Aslm wr wb,

Salam horomaik ambo Mak Duta, maaf lupo manulih namo lah takirim email.
InsyaAllah baeko indak talupo lai. Memang jarang ambo manulih, acok anyo
mambaco sajo. Mokasih Pak Anwar, lah mambantu manarangan.

Ichsan Mochtar,
Lahia di Surabaya, 18/4/1972,
Asa suku Melayu (Muaro Pisang) dari Pasa Maninjau,
Manatap di Depok,

Wslm wr wb.


2014-03-26 8:37 GMT+07:00 Akmal Nasery Basral <[email protected]>:

> Uda Andrinof, kalau melihat tujuan utama Keppres 12/2014 seperti ambo
> copas linknyo di ateh, atau ambo ulang baliak,
>
> http://sipuu.setkab.go.id/PUUdoc/174034/KEPPRES122014.pdf
>
> disebutkan bahwa keppres ini adalah Pencabutan Surat Edaran Presidium
> Kabinet Ampera 28 Juni 1967.  Isi surat edaran itu adalah penggantian
> istilah "Tiongkok/Tionghoa" dengan "Tjina" (tentu ini ejaan lama karena
> baru tahun 1971 EYD diberlakukan sehingga "Tjina" menjadi "Cina", sebelum
> menjadi "China" beberapa tahun terakhir).
>
> Yang menarik bagi ambo di luar masalah penggantian sebutan ini, sikap
> politik SBY dibanding Gus Dur, misalnya, tidak terlalu dikenal sebagai
> "pro-Cina". Di era Gus Dur, Imlek diakui sebagai hari libur nasional dan
> kebudayaan Cina (atraksi barongsai) diperbolehkan lagi dipertunjukkan di
> ruang publik, termasuk spanduk ucapan "Gong Xi Fa Cai" yang sejak itu
> menjamur dan menjadi "spanduk tahunan" pula sampai sekarang layaknya
> spanduk "Minal Aidin Wal Faizin" atau "Selamat Natal" yang bertebaran dari
> pusat belanja sampai gerbang perumahan.
>
> Toh, dengan sikap Gus Dur yang  seperti itu, pemerintahannya tak pernah
> membatalkan Surat Edaran 1967.
>
> Jadi yang menarik didiskusikan justru:
>
> 1. Motif (atau mungkin: tekanan?) seperti apa yang dialami SBY untuk
> mengambil kebijakan mencabut surat edaran 1967 itu?
>      Dalam politik, kita tahu tak mungkin kebijakan seperti ini akan
> muncul tiba-tiba jika tak ada lobi intensif dari kelompok kepentingan
> tertentu, katakanlah,
>      lobi Cina Indonesia. Sebab dari sisi pengaruh, tak bisa dipungkiri
> kekuatan lobi keturunan Cina di Indonesia s
>
>     Barang Da Andrinof atau sanak palanta lain ada yang tahu jawaban dari
> pertanyaan ambo ko?
>
> 2. Bias peristiwa G30S/PKI dalam perubahan sebutan "Tiongkok/Tionghoa"
> (pra 1967) --> Tjina/Cina/China (1967-2014) --> Tiongkok/Tionghoa (2014-?)
>      sangat jelas hanya memuat kepentingan politik karena realitas
> historis dan budaya di Indonesia tak menunjukkan hal ini. Di banyak kota
> besar di tanah air,
>      umpamanya, bagian kota yang disebut PECINAN (pe-Cina-an) selalu ada
> sebagai mana layaknya di banyak kota metropol di belahan dunia mana pun
> selalu
>      ada bagian kota yang disebut CHINA TOWN. Bahkan bahasa mereka secara
> internasional pun disebut CHINESE, atau dengan menyebut salah satu dialek
> yang
>      paling banyak digunakan MANDARIN. Tak ada sebutan yang mengacu pada
> Tiongkok/Tionghoa.
>
> Di Prancis, masyarakat menyebut orang Cina sebagai "Chinois" (baca:
> si-no-a). Di Jerman, orang Cina dipanggil "Chinesisch".  Dua contoh ini
> ambo ambil karena ambo cukup paham (aktif) kedua bahasa itu, dan pernah di
> kedua negara, pada periode yang berbeda, bergaul pula dengan orang-orang
> Cina setempat, atau lebih tepatnya Chinese Diaspora. Dan tak pernah ada
> terasa ada keberatan dari mereka dipanggil "Cina" karena hal itu memang
> sebuah panggilan yang mengacu pada etnis tanpa preferensi politik tertentu.
>
> Balik ke Indonesia, kalau kita mundur ke tahun 1740 di mana terjadi
> pembantaian besar-besaran terhadap keturunan Cina di Batavia, toh setelah
> itu istilah "Cina" dan "Tionghoa" tetap dipakai bergantian, hidup dalam
> masyarakat, tanpa ada regulasi pemerintah (Hindia Belanda) mana yang harus
> dipakai.
>
> Di lingkup yang lebih kecil, ayah induak mintuo ambo yang berdarah Cina
> (inyiak istri ambo langsung datang dari Guangzhou), dan kakak-kakak ipar
> ambo nan mukonyo mirip Jacky Chan (tapi jadi aktivis PAN di Semarang),
> selalu tertawa kalau sudah bicara soal ini (jauh sebelum muncul Keppres
> 12/2004). "Buat saya nggak penting sekali yang dibahas masih bolak-balik
> soal sebutan yang pantas itu Cina atau Tionghoa, kayak nggak ada kerjaan
> lain. Kalau dulu ada masyarakat yang marah kepada orang Cina tertentu, itu
> bukan karena nama Cinanya, tapi karena kelakuan orang itu sendiri yang
> membuat masyarakat marah. Dan kalau sudah kembali ke karakter orang,
> bukankah ada juga orang Minang, orang Jawa, orang Sunda, yang kelakuannya
> buruk? Tapi apa pernah jadi wacana untuk mengganti nama suku-suku itu
> karena karena ada perbuatan warganya yang kurang baik?"
>
> Dilihat dari konstelasi tiga besar "ras asing" yang sudah beradaptasi
> menjadi penduduk Indonesia: Cina/Mongoloid, Timur Tengah (Arab Saudi,
> Yaman, dll), India (Keling, Pakistan yang tentara mereka banyak membantu di
> awal Indonesia merdeka), memang jadi terlihat aneh kenapa hanya (sebagian)
> Cina di Indonesia yang terus ingin mendapat privilese bahkan sampai ke soal
> sebutan, sementara keturunan Arab dan India tenang-tenang saja, meski
> mungkin kalau diadakan referendum sebutan apa yang cocok bagi mereka, boleh
> jadi ada sebutan tersendiri yang mereka inginkan dan lebih cocok.
>
> Jadi, konteks munculnya Keppres 12/2014 inilah (Pencabutan Surat Edaran
> Presidium Ampera 1967) yang menurut ambo bisa lebih bermanfaat jika kita
> diskusikan bersama: mengapa baru sekarang? mengapa saat pemilu di ujung
> mata? mengapa ketika pemerintahan SBY di akhir kuasa? Dan yang lebih
> penting dari itu semua, apa urgensi pencabutan Surat Edaran 1967 itu?
>
> Wassalam,
>
> ANB
> 45, Cibubur
>
>
>
>
>
>
>
>
> Pada 25 Maret 2014 21.49, Andrinof A Chaniago <[email protected]>menulis:
>
> Kalau Keppres itu mencakup sebutan untuk wilayah, maka Keppresnya juga
>> salah. Tapi, kembali ke soal bagaimana seharusnya kita menyebut nama orang,
>> kaum dan masyarakat, maka kita harus sebut sebagaimana orang. kaum dan
>> masyarakat itu menginginkan sebutan untuk mereka.
>> Salam
>>
>>
>> 2014-03-25 14:59 GMT+07:00 Tasrilmoeis <[email protected]>:
>>
>> Quote:
>>>
>>> perhatikan maksud dari pengaturan sebutan itu. Sasarannya adalah pada
>>> orang, manusia, masyarakat, kaum. *Bukan nama wilayah, benda dan
>>> sebegainya. Lihat esensinya*.
>>>
>>>
>>>
>>> Kepres iko jaleh2 di tujukan untuak kaum dan wilayah. Kalau kaum dari
>>> Cina ke Tionghoa, *wilayah dari Cina ke Tiongkok*, esensi apo pulo nan
>>> kurang jaleh.
>>>
>>> Kok awak jadi binguang surang jo komentar bantuak iko ko, batua juo
>>> kecek Bu Evy, kami ko abiah andia sado no.
>>>
>>>
>>>
>>> Wassalam
>>>
>>> Tan Ameh
>>>
>>>
>>>
>>> *From:* [email protected] [mailto:[email protected]] *On
>>> Behalf Of *Andrinof A Chaniago
>>> *Sent:* Tuesday, March 25, 2014 1:46 PM
>>>
>>> *To:* [email protected]
>>> *Subject:* Re: [R@ntau-Net] OOT: Cina jadi Tionghoa dan Tiongkok
>>>
>>>
>>>
>>> perhatikan maksud dari pengaturan sebutan itu. Sasarannya adalah pada
>>> orang, manusia, masyarakat, kaum. Bukan nama wilayah, benda dan sebegainya.
>>> Lihat esensinya. Lalu, kembali ke apa yang diperintahkan agama, "Sebutla
>>> nama orang itu sesuai dengan yang diinginkan oleh orang itu."
>>>
>>> Terima kasih.
>>>
>>>
>>>
>>> 2014-03-25 9:12 GMT+07:00 <[email protected]>:
>>>
>>> Mungkin ado nan punyo referensi di negara2 lain penyebutan iko. Nan
>>> nampak di event internasional namo negara ko PRC people republik of China,
>>> urang no disabuik Chinese.
>>>
>>> Perkampungan mereka di kota2 gadang dunia disabuik Chinese Town. Awak
>>> pun gadang no di tembok kampuang Cino di Bukittinggi.
>>>
>>> Dek banyak mambali barang dari nagari ko, di paking barang2 pun tatulih
>>> Made in China, dan itu mereka sendiri nan manulih.
>>>
>>>
>>>
>>> Wassalam
>>>
>>> Tan Ameh
>>>
>>>
>>>
>>> *From: *Hayatun Nismah Rumzy
>>>
>>> *Sent: *Tuesday, March 25, 2014 08:58
>>>
>>> *To: *[email protected]
>>>
>>> *Reply To: *[email protected]
>>>
>>> *Subject: *Re: [R@ntau-Net] OOT: Cina jadi Tionghoa dan Tiongkok
>>>
>>>
>>>
>>> Assalamu Alaikum W. W.
>>>
>>> Bundo tak senang kalau orang di Malaysia menyebut kita INDON. Begitu
>>> juga waktu bundo ke US menyebut Negro cucu bundo meletakkan telunjuknya ke
>>> bibirnya sambil berkata : "No grandma you should say Black American"
>>>
>>> Jadi bundo setuju panggil lah seseorang dengan panggilan yang
>>> disukainya. Janganlah kita selalu negative thinking.
>>>
>>> Mohon maaf kalau yang tak berkenan.
>>>
>>>
>>> @Hayatun Nismah Rumzy#
>>>
>>>
>>> On 25 Mar 2014, at 08.36, Andrinof A Chaniago <[email protected]>
>>> wrote:
>>>
>>> Kalau untuk sebutan orang, kaum atau golongan lain, Islam mengajarkan
>>> agar kita memanggil atau menyebut orang, kaum atau golongan itu sesuai
>>> dengan sebutan yang mereka inginkan. Itu Islam, lho.
>>>
>>>
>>>
>>> 2014-03-24 21:32 GMT+07:00 <[email protected]>:
>>>
>>>
>>>
>>> Dalam bara ari ko ado nan barubah nampak di berita2 TV atau koran di
>>> Indosia ko.
>>>
>>> Kaba2 dari nan biaso no tatulih dari nagari Cina kini lah barubah jadi
>>> dari nagari Tiongkok dan urang no kini jadi Tionghoa.
>>>
>>> Rupo no lah ado kepres baru no. 12, 2014 nan maatur perubahan ko dan
>>> membatalkan surat Edaran Kabinet Ampeta no. SR-06/Pres/Kab/6/1967 nan
>>> marubah penyebutan Tionghoa atau Tiongkok jadi Cina.
>>>
>>>
>>>
>>> Samantaro kalau bahaso Inggris tataok juo China untuak namo nagari dan
>>> Chinese untuak urang no
>>>
>>> Kalau ado nan baniaik pulo marubah iko, apo lah kiro namo no eh.
>>>
>>>
>>>
>>> Wassalam
>>>
>>> Tan Ameh (55+)
>>>
>>>
>>>
>>>
>>>
>>> --
>>> .
>>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
>>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
>>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>>> ===========================================================
>>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
>>> * DILARANG:
>>> 1. Email besar dari 200KB;
>>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
>>> 3. Email One Liner.
>>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
>>> mengirimkan biodata!
>>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
>>> mengganti subjeknya.
>>> ===========================================================
>>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan
>>> di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
>>> ---
>>> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
>>> Grup.
>>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
>>> kirim email ke [email protected].
>>> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>>>
>>> --
>>> .
>>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
>>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
>>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>>> ===========================================================
>>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
>>> * DILARANG:
>>> 1. Email besar dari 200KB;
>>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
>>> 3. Email One Liner.
>>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
>>> mengirimkan biodata!
>>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
>>> mengganti subjeknya.
>>> ===========================================================
>>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan
>>> di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
>>> ---
>>> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
>>> Grup.
>>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
>>> kirim email ke [email protected].
>>> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>>>
>>>
>>>
>>> --
>>> .
>>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
>>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
>>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>>> ===========================================================
>>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
>>> * DILARANG:
>>> 1. Email besar dari 200KB;
>>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
>>> 3. Email One Liner.
>>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
>>> mengirimkan biodata!
>>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
>>> mengganti subjeknya.
>>> ===========================================================
>>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan
>>> di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
>>> ---
>>> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
>>> Grup.
>>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
>>> kirim email ke [email protected].
>>> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>>>
>>> --
>>> .
>>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
>>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
>>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>>> ===========================================================
>>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
>>> * DILARANG:
>>> 1. Email besar dari 200KB;
>>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
>>> 3. Email One Liner.
>>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
>>> mengirimkan biodata!
>>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
>>> mengganti subjeknya.
>>> ===========================================================
>>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan
>>> di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
>>> ---
>>> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
>>> Grup.
>>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
>>> kirim email ke [email protected].
>>> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>>>
>>
>>  --
>> .
>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
>> * DILARANG:
>> 1. Email besar dari 200KB;
>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
>> 3. Email One Liner.
>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
>> mengirimkan biodata!
>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
>> mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>> ---
>> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
>> Grup.
>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
>> kirim email ke [email protected].
>> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>>
>
>  --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
> Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke