Ha ha ha.......
A pulokolah mukasuik Rang Painan maangkek baliak panyakik syirik nan
(masih) dikarajoi & dipaciyaoi sabagian "Dunsanak awak" nan mambukak rumah
makan...?

Saingek ambo, malalui RN ko  tulisan ambo  barupo "pandangan mato" sahabih
maliek Expo Sumbar di Parkir Timur Sinayan tahun 2012,
lai malaporkan pandapaik salah surang nara sumber mayangkuik kabiasaan
urang Piaman (Sungaisariak?) mamajang foto inyiak di RM Padangnyo

Kamudian, soal akidah mbo mancibo mambari panjanihan sistem poin sajo,
sarupo di bawah ko :

(--) Sebab, kakek tersebut dikenal keramat oleh mereka.
(+) *Indak Ado Benda Kiramaik di Dalam Agamo Islam*
Perbuatan syirik  telah menjadi berita hangat dan tontonan serta menyita
perhatian berbagai tokoh nasional. Amat sedikit sekali yang mengomentari
peristiwa tersebut dengan nilai-nilai aqidah.

Di tengah kemajuan teknologi dan keilmuan, ternyata dalam hal agama, kita
masih primitif. Seharusnya yang perlu menjadi perhatian pertama adalah
pendidikan umat dengan ilmu agama dan aqidah yang lurus. Agar mereka tidak
dapat dihanyutkan oleh berbagai kesyirikan yang diungkapkan dengan
istilah-istilah yang menyesatkan. Ternyata ilmu-ilmu yang bersumber dari
penelitian manusia tidak mampu mengeluarkan dari keprimitifan dalam
beragama.

Nabi kita Shallallahu ’alaihi wa sallam dari jauh-jauh hari sudah
memperingatkan bahwa umat ini akan kembali terjerumus ke dalam kesyirikan
dan kesesatan umat-umat yang lalu

« لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ
وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ
لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ ». متفق عليه

"Sesunguhnya kalian akan mengikuti kebiasaan umat-umat sebelum kalian,
sejengkal demi sejengkal, sedepa demi sedepa, sehingga seandainya mereka
masuk lubang Dhab (sejenis kadal), niscaya akan kalian ikuti". [HR. Bukhâri
dan Muslim]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda bahwa Allah Azza wa
Jalla sangat membenci orang yang melakukan kebiasaan jahiliyah:

عَن ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَ صَلَى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((أَبْغَضُ النَّاسِ إِلَى اللهِ ثَلاَثَة مُلْحِدٌ
فِي الْحَرَمِ وَمُبْتَغٍ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ
وَمُطْلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَقٍّ لِيُرِيْقَ دَمَهُ)). رواه مسلم

"Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu bahwa Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Manusia yang paling dibenci Allah
Azza wa Jallaada tiga; orang melakukan dosa di tanah haram, orang yang
mencari kebiasaan jahiliyah dalam Islam dan orang yang mengincar darah
seseorang tanpa hak untuk ia tumpahkan (membunuhnya)". [HR. Muslim]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengubur kebiasaan jahiliyah
itu di bawah telapak kakinya, sebagaimana beliau nyatakan :

((أَلاَ كُلُّ شَيْءٍ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ تَحْتَ قَدَمِيْ
مَوْضُوْعٌ)) رواه مسلم

"Ketahuilah segala sesuatu dari urusan jahiliah terkubur di bawah telapak
kakiku "[HR. Muslim]

Di antara kebiasaan jahiliyah yang dilakukan manusia di abad modern ini
adalah kepercayaan kepada benda-benda mati. Di zaman jahiliyah manusia
sering menggantungkan harapannya kepada benda-benda mati. Jika mereka
menemukan sebuah batu yang amat besar atau berbentuk menyerupai makhluk
hidup, atau memiliki warna yang agak asing atau bentuknya agak aneh, maka
mereka meyakini bahwa batu-batu itu memiliki keistimewaan. Jika ukurannya
kecil mereka membawanya pulang, jika tidak mereka mendatangi tempat batu
itu. Mereka berkeyakinan bahwa batu-batu itu dapat menangkal sihir,
menghentikan aliran darah atau memudahkan kelahiran. Ada yang digantungkan
di leher atau diikatkan di tangan dan di kaki wanita yang akan melahirkan.
Ada lagi batu yang disebut ”batu akik”, mereka yakini dapat membuat diam
seseorang yang mau marah, atau bahkan obat bagi penyakit ain (mata jahat).
Ada pula yang disebut batu zamrud, mereka yakini dapat mengobati penyakit
ayan. Padahal semua itu adalah khurafat dan khayalan belaka.Wallâhu A'lam. (
www.almanhaj.or.id)
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ ِإلاَّ أَنْتَ
وَأَسْتَغْفَرك وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

2.(--) "Ungku itu sakti, dia bisa menghilang"

  (+) Urang bisa mailang?   Akh…., baengko jo jin wanyo kali?!

Allah SWT berfirman yang artinya, ”Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya
melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.”
(Al-A’raf: 27).


Ayat ini dipahami oleh sekian banyak ulama sebagai dalil
ketidakmungkinannya manusia melihat jin. Imam Syafii menegaskan, bahwa
berdasarkan ayat di atas, manusia tidak mungkin melihat jin. “Siapa yang
mengaku dapat melihat jin, maka kami tolak kesaksiannya, kecuali nabi.”
(Maksud ucapan ini adalah yang mengaku melihat jin dalam bentuk yang
aslinya. Adapun yang mengaku melihat jin setelah berubah bentuk dengan
aneka bentuk makhluk, maka kesaksiannya dapat diterima).

Sebagian yang lain mengakui bahwa jin dapat dilihat oleh manusia jika jin
berubah dengan bentuk makhluk yang dapat dilihat oleh manusia. Pendapat ini
didukung oleh riwayat-riwayat yang menginformasikan bahwa para sahabat Nabi
saw., tabi’in, dan banyak ulama pernah melihat makhluk-makhluk halus,
tetapi dalam bentuk manusia atau binatang.

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab sahihnya bahwa sahabat-sahabat Nabi
saw. pernah melihat Malaikat Jibril ketika ia datang dalam bentuk manusia.
Umar bin Khattab menuturkan bahwa suatu ketika datang seorang yang tidak
dikenal, berpakaian sangat putih, rambut teratur rapi, tidak nampak dari
penampilannya tanda-tanda bahwa ia datang dari perjalanan jauh. Orang itu
bertanya kepada Nabi saw. tentang Islam, iman, dan ihsan. Setiap Nabi saw.
menjawab, dia membenarkannya. Dia juga bertanya tentang kiamat dan
tanda-tandanya. Umar r.a. dan juga sahabat-sahabat Nabi saw. yang
mendengarnya terheran-heran. Bagaimana seorang yang berpenampilan rapi,
berpakaian bersih, yang berarti bahwa yang bersngkutan tidak datang dari
tempat jauh atau dengan kata lain ia adalah penduduk setempat tetapi tidak
mereka kenal?

Mereka juga terheran-heran mengapa setiap pertanyaannya yang dijawab oleh
Nabi saw., selalu yang bertanya itu sendiri yang membenarkannya. Ketika
percakapan Nabi saw. dan pendatang itu selesai, Nabi saw. bertanya kepada
para sahabatnya, ”Tahukah kalian, siapa yang datang tadi?” Mereka menjawab,
“Allah dan Rasul-Nya yang tahu. Nabi saw. menjelaskan, ”Itulah Jibril
datang mengajar kalian agama kalian.” Mendengar penjelasan Nabi saw. itu,
Umar r.a. bergegas keluar hendak melihatnya, tetapi ia telah menghilang.

