Wa 'alaikum Salam pak Saaf,
Semoga sehat selalu dalam perjalanannya di Amrik.
Selain terkotak-kotak, ke dalam kl.600 nagari, kita juga terpilah-pilah ke
dalam dua sistim hukum adat, sebagai kita maklumi keduanya tidak mungkin
menyatu, hanya bisa berdampingan, duduak samo randah tagak samo tinggi, seperti
struktur bodicaniago dengan kelarasan kotopiliang.
Namun, kalau dilihat lebih menukik, di sini juga ada keunggulannya, saling
menghormati dan menghargai.
Dalam filosofi itu mari di rentang lebar, nilai apa saja yang ada pada
pergolakan dan pergerakan atau perjuangan yang telah terjadi di ranah bundo,
masa lalu itu, dan apa hubungannya pula dengan muruah satu suku bangsa.
Terimakasih sekali lagi Pak Saaf.
Alah taragak lo awak basuo-suo baliek.
Wassalam,
BuyaHMA
"Dr.Saafroedin BAHAR" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Waalaikumsalam w.w. Buya,
Benar sekali Buya. Bagaimanapun, ditengah-tengah 1.072 buah suku bangsa di
Indonesia ini, orang memandang kita sebagai SATU suku bangsa, walaupun di
dalam diri kita sendiri ternyata selain kita masih terkotak-kotak dalam k.l 600
nagari dan sekian banyak suku yang bagaikan tak ada kaitannya satu sama lain,
juga masih bingung dengan sejarah kita sendiri. Mungkin itulah yang menyebabkan
kita belum berhasil memberikan respons yang cepat dan tepat terhadap demikian
banyak peluang dan ancaman yang timbul dari dinamika dunia masa kini dan masa
datang.
Sementara itu suku bangsa lain makin lama makin maju.
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, 71 th, kini sedang di San Ramon, California, USA)
----- Original Message ----
From: Masoed Abidin <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, June 16, 2008 1:35:02 AM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Kajian Mendasar terhadap Sejarah PRRI.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi wa barakatuh,
Pak Saaf Yth,
Penelitian sejarah di Minangkabau perlu dilakukan lebih mendalam lagi dari
seluruh aspek kehidupan, terlepas dari senaang atau tidak..
Dari sana mungkin kita bisa mengkaji sejarah dinamika masyarakat Minangkabau
itu sendiri?
Wassalam
BuyaHMA.
"Dr.Saafroedin BAHAR" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Datuk Endang yth,
Saya garis bawahi pandangan Datuk bahwa selama ini kita orang Minang membahas
masalah PRRI ini selain secara parsial juga amat terbatas pada keadaan tahun
1958-1961 itu saja. Sudah barang tentu cara seperti itu selain tidak akan
mampu memberikan gambaran yang lengkap tentang PRRI ini juga dapat menimbulkan
persepsi dan kesimpulan keliru. Tidak jarang nadanya malah bernada sekedar
menghibur dan meninabobokkan diri sendiri dan memberikan rasionalisasi terhadap
peristiwa yang telah banyak memakan korban tersebut.
Kekurangan itulah yang mendorong saya untuk melakukan penelitian yang
sungguh-sungguh mengenai pemberontakan PRRI ini, baik tentang latar
belakangnya, peristiwanya sendiri serta penumpasannya, akibatnya kepada psike
orang Minangkabau, dan proses rehabilitasinya setelah tahun 1966. Kurun waktu
yang saya teliti adalah empat dasawarsa, antara tahun 1945 sampai dengan tahun
1984. Penelitiannya sendiri saya lakukan selama sembilan tahun, antara tahun
1987-1996, dengan pertanyaan pokok penelitiannya adalah tentang terjadinya
inversi (pembalikan) loyalitas orang Minang kepada Pemerintah Pusat dalam kurun
sepuluh tahun, antara tahun 1948-1958. Makan waktu panjang memang
Seperti saya tulis dalam email saya terdahulu, jika kita mau
bersungguh-sungguh mengadakan penelitian ini, sekarang sudah lumayan banyak
literatur iilmiah yang terbit, yang bisa kita baca dan kita telaah. Literatur
ilmiah ini lebih diperkaya oleh tulisan-tulisan pengalaman emperik, seperti
rangkaian tulisan Bp Suwardi Idris, dan akhir-akhir ini oleh tulisan Sanak St
Lembang Alam. Saya sudah menghubungkan Sanak St Lembang Alam dengan Bp Basril
Djabbar dan Khairul Jasmi dari Harian 'Singgalang', agar tulisan Sanak Lembang
Alam dapat diterbitkan sehingga dapat dibaca oleh kalangan yang lebih luas. Di
Sumatera Barat sekarang masih banyak para sanak yang pernah ikut dalam
pemberontakan PRRI ini dan bisa diwawancarai, antara lain Bp Abdul Samad dari
Bukit Tinggi, yang pernah tampil di TVRI Jakarta (?) beberapa waktu yang lalu.
Selain itu saya juga mendorong Inyiak Sunguik Sjamsir Sjarief untuk menulis
pengalaman beliau.
Secara pribadi saya mendukung penuh diselenggarakannya penelitian yang lebih
mendalam mengenai pemberontakan PRRI ini, antara lain oleh karena sewaktu saya
menyusun dan mempertahankan disertasi saya tersebut 12 tahun yang lalu belum
semua fakta dan belum semua keterangan saya peroleh, antara lain tentang
peranan CIA seperti yang diulas oleh Prof George McTurnan Kahin dan Audrey
Kahin.
Saya memandang suku bangsa Minangkabau memang perlu menyusun lagi sejarahnya
secara komprehensif berdasar bahan-bahan yang baru. Dalam hubungan ini saya
telah mendorong Prof Dr Asmaniar Idris M.Pd dan Drs Amrin Imran -- dua orang
penulis buku Sejarah Minangkabau, 1970 -- untuk mengadakan updating terhadap
buku yang penting itu. Dalam pandangan saya, suku bangsa Minangkabau ini sudah
berkali-kali menghadapi goncangan sosial, seperti tahun 1275, 1803-1838, 1908,
1926, 1942-1945, 1945-1949, 1958-1961, dan 1965-1968, yang belum sempat
dikonsolidasikannya secara mendasar dan melembaga. Bulan Januari yang lalu,
bersama dengan Gebu Minang dan tokoh masyarakat Mandahiling dan Riau serta
Arsip Nasional RI, saya ikut memprakarsai sebuah Semiloka tentang Perang
Paderi 1803-1838, yang Alhamdulillah dapat membantu menjerrnihkan berbagai
masalah yang selama ini terkatung-katung, antara lain gugatan Ir Mudy
Situmorang tentang kepahlawanan Tuanku Imam Bonjol. Bersama dengan Gebu Minang,
saya ikut mendorong tindaklanjut Semiloka ini dengan mendorong dirumuskannya
kompilasi hukum ABS SBK oleh sebuah Tim Perumus, yang Alhamdulillah sekarang
sudah selesai draft awalnya.
Saya memperhatikan dengan cermat rangkaian posting Datuk dalam RN ini, dan
saya senang dengan perhatian Datuk terhadap sejarah [dan tambo] Minangkabau.
Rasanya tidak banyak penghulu kita yang mempunyai perhatian sejarah seperti
Datuk. Oleh karena itulah dengan tiada bosan-bosannya saya mendorong Datuk
untuk menulis buku, minimal menulis makalah, baik untuk membulatkan pandangan
kesejarahan Datuk, maupun untuk mendorong timbulnya minat para penghulu yang
lain untuk memperhatikan sejarah Minangkabau secara menyeluruh, selain dari
sejarah kaum, suku, dan nagarinya sendiri-sendiri. Saya memang khawatir
terhadap kemungkinan pemahaman para penghulu kita yang bersifat ahistoris
terhadap Minangkabau.
Saya setuju penuh dengan pernyataan Datuk yang berbunyi :" Saya prihatin
bila saat ini generasi-generasi muda potensial kita meraba-raba untuk mencari
sendiri jalannya. Memang benar bisa terkesan genit dan bertingkah seperti
burung merak. Kiranya perlu fasilitasi dan tuntunan supaya nak luruih satantang
tali, jaan manyimpang kiri jo kanan, condong jaan kamari rabah.".
Tentu banyak faktor yang menyebabkan keadaan tersebut, sebagian eksternal,
sebagian lagi internal. Tapi ini suatu topik yang bisa kita bahas tersendiri
dalam kesempatan lain.
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, 71 th, kini sedang di San Ramon, California, USA)
----- Original Message ----
From: Datuk Endang <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Sunday, June 15, 2008 9:49:38 PM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Kajian Mendasar terhadap Sejarah PRRI.
Pak Saaf ysh,
Terima kasih untuk jawabannya, mudah-mudahan membawa titik terang untuk
pendalaman lebih lanjut.
Saya sebenarnya tidak mendalami masalah PRRI ini, beberapa minggu lalu memang
sempat melihat ujung acara di TVRI itu. Kelihatannya banyak hal yang perlu
diklarifikasi, termasuk posisi sejarah dalam pandangan yang bapak sebut sebagai
holistik. Banyak tulisan maupun wacana hanya menggambarkan "kejadian pada
ketika itu", dan hampir kurang disentuh 'before and after' yang dapat
menjelaskan posisi sejarahnya. Kita di masa kini pun kelihatan kurang kompak,
dan masih bersudut pandang parsial.
Saya cukup tertegun bila membaca PRRI diperjuangkan secara semesta, dan
bergema hingga ke Sulawesi dan Indonesia Timur. Satu hal lagi adalah adanya
semacam restu dari tokoh/putera Minang di Jakarta. Sehingga sementara waktu
hipotesisnya adalah PRRI/Permesta merupakan reaksi terhadap 'sistem
ketatanegaraan' dan 'penyelenggaraan negara' pada masa itu, yang mungkin
terkesan sentralistik dan Jawa-sentrik.
Saya kaitkan dengan peran para Bung di masa lampau, untuk menunjukkan
'tingkat kontribusi' para 'pembentuk negara' yang telah menawarkan gagasan
besar, yang 'hanya bisa dipikirkan' oleh 'pemikir berbasis monokultur yang
berwawasan multikultur'. KeIndonesiaan 'tidak bisa dipikirkan secara monokultur
saja', seperti pernah kita alami pada era Orla (pasca Dekrit) dan Orba.
Saya kira kita harus prihatin bila para pemikir dan pejuang itu kian
tersingkir, seperti Tan Malaka 'hilang' pada Revolusi Fisik, berikut Hatta dst.
Mengenai istilah 'pemberontakan', perlu dicari istilah lain yang lebih tepat
setelah memahami permasalahan dan konteksnya. Sekilas saja saya menilai, dari
sisi masyarakat daerah merupakan 'upaya ekspresi', sedangkan dari pemerintahan
pusat merupakan 'tindakan represif'.
Mengenai pandangan dan penilaian 'para orientalis' itu, sepenuhnya tidak
bersifat jujur dan obyektif, sehingga perlu hati-hati menerimanya. Pandangan
Pak Harun Zein itu seharusnya lebih ditonjolkan 'Strategi Harga Diri', dan
bukan istilah munonya.
Namun saya sedikit menyampaikan otokritik melihat lemahnya 'peran orang
Minang' di percaturan nasional saat ini, yang menunjukkan adanya 'missing link'
karena sistem regenerasi yang buruk. Berbicara 'sistem regenerasi' berarti kita
menoleh pada apa-apa yang sudah dilakukan oleh orang-orang Minang yang berjaya
pada 1 generasi yang lampau. Atau memang tidak ada peralihan generasi ? Saya
prihatin bila saat ini generasi-generasi muda potensial kita meraba-raba untuk
mencari sendiri jalannya. Memang benar bisa terkesan genit dan bertingkah
seperti burung merak. Kiranya perlu fasilitasi dan tuntunan supaya nak luruih
satantang tali, jaan manyimpang kiri jo kanan, condong jaan kamari rabah.
Mengenai buku, saya kira banyak yang lebih berkemampuan dan berkesempatan.
Namun saran bapak tentunya akan selalu saya perhatikan. Talabiah takurang mohon
maaf.
Wassalam,
-datuk endang
--- On Sat, 6/14/08, Dr.Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Dr.Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Kajian Mendasar terhadap Sejarah PRRI.
To: [email protected]
Date: Saturday, June 14, 2008, 11:45 AM
Datuk Endang yth,
Terima kasih terhadap beberapa tanggapan Datuk terhadap posting saya
mengenai perlunya kajian mendasar terhadap sejarah PRRI.. Mengenai fenomena
'patah semangat' orang Minang pasca PRRI, saya sarankan Datuk membaca biografi
pak Harun Zain, yang bahkan menyatakan bahwa pada saat itu orang Minang sudah
muno, dan untuk mengimbanginya, beliau mengumandangkan 'Strategi Harga Diri'
pada tahun 1968, sewaktu saya menjadi angota DPRD Provinsi Sumatera Barat. Lagi
pula, barangkali Datuk lupa, bahwa mengenai kecenderungan patah semangat orang
Minang kalau kalah perang ini, Datuk sendiri pernah mengutip buku Kolonel
Soegondo tentang Ilmu Bumi Militer mengenai hal itu.
Selain itu, menarik juga membaca pemahaman Datuk bahwa PRRI bukan
pemberontakan. Kalau bukan pemberontakan, lantas apa namanya PRRI, yang telah
memakan demikian banyak korban dari kedua belah fihak ?
Izinkan saya menganjurkan -- sekali lagi -- agar Datuk menulis sebuah buku
yang secara komprehensif membahas sejarah Minangkabau ini, minimal menulis
makalah yang utuh untuk dapat kita kaji bersama-sama.
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, 71 th, kini sedang di San Ramon, California, USA)
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---