Satu demi satu, kontroversi demi kontroversi, seperti sengaja diperlihatkan Allah kepada kita tentang buruknya wajah rezim ini.
Wassalam Ronald On May 22, 2015 7:27 AM, "Akmal Nasery Basral" <[email protected]> wrote: > Tambahan info tentang Dr. Amir Faishol Fath, beliau adalah doktor tafsir > Al Qur'an alumni International Islamic University Islamabad, Pakistan. > > Wassalam, > > ANB > > Pada 22 Mei 2015 06.56, Akmal Nasery Basral <[email protected]> menulis: > >> AL QURAN KITAB HIDAYAH >> BUKAN TEKS NYANYIAN >> >> Oleh Dr Amir Faishol Fath >> >> Banyak pertanyaan kepada saya mengenai baca Al Quran dengan langgam jawa. >> Lalu saya segera menyimak bacaan Al Quran yang dibacakan di istana dalam >> pembukaan acara Isra' Miraj. Memang ada beberapa catatan tajwid dan >> makhrijul huruf yang harus diperbaiki. Nampak kesalahan itu karena >> dipaksakan ikut langgam. Pun juga sudah banyak orang yang menjawabnya >> dengan berbagai dalil baik dari Al Quran, hadits dan perkataan para ulama. >> Saya di sini tidak mau berpanjang lebar mengutip apa yang sudah ditulis dan >> menyebar di media sosial atau media massa. Saya akan meringkas jawaban saya >> sebagai berikut: >> >> 1. Al Quran diturunkan untuk menjadi panduan hidayah "hudan linnaas" >> bukan untuk menjadi teks nyanyian. Maka siapa yang memaksa Al Quran menjadi >> semata teks nyanyian itu telah mengeluarkan Al Quran dari tujuan aslinya. >> >> 2. Setiap yang takalluf "pemaksaan di luar fitrah" itu diharamkan dalam >> Islam. Nabi pernah marah kepada sahabat yang takalluf ingin puasa tanpa >> berbuka, shalat malam tanpa tidur dan hidup tanpa menikah. Maka melagukan >> bacaan Al Quran sampai ke tingkat takalluf untuk ikut langgam jawa misalnya >> sehingga keluar dari cara membaca dan tujuan diturunkannya seperti yg Allah >> dan Rasulnya ajarkan itu haram hukumnya. >> >> 3. Ada kaidah syariat : mempertimbangkan antara manfaat dan mafsadah >> (pengrusakan). Maka setiap yang mafsadahnya lebih besar diharamkan dalam >> Islam. Diharamkannya khamar oleh Allah adalah karena mafsadahnya lebih >> besar, sekalipun ada juga manfaatnya. Silahkan pertimbangkan antara >> mafsadah dan manfaat dalam melagukan Al Quran dengan langgam jawa. Kita >> saja sebagai bangsa marah kalau lagu kebangsaan Indonesia Raya dilagukan >> dengan langgam jawa. Itu kita anggap penghinaan terhadap negara. Apalagi Al >> Quran. >> >> 4. Disyariatkannya melagukan Al Quran adalah dalam rangka mentadabburinya >> "afalaa yatadabbarunal qur'an" dan dalam rangka mendukung makharijul huruf >> dan tajwidnya, ini disebut tartil "warattilil quraan tartiila" bukan untuk >> menjadikan Al Quran sebagai teks nyanyian. Maka menjadikan Al Quran semata >> teks nyanyian telah keluar dari tujuan pokok diturnkannya Al Quran. Dan >> memaksa bacaan Al Quran untuk ikut langgam tertentu seperti langgam jawa >> misalnya, itu namanya jawanisasi bacaan Al Quran. Maka ditakutkan nanti >> akan muncul gerakan sundaisasi, maduraisasi, jayapuraisasi dan sebagainya. >> Bukankah ini akan membuat umat akan terkotak-kotak. >> >> 5. Boleh jadi ada seorang mengatakan bahwa ia merasa nikmat dengam >> langgam jawa misalnya. Dan ia mengatakan saya bisa mentadabburinya kok >> dengan langgam itu. Saya katakan: Itu menurut pengalaman anda pribadi. >> Ingat agama Islam bukan agama pengalaman perorangan. Melainkan kebenaran >> universal. Karena itu sampai cara membaca Al Quran pun ada kaidahnya. Bukan >> seenak nafsu dan dengkul pribadi. >> >> 6. Pun boleh jadi ada yang mengatakan bahwa selama ini yang kita baca itu >> versi Arab. Apakah tidak boleh kalau kita baca versi Indonesia atau versi >> jawa. Saya katakan: bacaan Al Quran yang selama ini kita lakukan itu versi >> Allah dan RasulNya. Bukan versi Arab. Kalau itu versi Arab maka semua orang >> Arab pasti bisa baca Al Quran. Kenyataanya banyak orang Arab tidak bisa Al >> Quran seperti yang Allah dan RasulNya ajarkan. >> >> 7. Pun boleh jadi seorang mengatakan bahwa itu boleh-boleh saja, selama >> tidak keluar dari kaidah membaca Al Quran secara benar. Toh aku juga merasa >> khusyuk ketika mendengarkannya. Lebih dari itu lagu2 yang kita kenal selama >> ini juga karangan manusia. Saya katakan : persolanya bukan masalah bolehnya >> tetapi publikasinya. Sebab tidak semua yang boleh secara pribadi itu boleh >> dipublikasi. Seperti hubungan suami istri itu boleh secara pribadi, tapi >> tidak boleh untuk dipublikasi karena akan menimbulkan kontroversi. Dan kita >> sudah tahu bahwa banyak orang jawa membaca dengan langgam jawa secara >> pribadi. Maka selama itu benar kaidahnya dan tidak ada takalluf, silahkan >> saja. Tapi bukan untuk dipublikasi apalagi dalam acara resmi kenegaraan. >> Karena itu akan menimbulkan kontroversi yang berakibat perpecahan. Ingat >> tujuan kita bersatu sebagai umat dan bangsa bukan berpecah belah. Pun ingat >> kaidah syariah bahwa jika mafsadah (pengrusakannya) lebih besar sekalipun >> ada manfaatnya sebaiknya jangan dilakukan. >> >> 8. Ada kaidah fikih : al khuruuju minal khilaafi awla (keluar dari >> khilaf/kontroversi adalah lebih utama). Sudah jelas membaca Al Quran dengan >> langgam jawa telah menimbulkan kontroversi. Ayo kita sibukan dengan yang >> sepakat bukan kontroversi. Mau dibawa kemana umat ini kok selalu diajak >> masuk ke dalam kontroversi. Padahal yang sepakat saja belum dikerjakan >> secara maksimal. >> >> 9. Dalam Al Quran ada banyak pesan tentang hukum, neraka surga dan >> akhlak. Maka kalau bacaan Al Quran dipaksa ikut langgam jawa misalnya di >> mana pesan2 itu tidak aka menohok lagi, maka dipastikan akan keluar dari >> makna pesan yang disampaikan. Misalnya, pas baca ayat tentang neraka di >> mana Allah murka terhadap para pendosa, lagunya sendu misalnya, maka >> menjadi tidak fitrah lagi. Itulah mengapa para Sunan yang bijak sekalipun >> mereka berdakwah dengan pola budaya lokal mereka belum pernah melanggamkan >> bacaan Al Quran agar ikut budaya lagu lokal. Karena tahu bahwa itu akan >> mengkotakkan Al Quran ke dalan budaya lokal tertentu. >> >> 10. Saya tidak tahu mengapa umat ini selalu disibukkan dengan maslaah2 >> kontroversial yang beginian dan sangat melelahkan. Padahal tidak ada >> manfaatnya bagi perbaikan bangasa dan negeri ini. Ayo kita pindah dari >> masalah kontroversial yang beginian kepada hal-hal yang bermanfaat. Kalau >> ingin menunjukan bahwa kita muslim dan ikut Al Quran bukan caranya begini, >> tetapi ayo kita praktekkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bernegara. >> Kita malu, kalah pada Newzealand yang terkenal sebagai salah satu the most >> Islamic State, padahal di sana tidak ada orang Islam kecuali sedikit. >> Sementara kita yang mayoritas orang Islam di negeri ini tidak ditemukan >> Islam dalam kehidupan bernegara. Mengapa? Karena kita sangat parsial >> memahami Islam. Akibatnya sibuk terus dengan yang beginian. >> >> Wallahu a'lam bisshwab. >> >> Pada 19 Mei 2015 02.12, Fitrianto <[email protected]> menulis: >> >>> Salam. >>> >>> Kalau yg salah adalah tajwidnya, dengan gaya apapun tentunya salah. >>> Tapi jika sekedar beda irama/nada, sedang tajwidnya benar, sepertinya >>> boleh2 saja. >>> >>> Wallahu a'lam. >>> >>> >>> Wassalam >>> fitr >>> lk/40/albany >>> >>> http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1431011215 >>> >>> >>> >>> >>> <http://www.rumahfiqih.com/soal.php> >>> >>> >>> baca versi HP <http://www.rumahfiqih.com/m/x.php?id=1431011215> | view >>> by date <http://www.rumahfiqih.com/konsultasi/index.php> | top hits >>> <http://www.rumahfiqih.com/konsultasi/hits.php> | bidang >>> <http://www.rumahfiqih.com/konsultasi/index.php> | total 8.273.257 >>> views >>> >>> Baca Quran Langgam Jawa, Haramkah? >>> Mon, 18 May 2015 10:39 - | Dibaca 41.631 kali | Bidang quran >>> <http://www.rumahfiqih.com/konsultasi/index.php?k=quran> >>> >>> Assalamu 'alaikum wr. wb. >>> >>> Ustadz, ramai di media sosial perbedatan masalah hukum membaca Al-Quran >>> dengan langgam Jawa. Ada yang mengharamkan dan ada juga yang membolehkan. >>> Lalu bagaimana tanggapan ustadz dalam masalah ini, apakah hukumnya boleh >>> atau tidak? >>> >>> Mohon penjelasan yang adil dan seimbang serta mencerahkan. Terima kasih. >>> >>> Wassalam Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, >>> >>> Dalam masalah ini memang wajar terjadi perbedaan pandangan di antara >>> banyak pihak. Sesama pihak-pihak yang memang ahli di bidang ilmu baca >>> Al-Quran, yaitu para qari dan ulama qiraat pun kita menemukan perbedaan >>> pendapat. >>> >>> Dan lucunya, perbedaan pendapat ini pun menular juga di kalangan yang >>> bukan ahlinya, yaitu mereka yang bukan qari' dan bukan pula ulama ahli >>> qiraat. Mereka yang boleh jadi baca Qurannya pun masih ngalor-ngidul, >>> blang bentong tidak karuan, tetapi tiba-tiba merasa menjadi ahli qiraat >>> nomor wahid. Mereka ini dengan mudahnya menuding-nuding kesana kesini dan >>> menyalah-nyalahkan siapa pun yang dianggapnya berseberangan cara pandang. >>> >>> Kita harus maklum dengan kelakuan kalangan awam yang rasa sok tahu ini. >>> Apalagi ada juga yang mengakit-ngaitkannya dengan urusan politik, sampai >>> saya juga dapat SMS yang mengingatkan bahwa Indonesia layak dapat adzab >>> dan dihancurkan Allah gara-gara pemerintah dzalim membiarkan masalah ini. >>> >>> Sekilas buat sebagian kita mendengarkan Al-Quran dibaca dengan langgam >>> Jawa ini memang terasa aneh. Karena biasanya yang kita dengar semuanya >>> nada-nada bacaan Al-Quran itu khas timur tengah (middle east). Tetapi kali >>> ini nada-nadanya punya nuansa khas tanah air, yaitu nada-nada Jawa. Buat >>> yang biasa mendengarkan wayang, terasa ini bukan bacaan Al-Quran tetapi >>> tembang-tembang khas di pewayangan. >>> >>> Sehingga wajar bila ada yang terlalu mudah main haramkan saja, khususnya >>> bila yang mendengar itu orang-orang Arab sana. Jangankan kuping mereka, >>> kuping kita yang asli made in Indonesia pun merasa rada aneh. Tetapi apakah >>> sekedar merasa aneh lantas hukumnya jadi haram? >>> >>> Dalam hal ini sebaiknya kita yang awam ini jangan terlalu mudah main >>> bikin fatwa sendiri. Ada baiknya kita serahkan kepada para ulama ahli >>> qiraat yang memang ahlinya. Kalau pun ada perbedaan pendapat dari mereka, >>> setidaknya kita tidak mengambil alih hal-hal yang bukan wewenang kita. >>> >>> A. Pendapat Yang Mengharamkan >>> >>> Ada beberapa ulama ahli qiraat yang sudah berfatwa tentang haramnya >>> membaca Al-Quran dengan langgam Jawa ini. Salah satunya adalah Syeikh Ali >>> Bashfar yang bermukim di Saudi Arabia. Salah seorang muridnya ada yang >>> mengirimkan rekaman bacaan Al-Quran dengan langgam Jawa ini. Dan kemudian >>> jawaban dari beliau berupa larangan. >>> Kesalahan tajwid; dimana panjang mad-nya dipaksakan mengikuti kebutuhan >>> lagu. >>> >>> Kalau saya cermati apa yang beliau fatwakan itu, setidaknya saya >>> mencatat ada empat masalah yang beliau tuturkan, antara lain adalah : >>> >>> 1. Kesalahan Lahjah >>> >>> Kesalahan nomor satu dari rekaman yang diperdengarkan itu menurut beliau >>> adalah kesalahan lahjah si pembacanya yang cenderung orang Jawa. Seharusnya >>> lahjahnya harus lahjah Arab. >>> >>> Dan banyak orang yang mengharamkan hal ini dengan berdalil kepada hadits >>> berikut : >>> >>> *Bacalah Al-Quran dengan lagu dan suara orang Arab. Jauhilah lagu/irama >>> ahlkitab dan orang orang fasiq. Nanti akan ada orang datang setelahku >>> membaca Alquran seperti menyanyi dan melenguh, tidak melampau tenggorokan >>> mereka. Hati mereka tertimpa fitnah, juga hati orang yang mengaguminya.* >>> (HR. Tarmidzi) >>> >>> 2. Dianggap Memaksakan Diri (Takalluf) >>> >>> Kesalahan kedua dianggap adanya semacam sikat memaksakan, atau takalluf. >>> Pembacanya dianggap terlalu memaksakan untuk meniru lagu yang 'tidak lazim' >>> dalam membaca Al-Quran. >>> >>> 3. Dicurigai Ashabiyah >>> >>> Ditambahkan lagi dalam fatwa beliau bahwa ada kecurigaan yang dianggap >>> cukup berbahaya, yaitu bila ada niat merasa perlu menonjolkan kejawaan atau >>> keindonesiaan. Hal ini dianggap membangun sikap ashabiyyah dalam ber-Islam. >>> Padahal ashabiyah itu hukumnya haram. >>> >>> 4. Khawatir Memperolok Al-Quran >>> >>> Dan yang paling fatal jika ada maksud memperolok-olokkan ayat-ayat Allah >>> yang mereka samakan dengan lagu-lagu wayang dalam suku Jawa. >>> >>> Maka dengan dasar empat masalah di atas dianggap bahwa membaca Al-Quran >>> dengan langgam Jawa itu tidak boleh dilakukan. Nampaknya fatwa beliau ini >>> kemudian disebar-luaskan di berbagai media, dan siapapun bisa membacanya. >>> >>> B. Pendapat Yang Membolehkan >>> >>> Sementara kita juga menemukan ulama ahli qiraat di Indonesia, sebut saja >>> misalnya KH. Prof. Dr. Ahsin Sakho Muhammad. Beliau seorang pakar ilmu >>> yang langka: ilmu-ilmu Al-Quran. Lulus sebagai doktor dari Jamiah Islamiyah >>> Madinah dengan prestasi mumtaz syaraful ulaa alias *cumlaude*. Kiprah >>> beliau di dunia ilmu qiraat di Indonesia tidak perlu dipertanyakan lagi. >>> Beliau pernah menjadi rektor dan guru besar di Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) >>> Jakarta dan menjadi team pentashih terjemahan Al-Quran di Departemen Agama >>> RI. >>> >>> Kalau kita tanyakan masalah ini kepada beliau, nampaknya pandangan jauh >>> beliau lebih luas. Barangkali karena beliau memang orang Indonesia asli >>> yang paham betul karakter bacaan Al-Quran bangsa ini. Beliau mengatakan >>> sebagai berikut : >>> >>> "Ini adalah perpaduan yang baik antara seperti langit kallamullah yang >>> menyatu dengan bumi yakni budaya manusia. Itu sah diperbolehkan. Hanya >>> saja, bacaan pada langgam budaya harus telap berpacu seperti yang diajarkan >>> Rasul dan para sahabatnya. Dalam hal ini, tajwid dalam hukum bacaannya, >>> panjang pendeknya dan mahrajnya". >>> >>> Lebih lanjut beliau menambahkan : >>> >>> "Cara membaca Al-Quran yang mengacu pada langgam budaya Indonesia sangat >>> diperbolehkan dan tidak ada dallil shahih yang melarang hal demikian. Hanya >>> saja, saya belum pernah mendengar 'jawabul jawab' di dalam langgam Cina, >>> atau pun di Indonesia. Tetapi jika hanya sekedar langgam Jawa, Sumatra, >>> Sunda, Melayu dan lainnya itu sah saja, selama memperhatikan hukum bacaan >>> semestnya. Itu kratifitas budayanya". >>> >>> 1. Hadits Larangan Selain Langgam Arab >>> Lalu bagaimana dengan hadits yang mana Rasulullah SAW mengharamkan kita >>> menggunakan langgam selain Arab? Terjemahan haditsnya kurang lebih seperti >>> berikut ini : >>> >>> >>> *Bacalah Al-Quran dengan lagu dan suara orang Arab. Jauhilah lagu/irama >>> ahlkitab dan orang orang fasiq. Nanti akan ada orang datang setelahku >>> membaca Alquran seperti menyanyi dan melenguh, tidak melampau tenggorokan >>> mereka. Hati mereka tertimpa fitnah, juga hati orang yang mengaguminya. >>> (HR. Tarmidzi) * >>> >>> a. Sanad Yang Lemah >>> >>> Dari sisi sanad sebenarnya kalau ditelurusui kedudukan hadis ini >>> tersebut tergolong dalam hadis dha'if (lemah). Karena salah satu sanad >>> perawinya ada yang terputus sehingga hadits itu menjadi dhoif. Bahkan ada >>> muhaddits yang mengatakan bahwa hadits ini termasuk munkar dan bukan >>> termsuk hadist. >>> >>> Maka dari sisi derajat hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah alias >>> tidak perlu dipakai. >>> >>> b. Langgam Arab Yang Mana? >>> >>> Negeri Arab di masa Rasulullah SAW sangat sempit dan terbatas, seputar >>> Mekkah, Madinah dan kisaran jaziarah Arabia saja. Di luar itu tidak pernah >>> disebut Arab. Habasyah, Mesir, Yaman, Palestina, Suriah, Iraq, Iran di masa >>> itu masih bukan Arab. Agama yang dianut penduduknya bukan agama Islam, >>> mereka dianggap sebagai bangsa-bangsa kafir non Arab. Bahkan bahasa mereka >>> pun juga bukan bahasa Arab. >>> >>> Jadi kalau pun hadits Rasulullah SAW yang dhaif itu masih mau >>> dipaksa-paksa juga untuk dipakai, tetap saja tidak tepat. Seandainya hadits >>> itu dibilang shahih, dan larangan Rasulullah SAW itu 'terpaksa' kita ikuti >>> juga, maka nagham atau irama cara baca Al-Quran yang kita kenal selama ini >>> pun harusnya terlarang. Sebab nagham Bayyati, Shoba, Nahawand, Hijaz, Rost, >>> Sika, dan Jiharka itu bukan dari Mekkah atau Madinah, bahkan bukan dari >>> Jaziarah Arab. >>> >>> Ketujuh jenis nagham itu malah berasal dari Iran. Dan Iran di masa >>> Rasulullah SAW bukan negeri Arab. Bahkan sampai hari ini pun tidak pernah >>> dianggap sebagai negara Arab. Pemerintah Iran sendiri pun tidak pernah >>> mengaku-ngaku sebagai negara Arab. Bahasa resmi mereka pun juga bukan >>> bahasa Arab melainkan bahasa Persia. >>> >>> Jadi kalau mau melarang langgam Jawa misalnya, maka tujuh langgam yang >>> sudah kita kenal sepanjang sejarah Islam itu pun harus dilarang juga, >>> lantaran bukan langgam Arab sebagaimana yang dimaksud oleh Rasulullah SAW. >>> >>> 2. Lahjah Tidak Benar >>> >>> Lahjah yang dianggap tidak benar oleh Syeikh Ali Basfar itu boleh jadi >>> memang demikian. Maksudnya si pembacanya dianggap kurang baik bacaannya. >>> Dan itu biasa, semua yang pernah ikut daurah Al-Quran dengan beliau pasti >>> pernah merasakan disalah-salahkan ketika dianggap lahjah kita kurang pas di >>> telinga beliau. >>> >>> Namun kita harus membedakan antara lahjah dengan langgam. Yang beliau >>> kritisi adalah lahjahnya yang kurang tepat dan itu harus diakui. Membaca >>> Al-Quran memang harus dengan lahjah yang benar. SIfat-sifat huruf, >>> makharijul huruf dan juga hukum-hukum yang berlaku pada ilmu tajwid memang >>> wajib ditaati dan dijalankan dengan benar. >>> >>> Tetapi langgam adalah sesuatu yang lain dan berbeda. Karena langgam >>> merupakan irama atau nada, bukan lahjah. Contoh mudahnya, ketika >>> membunyikan huruf shad, pipi harus kembung. Huruf ra' kadang harus dibaca >>> tebal kadang harus tipis. Ini semua adalah lahjah dan bukan irama. >>> >>> Sedangkan langgam itu adalah irama dan nada, sama sekali tidak ada >>> hubungannya dengan titik artikulasi, pelafalan huruf ataupun hukum-hukum >>> seperti idzhar, idgham, iqlab dan ikhfa'. Dan kalau sudah masuk wilayah >>> irama dan nada, tiap bangsa dan tiap negeri pasti punya ciri khas yang >>> identik dan tidak bisa dipisahkan. >>> >>> Kalau kita mendengar orang Cina asli di Tiongkok sana sedang membaca >>> Al-Quran, pasti kita akan merasakan ada 'nada-nada' khas Cina. Begitu juga >>> kalau kita dengar orang Melayu membaca Al-Quran, kita akan merasakan nuansa >>> khas nada-nada kemelayuan. Apakah ini dianggap melanggar ketentuan membaca >>> Al-Quran? Jawabnya tentu tidak sama sekali. >>> >>> Tetapi ketika orang Jawa keliru membunyikan huruf 'ain menjadi 'ngain', >>> atau huruf ha' dibaca menjadi 'kha' atau huruf ba' yang dibunyikannya lebih >>> nge-bass karena lahjah Jawanya, disitulah letak kekeliruan yang harus >>> diluruskan. Adapun nada bacaan yang terasa nada Jawa selama tidak menyalahi >>> hukum-hukum bacaan, tentu tidak jadi masalah. >>> >>> 3. Langgam Jawa = Menghidupkan Ashabiyah? >>> >>> Adapun masalah membaca Al-Quran dianggap menghidupkan ashabiyah, jelas >>> sekali bahwa yang jadi masalah bukan pada langgamnya tetapi pada niat dan >>> tujuan untuk menghidupkan ashabiyah. Kalau memang niatnya semata-mata ingin >>> menghidup-hidupkan ashaiyah, tentu saja hukumnya haram. >>> >>> Tetapi bagaimana kita bisa pastikan bahwa yang membacanya punya niat >>> tersebut? Lantas bagaimana kalau si pembacanya sama sekali tidak punya >>> niatan dan maksud untuk menghidup-hidupkan ashabiyah? Apakah kita tetap >>> memaksanya harus ashabiyah? >>> >>> Ketika kita menyanyikan lagu Indonesia Raya, bukankah itu juga >>> ashabiyah? Ketika kita mengibarkan sang saka Merah Putih, bukankah itu >>> ashabiyah? Apakah haram kita menyanyikannya dan mengibarkan bendera Merah >>> Putih? >>> >>> 4. Langgam Jawa = Menjelekkan Al-Quran >>> >>> Apalagi kalau dikatakan bahwa langgam Jawa itu dianggap menjelekkan >>> Al-Quran. Tentu sifatnya sangat subjektif sekali. Apa benar qari yang >>> lahjahnya sempurna, tajwidnya benar dan suaranya fasih luar biasa, ketika >>> membaca Al-Quran dengan langgap Jawa lantas niatnya ingin mengolok-ngolok >>> dan menjelekkan Al-Quran? >>> >>> Kesimpulan >>> >>> Apa yang saya tulis di atas semuanya bukan pendapat saya, tetapi hanya >>> hasil kutipan dan saduran dari pendapat para pakar ilmu qiraat semata. Dan >>> kalau ada dua pendapat yang saling bertentangan, kita harus maklum. Namanya >>> saja masalah ijtihad, para ahlinya silahkan berbeda pendapat. >>> >>> Sementara kita yang bukan ahli ilmu qiraat, apalagi yang kualitas bacaan >>> Al-Qurannya masih parah dan bermasalah besar, sebaiknya kita menahan diri >>> untuk tidak ikut-ikutan berfatwa. Biarkan saja para pakarnya yang berbeda >>> pendapat, sebab mereka memang ahlinya. Mereka berhak dan punya kompetensi >>> untuk itu. >>> >>> Adapun kita, mari kita duduk manis saja mendengarkan para pakar berbeda >>> pendapat, tidak perlu merasa jadi pahlawan kesiangan di bidang yang sama >>> sekali bukan keahlian kita. >>> >>> Dari pada bikin komen terlalu jauh ternyata kurang tepat, lebih baik >>> kita tahu diri. Saya sendiri agak segan menuliskan masalah ini, karena tahu >>> persis bahwa para pakarnya saja sudah berbeda pendapat. Jangan pula >>> bertanya saya ikut yang mana. >>> >>> >>> * Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi >>> wabarakatuh,Ahmad Sarwat, Lc., MA * >>> >>> >>> >>> >>> >>> >>> >>> 2015-05-18 4:47 GMT-04:00 Muhammad Hanif <[email protected]>: >>> >>> Assalamu'laikum ww >>>> >>>> Dusanak Palanta NAH >>>> >>>> Islamedia - Wakil Sekretariat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku >>>> Zulkarnaen mengungkapkan membaca Alquran dengan menggunakan langgam Jawa di >>>> Istana Negara, telah mempermalukan Indonesia di kancah internasional. >>>> Tengku merasa banyak kesalahan, baik dari segi tajwid, fashohah, dan >>>> lagunya. >>>> >>>> Menurutnya, pembacaan ayat-ayat Alquran dengan menggunakan langgam Jawa >>>> adalah hal konyol. Dalam Alquran sudah dijelaskan kitab suci itu diturunkan >>>> dengan huruf dan bahasa Arab asli. >>>> Berita lengkap : >>>> http://www.islamedia.co/2015/05/mui-tilawah-alquran-di-istana-dengan.html >>>> >>>> Mohon pencerahannya, tarimokasih sabalunnyo. >>>> >>>> Wassalam >>>> >>>> Hanif / BKS / 42 >>>> >>>> - >>>> >>> >>> -- >>> . >>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat >>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ >>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. >>> =========================================================== >>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: >>> * DILARANG: >>> 1. Email besar dari 200KB; >>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; >>> 3. Email One Liner. >>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta >>> mengirimkan biodata! >>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting >>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply >>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & >>> mengganti subjeknya. >>> =========================================================== >>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan >>> di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ >>> --- >>> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google >>> Grup. >>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, >>> kirim email ke [email protected]. >>> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. >>> >> >> > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google > Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
