Waalaikumsalam w.w. juo Buya, Saya setuju penuh dengan pendapat Buya. Salah syarat yang perlu kita penuhi agar Minangkabau dapat mendayagunakan seluruh potensinya adalah adanya komunikasi yang berlanjut antara seluruh unsur-unsurnya, baik antara warga 600 nagari -- yang tanpa suprastruktur tersebut -- maupun antara dua sistem sosialnya. Tanpa komunikasi berlanjut tersebut, maka sesungguhnya secara melembaga tidak ada apa yang disebut 'Minangkabau' itu dalam kenyataan. Yang ada hanyalah kumpulan orang Minang yang berbahasa Minang, sangat mirip dengan apa yang kita sebut sebagai 'orang Arab' yang dalam kenyataannya hanyalah sekumpulan orang yang mendiami kawasan Timur Tengah dan berbahasa Arab. Lantas apa syaratnya supaya ada komunikasi berlanjut antara sesama orang Minang itu ? Menurut para ahli komunikasi, syarat mutlaknya adalah adanya suatu kerangka acuan -- frame of reference -- yang sama, yang dalam konteks Minangkabau adalah doktrin Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS SBK). Sayangnya selama ini kita hanya bicara tentang ABS SBK, dan tidak bisa menjelaskan secara persis apa arti dan implikasinya dalam kehidupan kita sebagai orang Minang. Dengan dukungan Pemerintah Daerah Prov Sumatera Barat, Tim Perumus sudah mencoba merumuskan secara komprehensif apa yang kita maksud dengan ABS SBK ini dan bagaimana melaksanakannya dalam kenyataan. Kita sudah tahu, bahwa masalah yang sangat perlu didudukkan terbatas masalah sistem kekerabatan dan sistem pewarisan, yang ujungnya berkisar pada masalah sako dan pusako. Saya belum menerima draft rumusan akhir ABS SBK ini. Secara moral dan prosedural, sebagai salah seorang angota Tim Perumus saya terikat untuk menyetujui apapun rumusan yang sudah disetujui oleh rapat Tim Perumus. Kita perlu mensosialisakannya ke seluruh orang Minang, baik di Ranah maupun di Rantau, menerima seluruh tanggapan dan menyempurnakan rumusan awal yang telah disusun oleh Tim Perumus. Secara pribadi saya berpendapat bahwa adanya kesepakatan formal terhadap pengertian dan kelembagaan ABS SBK ini sangat vital bagi keutuhan dan masa depan Minangkabau. Tanpa kesepakatan itu, Minang masa datang hanyalah sekedar lanjutan dan pengulangan dari Minang masa lampau, berputar-putar pada masalah yang sama, tanpa penyelesaian. Pada saat suku-suku bangsa lainnya maju secara mantap, kita akan tetap jalan di tempat.
Wassalam, Saafroedin Bahar (L, 71 th, kini sedang di San Ramon, California, USA) ----- Original Message ---- From: Masoed Abidin <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Monday, June 16, 2008 2:12:48 PM Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Kajian Mendasar terhadap Sejarah PRRI. Wa 'alaikum Salam pak Saaf, Semoga sehat selalu dalam perjalanannya di Amrik. Selain terkotak-kotak, ke dalam kl.600 nagari, kita juga terpilah-pilah ke dalam dua sistim hukum adat, sebagai kita maklumi keduanya tidak mungkin menyatu, hanya bisa berdampingan, duduak samo randah tagak samo tinggi, seperti struktur bodicaniago dengan kelarasan kotopiliang. Namun, kalau dilihat lebih menukik, di sini juga ada keunggulannya, saling menghormati dan menghargai. Dalam filosofi itu mari di rentang lebar, nilai apa saja yang ada pada pergolakan dan pergerakan atau perjuangan yang telah terjadi di ranah bundo, masa lalu itu, dan apa hubungannya pula dengan muruah satu suku bangsa. Terimakasih sekali lagi Pak Saaf. Alah taragak lo awak basuo-suo baliek. Wassalam, BuyaHMA "Dr.Saafroedin BAHAR" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Waalaikumsalam w..w. Buya, Benar sekali Buya. Bagaimanapun, ditengah-tengah 1.072 buah suku bangsa di Indonesia ini, orang memandang kita sebagai SATU suku bangsa, walaupun di dalam diri kita sendiri ternyata selain kita masih terkotak-kotak dalam k.l 600 nagari dan sekian banyak suku yang bagaikan tak ada kaitannya satu sama lain, juga masih bingung dengan sejarah kita sendiri. Mungkin itulah yang menyebabkan kita belum berhasil memberikan respons yang cepat dan tepat terhadap demikian banyak peluang dan ancaman yang timbul dari dinamika dunia masa kini dan masa datang. Sementara itu suku bangsa lain makin lama makin maju. Wassalam, Saafroedin Bahar (L, 71 th, kini sedang di San Ramon, California, USA) ----- Original Message ---- From: Masoed Abidin <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Monday, June 16, 2008 1:35:02 AM Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Kajian Mendasar terhadap Sejarah PRRI. Assalamu'alaikum Warahmatullahi wa barakatuh, Pak Saaf Yth, Penelitian sejarah di Minangkabau perlu dilakukan lebih mendalam lagi dari seluruh aspek kehidupan, terlepas dari senaang atau tidak.. Dari sana mungkin kita bisa mengkaji sejarah dinamika masyarakat Minangkabau itu sendiri? Wassalam BuyaHMA. "Dr.Saafroedin BAHAR" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Datuk Endang yth, Saya garis bawahi pandangan Datuk bahwa selama ini kita orang Minang membahas masalah PRRI ini selain secara parsial juga amat terbatas pada keadaan tahun 1958-1961 itu saja. Sudah barang tentu cara seperti itu selain tidak akan mampu memberikan gambaran yang lengkap tentang PRRI ini juga dapat menimbulkan persepsi dan kesimpulan keliru. Tidak jarang nadanya malah bernada sekedar menghibur dan meninabobokkan diri sendiri dan memberikan rasionalisasi terhadap peristiwa yang telah banyak memakan korban tersebut. Kekurangan itulah yang mendorong saya untuk melakukan penelitian yang sungguh-sungguh mengenai pemberontakan PRRI ini, baik tentang latar belakangnya, peristiwanya sendiri serta penumpasannya, akibatnya kepada psike orang Minangkabau, dan proses rehabilitasinya setelah tahun 1966. Kurun waktu yang saya teliti adalah empat dasawarsa, antara tahun 1945 sampai dengan tahun 1984. Penelitiannya sendiri saya lakukan selama sembilan tahun, antara tahun 1987-1996, dengan pertanyaan pokok penelitiannya adalah tentang terjadinya inversi (pembalikan) loyalitas orang Minang kepada Pemerintah Pusat dalam kurun sepuluh tahun, antara tahun 1948-1958. Makan waktu panjang memang Seperti saya tulis dalam email saya terdahulu, jika kita mau bersungguh-sungguh mengadakan penelitian ini, sekarang sudah lumayan banyak literatur iilmiah yang terbit, yang bisa kita baca dan kita telaah. Literatur ilmiah ini lebih diperkaya oleh tulisan-tulisan pengalaman emperik, seperti rangkaian tulisan Bp Suwardi Idris, dan akhir-akhir ini oleh tulisan Sanak St Lembang Alam. Saya sudah menghubungkan Sanak St Lembang Alam dengan Bp Basril Djabbar dan Khairul Jasmi dari Harian 'Singgalang', agar tulisan Sanak Lembang Alam dapat diterbitkan sehingga dapat dibaca oleh kalangan yang lebih luas. Di Sumatera Barat sekarang masih banyak para sanak yang pernah ikut dalam pemberontakan PRRI ini dan bisa diwawancarai, antara lain Bp Abdul Samad dari Bukit Tinggi, yang pernah tampil di TVRI Jakarta (?) beberapa waktu yang lalu. Selain itu saya juga mendorong Inyiak Sunguik Sjamsir Sjarief untuk menulis pengalaman beliau. Secara pribadi saya mendukung penuh diselenggarakannya penelitian yang lebih mendalam mengenai pemberontakan PRRI ini, antara lain oleh karena sewaktu saya menyusun dan mempertahankan disertasi saya tersebut 12 tahun yang lalu belum semua fakta dan belum semua keterangan saya peroleh, antara lain tentang peranan CIA seperti yang diulas oleh Prof George McTurnan Kahin dan Audrey Kahin. Saya memandang suku bangsa Minangkabau memang perlu menyusun lagi sejarahnya secara komprehensif berdasar bahan-bahan yang baru. Dalam hubungan ini saya telah mendorong Prof Dr Asmaniar Idris M.Pd dan Drs Amrin Imran -- dua orang penulis buku Sejarah Minangkabau, 1970 -- untuk mengadakan updating terhadap buku yang penting itu. Dalam pandangan saya, suku bangsa Minangkabau ini sudah berkali-kali menghadapi goncangan sosial, seperti tahun 1275, 1803-1838, 1908, 1926, 1942-1945, 1945-1949, 1958-1961, dan 1965-1968, yang belum sempat dikonsolidasikannya secara mendasar dan melembaga. Bulan Januari yang lalu, bersama dengan Gebu Minang dan tokoh masyarakat Mandahiling dan Riau serta Arsip Nasional RI, saya ikut memprakarsai sebuah Semiloka tentang Perang Paderi 1803-1838, yang Alhamdulillah dapat membantu menjerrnihkan berbagai masalah yang selama ini terkatung-katung, antara lain gugatan Ir Mudy Situmorang tentang kepahlawanan Tuanku Imam Bonjol. Bersama dengan Gebu Minang, saya ikut mendorong tindaklanjut Semiloka ini dengan mendorong dirumuskannya kompilasi hukum ABS SBK oleh sebuah Tim Perumus, yang Alhamdulillah sekarang sudah selesai draft awalnya. Saya memperhatikan dengan cermat rangkaian posting Datuk dalam RN ini, dan saya senang dengan perhatian Datuk terhadap sejarah [dan tambo] Minangkabau. Rasanya tidak banyak penghulu kita yang mempunyai perhatian sejarah seperti Datuk. Oleh karena itulah dengan tiada bosan-bosannya saya mendorong Datuk untuk menulis buku, minimal menulis makalah, baik untuk membulatkan pandangan kesejarahan Datuk, maupun untuk mendorong timbulnya minat para penghulu yang lain untuk memperhatikan sejarah Minangkabau secara menyeluruh, selain dari sejarah kaum, suku, dan nagarinya sendiri-sendiri.. Saya memang khawatir terhadap kemungkinan pemahaman para penghulu kita yang bersifat ahistoris terhadap Minangkabau. Saya setuju penuh dengan pernyataan Datuk yang berbunyi :" Saya prihatin bila saat ini generasi-generasi muda potensial kita meraba-raba untuk mencari sendiri jalannya. Memang benar bisa terkesan genit dan bertingkah seperti burung merak.. Kiranya perlu fasilitasi dan tuntunan supaya nak luruih satantang tali, jaan manyimpang kiri jo kanan, condong jaan kamari rabah.". Tentu banyak faktor yang menyebabkan keadaan tersebut, sebagian eksternal, sebagian lagi internal. Tapi ini suatu topik yang bisa kita bahas tersendiri dalam kesempatan lain. Wassalam, Saafroedin Bahar (L, 71 th, kini sedang di San Ramon, California, USA) ----- Original Message ---- From: Datuk Endang <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Cc: [EMAIL PROTECTED] Sent: Sunday, June 15, 2008 9:49:38 PM Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Kajian Mendasar terhadap Sejarah PRRI. Pak Saaf ysh, Terima kasih untuk jawabannya, mudah-mudahan membawa titik terang untuk pendalaman lebih lanjut. Saya sebenarnya tidak mendalami masalah PRRI ini, beberapa minggu lalu memang sempat melihat ujung acara di TVRI itu. Kelihatannya banyak hal yang perlu diklarifikasi, termasuk posisi sejarah dalam pandangan yang bapak sebut sebagai holistik. Banyak tulisan maupun wacana hanya menggambarkan "kejadian pada ketika itu", dan hampir kurang disentuh 'before and after' yang dapat menjelaskan posisi sejarahnya. Kita di masa kini pun kelihatan kurang kompak, dan masih bersudut pandang parsial. Saya cukup tertegun bila membaca PRRI diperjuangkan secara semesta, dan bergema hingga ke Sulawesi dan Indonesia Timur. Satu hal lagi adalah adanya semacam restu dari tokoh/putera Minang di Jakarta. Sehingga sementara waktu hipotesisnya adalah PRRI/Permesta merupakan reaksi terhadap 'sistem ketatanegaraan' dan 'penyelenggaraan negara' pada masa itu, yang mungkin terkesan sentralistik dan Jawa-sentrik. Saya kaitkan dengan peran para Bung di masa lampau, untuk menunjukkan 'tingkat kontribusi' para 'pembentuk negara' yang telah menawarkan gagasan besar, yang 'hanya bisa dipikirkan' oleh 'pemikir berbasis monokultur yang berwawasan multikultur'. KeIndonesiaan 'tidak bisa dipikirkan secara monokultur saja', seperti pernah kita alami pada era Orla (pasca Dekrit) dan Orba. Saya kira kita harus prihatin bila para pemikir dan pejuang itu kian tersingkir, seperti Tan Malaka 'hilang' pada Revolusi Fisik, berikut Hatta dst. Mengenai istilah 'pemberontakan', perlu dicari istilah lain yang lebih tepat setelah memahami permasalahan dan konteksnya. Sekilas saja saya menilai, dari sisi masyarakat daerah merupakan 'upaya ekspresi', sedangkan dari pemerintahan pusat merupakan 'tindakan represif'. Mengenai pandangan dan penilaian 'para orientalis' itu, sepenuhnya tidak bersifat jujur dan obyektif, sehingga perlu hati-hati menerimanya. Pandangan Pak Harun Zein itu seharusnya lebih ditonjolkan 'Strategi Harga Diri', dan bukan istilah munonya. Namun saya sedikit menyampaikan otokritik melihat lemahnya 'peran orang Minang' di percaturan nasional saat ini, yang menunjukkan adanya 'missing link' karena sistem regenerasi yang buruk. Berbicara 'sistem regenerasi' berarti kita menoleh pada apa-apa yang sudah dilakukan oleh orang-orang Minang yang berjaya pada 1 generasi yang lampau. Atau memang tidak ada peralihan generasi ? Saya prihatin bila saat ini generasi-generasi muda potensial kita meraba-raba untuk mencari sendiri jalannya. Memang benar bisa terkesan genit dan bertingkah seperti burung merak. Kiranya perlu fasilitasi dan tuntunan supaya nak luruih satantang tali, jaan manyimpang kiri jo kanan, condong jaan kamari rabah. Mengenai buku, saya kira banyak yang lebih berkemampuan dan berkesempatan. Namun saran bapak tentunya akan selalu saya perhatikan. Talabiah takurang mohon maaf. Wassalam, -datuk endang --- On Sat, 6/14/08, Dr.Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Dr.Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Kajian Mendasar terhadap Sejarah PRRI. To: [email protected] Date: Saturday, June 14, 2008, 11:45 AM Datuk Endang yth, Terima kasih terhadap beberapa tanggapan Datuk terhadap posting saya mengenai perlunya kajian mendasar terhadap sejarah PRRI... Mengenai fenomena 'patah semangat' orang Minang pasca PRRI, saya sarankan Datuk membaca biografi pak Harun Zain, yang bahkan menyatakan bahwa pada saat itu orang Minang sudah muno, dan untuk mengimbanginya, beliau mengumandangkan 'Strategi Harga Diri' pada tahun 1968, sewaktu saya menjadi angota DPRD Provinsi Sumatera Barat. Lagi pula, barangkali Datuk lupa, bahwa mengenai kecenderungan patah semangat orang Minang kalau kalah perang ini, Datuk sendiri pernah mengutip buku Kolonel Soegondo tentang Ilmu Bumi Militer mengenai hal itu. Selain itu, menarik juga membaca pemahaman Datuk bahwa PRRI bukan pemberontakan. Kalau bukan pemberontakan, lantas apa namanya PRRI, yang telah memakan demikian banyak korban dari kedua belah fihak ? Izinkan saya menganjurkan -- sekali lagi -- agar Datuk menulis sebuah buku yang secara komprehensif membahas sejarah Minangkabau ini, minimal menulis makalah yang utuh untuk dapat kita kaji bersama-sama. Wassalam, Saafroedin Bahar (L, 71 th, kini sedang di San Ramon, California, USA) --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
