Mak Dave, Wakatu palebaran jalan Kalimalang nan di daerah Bekasi ko nampak bana beda no jo nan di daerah DKI. Kali malang Bekasi jalan no leba duo jalur dan mulus, nan masuak DKI sampik dan macet, tamasuak nan di muko kantua ambo. Samo2 badoa wak Mak Dave, lapeh musim ujan ko lai bapelok i, dan nan masuak DKI lah ba paleba pulo.
Wassalam Tan Ameh (49+) ----- Original Message ----- From: "Muhammad Dafiq Saib" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Monday, May 12, 2008 9:27 PM Subject: [EMAIL PROTECTED] Jalan Di Negeriku Assalamu'alaikum warahmatullaahi wa barakaatuhu Jalan di nagari nan ambo huni. Kesal nan antah kama ka dilapehan... JALAN DI NEGERIKU Sungguh mengesalkan ketika harus berkendaraan dari tempat tinggalku di Jatibening Bekasi menyusuri jalan sepanjang Kalimalang ke arah Kota Bekasi. Jalan yang dilalui rusak parah, benar-benar parah. Lobang sebesar kubangan kerbau memenuhi badan jalan dan dalamnya ada yang sampai 20 - 30 sentimeter, terpotong curam. Kalau tidak berhati-hati melalui lubang besar itu bukan tidak mungkin per kendaraan bisa patah. Keadaan seperti ini, dibiarkan saja tanpa perbaikan, sudah berlangsung berbulan-bulan (untuk kali ini). Aku sudah berpengalaman dengan jalan buruk seperti ini sejak tahun 1967, melalui jalan antara Bukit Tinggi dan Pakan Baru ketika itu. Melalui kubangan kerbau yang menyebabkan otobus berderam-berderam ketika melaluinya. Tapi kini. Di tahun 2008. Sudah lebih 60 tahun negeri ini merdeka. Nyaris di ibukota negara terletaknya (di tengah Jakartapun ada jalan yang nautzubillah rusaknya), sungguh menimbulkan tanda tanya. Susah benarkah ilmunya membuat jalan beraspal itu? Banyak benarkah ramuan yang harus dimasukkan kedalam bahan pengaspal jalan itu? Sehingga kita, bangsa ini belum juga lagi pandai membuat jalan yang bebas dari kerusakan? Benarkah hujan jadi penyebab rusaknya jalan? Ada negeri orang lebih banyak curah hujannya, lebih bervariasi iklimnya, kok mereka tidak punya masalah besar dengan jalan raya? Yang lebih mengenaskan dan sekaligus 'menjijikkan' adalah cara memperbaiki lobang-lobang besar itu. Lobang-lobang itu diisi dengan batu-batu besar, lebih besar dari batu bata, disusun alakadarnya dalam lobang kubangan itu, setelah itu baru ditutup dengan batu kerikil, lalu diaspal. Tentu saja dalam waktu tidak lama sesudah perbaikan jalan itu kembali rusak parah. Tidak mungkin batu-batu besar itu mudah direkat dengan aspal. Dan ketika diatasnya melintas truk dan bus berukuran besar, cepat sekali susunan batu-batu besar itu saling goyah menggoyahkan, maka rusaklah kembali jalan itu. Perbaikan dengan cara yang bodoh itu toh dilakukan berulang-ulang. Dan jalan yang kumaksud lebih lama berada dalam keadaan rusak ketimbang dalam keadaan mulus. Alangkah parahnya kesulitan mengurus negara ini. ____________________________________________________________________________________ Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Hindari penggunaan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
