Waalaikumsalam w.w. Sanak Arnoldison, Terima kasih atas respons cepat Sanak terhadap posting saya. Jika keberadaan rangkiang bisa kita jadikan rujukan, nampaknya memang perlu ada semacam 'koperasi simpan pinjam' untuk kepentingan para sanak kita yang membutuhkan. Untuk pinjaman langsung secara perseorangan -- apalagi seperti kata Sanak hidup di Rantau ini keras sehingga kita harus benar-benar berhemat -- walaupun meminjamkan itu merupakan kewajiban moral, namun memang bisa bermasalah sampai meretakkan hubungan kekeluargaan jika sanak kita yang meminjam itu suka ngemplang dengan cara pasang badan ini. Saya ingin mendengar pendapat Sanak yang lain. Banyakkah gejala seperti ini, atau hanya terdapat pada orang-orang tertentu saja ?
Wassalam, Saafroedin Bahar (L, 71 th, Jakarta) Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED] --- On Thu, 7/3/08, Arnoldison <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Arnoldison <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: TAKTIK 'PASANG BADAN' DALAM SOAL UTANG PIUTANG AWAK SAMO AWAK To: "Dr.Saafroedin BAHAR" <[email protected]> Date: Thursday, July 3, 2008, 11:32 AM Wassalamu'alaykum wr.wb Pak Saf, saya coba ikut sharing ... Saya rasa dari sudut ABS-SBK (dan saya yakin ini tidak ada ikhtilaf) bahwa hukum berhutang diperbolehkan dan membayarnya adalah kewajiban. Masalah lain adalah apakah ada kontribusi dari budaya yang menganjurkan sehingga menyebabkan orang gemar berhutang ? Sepertihalnya dirantau terdengar istilah ' orang padang pelit', apakah ada kontribusi dari budaya minang yang menyebabkan orang minang memiliki sifat pelit itu ? Kalau kita kembalikan kenilai budaya yang dimiliki, ternyata dalam rumah gadang ada satu rangkiang yang diperuntukkan untuk para musafir, berarti menunjukkan bahwa orang minang tidaklah kikir. Mungkin sekali kejadiannya ialah karena kehidupan rantau yang sangat keras, sehingga mengharuskan hidup berhemat, apalagi profesi berdagang yang memerlukan perhitungan. Jadi menurut saya tidak ada faktor kotribusi budaya dalam hal memotivasi orang berhutang hanya merupakna case atau sebab individu saja. Bagaimana bila kita berpiutang ? Saya menganjurkan kalau kita memiliki kelebihan uang untuk tidak cepat-cepat ditabung ke Bank , tapi ditawarkan dulu ke kerabat atau family terdekat, seandainya ada yang memang sedang membutuhkan. Tentu dengan berterus terang bahwa dalam jangka waktu sekian harus dikembalikan karena kita membutuhkan kembali uang tersebut. Bandingkanlah seandainya kita menaruh uang ke bank, ternyata ada kerabat kita yang sedang membutuhkan uang sehingga harus meminjam uang kebank. Secara tidak langsung bunga uang yang diperolah di tabungan bank itu ternyata yang membayar adalah kerabat kita yang berhutang ke bank. Gunanya kita berkaum atau bersuku adalah saling tolong menolong, dalam hal ini juga bidang ekonomi, kadangkala orang gemar memberi nasehat, tapi tidak gemar memberi bantuan materil (sedekah/uang). Ujian dalam solidaritas kelompok salah satunya adalah hubungan transaksi keuangan, tidak jarang perkumpulan atau organisasi, kekeluargaan atau persahabatan menjadi retak dan tidak harmonis sebab transaki keuangan dan hutang-piutang. Arnoldison Thursday, July 3, 2008, 10:48:11 AM, you wrote: DSB> Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta, DSB> DSB> Dalam rangka 'berminang-minang' saya igin mengangkat satu masalah yang rasanya belum banyak dibahas di palanta RN ini, yaitu soal hutang piutang awak samo awak, termasuk hutang piutang orang DSB> antara yang bersaudara, sekaum, atau sesuku. DSB> Saya percaya bahwa soal hutang piutang adalah wajar saja terjadi. Saya sendiri dan keluarga saya kadang-kadang juga berhutang -- sekarang tentunya dalam bentuk kartu kredit --, walau saya DSB> usahakan sekeras tenaga untuk segera membayar begitu saya ada uang. Apalagi karena pertanyaan terakhir dari fihak keluarga sebelum seseorang yang meninggal dimakamkan adalah: apakah almarhum DSB> atau almarhumah mempunyai hutang atau tidak. Kalau ada, supaya diselesaikan dengan keluarga. DSB> Masalahnya adalah saya lumayan banyak menemukan kisah dan pengalaman sesama kita, yaitu mengenai orang awak yang kalau akan berhutang bukan main sopan santunnya, namun kalau akan membayar DSB> wadduuuuh bukan main helahnya. Ada yang sampai sepuluh tahun mencoba menghindar ! Saya dengar ada istilahnya untuk ini, yaitu "pasang badan". DSB> Kelihatannya tidak selalu taktik 'pasang badan' ini disebabkan oleh karena memang yang bersangkutan tidak mempunyai urang, ada yang terkesan memang tak ada niat untuk membayar hutang itu. DSB> Melihat kenyataan itu, sampai-sampai seorang sahabat dekat saya mengingatkan agar sambil meneruskan sikap supaya saya jangan pernah berhutang, juga agar jangan pernah berpiutang, karena kecil DSB> kemungkinan akan dibayar. DSB> Saya agak terkejut juga dengan nasehat jangan berpiutang ini, karena biasanya kalau saya ada uang dan ada sanak yang ingin meminjam, saya tak berpikir dua kali untuk meminjamkan. DSB> Nah, jika kasus ini terjadi, mau diapakan para sanak yang senang 'pasang badan' ini, khususnya jika ditinjau dari ABS SBK ? Bisakah diminta pembayaran hutang oleh kaum atau sukunya ? Bagaimana DSB> pula kalau antara yang berhutang dan yang berpiutang itu justru sekaum atau sesuku ? Atau dibuatkan semacam 'koperasi simpan pinjam' agar tak terjadi konflik sekaum dan sesuku? DSB> Wassalam, DSB> Saafroedin Bahar DSB> (L, 71 th, Jakarta) DSB> Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED] DSB> -- Best regards, Arnoldison mailto:[EMAIL PROTECTED] --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
