Assalamu'alaikum,
Sederhana saja pak, Gereja BUKAN Masjid, Gereja TIDAK PERNAH SAMA dengan 
masjid. Yang menyamakannya hanya satu, sama2 disebut rumah ibadah.

Bisa dibayangkan jika di satu masjid pengurus punya kecenderungan untuk satu 
partai/capres sebut saja partai A dengan capres Fulan1 maka isi kutbah, kultum 
tentu tidak jauh dari jualan itu. Di masjid warga lain, pengurus hingga imam 
masjid sudah "dipengaruhi" juga oleh partai B dengan Capresnya Fulan2. Tidak 
semua warga disekitar masjid itu punya pendapat dan pemahaman yang sama dengan 
pengurus dan imam masjid di dekat rumahnya, bisa bapak bayangkan kan bagaimana 
kondisinya, bisa-bisa warga di sekitar masjid yg dukung partai A krn dia punya 
orientasi politik B, akan lebih nyaman berjamaan dan mengaji di masjid yg 
seidiologi dengannya.

Fungsi masji memang bukan sekedar tempat ibadah tapi juga untuk pembinaan ummat 
dalam hal ini meliputi akhlak, sosial dan politik. Tapi politik di sini 
bukanlah politik MURAHAN. Yang saya maksud politik MURAHAN adalah politik yg 
menjual partai atau orang tertentu, tapi politik dlm bentuk pemahaman kepada 
jama'ah politik yang sesuai syar'i, politik dlm bentuk kisah2 para nabi/Rasul 
hingga era kekhalifahan. Jika ini yang diberikan maka selanjutnya merupakan hak 
tiap2 muslim memutuskan apakah memilih atau mungkin saja tidak memilih.

Politisasi masjid ini pernah membuat persinggungan ormas Muhammadiyah dengan 
partai tertentu, kasus ini bukan isapan jempol, kasus ini dimuat juga di 
majalah bulanan Muhammadiyah, hingga akhirnya PP Muhammadiyah mengeluarkan 
semacam surat edaran hingga ke ranting untuk kembali melakukan inventarisasi 
amal usaha  muhammadiyah mana saja yang sudah / akan beralih fungsi sebagai 
media kampanye partai tersebut. Ini tidak hanya terjadi pada amal usaha 
Muhammadiyah saja, tapi jg terjadi pada ormas terbesar NU. Tapi ada hikmah 
dibalik kasus ini, yaitu Muhammadiyah mulai melakukan penguatan kembali 
idiologi kemuhammadiyahannya pada setiap kader.

Di masjid dekat rumah saya, dinding masjid yang seharusnya berisi asma ulhusna 
atau hiasan2 kaligrafi ayat qur'an, malah terselip gambar sebuah partai, hingga 
akhirnya gambar itu dilepas krena mendapat teguran dari seorang penceramah yg 
mengatakan, bhw apakah masjid ini memang hanya kontribusi partai tertenu atau 
ada juga kontribusi jamaah yang lain?

Jadi ingat apa kata buya Syafi'i Ma'rif tentang politik dan dakwah.
Politik itu bersifat memecah, sementara Dakwah bersifat menyatukan.
Fungsi utama masjid adalah sebagai sarana DAKWAH bagi para DA'I, bukan sarana 
kampanye bagi Caleg atau capres, apalagi jika mengarah pada penyampaian isyu 
negatif kepada lawan politik dimana isyu itupun belum tentu benar.


Wassalam,
Harman St Idris, 42


On Wednesday, May 7, 2014 7:08 AM, Maturidi Donsan <[email protected]> wrote:
 
Nak Fitrianto, baliau-baliau tu memang belabel islam tapi masiang-masiang kapal 
nan baliau kamudikan, atau na baru masih jadi penumpang, kompasnyo indak islam, 
samo tahulah awak kama painyo beko.

Tapi awak sangek basadiah, kapa-kapa nan tadinyo awak tumpangi, lah naik awak 
kateh, kiniko awak  awak alah dibao maikuik armada urang.

Tapi io sudahlah tak dapek goreang ayam,  sambalado di makan.

Tapi nan ambo tuju samulo : Apoko Musajik indak bisa dipakai saketek untuak 
manyuluah jamaah tarutamo wakatu jumat agar mamiliah urang nan islamnyo agak 
memadai. 


Ambo ingin tanggapan dari para ustad dan cendekia nan ado di lapauko.

Musajik dikunjungi urang ramai tanpa disuruah tiok jumat. Pesan ke jamaah di 
musajik sampai kakaluarga, sampai ka pamiliah pemula, tapi iko nan indak 
dimanfaatkan di awak. Tiok jumat labiah efektif. Kalau di wirid-wirid urangnyo 
bapiliah.


Gareja sangek aktif manyuluah jamaahnyo, baa diawak kok...

Kalau musajik indak lo aktif, io miskin bana sarana umat islam untuk Pamilu.

Pamilu baik pileg maupun pilpres ,  menentukan nasib umat islam kedepan

Kenyamanan beribadah di Mesjid pun nanti  ditentuka dari Sanayan dan Merdeka 
Utara tu.

Kalau baitu apo indak paralu musajik basuaro ikuik manantukan nan kaduduak di 
Sanayan jo Merdeka Utara tu.

Pengalaman maso orde baru. Bahan  nan kadi baokan Ustad-ustad nan bakhutbah 
/bacaramah di musajik ditantukan dari  Sanayan dan Merdeka Utara tu.

Nak  Fitrianto masih banyak waktu untuk meneliti kedepan, mudah-mudahan 
menemukan yang terbaik.

Wass,

Maturidi (L/75) Talang, Solok, Kutianyia, Duri Riau

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke