Sanak dipalanta n.a.h
Untuk membangun nagari perlu kita lihat kehidupan di nagari. Sekarang ini nagari dihuni: 1. Penduduk tempatan umumnya petani, mereka domonan (anak nagar, asli nagari maupun yang mengaku bermamak ke penghulu di nagari). 2. PNS/Aparat baik tempatan maupun dari luar ( guru, aparat pemerintahan lainya) 3. Pedagang (tempatan atau dari luar) A. Mereka yang disebut diangka 1 atau petani, hidupnya sederhana, meskipun ada berkemampuan namun masih dalam koridor kesederhanaan. Mereka inilah yang produktif dalam soal pangan, merekalah penyedia pangan bagi yang tersebut diangka 2 dan 3 diatas. Rencana kerja mereka tak muluk-muluk. Laki-laki pagi kesawah bawa nasi atau diantar istri untuk makan siang disawah, habis ashar pulang. Ada kelebihan pendapatan ditabung dengan beli emas, ternak atau dipegangkan kesawah kalau ada yang menggadai. Yang belum banyak tanggungan, mereka bisa menabung. Masalah yang menjadi beban bagi para petani ini ialah: 1. Biaya sekolah anak ke SLTP dan SLTA dan PT (perguruan tinggi). SLTP mungkin sudah hadir di nagari, SLTA masih kecamatan, PT hanya di Kabupaten. 2. Biaya kesehatan Mengatasinya: 1. Biaya sekolah a. DIM wajib menghadirkan jenjang pendidikan itu di nagari, rakyat nagari harus dibebaskan dari biaya pendidikan. b. DIM wajib membebaskan biaya kesehatan kepada rakyat. Komersialisai pendidikan dilarang didaerah DIM. Untukl pendidikan tinggi lakukan secara halaqah dengan memanfatkan surau dan mesjid, surau siangnya kosong, mesjid 6 hari dalam seminggu kosong. Pendidikan di nagari jangan terlalu ditujukan untuk ijazah tapi untuk meningkatkan wawasan rakyat nagari. 2. Untuk pengobatan, hendaknya ahli kesehatan atau yang ahli dibidangnya harus merintis / mengusahakan bagaimana caranya agar tanaman obat bisa diberikan dosis mentahnya. Rakyat tinggal petik tanaman obat dihalaman kemudian direbus lalu diminum. Sekarang ini hanya para dukun yang berperan dalam dosis mentah ini. Kedepan kita harapkan dari dokter. Masalah lainnya , sandang, pangan, papan secara sederhana bisa mereka penuhi. B. Mereka yang disebut diangka 2 dan 3. Kebanyakan mereka sudah pernah atau berada di kota atau pernah mengenyam kehidupan kota. Mereka inilah yang membawa perubahan ke nagari atau istilah sekarang modernisasi Sayangnya perubahan itu ada pula negatifnya. 1. Mungkin dituntut oleh tugas, benar apa tidak mereka yang tahu, cara mereka bertingkah laku sehari-hari, dengan bawaan konsumptifnya terasa mewah oleh petani. Golongan ini umumnya tidak memproduksi bahan pangan, mereka beli dari kedai. Dengan kedatangan mereka ke nagari, otomatis diikuti juga oleh hadirnya barang-barang yang dianggap mewah di nagari, mau tak mau petani sedikit banyak terimbas. 2. Dalam memenuhi keperluan tak jarang mereka yang PNS/Aparat menggadaikan SK nya dan yang pedagang menggadaikan asetnya baik ke pegadaian maupun Bank. Banyak juga yang bankrut, lebih kalut lagi dari petani biasa Hal negative 1 dan 2 ini berimbas ke petani termasuk petani pas-pasan, petani ikut-ikutan dengan gaya mereka, ujungnya menipiskan atau malah mengahbiskan tabungan. Hal ini tak bisa diatasi kecuali kesadaran petani sendiri. Beban berat bagi PNS/Aparat dan pedagang ini mungkin sama juga dengan para petani yaitu ongkos pendidikan anak dan biaya kesehatan. Mengatasinya sama dengan para petani diatas. Kalau beban diatas bisa diatasi dengan menghadirkan sarana pendidikan dan membebaskan biayanya serta adanya dosis menta tanaman obat, ini mungkin sudah merupakan salah sastu upaya pembangunan ekonomi rakyat di nagari. Mereka yang hidup di kota-kota yang umumnya PNS/aparat, pedagang, dan Buruh semuanya boleh dikatakan konsumen, didaerah DIM, fokus pembangunannya tentu lain lagi, karena ini merupakan segmen sendiri, jumlah mereka mungkin kecil dari mereka yang ada dinagari namun jumlah barang dan uang yang beredar jauh lebih besar dari Nagari, perlu pemikiran tersendiri namun jangan sekali-kali mencontoh Jakarta, Surabaya dan Menado. Jakarta secara tak disadari telah menyediakan dirinya untuk menjadi Singapura. Pribumi secara bertahap dan berangsur dikeluarkan dari Jakarta (tanah dan orangnya hilang dari peredaran). Pendatang pribumi baik berupa PNS/Aparat, pedagang, para pensiunan yang mengahbiskan masa tuanya di Jakarta juga banyak yang tak akan lama bertahan, generasi berikutnya akan terdesak dengan berbagai cara, akhirnya keluar Jakarta tarik diri seperti yang dialami pribumi Betawi sekarang ini. Yang salah kebijakan daerah, di Sumbar hendaknya jangan kejadian, dinegeri sendiri rakyat terusir keluar. Sakitu dulu, silakan kawan lapau manyambuangnyo. Wass, Maturidi (L/77) Talang, Solok, Kutianyia, Duri Riau -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
