2 gubernur riau masuk panjaro dek masalah korupsi kolusi konsesi hutan,
tamasuak jo pengusaha nan mambaka hutan.

Baa caronyo rakyat riau mamiliah gubernur tu?

Wassalam
Fitr
On Oct 21, 2015 7:25 PM, "Maturidi Donsan" <[email protected]> wrote:

> Di Riau kami lah bagalimang asok sajo mak Ngah, baa kamangatoannyo, kito
> Indonesiako dipihak nan lamah
>
> Kalau dikecekan ka nan mamacik, inyo masih batah jo pandapeknyo.
>
> Asok ko lah dari zaman pak Harto.
>
> Seperti apo nan dikatokan tokoh Riau / Presiden Riau berdaulat: Riau ko
> dianggap tak ado urang (ILC beberapa minggu lalu).
>
> Hutan dipetak dibagi-bagi dst, akhirnyo memproduksi,  termasuk asap. Di
> Provinsi lain kini sedang dimulai kata beliau.
>
> Anak sikola libur dek olah asok, cucu sakalah satu SD, pagi jam 6:45 WIB
> pai sikola, jam 8:00 WIB pulang. alah balangsuang saminggu labniah
>
>
> Dibawahko baru kapatangko kajadian:
>
> *Liputan6.com, Pekanbaru -* Kabut asap di Riau akibat [kebakaran
> hutan](2345326/ "") dan lahan kembali menelan korban jiwa. Ramadhani Lutfi
> Aerli (9) mengembuskan napas terakhir pada Rabu (21/10/2015) dini hari
> setelah mengalami gangguan pernapasan.
>
> Sebelumnya, murid kelas 3 SD di Jalan Sumatera, Pekanbaru, itu sempat
> dirawat intensif di Rumah Sakit Santa Maria. Sejumlah perawatan medis tak
> mampu menyelamatkan nyawanya karena paru-parunya sudah dipenuhi asap.
>
> "Hasil pemeriksaan medis menyebutkan kalau paru-paru anak saya ini penuh
> dengan asap, sehingga tidak mendapat oksigen yang cukup," ucap Eri Wirya,
> ayah bocah malang ini di di rumah duka di Jalan Pangeran Hidayat,
> Pekanbaru, Rabu (21/10/2015).
>
> Eri menuturkan, pada Senin 19 Oktober 2015 lalu anaknya masih bersekolah.
> Sepulang dari sekolah sang anak mulai mengeluh pernapasannya terganggu
> <http://news.liputan6.com/read/2345379/akibat-kabut-asap-jam-pelajaran-sekolah-di-jambi-dipangkas>
> .
>
> "Lalu pada Selasa almarhum demam tinggi dan kejang-kejang. Kami sempat
> beri obat demam dan tak sadarkan diri. Makanya kami bawa ke Rumah Sakit
> Santa Maria," tutur dia.
>
> Setibanya di rumah sakit, kondisi sang anak kian memburuk dan tak sadarkan
> diri. Dokter langsung memberikan penanganan awal dengan menginfus, memberi
> oksigen dan uap. Namun Ramadhani tak juga sadar.
>
> Tepat pada Rabu sekitar pukul 01.00 WIB, sang anak sempat sadar dan
> memanggil ibunya. Eri sempat mendapat secercah harapan, lalu hilang setelah
> sang anak kembali tak sadarkan diri.
>
> "Kemudian dokter menekan-nekan dadanya. Saya tidak tega melihatnya, saya
> istighfar. Subuhnya anak saya sudah tiada," kisah sang ayah dengan berurai
> air mata.
>
> Dengan kondisi badan tak bernyawa lagi, bocah malang itu kemudian dibawa
> ke rumah duka, Jalan Pangeran Hidayat, Gang Nikmat Nomor 57, Kelurahan Kota
> Baru, Kecamatan Pekanbaru Kota.
>
> Isak tangis ayah, ibu dan keluarganya tak terbendung. Setelah disemayamkan
> beberapa jam di rumah duka, akhirnya jenazah Ramadhani Lutfi Earli
> dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU), Jalan Air Hitam, Pekanbaru.
>
> Meski sudah ikhlas, Eri meminta pemerintah bertanggung jawab atas kejadian
> ini. Dia tak ingin lagi ada korban jiwa lainnya karena kabut asap
> <http://news.liputan6.com/read/345300/uu-terorisme-arab-saudi-dikritik>yang
> hampir 4 bulan menyelimuti Riau dan Sumatera ini.
>
> "Saya minta pemerintah bertanggung jawab atas hal ini. Jangan sampai ada
> korban lainnya berjatuhan, sudah cukup rasanya," sebut Eri.
>
> Meninggalnya Ramadhani kian memperpanjang daftar korban tewas karena kabut
> asap. Sebelumnya, ada bocah 12 tahun, Muhanum Angriawati dan seorang PNS
> meninggal karena kabut asap. (Hmb/Mut)*
>
>
>
>
> Maturidi
>
>
>
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
> Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke