencabut surat edaran 1967 itu?
     Dalam politik, kita tahu tak mungkin kebijakan seperti ini akan muncul
tiba-tiba jika tak ada lobi intensif dari kelompok kepentingan tertentu,
katakanlah,
     lobi Cina Indonesia. Sebab dari sisi pengaruh, tak bisa dipungkiri
kekuatan lobi keturunan Cina di Indonesia s

    Barang Da Andrinof atau sanak palanta lain ada yang tahu jawaban dari
pertanyaan ambo ko?

2. Bias peristiwa G30S/PKI dalam perubahan sebutan "Tiongkok/Tionghoa" (pra
1967) --> Tjina/Cina/China (1967-2014) --> Tiongkok/Tionghoa (2014-?)
     sangat jelas hanya memuat kepentingan politik karena realitas historis
dan budaya di Indonesia tak menunjukkan hal ini. Di banyak kota besar di
tanah air,
     umpamanya, bagian kota yang disebut PECINAN (pe-Cina-an) selalu ada
sebagai mana layaknya di banyak kota metropol di belahan dunia mana pun
selalu
     ada bagian kota yang disebut CHINA TOWN. Bahkan bahasa mereka secara
internasional pun disebut CHINESE, atau dengan menyebut salah satu dialek
yang
     paling banyak digunakan MANDARIN. Tak ada sebutan yang mengacu pada
Tiongkok/Tionghoa.

Di Prancis, masyarakat menyebut orang Cina sebagai "Chinois" (baca:
si-no-a). Di Jerman, orang Cina dipanggil "Chinesisch".  Dua contoh ini
ambo ambil karena ambo cukup paham (aktif) kedua bahasa itu, dan pernah di
kedua negara, pada periode yang berbeda, bergaul pula dengan orang-orang
Cina setempat, atau lebih tepatnya Chinese Diaspora. Dan tak pernah ada
terasa ada keberatan dari mereka dipanggil "Cina" karena hal itu memang
sebuah panggilan yang mengacu pada etnis tanpa preferensi politik tertentu.

Balik ke Indonesia, kalau kita mundur ke tahun 1740 di mana terjadi
pembantaian besar-besaran terhadap keturunan Cina di Batavia, toh setelah
itu istilah "Cina" dan "Tionghoa" tetap dipakai bergantian, hidup dalam
masyarakat, tanpa ada regulasi pemerintah (Hindia Belanda) mana yang harus
dipakai.

Di lingkup yang lebih kecil, ayah induak mintuo ambo yang berdarah Cina
(inyiak istri ambo langsung datang dari Guangzhou), dan kakak-kakak ipar
ambo nan mukonyo mirip Jacky Chan (tapi jadi aktivis PAN di Semarang),
selalu tertawa kalau sudah bicara soal ini (jauh sebelum muncul Keppres
12/2004). "Buat saya nggak penting sekali yang dibahas masih bolak-balik
soal sebutan yang pantas itu Cina atau Tionghoa, kayak nggak ada kerjaan
lain. Kalau dulu ada masyarakat yang marah kepada orang Cina tertentu, itu
bukan karena nama Cinanya, tapi karena kelakuan orang itu sendiri yang
membuat masyarakat marah. Dan kalau sudah kembali ke karakter orang,
bukankah ada juga orang Minang, orang Jawa, orang Sunda, yang kelakuannya
buruk? Tapi apa pernah jadi wacana untuk mengganti nama suku-suku itu
karena karena ada perbuatan warganya yang kurang baik?"

Dilihat dari konstelasi tiga besar "ras asing" yang sudah beradaptasi
menjadi penduduk Indonesia: Cina/Mongoloid, Timur Tengah (Arab Saudi,
Yaman, dll), India (Keling, Pakistan yang tentara mereka banyak membantu di
awal Indonesia merdeka), memang jadi terlihat aneh kenapa hanya (sebagian)
Cina di Indonesia yang terus ingin mendapat privilese bahkan sampai ke soal
sebutan, sementara keturunan Arab dan India tenang-tenang saja, meski
mungkin kalau diadakan referendum sebutan apa yang cocok bagi mereka, boleh
jadi ada sebutan tersendiri yang mereka inginkan dan lebih cocok.

Jadi, konteks munculnya Keppres 12/2014 inilah (Pencabutan Surat Edaran
Presidium Ampera 1967) yang menurut ambo bisa lebih bermanfaat jika kita
diskusikan bersama: mengapa baru sekarang? mengapa saat pemilu di ujung
mata? mengapa ketika pemerintahan SBY di akhir kuasa? Dan yang lebih
penting dari itu semua, apa urgensi pencabutan Surat Edaran 1967 itu?

Wassalam,

ANB
45, Cibubur








Pada 25 Maret 2014 21.49, Andrinof A Chaniago <[email protected]> menulis:

> Kalau Keppres itu mencakup sebutan untuk wilayah, maka Keppresnya juga
> salah. Tapi, kembali ke soal bagaimana seharusnya kita menyebut nama orang,
> kaum dan masyarakat, maka kita harus sebut sebagaimana orang. kaum dan
> masyarakat itu menginginkan sebutan untuk mereka.
> Salam
>
>
> 2014-03-25 14:59 GMT+07:00 Tasrilmoeis <[email protected]>:
>
> Quote:
>>
>> perhatikan maksud dari pengaturan sebutan itu. Sasarannya adalah pada
>> orang, manusia, masyarakat, kaum. *Bukan nama wilayah, benda dan
>> sebegainya. Lihat esensinya*.
>>
>>
>>
>> Kepres iko jaleh2 di tujukan untuak kaum dan wilayah. Kalau kaum dari
>> Cina ke Tionghoa, *wilayah dari Cina ke Tiongkok*, esensi apo pulo nan
>> kurang jaleh.
>>
>> Kok awak jadi binguang surang jo komentar bantuak iko ko, batua juo kecek
>> Bu Evy, kami ko abiah andia sado no.
>>
>>
>>
>> Wassalam
>>
>> Tan Ameh
>>
>>
>>
>> *From:* [email protected] [mailto:[email protected]] *On
>> Behalf Of *Andrinof A Chaniago
>> *Sent:* Tuesday, March 25, 2014 1:46 PM
>>
>> *To:* [email protected]
>> *Subject:* Re: [R@ntau-Net] OOT: Cina jadi Tionghoa dan Tiongkok
>>
>>
>>
>> perhatikan maksud dari pengaturan sebutan itu. Sasarannya adalah pada
>> orang, manusia, masyarakat, kaum. Bukan nama wilayah, benda dan sebegainya.
>> Lihat esensinya. Lalu, kembali ke apa yang diperintahkan agama, "Sebutla
>> nama orang itu sesuai dengan yang diinginkan oleh orang itu."
>>
>> Terima kasih.
>>
>>
>>
>> 2014-03-25 9:12 GMT+07:00 <[email protected]>:
>>
>> Mungkin ado nan punyo referensi di negara2 lain penyebutan iko. Nan
>> nampak di event internasional namo negara ko PRC people republik of China,
>> urang no disabuik Chinese.
>>
>> Perkampungan mereka di kota2 gadang dunia disabuik Chinese Town. Awak pun
>> gadang no di tembok kampuang Cino di Bukittinggi.
>>
>> Dek banyak mambali barang dari nagari ko, di paking barang2 pun tatulih
>> Made in China, dan itu mereka sendiri nan manulih.
>>
>>
>>
>> Wassalam
>>
>> Tan Ameh
>>
>>
>>
>> *From: *Hayatun Nismah Rumzy
>>
>> *Sent: *Tuesday, March 25, 2014 08:58
>>
>> *To: *[email protected]
>>
>> *Reply To: *[email protected]
>>
>> *Subject: *Re: [R@ntau-Net] OOT: Cina jadi Tionghoa dan Tiongkok
>>
>>
>>
>> Assalamu Alaikum W. W.
>>
>> Bundo tak senang kalau orang di Malaysia menyebut kita INDON. Begitu juga
>> waktu bundo ke US menyebut Negro cucu bundo meletakkan telunjuknya ke
>> bibirnya sambil berkata : "No grandma you should say Black American"
>>
>> Jadi bundo setuju panggil lah seseorang dengan panggilan yang disukainya.
>> Janganlah kita selalu negative thinking.
>>
>> Mohon maaf kalau yang tak berkenan.
>>
>>
>> @Hayatun Nismah Rumzy#
>>
>>
>> On 25 Mar 2014, at 08.36, Andrinof A Chaniago <[email protected]> wrote:
>>
>> Kalau untuk sebutan orang, kaum atau golongan lain, Islam mengajarkan
>> agar kita memanggil atau menyebut orang, kaum atau golongan itu sesuai
>> dengan sebutan yang mereka inginkan. Itu Islam, lho.
>>
>>
>>
>> 2014-03-24 21:32 GMT+07:00 <[email protected]>:
>>
>>
>>
>> Dalam bara ari ko ado nan barubah nampak di berita2 TV atau koran di
>> Indosia ko.
>>
>> Kaba2 dari nan biaso no tatulih dari nagari Cina kini lah barubah jadi
>> dari nagari Tiongkok dan urang no kini jadi Tionghoa.
>>
>> Rupo no lah ado kepres baru no. 12, 2014 nan maatur perubahan ko dan
>> membatalkan surat Edaran Kabinet Ampeta no. SR-06/Pres/Kab/6/1967 nan
>> marubah penyebutan Tionghoa atau Tiongkok jadi Cina.
>>
>>
>>
>> Samantaro kalau bahaso Inggris tataok juo China untuak namo nagari dan
>> Chinese untuak urang no
>>
>> Kalau ado nan baniaik pulo marubah iko, apo lah kiro namo no eh.
>>
>>
>>
>> Wassalam
>>
>> Tan Ameh (55+)
>>
>>
>>
>>
>>
>> --
>> .
>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
>> * DILARANG:
>> 1. Email besar dari 200KB;
>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
>> 3. Email One Liner.
>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
>> mengirimkan biodata!
>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
>> mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>> ---
>> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
>> Grup.
>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
>> kirim email ke [email protected].
>> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>>
>> --
>> .
>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
>> * DILARANG:
>> 1. Email besar dari 200KB;
>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
>> 3. Email One Liner.
>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
>> mengirimkan biodata!
>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
>> mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>> ---
>> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
>> Grup.
>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
>> kirim email ke [email protected].
>> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>>
>>
>>
>> --
>> .
>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
>> * DILARANG:
>> 1. Email besar dari 200KB;
>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
>> 3. Email One Liner.
>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
>> mengirimkan biodata!
>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
>> mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>> ---
>> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
>> Grup.
>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
>> kirim email ke [email protected].
>> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>>
>> --
>> .
>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
>> * DILARANG:
>> 1. Email besar dari 200KB;
>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
>> 3. Email One Liner.
>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
>> mengirimkan biodata!
>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
>> mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>> ---
>> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
>> Grup.
>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
>> kirim email ke [email protected].
>> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>>
>
>  --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
> Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke