Asyik juga baca tulisan dibawah...

http://ferizalramli.wordpress.com/2014/09/06/pulang-ke-tanah-air-sebagai-sebuah-kontemplasi/

Pulang ke Tanah Air sebagai sebuah kontemplasi…
6 Sep

Ini adalah kebiasaan orang Indonesia yang hidup diluar negeri (mengambil
kasus temen-temen saya di Jerman), menurut saya:

Tahun ke 1 s.d. 5, inginnya pulang. Homesick! Kangen dengan tanah air,
negeri indah rayuan pulau kelapa khatulistiwa. Semua tentang Indonesia
begitu amat ngangeni. Geding-gending Jawanya, tata bahasa halusnya yang
penuh ramah tamah, masakan Padangnya, Panorama Pantai dan Gunung-Gunung Api
yang begitu eksotis. Ada penjual bakso di malam hari, mie teg-teg, pecel
lele, siomay, burjo, nasi kucing, dll, dll. Bisa berdebat dengan temen2
sampai subuh dengan begadang sambil ngakak-ngakak bersama. Ini benar-benar
kaya spirit hidup yang indah.

Tahun ke 5 s.d. 10, sudah mulai amat merasakan begitu nikmatnya sistem
ekonomi sosialis Jerman. Sistem sosial yang begitu luar biasa hebat secara
merata. Sistem asuransi kesehatan begitu amat sempurna yang nyaris semua
penyakit dijamin asuransi. Sistem pendidikan yang bagus dan gratis.
Kriminal yang amat rendah. Transportasi publik yang nyaris sempurna, dll.
Semua ini begitu terasa nikmatnya.

Tahun ke 10 dst… wah saat menjenguk ke tanah air sebentar saja malah stress
berat. Ampun dengan macetnya dimana2 orang melanggar lalu lintas seenaknya.
Panas gersang karena pohon-pohon besar hutan kota berubah jadi onggokan
pusat shopping tidak bernilai budaya. Kriminal di ruang publik adalah
biasa. Korupsi begitu terasa di seluruh lini kehidupan. Sekolah2 yang
berantakan kurikulumnya. Sistem kesehatan dan rumah sakit yang seenaknya
aja pada pasien. Begitu banyak orang yang main serobot antrian. Orang-orang
begitu amat mata duitan dan gilanya lagi malah lebih materialistik dan
individualis dari pada orang-orang Jerman sekalipun dalam urusan uang.

Yang paling membuat amat takjub adalah begitu hebatnya para koruptor itu
bisa amat fasih memberi nasehat tentang kebajikan tanpa merasa bersalah di
ruang publik. Mereka pun bisa cengar-cengir tebar pesona saat ketangkap
korupsi seakan ingin pamer mewartakan ke publik bahwa korupsi itu perbuatan
lumrah karena semua orang melakukannya, jadi kenapa mesti malu ketangkap
korupsi? Tampaknya batasaan nilai benar salah itu nyaris tidak ada, kecuali
di pencitraan saja orang bicara tentang nilai2 kebenaran.

Parah sekali 50 tahun lalu saat Budayawan Mochtar Lubis pernah mengatakan
12 sifat buruk manusia Indonesia ternyata itu masih belum berubah menjadi
lebih baik hingga hari ini. Padahal saat itu kala saya mahasiswa 20 tahun
lalu, saya amat “marah” tersinggung dengan tulisan budayawan Mochtar Lubis
itu. Sekarang saya mulai mengangguk-angguk mengakui kebenarannya. Inilah
perkataan Budayawan Mochtar Lubis yang dulu membuat saya amat marah tentang
manusia Indonesia:
1. Hipokrit alias Munafik
2. Segan dan Enggan Bertanggung Jawab
3. Berjiwa Feodal
4. Masih Percaya Takhyul:
5. Artistik (ini penilai posistif dari Mochtar Lubis)
6. Watak yang Lemah:
7. Tidak Hemat, Dia Bukan “Economic Animal”
8. Lebih suka tidak bekerja keras, kecuali kalau terpaksa
9. Tukang Menggerutu di belakang
10. Sok
11. Cepat Cemburu dan Dengki
12. Tukang Tiru dan Plagiat
Klo sudah seperti ini siapa yang mau pulang ke tanah air? Tapi justru
karena semua itu maka Indonesia itu SURGA DAKWAH yang amat menggiurkan
untuk ditelateni. Jadi memang pulang ke tanah air sejatinya itu adalah
sebuah “sunah muakkad” untuk tegakkan Amar Maruf Nahi Mungkar. Hanya untuk
berhasil, ini semua butuh persiapan matang untuk menyesuaikan kehidupan
yang sudah menjadi asing dalam tata nilai hidup kita selama di belasan
tahun tidak di tanah air. Ndak usah minder dan kecil hati buat yang ingin
pulang jika anda ragu dengan keputusan anda. Anda perlu siapkan semuanya
secara matang. Mari kita kontemplasi sebentar, lihat lah:

Seorang hebat seperti Mohammad Hatta saja butuh 13 tahun sehingga dia
putuskan balik pulang ke tanah air.

Seorang hebat seperti BJ Habbibie saja butuh 17 tahun sehingga dia putuskan
balik ke tanah air.

Apalagi dengan orang-orang biasa saja dibandingkan kedua tokoh diatas? Jika
anda ingin pulang maka siapkan secara matang sehingga tidak “hard landing”
dan bisa berguna saat berkarya di tanah air. Jadi, akhirnya kembali pada
pertanyaan penting: “Bagaimana dengan anda semua yang sudah belasan tahun
di luar negeri, akankah anda pulang?” :)

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke