Pak Saaf ysh, Terima kasih untuk jawabannya, mudah-mudahan membawa titik terang untuk pendalaman lebih lanjut. Saya sebenarnya tidak mendalami masalah PRRI ini, beberapa minggu lalu memang sempat melihat ujung acara di TVRI itu. Kelihatannya banyak hal yang perlu diklarifikasi, termasuk posisi sejarah dalam pandangan yang bapak sebut sebagai holistik. Banyak tulisan maupun wacana hanya menggambarkan "kejadian pada ketika itu", dan hampir kurang disentuh 'before and after' yang dapat menjelaskan posisi sejarahnya. Kita di masa kini pun kelihatan kurang kompak, dan masih bersudut pandang parsial. Saya cukup tertegun bila membaca PRRI diperjuangkan secara semesta, dan bergema hingga ke Sulawesi dan Indonesia Timur. Satu hal lagi adalah adanya semacam restu dari tokoh/putera Minang di Jakarta. Sehingga sementara waktu hipotesisnya adalah PRRI/Permesta merupakan reaksi terhadap 'sistem ketatanegaraan' dan 'penyelenggaraan negara' pada masa itu, yang mungkin terkesan sentralistik dan Jawa-sentrik. Saya kaitkan dengan peran para Bung di masa lampau, untuk menunjukkan 'tingkat kontribusi' para 'pembentuk negara' yang telah menawarkan gagasan besar, yang 'hanya bisa dipikirkan' oleh 'pemikir berbasis monokultur yang berwawasan multikultur'. KeIndonesiaan 'tidak bisa dipikirkan secara monokultur saja', seperti pernah kita alami pada era Orla (pasca Dekrit) dan Orba. Saya kira kita harus prihatin bila para pemikir dan pejuang itu kian tersingkir, seperti Tan Malaka 'hilang' pada Revolusi Fisik, berikut Hatta dst. Mengenai istilah 'pemberontakan', perlu dicari istilah lain yang lebih tepat setelah memahami permasalahan dan konteksnya. Sekilas saja saya menilai, dari sisi masyarakat daerah merupakan 'upaya ekspresi', sedangkan dari pemerintahan pusat merupakan 'tindakan represif'. Mengenai pandangan dan penilaian 'para orientalis' itu, sepenuhnya tidak bersifat jujur dan obyektif, sehingga perlu hati-hati menerimanya. Pandangan Pak Harun Zein itu seharusnya lebih ditonjolkan 'Strategi Harga Diri', dan bukan istilah munonya. Namun saya sedikit menyampaikan otokritik melihat lemahnya 'peran orang Minang' di percaturan nasional saat ini, yang menunjukkan adanya 'missing link' karena sistem regenerasi yang buruk. Berbicara 'sistem regenerasi' berarti kita menoleh pada apa-apa yang sudah dilakukan oleh orang-orang Minang yang berjaya pada 1 generasi yang lampau. Atau memang tidak ada peralihan generasi ? Saya prihatin bila saat ini generasi-generasi muda potensial kita meraba-raba untuk mencari sendiri jalannya. Memang benar bisa terkesan genit dan bertingkah seperti burung merak. Kiranya perlu fasilitasi dan tuntunan supaya nak luruih satantang tali, jaan manyimpang kiri jo kanan, condong jaan kamari rabah. Mengenai buku, saya kira banyak yang lebih berkemampuan dan berkesempatan. Namun saran bapak tentunya akan selalu saya perhatikan. Talabiah takurang mohon maaf. Wassalam, -datuk endang
--- On Sat, 6/14/08, Dr.Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Dr.Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Kajian Mendasar terhadap Sejarah PRRI. To: [email protected] Date: Saturday, June 14, 2008, 11:45 AM Datuk Endang yth, Terima kasih terhadap beberapa tanggapan Datuk terhadap posting saya mengenai perlunya kajian mendasar terhadap sejarah PRRI.. Mengenai fenomena 'patah semangat' orang Minang pasca PRRI, saya sarankan Datuk membaca biografi pak Harun Zain, yang bahkan menyatakan bahwa pada saat itu orang Minang sudah muno, dan untuk mengimbanginya, beliau mengumandangkan 'Strategi Harga Diri' pada tahun 1968, sewaktu saya menjadi angota DPRD Provinsi Sumatera Barat. Lagi pula, barangkali Datuk lupa, bahwa mengenai kecenderungan patah semangat orang Minang kalau kalah perang ini, Datuk sendiri pernah mengutip buku Kolonel Soegondo tentang Ilmu Bumi Militer mengenai hal itu. Selain itu, menarik juga membaca pemahaman Datuk bahwa PRRI bukan pemberontakan. Kalau bukan pemberontakan, lantas apa namanya PRRI, yang telah memakan demikian banyak korban dari kedua belah fihak ? Izinkan saya menganjurkan -- sekali lagi -- agar Datuk menulis sebuah buku yang secara komprehensif membahas sejarah Minangkabau ini, minimal menulis makalah yang utuh untuk dapat kita kaji bersama-sama. Wassalam, Saafroedin Bahar (L, 71 th, kini sedang di San Ramon, California, USA) --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
