TANAH BERGERAK DI KABUPATEN LIMAPULUH KOTA 10 Ribu Jiwa Terancam Longsor 
Senin,14 November 2016 - 00:56:37 WIB (Haluan Padang)

[image: 10 Ribu Jiwa Terancam Longsor] Ruas jalan utama yang menghubungkan 
Nagari Baruah Gunuang dan Nagari Sungai Naning Kabupaten Limapuluh Kota 
terlihat hancur akibat tanahnya terus bergerak pasca longsor sejak setahun 
lalu. Akibatnya, jalan jadi turun naik, bahkan aada yang terban ke jurang. 
(DADANG) 
<http://harianhaluan.com/news/detail/61911/10-ribu-jiwa-terancam-longsor> 

Longsor besar setahun lalu yang melanda Nagari Baruah Gunuang dan Sungai 
Naning, Kabupaten Limapuluh Kota, hingga kini masih menyisakan masalah bagi 
warga di dua nagari itu. Kondisi tanah belum stabil, sehingga mengancam 
kehidupan warga. Belum lagi akses jalan yang rusak parah dan terbelah 
akibat tanah yang bergerak. Butuh penanganan segera dari pemerintah.

*LIMAPULUH KOTA, HALUAN* – Bencana besar mengancam ribuan warga Nagari 
Baruah Gunuang dan Sungai Naniang, Kecamatan Bukit Barisan Kabupaten 
Limapuluh Kota. Pasca long­sor yang melanda dua nagari tersebut setahun 
lalu, hingga kini tanah per­bukitan itu terus bergerak. Akibat­nya, jalan 
terbelah, rumah penduduk pun retak-retak bahkan ada yang hancur akibat  
pergerakan tanah tersebut.

Pantauan *Haluan*, pulu­han kilometer ruas jalan utama penghubung kedua 
nagari tersebut tak ada yang rata. Jalan amblas bahkan sudah ada ruas jalan 
yang

terban ke dalam jurang akibat dikikis air perbukitan. Tak hanya itu, 
kondisi tanah di kedua nagari yang terletak di kawasan per­bukitan tersebut 
sudah retak akibat adanya pergerakan tanah yang terus terjadi sampai detik 
ini.

“Jalan ada yang terbelah akibat pergerakan tanah. Tanah tak rata lagi, 
aspal jalan terkelupas. Belum lagi lumpur dan batuan yang jatuh dari tebing 
sampai ke badan jalan. Begitulah kondisi jalan peng­hubung utama di daerah 
kami ini. Mau tidak mau jalan tersebut harus kami manfaatkan. Karena tidak 
ada akses jalan lain untuk dilewati kecuali jalan rusak ini,” terang Andi, 
warga setempat saat ditemui di Sungai Naniang, Sabtu (12/11) lalu.

Lebih menyedihkan, rumah-rumah berdinding tembok milik masyarakat setempat 
banyak yang retak dan menganga akibat ber­geraknya dasar tempat rumah itu 
berdiri. “Apalagi bila datang musim hujan seperti ini, membuat warga jadi 
was-was. Takut dengan ancaman longsor yang bisa saja terjadi. Kami sudah 
tak nyaman tinggal di sini, tapi mau pindah kemana?,”ucapnya lagi.

Memang, kondisi jalan sangat memprihatinkan dan tidak layak untuk dilalui. 
Namun masyarakat setempat tetap harus me­man­faatkan jalan itu, karena 
itulah akses penghubung satu-satunya antar nagari tersebut. Kendaraan roda 
empat dan roda dua tetap melewati akses jalan yang sama meski mengancam 
jiwa mereka. “Apabila melewati jalan tidak hati-hati, pengguna jalan bisa 
jatuh dan terbawa tanah ke jurang dan lembah yang ada disamping jalan,” 
ungkapnya.

Ketua DPRD Kabupaten Li­ma­puluh Kota Safaruddin sangat prihatin dengan 
kondisi yang terjadi di kampung halamannya. Di dua nagari tersebut, ucap 
Ketua DPD Golkar Limapuluh Kota itu setidaknya terdapat 9 ribu lebih 
penduduk yang menghuni Nagari Baruah Gunuang dan Nagari Sungai Naniang.

Menurut Safaruddin, DPRD Kabupaten Limapuluh Kota su­dah menyurati Gubernur 
Sumbar Irwan Prayitno terkait kondisi jalan dan kawasan Bukit Barisan pasca 
bencana 2015 lalu. “Tanah bergerak berawal sejak 2015 lalu. Gubernur pun 
sudah meninjau lokasi. Setelah itu, kita juga berupaya untuk menanggulangi 
Bukit Barisan pasca bencana ke Pemprov Sumbar. Gubernur di­surati tetapi 
dari keterangan gubernur seluruh penanganan sudah berbalik ke daerah,” 
terang Safaruddin.

Meski demikian,  lanjut Safa­ruddin DPRD Kabupaten Lima­puluh Kota terus 
mendorong pemerintah daerah untuk serius menangani bencana di Bukit 
Barisan. “Dahulu pernah ada dana penanggulangan bencana sementara sebesar 
Rp 400 juta. Tetapi itu belum cukup untuk menangani bencana Bukit Bari­san 
ini. Karena itu kita mendesak bupati untuk penanganan ben­cana ini segera. 
Karena, hampir 10 ribu jiwa terancam,” terang Sa­faruddin.

Terpisah, Wakil Bupati Lima­puluh Kota Ferizal Ridwan me­ngatakan, perlu 
penanganan se­rius terhadap bencana Bukit Barisan. “Jangan 
tanggung-tang­gung dalam menangani bencana ini. Kita juga sudah mendesak 
instansi terkait agar secepatnya melakukan penanganan,” ucap Ferizal Ridwan.

Dijelaskan Buya, sapaan akrab Wakil Bupati, dengan rusaknya infrastruktur 
jalan, akan ber­dampak terhadap perekonomian masyarakat setempat. “Biaya 
hidup jadi tinggi. Belum lagi kecemasan terhadap ancaman longsor dari 
pergerakan tanah yang dirasakan masyarakat di saat memasuki musim hujan 
ini. Secara psikologi, masyarakat jadi terganggu,” terangnya. 
*(h/ddg) *


On Sunday, November 13, 2016 at 9:09:41 AM UTC-8, Sjamsir Sjarif wrote:
>
> Mudah-mudahan rencana indah ini terjelma lengkap nanti untuk dihayati 
> angkatan penerus:
>
>
> https://www.google.com/amp/s/mediel.wordpress.com/2013/12/06/monumen-nasional-bela-negara-pdri/amp/
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke