DERITA MENTAWAI:
Dari Haluan:
BERKUNJUNG KE PULAU PAGAI UTARA DAN SELATAN Enam Tahun Pasca Gempa, Masih
Ada Derita
Minggu,18 Desember 2016 - 10:08:47 WIB
[image: Enam Tahun Pasca Gempa, Masih Ada Derita] Bengkalai bangunan proyek
rumah di Mabulou Buge.Dodi.
PULAU PAGAI UTARA DAN SELATAN NASIBNYA KINI
Enam Tahun Pasca Gempa, Masih Ada Derita
LAPORAN: Dodi Nurja
BELUM pupus dari ingatan, ketika Senin malam 25 Oktober 2010, pukul
21.42 WIB gempa berkekuatan 7,2 Skala Richter mengguncang Kepulauan
Mentawai. Gempa kuat ini membangkitkan tsunami yang menyapu puluhan desa
di Pulau Pagai Utara dan Pagai Selatan. Sebanyak 456 orang dilaporkan
meninggal, 21 orang hilang, 17 orang luka berat dan 11.425 orang luka-luka.
Pagai Utara adalah kecamatan terdampak gempa dan tsunami yang paling
parah. Sebanyak 268 warga kecamatan ini dilaporkan meninggal tersapu
gelombang tsunami. Bahkan di sebuah dusun di desa Betumonga yang
bernama Muntei, 137 orang meninggal dan di dusun Sabeuguggung,
sebanyak 121 orang meninggal.
Ketika *Haluan dan *beberapa jurnalis yang dipandu aktivis Yayasan Citra
Mandir (YCM), menyusuri desa desa dan beberapa dusun di kecataman Pagai
Utara ini Minggu pekan lalu, bekas-bekas kehancuran akibat dahsyatnya
gempa dan tsunami, masih terlihat nyata.
Derita panjang para korban pun belum berakhir, kendati bencana itu sudah
enam tahun berlalu. “Masih banyak warga yang tinggal di gubuk reot
tanpa penerangan listrik dan air bersih yang layak. Lihatlah, betapa
penderitaan para korban gempa, belum berakhir," ujar Kepala Dusun
Sabeuguggung, Deimas Saogo.
Walau di desa Saumangaya pemerintah telah membangun 88 unit Huntap
(Hunian Tetap), tetapi belum selesai seluruhnya. Masih banyak yang
terbengkalai ditinggalkan pemborongnya.
Sedangkan Huntap yang sudah selesai dan diserahkan pada korban gempa,
masih banyak pula yang kosong ditinggalkan penghuninya. "Mereka
tidak bisa menetap di huntap karena banyak persoalan. Bagaimana mereka mau
bertahan, sementara sumber ekonomi mereka tidak ada di sini," jelasnya.
Siritoitet sorang nelayan, menyatakan, huntap yang baru dibangun itu
berlokasi jauh di kaki bukit. Pada hal banyak korban gempa, hidup
sebagai nelayan. Kampung asal mereka jauh di bawah sana, di pinggir pantai
yang terpisah sekitar 10 kilometer dari huntap. "Maka kami seakan
terpenjara di huntap. Sumber kehidupan dan budaya kami bukan di kaki
bukit ini, tapi di pinggir pantai," timpal.
Karena itulah Siritoitet dan beberapa penghuni Huntap Saumangaya I, lebih
memilih tinggal di pondok darurat di pinggir pantai. Sedangkan
Huntap dijadikan sebagai "pondok siaga" saja, sekira terjadi gempa,
mereka kembali lari ke huntap.
Banyak korban gempa memilih untuk melalui hari-hari di bekas kampung
asal dekat pantai. Disana mereka mendirikan pondok-pondok darurat.
Mereka datang ke Huntap hanya hari Minggu saja. Senin hingga Sabtu
mereka kembali beraktivitas di kampung asal seperti dulu lagi.
“Meski harus berjalan kaki 10 kilometer, tapi di sanalah kita mencari ikan
dan menangkap udang. Itu sudah kehidupan kita sejak kecil," ujarnya.
Alasan yang dikemukakan Siritoitet, memang masuk akal. Sumber kehidupan
mereka ada di pantai yang nun jauh di bawah sana. Mereka tidak bisa
tercerabut begitu saja dari pantai. Mereka tidak bisa direnggutkan
dari budaya dan sumber ekonominya.
*Bangunan Terbengkalai*
Pemerintah pusat mengklaim telah membangun sebanyak 2.072 unit huntap.
Sedangkan rumah kusus (rusus) dibangun di Desa Saumangaya I 88 unit,
desa Saumanganya II sebanyak 106 unit. Desa Silabu 87 unit, Desa Taikako
80 unit, Desa Malakopa 21 unit, Desa Bulasat 3 unit.
Namun ketika berkunjung ke sejumlah desa dan dusun di Pagai Utara ini,
para jurnalis bersama tim Yayasan Citra Mandiri (YCM) masih menemukan
korban gempa yang hidup terlunta-lunta tanpa tempat tinggal yang layak.
Keletihan setelah memacu sepeda motor selama tiga jam di jalan sempit
yang penuh lobang dan kadang berkubang lumpur, serasa hilang ketika
mendapati masih ada korban gempa yang cuma tinggal di gubuk derita
seperti kandang. Impian korban gempa untuk dapat tinggal di Rumsus yang
laik huni, hanya tinggal mimpi di siang bolong
Di dusun Masabug, Barudin Tasilipet tak mampu menyembunyikan duka yang
mendalam ketika menujukan bangunan yang baru berdindingkan empat deret
batako yang katanya Rumsus itu. Bangunan berukuran 6x6 meter itu tanpa
atap, pintu dan kamar. Pekarangannya bahkan sudah ditumbuhi rumput
dan semak belukar. Sepertinya bengkalai Rumsus ini, sudah lama ditinggal
lari kontraktornya.
Celakanya lagi, pemborong tidak membayarkan upah keringat bekerja mencari
material bangunan Rumsus itu. “Sekarang sudah bulan di penghujung
tahun, tapi kita belum mendapatkan apa- apa dari tetesan keringat
menggali pasir seperti yang dijanjikan pemborong,” ujar bapak tiga anak
ini.
Ketika pembangunan mulai dilaksanakan awal Februari silam, pihak
pemborong meminta warga mencari pasir, batu dan kayu. Kesulurahan
material bangunan itu akan dibeli oleh kontraktor. Untuk satu kubik pasir
dihargai kontraktor Rp125 ribu. Sejak saat itu banyak kaum Bapak,
bahkan perempuan yang menggali pasir di pantai Pasapuat. Tapi setelah
bekerja membanting tulang, material yang sudah digunakan untuk membangun
Huntap, tidak kunjung dibayarkan kontraktor.
Tokoh masyarakat Mabulau Bouoge a Meilus Samuleilei menyatakan,
persoalan kontraktor dan kesepakatan akhir sudah dilaporkan. Ia minta
hak-hak warga dibayarkan. “ Apa lagi sudah menjelang natal dan tahun
baru, warga punya banyak kebutuhan. Pihak rekanan sub kontraktor diminta
segera membayarkan hutang kepada warga yang telah menyediakan material
pasir, krekel dan cetak lobrik,” harapnya.
Sedangkan Jaminsen, anggota Badan Permusyarakatan Desa, menduga ada yang
tidak beres pada pelaksanaan proyek pembangunan hunian khusus ini.”Kalau
adik-adik ingin menelusuri, ya bongkar saja semua. Sudah lama warga
dibodoh-bodohi,” tegasnya.
Sementara Camat Pagai Utara Jarlinus Ridawan yang dikonfirmasi *haluan*
menyatakan , telah minta perusahaan agar menyelesaikan hutang
piutang dan segala permasalahan dengan warga. “Karena harapan kita
pembangunan Rusus itu dapat diselesaikan secepatnya sesuai batas waktu
yang ada,” jelasnya.
Pihak kontraktor, kata Ridwan, juga terkendala oleh kondisi cuaca.
“Sepanjang Agustus dan September kemaren kan musim badai sehingga
pengangkutan material dari Padang terhambat. Tukang-tukang tidak bekerja
karena tidak ada material yang tersedia,” jelasnya.
Camat berharap pembangunan segera tuntas dan dihuni oleh warga. “Bila
warga kembali menetap di kampung asal, itu berada dalam zona bahaya
gempa dan tsunami,” pungkasnya. *
On Monday, December 12, 2016 at 1:42:18 AM UTC-8, Sjamsir Sjarif wrote:
>
>
> 1 Ton Rendang Sumbar untuk Korban Gempa Sampai di Aceh
> Minggu,11 Desember 2016 - 17:27:32 wib | Dibaca: 357 kali
> Submit Submit Submit
>
> 1 Ton Rendang Sumbar untuk Korban Gempa Sampai di Aceh
> Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit menyerahkan bantuan kepada perwakilan
> Gubernur NAD di Aceh, Minggu (11/12). ISRA
>
> ACEH, HALUAN -- Bantuan Pemprov Sumbar berupa 1 ton rendang, uang tunai,
> dan obat-obatan akhirnya sampai di Aceh. Bantuan langsung diserahkan Wakil
> Gubernur Sumbar, Nasrul Abit, kepada perwakilan Provinsi Aceh.
>
> Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar, Nasridal Patria,
> dalam pesan elektroniknya menyebutkan, bantuan ini langsung diserahkan
> kepada perwakilan di Aceh.
>
> Rendang hasil sumbangan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), Pekerjaan
> Umum (PU), Balai Wilayah dan pihak lainnya dengan total 1 ton bisa segera
> dimanfaatkan.
>
> "Alhamdulilah, batuannya telah kami serahkan," katanya kepada
> harianhaluan.com Minggu (11/12).
>
> Penyerahan rendang tersebut diterima oleh Gubernur NAD yang diwakili Staf
> Ahli Gubernur Ir. Elfizal MM.
>
> Makanan khas Sumatera Barat itu juga langsung didistribusikan ke daerah
> terkena gempa yang diwakili oleh tiga bupati.
>
> Sementara bantuan berupa uang akan dimasuk ke rekening bencana Provinsi
> NAD. Untuk masyarakat minang yangg terkena bencana, juga diserahkan bantuan
> secara simbolis sebesar Rp. 15 juta yang diterima oleh Kelurga Suharnas dan
> Yudi Suharnen.
>
> Penyerahan bantuan juga dihadiri oleh perkumpulan warga minang di Banda
> Aceh. (h/Isr)
>
> Baca juga : Sumbar Kirim Rendang ke Aceh
>
> Editor : Rivo Septi Andries
>
>
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.