Paradoks di Solsel | Edisi Jumat (21/8) dan hari ini, koran yang Anda baca ini memuat perihal kegiatan penambangan emas secara ilegal di kawasan Sungai Kandis, Kecamatan Sangir, Kabupaten Solok Selatan yang terjaring razia. Penambangan emas ilegal itu kembali ‘digelitik’ oleh razia yang dilaksanakan jajaran Polres Solok Selatan di bawah kepemimpinan AKBP Nanang Putu Wardianto.
Dalam razia tersebut berhasil ditemukan 6 unit ekskavator yang digunakan oleh penambang untuk melakukan penggalian pasir dan tanah yang mengandung bijih-bijih emas di sepanjang aliran Sungai Kandis. Tapi hanya satu unit ekskavator yang dibawa dan diamankan oleh jajaran Polres Solsel. Sedangkan penambang yang berhasil ditemukan sebanyak 7 orang, sedangkan yang lainnya kabur ke dalam hutan. Tujuh yang berhasil ditemukan adalah warga negara Tiongkok alias Cina. Namun hanya tiga orang yang dibawa ke Polres Solsel. Ketiganya tidak tercatat sebagai tenaga kerja asing yang bekerja di Solsel. Aktifitas penambangan emas secara ilegal di Solsel sudah cerita lama dan usang yang ternyata masih terus berlangsung setiap hari. Sekali-sekali terjadi letupan, berupa terkuaknya kegiatan penambangan ilegal itu oleh penegak hukum. Namun habis itu hilang kembali hilang senyap, bak ditelan bumi. Padahal tetap saja kegiatan ilegal yang mencabik-cabik bumi negeri berlantai emas itu terus terjadi setiap hari. Saking kayanya Solsel, warga negara asing dari Cina saja datang ke negeri tersebut untuk menambang kandungan emas. Kabarnya tidak saja dari Cina tapi juga dari negara lain, seperti dari Korea. Segelintir orang hidup kaya raya di Solsel, karena hasil penambangan emas secara ilegal. Namun sebagian lainnya hidup susah, bahkan sangat susah. Namun tampaknya perdebatan tentang aktifitas penambangan ilegal emas di Solsel tidak akan pernah berkesudahan. Kuncinya bila pemangku kebijakan ikut ‘bermain’ maka persoalan ini tak pernah selesai. Ada paradoks di Solsel. Segelintir orang hidup senang, bahkan kaya raya. Namun di sisi ada kondisi yang membuat kita sangat prihatin. Sebagaimana yang dimuat oleh Harian Haluan, pada Rabu (20/8) tentang kegiatan proses belajar mengajar (PBM) siswa Madrasah Tsanawiyah Swasta (MTsS) Nurul Ulya di Pekonina, Nagari Alam Pauh Duo, Kecamatan Pauh Duo, Kabupaten Solok Selatan. Mereka melangsungkan PBM di bawah atap seng yang berjarak setengah meter dari kepala. Hanya satu sisi lokal saja yang tertutup dengan terpal. Sedangkan sisi lainnya terbuka begitu saja. Sedangkan tiang lokal mereka sebagian terbuat dari pohon pinang dan bambu. Lantainya tanah dan jika hujan sangat becek. Namun demikian mereka tetap semangat belajar. MTsS Nurul Ulya berdiri sejak 2005. Namun, sampai sekarang, sekolah itu hanya memiliki tiga ruang kelas semi permanen. Tiga ruang kelas itu tidak cukup untuk menampung siswa yang jumlahnya hampir 200 orang. Oleh karena itu, pihak sekolah membangun 4 pondok untuk menampung siswa. Mereka tak punya pilihan, selain bersekolah di MTsS tersebut, karena memang hingga kini pemerintah daerah tidak membangun sekolah yang terdekat dari kampung mereka. Kalau ingin sekolah yang lain, jaraknya belasan kilometer. Sangat sederhana. Kondisi MTsS yang begitu sederhana semestinya melahirkan kepedulian antara sesama. ** Harian Haluan | Sabtu, 23 Agustus 2014 -- *Wassalam* *Nofend St. Mudo37th/Cikarang | Asa: Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok SelatanTweet: @nofend <http://twitter.com/#!/@nofend> | YM: rankmarola * -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