Nah, jika demikian, malaikat dapat dilihat, tetapi bukan dalam bentuk
aslinya. Ia dapat dilihat apabila mengambil bentuk yang memungkinkan untuk
dilihat manusia.

Demikian halnya dengan jin, ia dapat dilihat bukan dalam bentuk aslinya,
tetapi bila ia mengambil bentuk yang sesuai dengan potensi penglihatan
manusia. Riwayat-riwayat tentang hal ini sangat banyak. Bahkan, tidak hanya
ulama, orang-orang biasa yang tidak ahli agama pun banyak yang mengalami
melihat jin dalam bentuk makhluk (manusia atau lainnya). Dan, di antara
mereka ada yang sengaja dengan sunguh-sungguh ingin melihat jin, mereka
mengamalkan amalan dari orang-orang yang dianggap ahli dalam hal itu, dan
mereka ada yang berhasil mendapatinya bahwa jin dapat dilihat dalam bentuk
makhluk.

Selain itu, ada beberapa hadis Nabi saw. yang menginformasikan bahwa ada
binatang yang dapat melihat jin. Dalam sahih Bukhari dan Muslim, sahabat
Nabi Abu Hurairah menyampaikan bahwa Nabi saw. bersabda, ”Kalau kalian
mendengar suara ayam jantan berkokok, maka mohonlah kepada Allah
anugerah-Nya, karena ketika itu dia melihat malaikat, dan jika kalian
mendengar teriakan keledai, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari
godaan setan, karena ketika itu dia melihat setan.”

Jadi, *kalau ado kisah radio lutuik nan mangatokan urang* (nan pasti
fisiknyo sarupo jo awak, makan nasi, badarah badagiang, dan ado tulang)
BUKAN JIN atau SETAN  *nan bisa mailang* *mako barito dari muluik ka muluik
tu hanyo isapan jempol sajo*. Baso awaknyo : dongeang palamakan lalok anak
cucu nan masih balita. Kalau awak nan indak balita masih juo picayo ka
kisah-kisah nan sangajo digadang-gadangkan dek Urang PKI zaman saisuak  tu
(Hallo Mak Datuak Rajo Jambi? He he ……..m.m) iyo indak baa doh mangajilah
awak baliak. Di ma paralu ulanglah baliak mambaco SYAHADAT.
Maaf...., maaf dan maaf..... kalau untuak manyangkuik pandangakalan akidah
ko Si m.m agak kareh mananggapinyo (iko bukan karano ambo urang
Muhammadiyah, lho. He he he...).

Salam............................,
*mm****
Lk-2; 59; Bks

---------- Pesan terusan ----------
Dari: Sri Yansen Tanjung <[email protected]>
Tanggal: 6 Mei 2014 14.48
Subjek: [R@ntau-Net] Cerita di balik foto kakek-kakek tua di rumah makan
Padang
Kepada: [email protected]


Dunsanak sadonyo,,,

iko nyato atau carito muluik ka muluik sajo? dan di dalam kehidupan ABS SBK
ba'a pulo hukumnyo picayo bisa manjadi "jimat pelaris dagangan" dek ma
masang poto angku ko?

mohon pencerahannyo....

http://www.merdeka.com/peristiwa/cerita-di-balik-foto-kakek-kakek-tua-di-rumah-makan-padang.html


*Merdeka.com - *Saat berkunjung ke rumah makan padang, kedai, atau tempat
yang pemiliknya orang Minang acap kali kita menemukan foto seorang kakek
berkopiah hitam terpajang di dinding rumah makan tersebut? Barangkali anda
berpikir bahwa si kakek ini memiliki anak atau cucu segudang yang memiliki
usaha di semua profesinya.

Atau mulut mulai terasa gatal untuk bertanya pada pemilik rumah makan atau
kedai yang dikunjungi, 'Hei Uda, siapa kakek itu?' atau 'Uda, apakah
bersaudara dengan rumah makan ini atau rumah makan itu, sebab di sana ada
foto kakek itu juga'

Selanjutnya jika mulai membuka pertanyaan itu, maka si pemilik rumah makan
akan bercerita panjang mengenai si kakek tersebut. Selesai mengetahui
cerita siapa kakek tersebut, kesimpulan berikutnya adalah siapapun yang
memajang foto kakek tersebut, mereka adalah orang Pariaman, Sumatera Barat.

Penasaran dengan siapa kakek yang ada di dalam foto tersebut? kenapa dia
begitu dihormati oleh banyak perantau yang berasal dari Pariaman. Mari kita
mulai bercerita.

Kakek yang fotonya sering terpajang di beberapa rumah makan padang atau
kedai yang pemiliknya berasal dari Pariaman itu seringnya tidak memiliki
hubungannya dengan si pemilik rumah. Mereka bukan keturunan dari kakek
tersebut, mereka hanya pengagum atau orang-orang yang mengikuti ajaran yang
dianut kakek tersebut. Orang-orang percaya, bahwa memajang foto kakek itu
akan membawa keberuntungan, rizki dalam usaha mereka. Sebab, kakek tersebut
dikenal keramat oleh mereka.

Nama si kakek itu adalah Syech Kiramatulla Ungku Saliah, namun lebih
dikenal dengan sebutan Angku Saliah atau Ungku Saliah. Ungku Saliah
merupakan ulama yang berasal dari Kabupaten Padang Pariaman khususnya
Kecamatan VII Koto Sei Sarik.

Menurut berbagai sumber yang dihimpun, Ungku Saliah lahir sekitaran tahun
1887 dan merupakan penganut Mazhab Syafi'i. Nama Saliah sendiri merupakan
sebuah gelar yang beliau dapati saat mempelajari ilmu tarekat dari gurunya
karena beliau merupakan anak yang rajin belajar dan beribadah. Beliau
memiliki murid dan pengikut yang sangat banyak.

Semasa hidupnya, dari cerita orang-orang tua dulu dan pengikutnya, Ungku
memiliki keistimewaan khusus layaknya wali Allah. Bila ada yang minta obat
kepada Ungku Saliah terkadang beliau hanya mengambil sembarangan apa yang
tampak di depan matanya. Seperti misalnya daun, rumput, batu atau yang
lainnya. Ajaibnya benda-benda yang diambilnya mujarab jadi alat penyembuh.

Cerita lain yang beredar adalah soal kehebatan Angku dalam memecah raga.
Ungku disebut-sebut bisa menghadiri acara beberapa tempat yang berbeda di
waktu yang bersamaan. Dan cerita yang paling dikenang oleh orang-orang tua
adalah beliau pernah melempar batu kerikil saat air bah datang di sebuah
kampung, air bah tersebut berbelok arah dan tidak jadi mengenai kampung.

Ungku Saliah wafat 3 Agustus 1974 di Sungai Sariak, Pariaman. Makamnya
dibuat gobah yang sampai sekarang tetap dikunjungi oleh para penziarah.

Para pengagum dan orang-orang yang mengetahui cerita serta seluk beluk
beliau pun ikut mengkramatkan foto beliau. Fotonya pun sering dijadikan
'jimat pelaris' dagangan.

"Ungku tuh sakti. Inyo bisa mahilang. (Ungku itu sakti, dia bisa
menghilang)" cerita Doni (32) pemilik rumah makan Padang di Pesakih,
Kalideres, Selasa (6/5) saat diminta keterangan mengenai foto Ungku Saliah
yang terpajang di dinding Kedai Nasinya.

Doni merupakan salah satu pengagum dan penganut ajaran dari Ungku Saliah
dan berasal dari Pariaman. Alasannya memajang foto Ungku saliah adalah
identitas sebagai perantau orang Pariaman dan pengangum dari Ungku itu
sendiri.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke