Datuk Endang yth,
Terima kasih terhadap beberapa tanggapan  Datuk terhadap posting saya mengenai 
perlunya kajian mendasar terhadap sejarah PRRI. Mengenai fenomena 'patah 
semangat' orang Minang pasca PRRI, saya sarankan Datuk membaca biografi pak 
Harun Zain, yang bahkan menyatakan bahwa pada saat itu orang Minang sudah muno, 
dan untuk mengimbanginya, beliau mengumandangkan 'Strategi Harga Diri' pada 
tahun 1968, sewaktu saya menjadi angota DPRD Provinsi Sumatera Barat. Lagi 
pula, barangkali Datuk lupa, bahwa mengenai kecenderungan patah semangat orang 
Minang kalau kalah perang ini, Datuk sendiri pernah mengutip buku Kolonel 
Soegondo  tentang Ilmu Bumi Militer mengenai hal itu.
Selain itu, menarik juga membaca pemahaman Datuk bahwa PRRI bukan 
pemberontakan. Kalau bukan pemberontakan, lantas apa namanya PRRI, yang telah 
memakan demikian banyak korban dari kedua belah fihak ? 
Izinkan saya menganjurkan -- sekali lagi -- agar Datuk menulis sebuah buku yang 
secara komprehensif membahas sejarah Minangkabau ini, minimal menulis makalah 
yang utuh untuk dapat kita kaji bersama-sama..
 
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, 71 th, kini sedang di San Ramon, California, USA)




----- Original Message ----
From: Datuk Endang <[EMAIL PROTECTED]>
To: Rantau Net <[email protected]>; [email protected]
Cc: Sjamsir SJARIEF <[EMAIL PROTECTED]>; S SURYADI <[EMAIL PROTECTED]>; Prof Dr 
Taufik ABDULLAH <[EMAIL PROTECTED]>; Prof Dr. Salim SAID <[EMAIL PROTECTED]>; 
Prof Dr Djohermansyah DJOHAN <[EMAIL PROTECTED]>; Prof. Dr Azyumardi AZRA 
<[EMAIL PROTECTED]>; Warni DARWIS <[EMAIL PROTECTED]>; Edy UTAMA <[EMAIL 
PROTECTED]>; "Dra. Adriyetti AMIR, SU" <[EMAIL PROTECTED]>; "Gamawan FAUZI, SH, 
MM" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, June 14, 2008 8:28:48 PM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Kajian Mendasar terhadap Sejarah PRRI.


Pak Saaf ysh,
Sebelumnya terima kasih atas informasi yang diberikan. Saya ingin mengomentari 
beberapa hal saja:
 
1. Pernyataan 'patah semangat' sebagaimana disampaikan saya kira kurang tepat, 
mengingat kultur masyarakat kita tidaklah seperti itu. Dari catatan yang ada 
tidak ada disebutkan 'dikalahkan' atau 'ditaklukkan'; dan bila kita mempelajari 
secara yuridis formal, peristiwa PRRI itu bukanlah pemberontakan. Memang hanya 
'buku sejarah' saja yang menyampaikan seperti itu.
'Reaksi masyarakat' setelah itu adalah 'menjawab' dalam bentuk lain; seperti 
misalnya melakukan eksodus ke luar daerah untuk mengembangkan kehidupan. Saya 
kira eksodus atau 'merantau besar-besaran' terjadi pasca PRRI itu. Sebagai 
contoh saya mendapatkan catatan, pada tahun 1955 (sensus?) penduduk di Nagari 
Sulit Air adalah 50.000 jiwa, saya perkirakan turun drastis pasca PRRI (era 
1960-an) dan stagnan hingga tahun 2002. Untuk tahun 2002 sampai 
sekarang penduduk adalah sekitar 12.000 jiwa. Kiranya berlangsung juga di 
negeri-negeri lain.
Pada masa bapak bertugas di Sumbar, kebetulan masyarakat yang bapak hadapi 
adalah masyarakat yang memang tinggal menetap dan bertahan; namun 'dinamika' 
yang sebenarnya berlangsung di 'perantauan'. Di perantauan ini mereka 
mengibarkan panji-panji Minangkabau; dan hingga saat ini 'lambang-lambang 
Minangkabau' berdiri begitu menantangnya di seluruh persada Indonesia, dari 
Sabang sampai Merauke, dari Sangihe sampai Rote. Malah ada yang sampai ke 
negeri Belanda.
 
2. Jiwa kebangsaan hanya dapat dipahami secara multikultur, namun sebelumnya 
hendaknya 'fasih' secara monokultur. Karena itu 'semangat keIndonesiaan' 
baru sahih bila diteriakkan di 'luar kandang', sebagaimana Bung Hatta dan 
Syahrir berpikir tentang Indonesia di Negeri Belanda, Jawa, Banda, hingga Boven 
Digoel, Tan Malaka di Cina, dan sederet putera-putera kebanggaan Minangkabau 
lainnya. Proses kebangsaan bukanlah proses serta-merta, atau bersifat instan, 
terjadi begitu saja, atau tiba-tiba menjadi multikultur. Perlu pendalaman 
monokultur terlebih dahulu, untuk menghargai berbagai kultur lain, dan kemudian 
mencintai keberagaman.
Saya kira inilah keunggulan 'orang-orang Minang', dan terbukti di berbagai 
tempat dapat diterima, apalagi falsafah adat mendukungnya: "dimana bumi 
dipijak, disitu langit dijunjung, ranting dipatah, air disauk, dst."
 
3. Saya tidak melihat signifikasi suku bangsa lain pada masa itu, mengingat 
'kultur' dan 'kesadaran' yang berbeda, sehingga kurang patut dipersandingkan. 
Namun bila 'kesadaran' itu telah terbentuk, dapat dilihat euphoria-nya pada era 
Otda saat ini.
 
4. Permasalahan yang dihadapi orang Minang hingga saat ini memang kekuatan dan 
dinamika itu belum terkonsolidasi, dan merupakan tantangan bagi kita bersama 
saat ini, apakah melalui organisasi GM, RN, dsb.
 
Demikian kurang lebih komentar yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf bila ada 
hal-hal yang kurang berkenan.
 
Wassalam,
-datuk endang


--- On Wed, 6/11/08, Dr.Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Dr.Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] Kajian Mendasar terhadap Sejarah PRRI.
To: "Rantau Net" <[email protected]>
Cc: "Sjamsir SJARIEF" <[EMAIL PROTECTED]>, "S SURYADI" <[EMAIL PROTECTED]>, 
"Prof Dr Taufik ABDULLAH" <[EMAIL PROTECTED]>, "Prof Dr. Salim SAID" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "Prof Dr Djohermansyah DJOHAN" <[EMAIL PROTECTED]>, "Prof. Dr 
Azyumardi AZRA" <[EMAIL PROTECTED]>, "Warni DARWIS" <[EMAIL PROTECTED]>, "Edy 
UTAMA" <[EMAIL PROTECTED]>, "Dra. Adriyetti AMIR, SU" <[EMAIL PROTECTED]>, 
"Gamawan FAUZI, SH, MM" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wednesday, June 11, 2008, 8:58 AM


Assalamualaikum w.w. para sanak sapalanta,
 
Saya sangat senang memperhatikan bahwa akhir-akhir ini terdapat peningkatan 
minat secara terbuka terhadap sejarah pemberontakan PRRI, khususnya dalam 
kaitannya dengan sejarah daerah Sumatera Barat serta sejarah suku bangsa 
Minangkabau. Di Rantau Net ini demikian banyak postings dari paranetters 
mengenai aspek-aspek tertentu PRRI, baik mengenai pengalaman pribadi dari 
beliau-beliau yang pernah ikut terlibat, maupun berbagai interpretasi dan 
rasionalisasi terhadap pemberontakan tersebut.. Dalam rangka peluncuran dua 
buah buku yang memuat himpunan tulisan wartawan Suwardi Idris tentang 
pengalaman beliau mengikuti PRRI di daerah Solok, beberapa waktu yang lalu 
bertempat di Studio TVRI Padang telah diadakan talkshow mengenai PRRI ini, yang 
diikuti oleh beberapa tokoh  Sumatera Barat, antara lain budayawan senior 
Wiswan Hadi, wartawan senior Basril Djabbar, sejarawan Dr Gusti Asnan. Talkshow 
tersebut ditayangkan ulang di TVRI Pusat. Dari Ibu Warni Darwis,
 Wakil Sekjen Gebu Minang, saya mendapat khabar bahwa Bp Abdul Samad, seorang 
tokoh pejuang PDRI dari Bukittinggi, yang juga ikut pemberontakan PRRI,  
baru-baru ini tampil di TVRI Pusat menjelaskan pengalaman beliau dalam PRRI 
tersebut.
 
Saya menganggap peningkatan minat terhadap sejarah PRRI ini baik dan wajar. 
Memang sudah waktunya sejarah PRRI ini dibedah secara mendasar dan mendalam. 
Saya pernah mengkuti pembahasan masalah PRRI ini -- sebagai pembicara bersama 
Kolonel Pur. Ventje Sumual -- di kampus Universitas Indonesia, Depok,  dan di  
The Habibie Center, Jakarta. Minggu lalu, di Apartemen  #2724 Pomontory Circle 
di San Ramon, Cal, USA, saya berbincang-bincang semalam suntuk dengan Inyiak 
Sunguik Sjamsir Syarif yang telah menjalani hampir seluruh Sumatera Barat 
sewaktu mengikuti pemberontakan PRRI ini sebagai orang dekat dengan Bp Mohammad 
Natsir.  Saya sungguh-sungguh mendorong beliau untuk menuliskan pengalaman 
beliau tersebut agar dapat dibaca oleh generasi demi generasi bangsa Indonesia 
pada umumnya dan suku bangsa Minangkabau pada khususnya.
 
Sungguh menarik untuk diperhatikan, bahwa walaupun cakupan aksinya pada taraf 
awal juga meliputi daerah-daerah Sumatera Utara dan Sumatera Selatan, serta 
terkait erat dengan pemberontakan Permesta yang meliputi daerah Sulawesi Utara 
– namun memang hanya di daerah Sumatera Barat dan terhadap suku bangsa 
Minangkabau saja dampak kekalahan pemberontakanPRRI ini  demikian mendalam. 
Tidak berkelebihan kiranya jika dikatakan bahwa walaupun pemberontakan PRRI 
terutama  berkenaan dengan masalah politik, yaitu hubungan antara Pemerintah 
Pusat dan Daerah dalam rangka proses panjang integrasi nasional di Indonesia, 
namun masyarakat Minangkabau memandangnya lebih dari itu, yaitu dari perspektif 
sosio kultural, dengan akibat yang lebih parah, yaitu sampai patah semangat dan 
berlarut-larut sampai sekarang. . Saya tidak melihat dampak yang sama pada suku 
bangsa Batak atau suku bangsa Menado yang juga terlibat dalam pemberontakan 
yang sama. 
 
Sekedar sebagai catatan dapat saya sampaikan bahwa gejala patah semangat 
berlarut-larut setelah kalah perang ini sama sekali bukanlah gejala baru. 
Seperti ditulis Kolonel KNIL Soegondo, komando tentara kolonial Hindia Belanda 
telah mencatat gejala yang sama sewaktu menghadapi Perang Paderi , 1821-1838. 
Dengan kata lain, gejala patah semangat secara berlarut setelah kalah perang 
itu adalah refleksi dari masalah kultural yang lebih mendasar. Dalam pengamatan 
saya secara  pribadi, gejala patah semangat tersebut merupakan  wujud dari 
kelemahan mendasar dari tatanan sosial Minangkabau,  yang kelihatannya  tidak 
dirancang untuk bersatu, tetapi untuk hidup dalam komunitas kecil-kecil yang 
saling curiga satu sama lain. Mungkin sekali, gejala patah semangat itu timbul 
karena tidak yakin akan dibela oleh sanak saudaranya yang lain. [Sangat mirip 
dengan tatanan sosial dan reaksi orang Arab setelah kalah perang]. Demikianlah, 
Inyiak Sunguik Syamsir Sjarief
 menjelaskan bahwa yang paling kejam terhadap PRRI bukanlah ‘tentara Soekarno’ 
tetapi justru urang awak yang jadi ‘tukang tunjuk’ dan yang menjadi anggota 
Organisasi Perlawanan Rakyat (OPR). Saya tahu bahwa yang menjadi anggota OPR 
ini pada umumnya adalah para preman yang menjadi anggota Pemuda Rakyat, 
onderbouw Partai Komunis Indonesia (PKI) yang digunakan oleh Kodam III/17 
Agustus untuk menghadapi pemberontakan PRRI.
Sudah barang tentu secara pribadi saya merasa sangat tertarik untuk mendalami 
dimensi-dimensi  sosio kultural, sosial politik,  serta strategi dan taktik 
militer dari pemberontakan PRRI ini, bukan saja oleh karena saya ditakdirkan 
lahir dan menjadi dewasa sebagai seorang warga suku bangsa Minangkabau, tetapi 
juga oleh karena latar belakang pendidikan saya dalam ilmu pemerintahan di 
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dan karena karir saya sebagai perwira 
TNI-Angkatan Darat, yang selama 16 tahun berturut-turut berdinas di daerah 
Kodam III/17 Agustus, yang mencakup daerah Sumatera Barat dan Riau 
(1960-1976).. Dapat saya sampaikan bahwa saya menyaksikan dari dekat  betapa 
besar perubahan yang dialami daerah Sumatera Barat antara suasana aman tentram 
sebelum pecahnya pemberontakan  PRRI, yaitu pada tahun 1957 sewaktu saya pulang 
libur sebagai mahasiswa Universitas Gadjah Mada, dan suasana pasca PRRI, antara 
tahun 1960-1976, sewaktu saya bertugas sebagai
 perwira staf Kodam III/17 Agustus di daerah Sumatera Barat dan Riau.
 
Demikianlah, untuk memenuhi rasa keingintahuan saya tersebut,  selama sembilan 
tahun antara tahun 1987-1996 – di sela-sela kesibukan saya sebagai Tenaga Ahli 
Lemhannas ( 1983-1989) dan sebagai Staf Ahli Menteri Sekretaris Negara 
(1989-1999) -- saya mengadakan penelitian untuk menyusun disertasi mengenai 
pemberontakan PRRI ini dan mempertahankannya di depan Rapat Terbuka Senat Guru 
Besar Universitas Gadjah Mada pada tanggal 25 Agustus 1996, 12 tahun yang lalu. 
Sebagai saksi sejarah dan sebagai sebuah skrup  kecil dalam operasi teritorial 
pada tahap pasca PRRI, saya sama sekali tidak mempunyai kesukaran dalam 
mengumpulkan fakta dan data sejarah pemberontakan PRRI serta penumpasannya. 
Yang jauh lebih sulit adalah mencari rujukan teori dan pendekatan ilmiah yang 
tepat untuk menjelaskannya. Mengingat demikian banyaknya aspek pemberontakan 
PRRI ini, adalah jelas bahwa jika kita benar-benar hendak memahami dan 
memperoleh  eksplanasi terhadap pemberontakan
 PRRI ini, diperlukan suatu pendekatan yang bersifat  holistik, bukan 
pendekatan yang sepotong-sepotong.
 
Suatu dimensi lain yang layak untuk  kita dalami mengenai pemberontakan PRRI 
ini adalah dimensi hubungan  internasionalnya, khususnya peranan Central 
Intelligence Agency (CIA) Amerika Serikat, yang telah diungkap secara amat 
jelas dalam buku Subversion as Foreign Policy oleh suami isteri George McTurnan 
Kahin dan Audrey Kahin. Saya percaya bahwa bahwa penggalangan intelijen oleh 
CIA ini – selain oleh karena kurangnya visi strategis oleh para tokoh KDMST -- 
merupakan salah satu faktor penting pecahnya pemberontakan dan kekalahan  PRRI 
ini. Sukar untuk dibantah, bahwa berbaliknya sikap Amerika Serikat dari 
mendukung PRRI menjadi mendukung Presiden Soekarno dan TNI juga merupakan 
faktor penting kekalahan PRRI, dengan segala akibat sosio kulturalnya pada 
warga suku bangsa Minangkabau.. 
 
Lagi pula jangan dilupakan suatu akibat tidak langsung dari pemberontakan PRRI 
ini, yaitu dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, lahirnya Demokrasi 
Terpimpin, serta berkembangnya PKI, yang kemudian berujung pada rencana kudeta 
Gerakan 30 September/PKI.
 
Dengan kata lain, pemberontakan PRRI memang layak didalami, bersisian dengan 
peristiwa-peristiwa besar nasional lainnya. Juga jangan dilupakan bahwaoleh 
karena terhadap rencana kudeta Gerakan 30 September/PKI saja sudah berkali-kali 
didakan seminar, lokakarya, atau sekedar pertemuan, tidak ada alasan mengapa 
terhadap pemberontakan PRRI ini tidak ada pengkajian serupa. 
 
Hanya ada suatu catatan kecil yang perrlu saya sampaikan, yaitu kecenderungan 
para sanak kita di Sumatera Barat yang lazim mereduksi peristiwa-peristiwa 
sejarah nasional yang terjadi di Sumatera Barat menjadi sejarah Sumatera Barat 
belaka. Lebih kecil lagi, sebagai sekedar sejarah pribadi-pribadi belaka.. Saya 
melihat gejala tersebut sewaktu mengikuti pembahasan tentang sejarah Pemerintah 
Darurat Republik Indonesia (PDRI). Oleh karena itu, tidak bosan-bosannya saya 
mengingatkan bahwa PDRI adalah suatu institusi nasional dan sejarah PDRI adalah 
bagian dari sejarah nasional. Kali ini saya ingin mengingatkan para sanak 
semua, bahwa sejarah PRRI adalah bagian dari sejarah nasional, dan dengan 
merujuk pada buku suami isteri Kahin, sejarah PRRI adalah juga bagian dari 
sejarah internasional Perang Dingin antara Blok Amerika Serikat dengan Blok Uni 
Soviet.
 
Kalau begitu, sambil mendorong Inyiak Sunguik Sjamsir Sjarief dan para sanak 
lainnya untuk  menulis pengalaman lapangan masing-masing sewaktu pemberontakan 
PRRI,  apa tak perlu diselenggarakan suatu  Seminar Internasional tentang 
Pemberontakan PRRI ? Bagaimana kalau kita dorong Dewan Perwakilan Daerah RI, 
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) , Arsip Nasional RI, Departemen 
Pertahanan serta Markas Besar TNI-Angkatan Darat, Departemen Kebudayaan dan 
Pariwisata, Lembaga Ketahanan Nasional,  Pusat Sejarah TNI, Masyarakat 
Sejarawan Indonesia (MSI), Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD),  
tokoh-tokoh sejarah masyarakat Batak dan Menado, termasuk Kolonel Pur Ventje 
Sumual, dan tokoh senior sejarawan Prof Dr Taufik Abdullah , Prof Dr Salim 
Said, Prof. Dr RZ Leirissa, serta  Dr Audrey Kahin untuk membahas pemberontakan 
PRRI ini secara holistik ?
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, 71 th, kini sedang di San Ramon, California, USA) 



      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke