Di Riau kami lah bagalimang asok sajo mak Ngah, baa kamangatoannyo, kito
Indonesiako dipihak nan lamah

Kalau dikecekan ka nan mamacik, inyo masih batah jo pandapeknyo.

Asok ko lah dari zaman pak Harto.

Seperti apo nan dikatokan tokoh Riau / Presiden Riau berdaulat: Riau ko
dianggap tak ado urang (ILC beberapa minggu lalu).

Hutan dipetak dibagi-bagi dst, akhirnyo memproduksi,  termasuk asap. Di
Provinsi lain kini sedang dimulai kata beliau.

Anak sikola libur dek olah asok, cucu sakalah satu SD, pagi jam 6:45 WIB
pai sikola, jam 8:00 WIB pulang. alah balangsuang saminggu labniah


Dibawahko baru kapatangko kajadian:

*Liputan6.com, Pekanbaru -* Kabut asap di Riau akibat [kebakaran
hutan](2345326/ "") dan lahan kembali menelan korban jiwa. Ramadhani Lutfi
Aerli (9) mengembuskan napas terakhir pada Rabu (21/10/2015) dini hari
setelah mengalami gangguan pernapasan.

Sebelumnya, murid kelas 3 SD di Jalan Sumatera, Pekanbaru, itu sempat
dirawat intensif di Rumah Sakit Santa Maria. Sejumlah perawatan medis tak
mampu menyelamatkan nyawanya karena paru-parunya sudah dipenuhi asap.

"Hasil pemeriksaan medis menyebutkan kalau paru-paru anak saya ini penuh
dengan asap, sehingga tidak mendapat oksigen yang cukup," ucap Eri Wirya,
ayah bocah malang ini di di rumah duka di Jalan Pangeran Hidayat,
Pekanbaru, Rabu (21/10/2015).

Eri menuturkan, pada Senin 19 Oktober 2015 lalu anaknya masih bersekolah.
Sepulang dari sekolah sang anak mulai mengeluh pernapasannya terganggu
<http://news.liputan6.com/read/2345379/akibat-kabut-asap-jam-pelajaran-sekolah-di-jambi-dipangkas>
.

"Lalu pada Selasa almarhum demam tinggi dan kejang-kejang. Kami sempat beri
obat demam dan tak sadarkan diri. Makanya kami bawa ke Rumah Sakit Santa
Maria," tutur dia.

Setibanya di rumah sakit, kondisi sang anak kian memburuk dan tak sadarkan
diri. Dokter langsung memberikan penanganan awal dengan menginfus, memberi
oksigen dan uap. Namun Ramadhani tak juga sadar.

Tepat pada Rabu sekitar pukul 01.00 WIB, sang anak sempat sadar dan
memanggil ibunya. Eri sempat mendapat secercah harapan, lalu hilang setelah
sang anak kembali tak sadarkan diri.

"Kemudian dokter menekan-nekan dadanya. Saya tidak tega melihatnya, saya
istighfar. Subuhnya anak saya sudah tiada," kisah sang ayah dengan berurai
air mata.

Dengan kondisi badan tak bernyawa lagi, bocah malang itu kemudian dibawa ke
rumah duka, Jalan Pangeran Hidayat, Gang Nikmat Nomor 57, Kelurahan Kota
Baru, Kecamatan Pekanbaru Kota.

Isak tangis ayah, ibu dan keluarganya tak terbendung. Setelah disemayamkan
beberapa jam di rumah duka, akhirnya jenazah Ramadhani Lutfi Earli
dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU), Jalan Air Hitam, Pekanbaru.

Meski sudah ikhlas, Eri meminta pemerintah bertanggung jawab atas kejadian
ini. Dia tak ingin lagi ada korban jiwa lainnya karena kabut asap
<http://news.liputan6.com/read/345300/uu-terorisme-arab-saudi-dikritik>yang
hampir 4 bulan menyelimuti Riau dan Sumatera ini.

"Saya minta pemerintah bertanggung jawab atas hal ini. Jangan sampai ada
korban lainnya berjatuhan, sudah cukup rasanya," sebut Eri.

Meninggalnya Ramadhani kian memperpanjang daftar korban tewas karena kabut
asap. Sebelumnya, ada bocah 12 tahun, Muhanum Angriawati dan seorang PNS
meninggal karena kabut asap. (Hmb/Mut)*




Maturidi

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke