oleh Salim A. Fillah dalam Rajutan Makna
<http://salimafillah.com/category/rajutanmakna/>. 05/07/2014

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi sungguh orang yang jauh lebih mulia daripada kita semua, Abu Bakr Ash
Shiddiq, pernah mengatakan, “Saya telah dipilih untuk memimpin kalian,
padahal saya bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Kalau saya
berlaku baik, bantulah saya. Dan kalau anda sekalian melihat saya salah,
maka luruskanlah.”

Maka yang kami harapkan pertama kali dari Anda, Pak Prabowo, adalah sebuah
kesadaran bahwa Anda bukan pahlawan tunggal dalam masa depan negeri ini.
Barangkali memang pendukung Anda ada yang menganggap Andalah orang terbaik.
Tetapi sebagian yang lain hanya menganggap Anda adalah sosok yang sedang
tepat untuk saat ini. Sebagian yang lainnya lagi menganggap Anda adalah
“yang lebih ringan di antara dua madharat”.

Tentu saja, mereka yang tidak memiliih Anda menganggap Anda bukan yang
terbaik, tidak tepat, dan juga berbahaya.

Dan jika Anda, Pak Prabowo, nantinya terpilih menjadi Presiden, maka mereka
semua akan menjadi rakyat yang dibebankan kepada pundak Anda
tanggungjawabnya di hadapan Allah. Maka kami berbahagia ketika Anda
berulang kali berkata di berbagai kesempatan, “Jangan mau dipecah belah.
Jangan mau saling membenci. Kalau orang lain menghina kita, kita serahkan
pada Allah *Subhanahu wa Ta’ala*, Tuhan Maha Besar.”

Dan Anda juga harus menyadari bahwa barangsiapa merasa jumawa dengan
kekuasaan, maka beban kepemimpinan itu akan Allah pikulkan sepelik-peliknya
di dunia, dan tanggungjawabnya akan Dia jadikan penyesalan serta siksa di
akhirat. Adapun pemimpin yang takut kepada Allah, maka Dia jadikan manusia
taat kepadanya, dan Dia menolong pemimpin itu dalam mengemban amanahnya.

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi sungguh orang yang jauh lebih perkasa daripada kita semua, ‘Umar ibn
Al Khaththab, pernah mengatakan, “Seandainya tidaklah didorong oleh harapan
bahwa saya akan menjadi orang yang terbaik di antara kalian dalam memimpin
kalian, orang yang terkuat bagi kalian dalam melayani keperluan-keperluan
kalian, dan orang yang paling teguh mengurusi urusan-urusan kalian,
tidaklah saya sudi menerima jabatan ini. Sungguh berat bagi Umar, menunggu
datangnya saat perhitungan.”

Maka yang kami harapkan berikutnya dari Anda, Pak Prabowo, adalah sebuah
cita-cita yang menyala untuk menjadi pelayan bagi rakyat Indonesia.  Sebuah
tekad besar, yang memang selama ini sudah kami lihat dari kata-kata Anda.
Dan sungguh, kami berharap, ia diikuti kegentaran dalam hati, seperti
‘Umar, tentang beratnya tanggungjawab kelak ketika seperempat milyar
manusia Indonesia ini berdiri di hadapan pengadilan Allah untuk menjadi
penggugat dan Anda adalah terdakwa tunggal bila tidak amanah, sedangkan
entah ada atau tidak yang sudi jadi pembela.

Pak Prabowo, jangankan yang tak mendukung Anda, di antara pemilih Andapun
ada yang masih meragukan Anda karena catatan masa lalu. Saya hendak
membesarkan hati Anda, bahwa ‘Umar pun pernah diragukan oleh para tokoh
sahabat ketika dinominasikan oleh Abu Bakr sebab dia dianggap keras, kasar,
dan menakutkan. Tapi Anda bukan ‘Umar. Usaha Anda untuk meyakinkan kami
bahwa kelak ketika terpilih akan berlaku penuh kasih kepada yang Anda
pimpin harus lebih keras daripada ‘Umar.

Pak Prabowo, kami memilih Anda karena kami tahu, seseorang tak selalu bisa
dinilai dari rekam jejaknya. ‘Umar yang dahulu ingin membunuh Nabi, kini
berbaring mesra di sampingnya. Khalid yang dahulu panglima kebatilan,
belakangan dijuluki ‘Pedang Allah’. Tapi Anda bukan ‘Umar. Tapi Anda bukan
Khalid. Usaha Anda untuk berubah terus menjadi insan yang lebih baik
daripada masa lalu Anda akan terus kami tuntut dan nantikan. Ya, maaf dan
dukungan justru dari orang-orang yang diisukan pernah Anda ‘culik’ menjadi
modal awal kepercayaan kami kepada Anda.

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi orang yang jauh lebih dermawan daripada kita semua, ‘Utsman ibn
‘Affan, pernah mengatakan, “Ketahuilah bahwa kalian berhak menuntut aku
mengenai tiga hal, selain kitab Allah dan Sunnah Nabi; yaitu agar aku
mengikuti apa yang telah dilakukan oleh para pemimpin sebelumku dalam
hal-hal yang telah kalian sepakati sebagai kebaikan, membuat kebiasaan baru
yang lebih baik lagi layak bagi ahli kebajikan, dan mencegah diriku
bertindak atas kalian, kecuali dalam hal-hal yang kalian sendiri
menyebabkannya.”

Ummat Islam amat besar pengorbanannya dalam perjuangan kemerdekaan negeri
ini. Pun demikian, sejarah juga menyaksikan mereka banyak mengalah dalam
soal-soal asasi kenegaraan Indonesia. Cita-cita untuk mengamalkan agama
dalam hidup berbangsa rasanya masih jauh dari terwujud.

Tetapi para bapak bangsa, telah menitipkan amanah *Maqashid Asy
Syari’ah* (tujuan
diturunkannya syari’at) yang paling pokok untuk menjadi dasar negara ini.
Lima hal itu; pertama adalah *Hifzhud Diin*(Menjaga Agama) yang
disederhanakan dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Kedua*Hifzhun Nafs* (Menjaga
Jiwa) yang diejawantahkan dalam sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.
Ketiga *Hifzhun Nasl*(Menjaga Kelangsungan) yang diringkas dalam sila
Persatuan Indonesia. Keempat *Hifzhul ‘Aql*(Menjaga Akal) yang diwujudkan
dalam sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan Perwakilan. Dan kelima, *Hifzhul Maal* (Menjaga Kekayaan)
yang diterjemahkan dalam sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Pak Prabowo, kami memilih Anda sebab kami berharap Anda akan melaksanakan
setidak-tidaknya kelima hal tersebut; menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga
kelangsungan, menjaga akal, dan menjaga kekayaan; dengan segala
perwujudannya dalam kemaslahatan bagi rakyat Indonesia. Kami memilih Anda
ketika di seberang sana, ada wacana semisal menghapus kolom agama di KTP,
melarang perda syari’ah, mengesahkan perkawinan sejenis, mencabut tata izin
pendirian rumah ibadah, pengalaman masa lalu penjualan asset-aset bangsa,
lisan-lisan yang belepotan pelecehan kepada agama Allah, hingga
purna-prajurit yang tangannya berlumuran darah ummat.

Pak Prabowo, seperti ‘Utsman, jadilah pemimpin pelaksana ungkapan yang amat
dikenal di kalangan Nahdlatul ‘Ulama, “*Al Muhafazhatu ‘Alal Qadimish
Shalih, wal Akhdzu bil Jadidil Ashlah*.. Memelihara nilai-nilai lama yang
baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik.”

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi orang yang lebih zuhud daripada kita semua, ‘Ali ibn Abi Thalib,
pernah mengatakan, “Barangsiapa mengangkat dirinya sebagai pemimpin,
hendaknya dia mulai mengajari dirinya sendiri sebelum mengajari orang lain.
Dan hendaknya ia mendidik dirinya sendiri dengan cara memperbaiki tingkah
lakunya sebelum mendidik orang lain dengan ucapan lisannya. Orang yang
menjadi pendidik bagi dirinya sendiri lebih patut dihormati ketimbang yang
mengajari orang lain.”

Pak Prabowo, hal yang paling hilang dari bangsa ini selama beberapa
dasawarsa yang kita lalui adalah keteladanan para pemimpin. Kami semua
rindu pada perilaku-perilaku luhur terpuji yang mengiringi tingginya
kedudukan. Kami tahu setiap manusia punya keterbatasan, pun juga Anda Pak.
Tapi percayalah, satu tindakan adil seorang pemimpin bisa memberi rasa aman
pada berjuta hati, satu ucapan jujur seorang pemimpin bisa memberi
ketenangan pada berjuta jiwa, satu gaya hidup sederhana seorang pemimpin
bisa menggerakkan berjuta manusia.

Pak Prabowo, kami memilih Anda sebab kami tahu, kendali sebuah bangsa
takkan dapat dihela oleh satu sosok saja. Maka kami menyeksamai sesiapa
yang ada bersama Anda. Lihatlah betapa banyak ‘Ulama yang tegak mendukung
dan tunduk mendoakan Anda. Balaslah dengan penghormatan pada ilmu dan
nasehat mereka. Lihatlah betapa banyak kaum cendikia yang berdiri memilih
Anda, tanpa bayaran teguh membela. Lihatlah kaum muda, bahkan para
mahasiswa.

Didiklah diri Anda, belajarlah dari mereka; hingga Anda kelak menjelma apa
yang disampaikan Nabi, “Sebaik-baik pemimpin adalah yang kalian
mencintainya dan dia mencintai kalian. Yang kalian doakan dan dia mendoakan
kalian.”

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi orang yang lebih adil daripada kita semua, ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz,
pernah mengatakan, “Saudara-saudara, barangsiapa menyertai kami maka
silahkan menyertai kami dengan lima syarat, jika tidak maka silahkan
meninggalkan kami; yakni, menyampaikan kepada kami keperluan orang-orang
yang tidak dapat menyampaikannya, membantu kami atas kebaikan dengan
upayanya, menunjuki kami dari kebaikan kepada apa yang kami tidak dapat
menuju kepadanya, dan jangan menggunjingkan rakyat di hadapan kami, serta
jangan membuat-buat hal yang tidak berguna.”

Sungguh karena pidato pertamanya ini para penyair pemuja dan pejabat
penjilat menghilang dari sisi ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, lalu tinggallah
bersamanya para ‘ulama, cendikia, dan para zuhud. Bersama merekalah ‘Umar
ibn ‘Abdil ‘Aziz mewujudkan pemerintahan yang keadilannya dirasakan di
segala penjuru, sampai serigalapun enggal memangsa domba. Pak Prabowo,
sekali lagi, kami memilih Anda bukan semata karena diri pribadi Anda. Maka
pilihlah untuk membantu urusan Anda nanti, orang-orang yang akan
meringankan hisab Anda di akhirat.

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi kalaupun Anda tidak terpilih, kami yakin, pengabdian tak memerlukan
jabatan. Tetaplah bekerja untuk Indonesia dengan segala yang Anda bisa,
sejauh yang Anda mampu.

Sungguh Anda terpilih ataupun tidak, kami sama was-wasnya. Bahkan mungkin,
rasa-rasanya, lebih was-was jika Anda terpilih. Kami tidak tahu hal yang
gaib. Kami tidak tahu yang disembunyikan oleh hati. Kami tidak tahu masa
depan. Kami hanya memilih Anda berdasarkan pandangan lahiriyah yang sering
tertipu, disertai istikharah kami yang sepertinya kurang bermutu.

Mungkin jika Anda terpilih nanti, urusan kami tak selesai sampai di situ.
Bahkan kami juga akan makin sibuk. Sibuk mendoakan Anda. Sibuk mengingatkan
Anda tentang janji Anda. Sibuk memberi masukan demi kemaslahatan. Sibuk
meluruskan Anda jika bengkok. Sibuk menuntut Anda jika berkelit.

Inilah kami. Kami memilih Anda Pak Prabowo, tapi..

Tapi sebagai penutup tulisan ini, mari mengenang ketika Khalifah ‘Umar ibn
‘Abdil ‘Aziz meminta nasehat kepada Imam Hasan Al Bashri terkait amanah
yang baru diembannya. Maka Sang Imam menulis sebuah surat ringkas. Pesan
yang disampaikannya, ingin juga kami sampaikan pada Anda, Pak Prabowo.
Bunyi nasehat itu adalah, “Amma bakdu. Durhakailah hawa nafsumu! Wassalam.”

doa kami,

hamba Allah yang tertawan dosanya, warga negara Republik Indonesia

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke