Assalamualaikum,
 
ambo batamu link iko...  mungkin ado nan bisa mangoreksi kalau ado nan 
salah... minta maaf kalau berita di link ko indak batua...
 
wassalam
yansen
 
http://www.nahimunkar.com/propagandis-syiah-bermunculan-dukung-bashar-al-assad/
 
  

Dalam kasus Suriah, propagandis Syi’ah di Indonesia jelas memposisikan diri 
mendukung Bashar al-Assad. Para pejuang Muslim, para mujahid di Suriah yang 
melawan rezim syi’ah Bashar al-Assad, mereka sebut sebagai pemberontak. 
Penggunaan istilah yang sama dengan yang dilakukan AS dan sekutunya ketika 
menilai pejuang Palestina.

Para propagandis syi’ah tersebut, antara lain Jose Rizal Jurnalis 
(Jakarta), Ustadz Mudzakir (Solo), dan Dina Y. Sulaeman.

Jose Rizal Jurnalis adalah presidium Mer-C yang juga narasumber Radio 
Syi’ah RASIL AM720. Menurut Jose, di bawah kepemimpinan *Bashar al-Assad* 
<http://www.islamtimes.org/vdcb9gb58rhbs5p.qnur.html> Suriah termasuk 
donatur dan pemasok utama dana dan persenjataan bagi Hamas, Jihad Islam, 
Hizbullah, dan berbagai faksi perlawanan terhadap Israel di Palestina.

Menurut Jose, upaya menggulingkan Bashar al-Assad bukan karena ia rezim 
syi’ah yang membantai Muslim, bukan karena Bashar al-Assad anti demokrasi, 
tetapi karena Israel menginginkan Bashar turun dengan memperalat Amerika 
Serikat melalui kebijakan luar negerinya. Agar lebih hot, menurut Jose, 
upaya penggulingan itu dikaitkan dengan isu Sunni-Syi’ah.

Pendapat batil Jose seperti bersahutan dan saling dukung dengan pendapat 
batil ustadz Mudzakir, yang pada sebuah kesempatan mengatakan bahwa 
*pemberontak 
di Suriah* 
<http://www.arrahmah.com/news/2013/05/31/ceramah-mudzakir-soal-suriah-dan-rohingya-digugat-ahlus-sunnah.html>
 
dibiayai Amerika Serikat.

Berkenaan dengan Al-Buthi, ustadz Mudazkir mengatakan bahwa sikap Al-Buthi 
yang tidak memihak rezim Bashar al-Assad namun juga tidak memihak 
‘pemberontak’ sehingga dinilai munafik dan dibantai oleh para ‘pemberontak’ 
tadi.

Yang dimaksud ustadz Mudzakir dengan ‘pemberontak’ di sini adalah para 
mujahid yang sedang membela akidahnya dari jajahan syi’ah sejak kawasan itu 
direbut oleh Hafiz al-Assad melalui kudeta militer 13 November 1970. Hafiz 
al-Assad  saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan Suriah, dan ia 
merupakan bapak kandung Bashar al-Assad.

Dalam kasus al-Buthi, ustadz Mudzakir sudah memposisikan secara tegas, 
bahwa al-Buthi dibunuh oleh ‘pemberontak’ melalui upaya bom bunuh diri. 
Padahal, karena al-Buthi juga tidak berpihak kepada rezim Bashar, tetap 
punya kemungkinan dibunuh oleh sang rezim.

Suriah adalah kawasan Muslim (Sunni) yang kemudian berusaha direbut oleh 
kaum syi’ah melalui kudeta bersenjata. Kudeta militer sebelumnya terjadi 
pada 28 September 1961, namun belum berhasil. Barulah pada 1970, berhasil. 
Siapa pendukung kudeta? Ternyata adalah Negara-negara Barat yang 
berkepentingan, termasuk Amerika Serikat.

Kini, mereka pulalah yang menginginkan rezim Bashar al-Assad yang anti 
demokrasi itu bubar. Bagi Barat (dan Amerika termasuk di dalamnya), 
demokrasi adalah tuhan. Sehingga ketika sebuah rezim di sebuah kawasan 
dinilai tidak demokratis, cenderung tiran, maka rezim itu harus digulingkan.

Berbeda dengan itu, kaum mujahidin yang berperang melawan rezim Bashar 
al-Assad, adalah dalam rangka membela akidah, menggulingkan pemerintahan 
syi’ah yang tiran, sehingga akidah Muslim di kawasan itu terjaga. Jadi, 
tidak benar penilaian yang mengatakan bahwa para pejuang itu dibiayai atau 
menjalani agenda Barat. Mereka punya agenda sendiri-sendiri: yang satu demi 
demokrasi, yang satu demi akidah.

Lagi pula, yang menghendaki rezim Bashar al-Assad tetap eksis juga dari 
kalangan kafirin komunis, yaitu Rusia dan Cina, serta Venezuela, sebuah 
negara di ujung utara Amerika Selatan yang mayoritas penduduknya non Muslim.

Salah satu tokoh syi’ah yang juga getol membela rezim syi’ah laknatullah 
Bashar al-Assad adalah Dina Y. Sulaeman, kelahiran Semarang 30 Juli 1974. 
Lulusan Fakultas Sastra Arab Universitas Padjadjaran tahun 1997 ini, pada 
1999 memperoleh beasiswa S2 dari pemerintah Iran untuk belajar di Faculty 
of Teology, Tehran University.

Jadi, jelas doktrin syi’ah sudah merasuk ke dalam diri Dina. Apalagi, 
selama lima tahun (2002-2007), Dina bekerja sebagai jurnalis di Islamic 
Republic of Iran Broadcasting (IRIB). Kekentalan doktrin syi’ah semakin 
menyatu dengan akidah Dina, ketika ia berjodoh dengan Otong Sulaeman, 
lulusan Qom yang juga bekerja di IRIB.

Kini, Dina berkiprah sebagai Research Associate di The Global Future 
Institute (GFI), yang berdiri sejak 11 Oktober 2007. Salah seorang 
pendirinya, Hendrajit, adalah sosok kelahiran Jakarta 8 September 1963, 
alumnus Fakultas Sosial-Politik Universitas Nasional, yang pernah bekerja 
sebagai wartawan Tabloid Detik (1992-1994) pimpinan Eros Djarot. 
Mudah-mudahan bukan propagandis syi’ah.

Militansi Dina terhadap paham sesat syi’ah laknatullah tetap terjaga meski 
ia tidak lagi bekerja untuk media yang secara resmi menyuarakan 
pembelaannya terhadap syi’ah dan rezim syi’ah yang sedang berkuasa di 
sebuah negara.

Di GFI, Dina memanfaatkan betul posisinya untuk menyuarakan lebih lantang 
visi dan misinya sebagai propagandis syi’ah laknatullah. Apalagi, GFI 
merupakan media online berbahasa Inggris, sehingga dapat lebih efektif 
menjangkau sasaran masyarakat berbahasa Inggris, yang negaranya secara 
resmi menghendaki rezim Bashar al-Assad tumbang.

Salah satu upaya Dina adalah *mewawancarai Agus Nizami* 
<http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=12178&type=13#.UblFSueW_ZM>,
 
yang selama ini menolak disebut berpaham syi’ah namun selalu mendukung 
syi’ah. Agus Nizami, yang bukan ulama ini, oleh Dina dikesankan sebagai 
tokoh Islam yang layak kutip untuk mendukung visi misinya mempropagandakan 
syi’ah, mendukung rezim syi’ah laknatullah Bashar al-Assad.

Sebelumnya, Dina *mewawancarai jurnalis senior Syria* 
<http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=12083&type=13#.Ubv0_dhqYop>
 
yang mendukung rezim syi’ah laknatullah Bashar al-Assad. Dina mengaku 
merasa beruntung bisa mewawancarai sosok yang bernama samaran As-Souri ini. 
Namun ketika ia ditawarkan untuk diperkenalkan dengan sosok aktivis atau 
jurnalis yang berseberangan dengan rezim syi’ah laknatullah, Dina menolak. 
“… *ngapain* saya repot-repot wawancara jurnalis pro-pemberontak?”

Nah, semakin jelas posisi Dina. Ia memang propagandis syi’ah laknatullah, 
ia membela Bashar al-Assad, seraya menyebut lawannya sebagai pemberontak. 
Ini barangkali sebuah indikasi, bahwa propagandis syi’ah di Indonesia 
semakin terbuka, berani, kurang ajar, dan *ngelunjak*. 
(haji/tede/nahimunkar.com)
 
http://www.islamedia.co/2015/02/surat-terbuka-untuk-wanita-syiah-dina-y.html
 
 
 Surat Terbuka untuk wanita Syiah, Dina Y Sulaeman 
    
<http://4.bp.blogspot.com/-r0XHAq6aInI/VOLyf6nBWII/AAAAAAAAUC4/m-rFJN8cIkY/s1600/dina-sulaiman.jpg>
 *Dina 
Y. Sulaiman**Islamedia.co -*  Dina Y Sulaeman Perempuan yang lahir di 
Semarang pada 30 Juli 1974. Penerima summer session scholarship dari JAL 
Foundation untuk kuliah musim panas di Sophia University Tokyo ini lulus 
dari Fak. Sastra Arab Universitas Padjdjaran tahun 1997. Ia sempat menjadi 
staf pengajar di IAIN Imam Bonjol Padang.

Tahun 1999 meraih beasiswa S2 dari pemerintah Iran untuk belajar di Faculty 
of Teology, Tehran University. Tahun 2011, ia menyelesaikan studi magister 
Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran. Tahun 2002-2007 ia berkarir 
sebagai jurnalis di Islamic Republic of Iran Broadcasting.

Dina penulis yang produktif, banyak masyarakat yang tidak mengetahui bahwa 
dia adalah seorang syiah sejati. Berikut ini sejumlah buku yang telah 
ditulisnya, antara lain, Oh Baby Blues, Mukjizat Abad 20: Doktor Cilik 
Hafal dan Paham Al Quran, Pelangi di Persia, Ahmadinejad on Palestine, 
Obama Revealed, Bintang-Bintang Penerus Doktor Cilik, Princess Nadeera, 
Prahara Suriah dan Journey to Iran.

Aktif menulis artikel opini politik Timur Tengah yang dimuat di media massa 
dan berbagai website. Otong Sualeman suami Dina, juga syiah, dia adalah 
mahasiswa Qom yang menulis novel Dari Jendela Hauzah, terbitan grup Mizan. 
Keduanya pernah bekerja sebagai jurnalis di IRIB (Radio Iran Indonesia) 
selama tujuh tahun di Iran.

.........................
Bismillah. Salaamun ‘alaa manit taba’al hudaa 

Perkenalkan, saya Wildan Hasan, seorang bapak rumah tangga biasa, yang 
senang belajar dan menulis. Kecintaan saya untuk menuntut ilmu mendorong 
saya untuk kuliah lagi di berbagai majelis ta’lim *smile emoticon*, sama 
sekali tak ada karir yang menuntut saya untuk itu. Tulisan-tulisan saya 
selama ini, kelihatannya cukup banyak diapresiasi orang; dalam arti, bukan 
tulisan ngawur. Bahkan ada tulisan saya yang terkumpul dalam buku berjudul 
Bawalah Facebookmu ke Surga yang pasti belum ibu baca.

Ibu mungkin hanya ke GR an saja. Tepatnya mungkin ibu dipandang sebagai 
orang yang patut diwaspadai karena pandangan-pandangan ibu terkait konflik 
Suriah ngawur dan tak berimbang. Ibu menyebut kelompok-kelompok pro jihad 
Suriah sebagai radikal. Maksudnya apa bu? Kategorisasinya apa? Tujuannya 
apa menyebut seperti itu? Kemudian, ibu menyebut media-media pro jihad 
Suriah sebagai teman ust Arifin Ilham. Jadi, ibu bukan teman media pro 
jihad Suriah? Ibu pro mana? Maaf bila saya dianggap lancang menyurati tokoh 
sebesar ibu.

Ada pesan penting yang ingin saya sampaikan kepada ibu. Tolong, jangan 
kaitkan sebuah konflik dengan urusan pribadi. Apalagi urusan keuangan. 
Karena siapa yang tidak tahu bahwa program Syiahisasi dunia Islam dibiayai 
besar-besaran oleh Republik Syiah Iran. Ibu Dina yang mengaku ibu rumah 
tangga biasa, tentu tidak senang kan apabila urusan dapurnya 
diungkit-ungkit. Saya yakin ust Arifin Ilham punya penjelasan terkait 
urusan dapurnya itu. 

Awal konflik Suriah

awal mula perang suriah adalah dilatar belakangi oleh kekecewaan rakyat 
Suriah terhadap rezim Bashar Asaad yang otoriter dan sewenang-wenang 
terhadap rakyatnya. Rakyat Suriah kemudian melakukan aksi damai menuntut 
keadilan. Akan tetapi rezim Bashar malah menanggapi aksi damai tersebut 
dengan kekerasan.

Puncaknya adalah ketika ada anak Suriah menuliskan kata-kata di tembok 
tentang Bashar Asaad, kemudian anak ini di bawa oleh tentara Assad setelah 
di intrograsi anak kecil ini dikelupas kulitnya, lalu ditumpahkan cairan ke 
tubuh yang mengelupas, sehingga sakitnya tiada terperikan. Tentara Bashar 
sambil berteriak menuhankan Bashar Al-Assad. Penduduk protes tapi mereka 
ditangkapi. Siksaan demi siksaan dilakukan terhadap para tawanan yang 
dituduh menentang rezim Bashar Asad, padahal orang-orang ini hanyalah 
penduduk kampung.

Konflik Suriah yang dimulai sejak demonstrasi di kota Dharaa, 11 Maret 2011 
lalu sampai detik ini tidak juga menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. 
Akibat dari konflik itu, anak-anak kehilangan orang tuanya, wanita 
kehilangan suami dan keluarganya, dan keluarga kehilangan harta benda 
mereka. Rakyat Suriah terancam kehilangan masa depan.

Belum lagi jumlah korban meninggal yang sudah mencapai lebih dari 110 ribu 
jiwa, ditambah jutaan lainnya yang kehilangan tempat tinggal dan harus 
menjadi pengungsi di luar negaranya. Sungguh hal itu sebuah keadaan yang 
memilukan. Tragedi ini hendaknya membuka rezin Syiah Suriah agar 
menghentikan pembantaian terhadap rakyatnya sendiri.

Lantas, apa penyebabnya sehingga hal itu terjadi dan menyebabkan jutaan 
manusia menjadi korbannya? Penyebabnya adalah nafsu Syiah untuk berkuasa 
dan menumpas selain Syiah. 

Tidak banyak kaum muslimin yang mengetahui hakekat peristiwa yang tengah 
terjadi di Suriah. Banyak di antara kaum muslimin yang menyangka kebiadaban 
rezim Suriah tersebut semata-mata didasari oleh kepentingan politik untuk 
menyelamatkan kekuasaan rezim Partai Baath, partai sosialis yang telah 
mencengkeram rakyat Suriah selama puluhan tahun dengan kekuatan senjata. 
Belum banyak yang tahu bahwa kebiadaban rezim partai Baath dilatar 
belakangi oleh faktor ideologi dan agama. Ya, partai Baath telah didominasi 
oleh kelompok Nushairiyah sejak era Hafizh Asad. Kelompok Nushairiyah 
merupakan bagian dari sekte Syi’ah esktrim yang telah dihukumi murtad dari 
Islam oleh seluruh ulama kaum muslimin. Jadi, rezim Syi’ah esktrim tengah 
mempertontonkan kebiadannya kepada mayoritas rakyat yang beragama Islam, 
ahlus sunnah wal jama’ah. Demonstrasi damai versus kebiadaban militer di 
Suriah sejatinya adalah pertaarungan dua agama: Islam versus Nushairiyah.

Tidak heran bila Iran yang beragama Syi’ah Imamiyah (biasa juga disebut 
Syi’ah Itsna Atsariyah atau Syi’ah Ja’fariyah) getol memberikan dukungan 
militer, politik, dan ekonomi kepada rezim Syi’ah Suriah. Dua aliran Syi’ah 
ekstrim telah bertemu untuk menghabisi musuh bersama; mayoritas rakyat 
Suriah yang beragama Islam aliran Ahlus Sunnah. Bila ditambah kekuatan 
Syi’ah Lebanon (dengan milisi Hizbul Laata —plesetan dari nama sebenarnya, 
Hizbullah), kekuatan Israel, dan Kristen Libanon yang juga memusuhi Ahlus 
Sunnah; maka rakyat muslim sunni Suriah tengah terkepung dari seluruh 
penjuru. Umat Islam sedunia sudah seharusnya terus memberikan dukungan 
kepada perjuangan rakyat Suriah, sebagaimana dukungan mereka kepada 
perjuangan rakyat muslim Mesir, Tunisia, dan Palestina. Para ulama dan 
tokoh umat Islam wajib membongkar kedok rezim Nushairiyah Suriah, sehingga 
wala’ dan bara’ kaum muslimin jelas. Berikut ini sebagian fatwa ulama Islam 
yang menjelaskan hakekat kelompok Nushairiyah dan partai Baath.

Fatwa tentang Sekte Nushairiyah

Fadhilah syaikh Hamud bin ‘Uqla Asy-Syu’aibi hafizhahullah


As salaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh

Siapa sebenarnya kelompok Nushairiyah itu? Kepada siapa mereka menisbahkan 
diri? Kapan kelompok ini muncul? Di negeri mana saja keberadaannya? 
Bagaimana ajaran agama mereka? Bagaiamana pendapat para ulama tentang 
mereka? Bolehkah memberikan ucapan selamat atas hari-hari kebahagiaan 
mereka dan memberikan ucapan bela sungkawa atas musibah yang menimpa 
mereka? Bolehkah menshalatkan jenazah mereka?

Jawab:
Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam. Shalawat dan salam semoga 
senantiasa dilimpahkan kepada nabi Muhammad, keluarga, dan seluruh 
shahabatnya. Amma ba’du…

Jawaban atas beberapa pertanyaan di atas membutuhkan satu jilid buku 
tersendiri. Untuk itu, kami akan menjawab secara ringkas saja:

Nushairiyah adalah salah satu kelompok Syi’ah ekstrim yang muncul pada abad 
ketiga Hijriyah. Berbagai aliran keagamaan yang kafir seperti Bathiniyah, 
Ismailiyah, Budha, dan sekte-sekte kafir yang berasal dari agama Majusi 
masuk bergabung ke dalam kelompok Nushairiyah. Nushairiyah banyak terdapat 
di Suriah dan negara-negara yang bertetangga dengan Suriah.

Nushairiyah menisbahkan kelompoknya kepada seorang yang bernama Muhammad 
bin Nushair An-Numair, yang mengklaim dirinya sebagai nabi dan menyatakan 
bahwa Abul Hasan Al-Askari —-imam ke-11 kelompok Syi’ah— adalah Tuhan yang 
telah mengutus dirinya sebagai nabi.

Ajaran agama Nushairiyah tegak di atas dasar akidah yang rusak dan 
ritual-ritual ibadah yang usang hasil pencampur-adukkan dari ajaran Yahudi, 
Nashrani, Budha, dan Islam. Di antara akidah sesat kelompok Nushairiyah 
adalah:

1. Kultus individu yang esktrim terhadap diri sahabat Ali bin Abi Thaib 
dengan meyakini beliau adalah Rabb (Tuhan Yang Maha Menciptakan, Maha 
Mematikan, Maha Memberi rizki, Maha Mengatur alam), Ilah (Tuhan yang berhak 
disembah—edt), dan Pencipta langit, bumi, dan seluruh makhluk. Di antara 
bentuk penyembahan mereka kepada Ali bin Abi Thalib adalah semboyan agama 
mereka:

( لا إله إلا حيدرة الانزع البطين ، ولا حجاب عليه إلا محمد الصادق الأمين ، 
ولا طريق إليه إلا سلمان ذو القوة المتين ..)

“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Haidarah (Singa betina, 
julukan Ali—edt) ksatria yang terpercaya, Tiada hijab (penghalang) atasnya 
kecuali Muhammad Ash-Shadiq Al-Amin (yang jujur lagi terpercaya), Dan tiada 
jalan menujunya kecuali Salman Dzul Quwwatil Matin (pemilik kekuatan yang 
perkasa).“

Dari semboyan mereka ini nampak jelas bahwa kelompok Nushairiyah lebih 
kafir dari kaum Yahudi, Nasrani, dan kaum musyrik sekalipun karena dengan 
ucapan ini mereka menyandarkan penciptaan dan pengaturan seuruh makhluk 
kepada Ali bin Abi Thalib. Sedangkan kaum Yahudi, Nasrani, dan musyrik 
mengakui bahwa Allah SWT adalah Sang Pencipta dan Sang Pengatur urusan 
seluruh makhluk.

2. Mereka meyakini reinkarnasi, yaitu meyakini bahwa jika seorang manusia 
meninggal dunia maka ruhnya berpisah dengan jasadnya dan memasuki jasad 
makhluk lain. Baik jasad manusia maupun jasad hewan, sesuai jenis amal 
perbuatannya saat ia masih hidup. Jika amal perbuatannya baik, maka ruhnya 
akan menempati jasad manusia atau hewan yang mulia. Adapun jika amal 
perbuatannya buruk, maka ruhnya akan menempati jasad hewan yang hina, 
seperti anjing dan lain sebagainya. Hakekat dari keyakinan ini adalah 
meyakini bahwa dunia ini tidak akan rusak, tidak akan pernah berakhir, 
tidak ada kebangkitan setelah mati, tidak ada surga, tidak ada neraka…ruh 
akan senantiasa berpindah dari satu jasad ke jasad lainnya sampai suatu 
saat yang tidak akan pernah berakhir. Keyakinan yang rusak ini mereka ambil 
dari agama Budha, karena keyakinan reinkarnasi adalah salah satu pokok 
ajaran agama Budha.

3. Di antara pokok ajaran akidah mereka yang sangat mengakar kuat adalah 
kebencian dan permusuhan yang sangat keras terhadap Islam dan kaum 
muslimin. Sebagai bentuk permusuhan dan kebenciaan mereka kepada Islam, 
mereka menjuluki shahabat Umar bin Khatab dengan julukan ‘Iblisul Abalisah’ 
(rajanya para iblis). Adapun tingkatan iblis setelah Umar menurut keyakinan 
mereka adalah Abu Bakar kemudian Utsman.

4. Mereka mengharamkan ziarah ke kuburan Nabi Muhammad SAW karena di 
samping makam beliau SAW terdapat makam shahabat Abu Bakar Ash-Shidiq dan 
Umar bin Khathab. 

Pada zaman dahulu keberadaan agama sesat Nushairiyah ini terbatas pada 
sebuah tempat di negeri Syam dan mereka tidak diberi peluang untuk memegang 
posisi dalam bidang pemerintahan maupun bidang pengajaran, berdasar fatwa 
syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Keadaan itu terus berlanjut sampai akhirnya 
penjajah Perancis menduduki negeri Syam. Perancis memberi mereka julukan 
baru ‘Al-Alawiyyin’ (keturunan atau pendukung Ali bin Abi Thalib), memberi 
mereka kesempatan mendiami seantero negeri Syam, dan mengangkat mereka 
sebagai pemegang jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan penjajah 
Perancis di Syam.

Adapun pendapat para ulama Islam tentang kelompok Nushairiyah…sesungguhnya 
para ulama Islam telah menyatakan Nushairiyah adalah kelompok yang telah 
keluar dari agama Islam (kelompok murtad), karena agama mereka tegak di 
atas dasar syirik, keyakinan reinkarnasi, pengingkaran terhadap kehidupan 
setelah mati, surga, dan neraka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah ditanya tentang status 
kelompok Nushairiyah, maka beliau menjawab:

الحمد لله رب العالمين .. هؤلاء القوم المسمون بالنصيرية هم وسائر أصناف 
القرامطة الباطنية اكفر من اليهود والنصارى بل اكفر بكثير من المشركين ، 
وضررهم على أمة محمد صلى الله عليه وسلم أعظم من ضرر الكفار المحاربين فإن 
هؤلاء يتظاهرون عند جهال المسلمين بالتشيع وموالاة أهل البيت وهم في الحقيقة 
لا يؤمنون بالله ولا برسوله ولا بكتابه ولا بأمر ولا بنهي ولا ثواب ولا عقاب 
ولا بجنة ولا بنار ولا بأحد من المرسلين قبل محمد صلى الله عليه وسلم ولا بملة 
من الملل ولا بدين من الأديان السالفة بل يأخذون من كلام الله ورسوله المعروف 
عند علماء المسلمين ويتأولونه على أمور يفترونها ويدعون أنها علم الباطن من 
جنس ما ذكره السائل …)
 
“Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam. Kelompok yang dinamakan 
Nushairiyah tersebut dan seluruh kelompok Qaramithah Bathiniyah (salah satu 
sekte Syi’ah yang ekstrim) yang lain adalah orang-orang yang kekafirannya 
lebih parah dari kekafiran kaum Yahudi dan Nashrani, bahkan kekafirannya 
lebih berat dari kekafiran kebanyakan kaum musyrik. Bahaya mereka (kelompok 
Nushairiyah dan Qaramithah Bathiniyah) terhadap kaum muslimin lebih besar 
dari bahaya kaum kafir yang memerangi Islam, karena mereka menampakkan 
dirinya sebagai orang-orang Syi’ah yang loyal kepada ahlul bait di hadapan 
kaum muslimin yang bodoh. Padahal sejatinya mereka tidak beriman kepada 
Allah, rasul-Nya, kitab-Nya, perintah, larangan, pahala, siksa, surga, 
neraka, maupun seorang rasul pun sebelum Muhammad SAW. Mereka juga tidak 
mengimani adanya ajaran rasul dan agama samawi terdahulu apapun. Mereka 
hanya mengambil sebagian firman Allah dan sabda rasul-Nya yang dikenal di 
kalangan ulama Islam, lantas mereka melakukan ta’wil sesat yang mereka 
ada-adakan dan mereka klaim sebagai ilmu bathin semisal yang telah 
disebutkan oleh penanya di atas…”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah melanjutkan jawabannya sampai pada perkataan 
beliau: “Sudah diketahui bersama bahwa pesisir pantai negeri-negeri Syam 
jatuh ke tangan pasukan Nasrani (tentara Salib) dari arah mereka (kelompok 
Nushairiyah). Mereka selalu membantu setiap musuh Islam. Menurut mereka, di 
antara musibah terbesar yang menimpa mereka adalah kemenangan kaum muslimin 
atas pasukan Tartar…”

Kenapa rezim Syiah Suriah begitu kejam?
Dikarenakan itu adalah perintah para imam mereka untuk membunuh ahlu 
Sunnah, yaitu umat Islam selain Syi’ah. Abu Abdillah, salah seorang imam 
Syi’ah, pernah mengatakan, “Ambillah harta para nashib –ahlu sunnah- 
dimanapun kalian mendapatinya, dan bayarkan kepada kami seperlima-nya.” 
(Jami’ul Ahadits Syi’ah, 8/532)

Sangat mungkin jika kesulitan mendapatkan harta umat Islam dengan jalan 
mencuri, tidak segan-segannya mereka merampok atau membunuh muslimin tadi. 
Toh, dalam keyakinan mereka, darah umat Islam halal.

Hal ini juga dianjurkan dalam hadits Syi’ah yang diriwayatkan oleh Husain 
al-Bahrani, dalam kitabnya, alMahasin an-Nafsaniyah (hal. 166). Ia 
meriwayatkan dari salah seorang imam Syi’ah, bahwa imam itu berkata, 
“Sebenarnya kami para imam hendak memerintahkan kalian untuk membunuh 
mereka –umat Islam. Namun kami mengkhawatirkan kalian, kami khawatir salah 
seorang dari kalian terbunuh disebabkan membunuh mereka. Karena satu nyawa 
kalian, sungguh lebih berharga daripada seribu nyawa mereka.”

Dan ada cukup banyak doktrin-doktrin pengkafiran Syiah terhadap kaum 
muslimin yang memungkinkan mereka termotivasi untuk membunuh kaum muslimin.

Siapakah yang jadi korban terbesar, ibu? Tepat seperti yang ibu katakan. 
Tak lain, kaum Ahlussunnah (Umat islam) atau 74% rakyat Suriah. 

Ibu Dina yang semoga hidayah Allah segera menyapa anda,

Atas semua kejadian di Suriah itu, saya menjadi sangat khawatir dan sedih 
saat membaca pernyataan ibu yang ahistoris dan penuh distorsi sejarah, pula 
tidak faham akan kesesatan Syiah. Tak mungkin ibu rumah tangga seluar biasa 
ibu yang mengaku sedang menempuh doktoral, ingin negeri ini juga hancur 
lebur Suriah karena membela Syiah. 

Alhamdulillah banyak majelis dan da’i yang menjelaskan betapa berbahayanya 
Syiah. Bukan karena kebencian ngawur tapi kebencian terhadap kesesatannya. 
Sangat berbeda dengan kebencian Syiah terhadap umat Islam seperti tercantum 
dalam doktrin-doktrin radikal Syiah di atas. Terkait dana, saya dan kami 
kaum muslimin tahu betul bahwa gerakan ini murni muncul dari kesadaran umat 
Islam Indonesia untuk mempertahankan aqidahnya dan membela agamanya. 
Mungkin ibu ingin menunjuk Saudi Arabia sebagai donatur proyek anti Syiah. 
Maka bila pun benar, itu tidaklah berbeda dengan yang dilakukan Republik 
Syiah Iran untuk program Syiahisasi dunia Islam. Justru hal ini menunjukkan 
bahwa ibu berada di pihak Syiah sekalipun ibu mengaku bukan Syiah.

Saya mohon, ibu, cobalah Anti melihat lagi peta ideopolitiknya. Dalam 
konflik di Suriah, ada peran Syiah Iran. Dan yang turun ke lapangan untuk 
bertempur adalah muslimin yang sedang berjihad melawan rezim Syiah kafir 
Nushairiyah yang didukung penuh oleh Iran. Lalu, setelah kaum muslimin 
habis mereka akan terus mengekspor iedologi kebencian ini sehingga 
pembantaian kembali terjadi di negara-negara lain termasuk di Indonesia. 
Tidakkah ini puncak kejahatan?

Anti adalah intelekual dan akademisi. Anti juga seorang ibu. Dan saya 
adalah seorang bapak rumah tangga biasa. Saya mohon, Anti sejenak 
membayangkan bila anak-anak kita harus sengsara dan menjadi pengungsi, 
seperti jutaan anak-anak Suriah hari ini. Dan ini pun dalam skala kecil 
sudah terjadi, ibu. Ada 40-an orang Syiah, yang menyerang secara anarkis 
dan radikal kepada warga perumahan muslim Bukit Az-Zikra di Sentul, Bogor, 
Jawa Barat. Ada kelompok-kelompok anarkis Syiah yang selalu menganggu 
ibadah dan kajian umat Islam di berbagai daerah. Tidakkah kasih sayang 
seorang ibu yang anti bangga-banggakan, melingkupi mereka, ibu?

Ibu menyampaikan kasus sampang sebagai contoh intolerannya umat Islam 
terhadap Syiah, menunjukkan bahwa ibu tidak tahu apa yang sebenarnya 
terjadi di sana. Sebagai akademisi dan intelektual sudah selayaknya ibu 
membaca suatu peristiwa dengan timbangan yang patut dipertanggungjawabkan. 

Ibu, ingatlah ungkapan Buya Hamka tokoh besar Islam Nusantara ini:

“Ketika saya di Iran, datang empat orang pemuda ke kamar hotel saya, dan 
dengan bersemangat mereka mengajari saya tentang revolusi dan menyatakan 
kenginannya untuk datang ke Indonesia guna mengajarkan revolusi Syiah itu 
di Indonesia. Boleh datang sebagai tamu, tapi ingat kami adalah bangsa yang 
merdeka dan tidak menganut Syiah!” Ujar Buya

Salaamun ‘Alaa manit taba’al hudaa

Bekasi, 17/2/2015,

Wildan Hasan


On Tuesday, February 17, 2015 at 11:05:44 PM UTC+8, Fitr Tanjuang wrote:

>      AslmWrWb
>
> Ambo indak kenal sacaro pribadi, tapi Dina Sulaiman ko seangkatan jo ambo 
> di SMA 1 Padang thn 90-93.
> Ambo di fissatu, kalau indak salah inyo di fisduo.
> Salamo SMA indahk pernah rasonyo kontak2an doh, tapi sejak sekitar 2006, 
> kami jadi kontak di multiply.com wakatu DYS di Iran.
> Suami istri inyo sakolah di situ dan jadi penyiar radio pulo indak salah.
>
> Banyak menulis tentang Iran dan Ahmadinejad nan sadang jadi primadona 
> wakatu itu.
> Sapulang dari Iran, ambo mandanga inyo disabuik salah satu 
> pendukung/pentolan syiah, nan ambo indah tau manahu tentang itu.
>
> Di Padang akhir bulan ko, mungkin bisa ambo tanyokan ka kawan seangkatan 
> SMA1 nan jadi dosen IAIN Imam Bonjol kini.
>
> Wassalam
> fitr
> lk/40/albany NY
>
> 2015-02-17 5:43 GMT-05:00 Akmal Nasery Basral <[email protected] 
> <javascript:>>:
>
>> Sanak Ahmad Ridha n.a.h, 
>> terima kasih atas informasinya.
>>
>> Memang surat DYS yang sejak kemarin beredar luas di media sosial ambo 
>> lewakan di RN agar dapat masukan seperti ini, selain kabarnya DYS juga 
>> pernah mengajar di IAIN Imam Bonjol Padang (dengar-dengar ybs juga berdarah 
>> Minang meski lahir di Semarang). Barangkali juga ada yang kenal pribadi 
>> dengan ybs. 
>>
>> Wassalam,
>>
>> ANB
>>
>> Pada 17 Februari 2015 10.50, Ahmad Ridha <[email protected] 
>> <javascript:>> menulis: 
>>
>>  Pak Akmal yang saya hormati, 
>>>
>>> Sedikit komentar terhadap surat tersebut. Di rentang tahun 2006 - 2008 
>>> saya punya beberapa teman (sesama mahasiswa) asal Suriah. Mereka cukup 
>>> konsisten menjelaskan bahwa Sunni di Suriah sudah lama tertindas. Setiap 
>>> laki-laki wajib militer kecuali memenuhi syarat tertentu. Sebagian teman 
>>> asal Suriah tersebut telah menjalani wajib militer tersebut. Selama wajib 
>>> militer, mereka tidak boleh shalat berjama'ah. Membaca al-Qur'an pun 
>>> menjadi sesuatu yang terlarang. Sudah lumrah pula lelucon bahwa jika ada 
>>> dua orang Suriah, salah satunya adalah mata-mata.
>>>
>>> Teman-teman saya bukanlah al-Qaida.
>>>  
>>> Wassalaam,
>>> -- 
>>> Abu 'Abdirrahman, Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
>>> (l. 1400 H/1980 M)
>>>
>>> -- 
>>
>>
>>
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke