Dear pak jamal. Ini diskusi yang sangat serius, jadinya. Diperlukan para
ahli (perencanaan) ekonomi yang handal. Saya setuju dengan kelemahan daya
beli masyarakat, karena income per kapita yang rendah. Semakin banyak warung
sekarang yang tutup lebih cepat, sekalipun listrik sudah masuk ke
pelosok-pelosok. 

 

Persoalan terpenting adalah APBD Sumbar, termasuk kabupaten dan kota,
terlalu tergantung kepada "subsidi" pusat. Lalu, APBD itu terserap kepada
anggaran rutin yang berarti juga dinikmati oleh pegawai negeri sipil.
Anggaran itu menjadi tidak produktif. Kemampuan mendatangkan investasi dari
luar juga rendah. Saya selalu kesulitan kalau bicara soal investasi di
Sumbar ke kalangan investor manapun. Tidak ada lahan luas yang bisa ditanam
kebun sawit, misalnya, karena seluruh tanah adalah tanah adat. Teman saya
yang bekerja di Coca Cola, misalnya, memindahkan kantor distribusinya ke
luar Sumbar, ketika begitu banyak yang harus dipertaruhkan di ranah Minang.
Pengusaha hotel yang saya tahu juga kesulitan untuk mencari pegawai-pegawai
yang bisa tersenyum, padahal harus ada pegawai lokal. 

 

Kualitas air pegunungan di Sumbar itu bagus, untuk menjadi semacam Aqua.
Tetapi, lagi-lagi, akan kesulitan sekarang untuk menjaga keberlanjutan
proyek seperti itu. Mengapa? Karena pasokan air bersih terus-menerus
memerlukan kerjasama yang kohesif di kalangan pengelolanya. Sekali saja air
itu dimasuki oleh kerbau atau anjing mati, sulit untuk mencegah efek
negatifnya. Orang-orang sekarang dengan mudah mencari ikan di sungai
menggunakan strum (listrik), sehingga telor ikanpun mati. Yang lebih parah,
pakai racun. 

 

Financial system katanya sudah berjalan baik dengan adanya Bank Pengkreditan
Rakyat. Tetapi, seberapa banyak yang bisa dicover? Usaha besar jelas
membutuhkan sistem perbankan. Tetapi apa yang mau dimasuki oleh pinjaman
kredit bank ini, kalau yang punya uang dijadikan sebagai sai perahan atau
musuh masyarakat? 

 

Tentu keadaannya berbeda dengan masalah nasional. Bagaimanapun, Indonesia
adalah pasar yang luas, 230 Juta penduduk. Dan masih banyak daerah-daerah
yang kaya dengan sumberdaya alam, seperti Papua dan Aceh. Sekarang ini,
semakin banyak orang asing yang mau ambil 1 Juta hektar hutan Aceh, katanya
demi perkebunan, nyatanya hanya untuk mengambil kayunya, diseludupkan lewat
Malaysia atau Philipina, lalu sampai di China. Jadilah China sebagai
eksportis kayu merbau terbesar di dunia dan Malaysia sebagai eksportir kayu
gelondongan nomor satu. Padahal, kayu-kayunya dari hutan Indonesia. 

 

Secara ekonomi, Sumbar sudah finish! Namun, tidak ada yang mau mengakui itu.
Kalau Sumbar mau maju, carilah seorang enterpreneur untuk menjadi
pemimpinnya. Tetapi itu saja tidak cukup. Beri ia kebebasan dan dukungan
untuk melakukan pekerjaannya. 

 

Dulu, masih ada efek dari perantau. Tetapi sejak pasar tanah abang terbakar,
juga pasar-pasar tradisional lain hancur, maka efek itu tidak lagi terasa.
Uang sulit didapat. Kantor-kantor pos makin kecil dalam menerima wesel-wesel
pos tiap lebaran. 

 

Bukan tidak ada jalan keluar. Lihat sekeliling: Riau adalah negeri kaya yang
sedang membangun. Tetapi Riau tidak memiliki Danau Maninjau, dll. Saya
setuju Pak Syaf, pariwisata bisa dimajukan, tetapi didiklah anak-anak gadis
dan orang-orang bujang untuk tersenyum. Apa orang Minang mau? Tidak! Pemda
malah mengirim satpol-satpol PP menggeledah seluruh hotel untuk tegaknya
syariat. Di Aceh saja itu tidak dilakukan, sekalipun mereka menerapkan
syariat Islam dan Serambi Mekah. 

 

Tentu saya tidak bisa menjawab pertanyaan bapak, karena ini soal serius.
Yang diperlukan adalah sejumlah prioritas pembangunan ekonomi, sembari
membelakangkan yang lain. Membangun universitas hebat juga salah satu jalan
keluar (lihat, bagaimana Australia bergelimang uang dengan kedatangan
pelajar-pelajar dari Indonesia, Malaysia atau Thailand). Tetai, apa mau
universitas di Minang menaruh dosen-dosen dari luar negeri atau dari luar
Minang, karena keminangannya itu? Baik dunia pariwisata atau dunia
pendidikan di Minang, selalu saja menghadapi problem "keakuan" dan
"keangkuhan" orang Minang. 

 

Taufik Rahzen dan Radhar Panca Dahana, dua orang teman saya, ketika Kongres
Gebu Minang dulu, sempat menyumbangkan ide menjadikan Sawahlunto sebagai
kota wisata tambang se-dunia. Mereka punya kontak di manca-negara. Tinggal
mencatatkan di kalender-kalender tahunan wisata di seluruh dunia. Tetapi,
apa ide yang disampaikan di depan walikota dan banyak petinggi Minang itu
laku? Pak Syaf menjadi saksinya. Silaing Indah bisa juga menjadi arena
hiking yang memukau, tinggal dicarikan jalurnya, termasuk untuk outbound dan
lain-lain.  Kalau kita out bound di puncak kan sekarang makin tidak terasa
desir angin, bunyi siamang, atau suara alamnya? 

 

Itu beberapa catatan saya. Saya kira, lagi-lagi, dibutuhkan analisis yang
lebih serius. Namun saya tetap berpendapat betapa kemajuan atau upaya
memajukan Sumbar sangat dipengaruhi oleh hambatan-hambatan budayanya
sendiri. Tinggal dicarikan sinerginya. Saya belum pernah ke Negara Arab yang
sedang berkembang sekarang. Tetapi yang saya dengar, di Negara itu orangnya
tidak peduli dengan bule-bule berbikini, tetapi mereka tidak menanggalkan
jilbabnya atau baju kokonya. Kalau memang Sumbar disebut kuat memegang agama
dan adat, mengapa takut membuka diri? Ujilah, apakah kuat iman itu?

 

ijp

  _____  

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of jamaludin mohyiddin
Sent: 02 Mei 2008 18:44
To: [email protected]
Subject: [EMAIL PROTECTED] Komentar-Re: [EMAIL PROTECTED] Re: Cakak Antarnagari 
-
PRIHATIN

 


Saudara Indra jaya Piliang,

Assalam mu alaikum wa rahmatul Llah hi wa barokatuh,
(Ma'afkan hambo berbahasa Inggeri s)

I did read the mentioned newspaper report with interest despite difficulty
in Bahasa and very local newscasting. Indeed, It is sad and this trend will
continue unabated as you said and pointed out it is part of Geertz's
argument for agricultur al involution.  I really appreciate if could kindly
provide a picture of an updated understanding of contemporary trend of
political economy of Minangkabau. You did mention that the main political
economic characteristic of Minang is agrarian or ag riculture-based. I
inferred from this is that its mode of production and the whole commercial
and entrepreunal system are not strong enough or good enough to be
competitive either at Indonesian regional level as well as at the higher
level involving the outside world. 

Not knowing precisely the political economy of Minangkabau and I have to
acknowledge this fact, somehow I have to agree with you that what really
needed in Ranah is economic intervention. You did itemized and emphasized
what sort of economic intervention(s) you have in mind. These items are good
to begin with. 

Is it possible you could elaborate further your perception of economic
intervention? How about starting the whole economic revitalization program
with economic de mocratization and enlarging participatory economics over
the existing political economic system of Minangkabau. May be, and I think,
the main problem in Ranah is the low purchasing power/ kekecilan daya
membeli. Of course, they are (historical) factors that why purchasing power
of Minang people remain steady low for long time. 

Whatever economic programs initiated will be ending up or with the objective
of enlarging this individual and collective/aggregate purchasing power
within the Ranah. Talking about increasing the overall purchasing power we
are precisely talking about banking and financing aspects of the political
economy of Minang. In what way and how far modernization of bank ing and
financial sectors in Minang have taken place? If it is not, it is extremely
difficult for a reformed political economy to deliver Minang to next
meaningful level of competitiveness. 

The idea to have training centers with the objective "u ntuk bisa bersaing
di dunia kerja diluar ekonomi agraris" is very timely and appropriate. Are
you also factor in the paramount importance and the significance of
noneconomic dimensions in your economic renewal project either in Minang as
well nationwide ? Could you mention couple of them?
  
--- On Fri, 5/2/08, Indra Jaya Piliang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:



From: Indra Jaya Piliang <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Cakak Antarnagari - PRIHATIN
To: [email protected]
Date: Friday, May 2, 2008, 5:16 AM

Perso
alan seperti ini akan terus terjadi. Minang pasti akan mengalami apa


yang disebut sebagai involusi pertaniannya Geertz, yakni semakin banyak


orang yang memiliki tanah, tetapi lahan semakin kecil dan produksi semakin


tipis. Akibatnya, lahan menj
adi rebutan. 


  


Ini juga menjadi tanda betapa masyarakat di level nagari belum mampu keluar


dari ekonomi agraris, lalu masuk ke level ekonomi lain: seperti perdagangan,


teknologi, informasi dan jasa. Lahan, lagi-lagi, menjadi persoalan. Kalau
 di


level nagari bacakak memperebutkan tanah atau lahan, maka di level pedagang


kaki-lima di tanah abang memperebutkan lapak/tempat. 


  


Jangan hanya prihatin. Musywarah untuk mufakat juga tidak


  


  
 akan


 menyelesaikan


masalah di tingkat akar umbi. Yang diperlukan adalah intervensi di bidang


ekonomi. Program-program padat karya barangkali bisa memberikan sedikit


penghasilan, tetapi yang lebih penting lagi adalah pemberian


training-t
raining pada level masyarakat, terutama yang berusia produktif,


untuk bisa bersaing di dunia kerja diluar ekonomi agraris. 


  


Sampai sekarang saya belum mendengar para bupati atau gubernur melakukan


program ini. Kalau ada anak-anak minang ke 
rantau, maka hanya bermodalkan


tulang sembilan kerat. Yang diperlukan bukan semacam Minangkabau Center,


melainkan semacam "Pusat Pelatihan Menuju Rantau". Modul-modulnya


bisa


dipikirkan, begitu juga instrukturnya. 


  


Kalau menggunakan p
endekatan Marxis, maka apa yang terjadi di Silungkang


bisa muncul lagi di abad ke-21 ini. 


  


ijp


  


-----Original Message-----


From: [email protected]


  


  
 [mailto:[EMAIL PROTECTED]


 On


Behalf Of Sutan Palimo


Sent: 02 Mei 2008 15:57


To: RantauNet


Subject: [EMAIL PROTECTED] Cakak Antarnagari - PRIHATIN


  


  


iko ado link di padek hari ko. cakak antarnagari di kab solok.


  


http
://www.padangekspres.co.id/content/view/4670/1/


  


  


  


  


  


  
 
 
      


  

  _____  


  
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.
<http://us.rd.yahoo.com/evt=51733/*http:/mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8H
DtDypao8Wcj9tAcJ%20>  Try it now.


  


  







 


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke