Bung Mantari, kalau anda bermaksud memilih partai berdasarkan ideologi maka saya pastikan anda akan bingung seketika, karena ideologi partai hanya ada diatas kertas semata, sementara dalam realita tidak ada partai yang mempunyai ideologi jelas. Bila anda ragu, coba anda bandingkan ideologi Golkar dengan Demokrat. apa bedanya ? atau PAN dengan PKS, sama sama partai yang berbasiskan Islam sosiologis dan sama-sama menegaskan sebagai partai Pluralis.
Kemudian sebagai orang Minangkabau, seandainya ABS-SBK diterjemahkan menjadi urang awak harus memilih partai Islam, maka harus dibedakan lagi partai yang Islam mana ? apakah secara teologis seperti PPP, PBB dan PBR atau Partai yang Islam secara sosiologis seperti PAN, PKS atau PKB. Kalaupun anda memilih salah satu dari sekian banyak partai yang berlabelkan Islam tersebut, maka secara tujuan politik saya percaya tidak akan tecapai, boleh dikatakan mustahil salah satu partai tersebut untuk muncul sebagai pemenang. Akan menang kalau sekiranya partai berlabelkan Islam tersebut melakukan merger menjadi satu partai atau paling tidak menjadi dua partai yang bisa digolongkan secara sederhana misalnya tradisionalis dan modernis. tapi pilihan itu juga hampir mustahil karena modal sosial (social capital) yang dimiliki partai tersebut sangat tipis. saking tipisnya sehingga sulit untuk bekerjasama apalagi dalam keadaan merger. Sebab, lainnya fragmentasi Islam itu sendiri sangat rumit dan terpecah belah. Bagaimana akan bekerja sama bila modal sosial tidak ada ? bagaimana akan bekerjasama bila "trust" tidak terbangun ? Bagaimana akan bekerjasama bila elite partai sendiri tidak dewasa menyikapi perbedaan ? sehingga tidak dapat disalahkan bila sebagian besar masyarakat memilih untuk Golput atau memilih partai berdasarkan patronase. bingungkan ? sama, saya juga bingung tapi biar gak dikatakan kurang tegas, plin plan, sarupo baliang- baliang diateh bukik, sebagai orang awak coba saja anda cermati silsilah pimpinan partai yang ada. Kalau ada bau-bau Minangnya..pilih saja partainya meskipun marganya Batak (Misalnya loh seperti kebiasaan urang awak) atau seperti yang sudah anda lakukan, pilih saja calonnya..apakah itu calon mertua, tetangga sebelah rumah, langganan kacang tojin, mantan mandan bamain domino atau siapapun itu tanpa melihat partainya. sebab dalam pemilihan langsung ini, yang kita pilih adalah orangnya. kalau orangnya punya integritas, apapun partainya tidak jadi masalah jadi jangan golput, karena itu tidak mendidik meskipun sikap itu suatu pilihan juga sesungguhnya… salam Ben --- In [EMAIL PROTECTED], Mantari Sutan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Berandai di tahun 1955 saya sudah ada dan memiliki hak pilih, partai pilihan saya adalah PSI. Alasannya, partai ini diisi oleh kelompok intelektual, berani bersikap dan yang paling penting mereka mengutamakan akal sehat. Secara relatif, saya lihat (baca dari buku lalu dianalisa sendiri tentunya) tokoh-tokohnya relatif idealis dibandingkan dengan yang lain. Sebut nama untuk tokoh-tokoh mereka Syahrir, Soemitro Djojohadikusumo, Soedjatmoko dan nama lainnya. > > Pemilu 1971 dan 1977, saya belum lahir. Selanjutnya 1982,1987, dan 1992 saya belum cukup umur. Pemilu 1997, saya tidak terdaftar di TPS dekat kosan. Terdaftarnya hanya di kampung halaman. Dokumen transfer juga tidak saya siapkan, karena memang tidak penting. Alhamdulillah, saya bersyukur sekali tidak [ernah mencoblos selama pemilu orde baru. > > Tahun 1999, pilihan saya berbeda untuk tiap dewan perwakilan. DPRD tingkat II, pilihan dijatuhkan kepada PAN. Tingkat I-nya memilih Partai Keadilan. Sementara untuk pusatnya, saya memilih Partai Rakyat Demokratik. Memilih PAN karena asumsi calegnya adalah tokoh Muhammadiyah. Sebagai "pemenang perang" di masa itu, tentu para kadernya akan senantiasa mengikuti pentolan mereka Amien Rais. Seorang yang kagumi. Partai Keadilan dan PRD saya pilih karena saya kenal dengan caleg-calegnya. Yang satu dosen saya, satu lagi kakaknya teman. Dengan keduanya saya pernah berdiskusi, dan menurut saya keduanya orang pintar. > > Tahun 2004 memutuskan golput. Saya tidak melihat adanya alasan untuk memilih. Saya sudah terlanjur kecewa dengan pilihan saya lima tahun sebelumnya. > > Untuk tahun 2009, jujur saya masih bingung. Kembali golput atau ikut memilih. Sebenarnya kalau harus memilih, saya sudah punya partai pilihan. Partai itu bernama Partai Keadilan Sejahtera, disingkat PKS. PKS menjadi pilihan lebih kepada memenuhi quote yang "terbaik dari yang ada", walaupun yang ada saat ini bukanlah yang baik-baik. PKS menurut saya secara relatif mereka adalah partai yang bersih, banyak tokoh muda, santun dalam berpolitik, dan orangnya pintar-pintar. Partai ini juga tidak bergantung pada kharisma tokohnya. Ketika Nurmahmudi diganti, lalu muncul Hidayat Nurwahid semua berjalan normal. Kalau mereka mengajukan nama untuk pilkada, nama yang dimunculkan biasanya unpredictable. Harapan untuk mendapatkan ide-ide segar dan baru, masih ada dari partai ini. Siapa yang menyangka mereka mengajukan Ahmad Heryawan untuk gubernur Jawa Barat. Di Sumatera Utara juga begitu. > > Kalau kita suka menonton debat politik di TV Nasional, perhatikanlah utusan PKS. Sebut nama misalnya Tiffatul Sembiring, Zulkiflimansyah, Rama Pratama, Fahri Hamzah dan seterusnya. Lalu bandingkan cara dan content mereka berdialog, berargumen atau bahkan sekalian berdialektika. Tanyakan pada hati nurani kita, siapa yang lebih baik. Kalau saya yang ditanyakan, PKS lebih baik. > > Tetapi, menjadi golput masih menjadi pertimbangan utama saat ini. Melihat gejala dan pertunjukan politik saat ini, saya merasa definisi kewarasan yang saya punya sudah melenceng dengan definisi kewarasan mereka. Saya tidak tahu, apakah saya yang sudah gila atau mereka yang senewen. Atau tidak ada yang gila, karena memang sudah berbeda definisi kewarasan. Nah, berangkat dari kondisi ini. Menjadi golput adalah yang terbaik rasanya. Saya menjadi tidak peduli lagi dengan bentangan-bentangan spanduk yang memuat foto-foto tokoh, untuk ucapan berbagai tema. Saya tak lagi membuang-buang waktu memperhatikan kampanye-kampanye dan iklan TV. Dan yang paling penting, saya merasa tidak perlu lagi merasa terlibat dan berdosa atas tingkah dan polah wakil saya kelak. > > Mudah-mudahan sharing yang saya sampaikan ini, bisa menjadi pertimbangan urang awak juga dalam bersikap. Menjadi Golput atau memilih PKS. Waktu masih panjang untuk berpikir. Selamat berpikir dan selamat menentukan pilihan. > > Piss yo.... > > > > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
